Fara menatap kondisi parkiran bawah tanah gedung apartemen ternama itu. Kenangan yang tercipta di sana bukan hanya satu, dua bayangan, melainkan ratusan, mungkin malah ribuan. Semenjak kejadian 7 tahun lalu, ia sudah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke gedung apartemen ini.
“Ternyata dia masih tinggal di sini?” batin Fara.
Liam menoleh ke samping. Ia ikut diam memperhatikan Fara yang mungkin sedang bernostalgia dengan tempat di sekitar sini.
Liam berdeham pelan, lalu mulai membuka seatbelt-nya. “Kamu masih diam, apa karena sedang menungguku untuk membukakan seatbelt-mu, lalu membukakan pintu mobil untukmu?”
Suara berat Liam menarik Fara ke alam nyata. Wanita itu langsung menggeleng pelan, mencoba mengusir berbagai bayangan dalam benaknya. Fara menarik panjang sembari memejamkan mata, lalu ia embuskan secara perlahan.
“Jangan pikirkan hal lain, Fara. Fokus ‘lah, kamu sudah lama melupakan ini. Meski pun harus kembali ke masalalu, hanya ada sakit hati yang perlu kamu ingat,” ucap Fara dalam hati pada dirinya sendiri.
“Kamu benar-benar berharap aku membukakan seatbelt untukmu, ya?”
Lagi-lagi suara berat Liam mengembalikan kesadaran Fara. Wanita itu menoleh dengan ekspresi malasnya, lalu mulai membuka seatbelt.
“Kenapa ke sini? Bukannya kita bisa berhenti di jalan sebentar beli obat merah, lalu aku bisa obati punggungmu dalam mobil. Tidak harus ke apartemenmu ‘kan?” ujar Fara.
Liam diam sejenak. Lalu ia tersenyum sinis. “Rupanya kamu masih ingat di sini apartemenku. Aku kira kamu akan pura-pura lupa lagi.”
Fara mengembuskan napas malas. “Aku masih muda, jadi aku tidak pikun dini. Dan, aku tidak pernah pura-pura lupa. Hanya saja tidak sudi untuk terus mengingatnya.”
Liam mendelik. Matanya memicing menatap Fara yang bahkan tak memandangnya ketika melontarkan itu. “Apa maksudmu, Fara? Tidak sudi? Apa begitu bencinya kamu membahas kisah kita?”
Fara memejamkan matanya lelah. “Aku malas berdebat, Liam. Dan, sedari awal tujuanku ikut denganmu adalah untuk mengobati punggungmu yang tidak sengaja aku gigit—ah, sengaja aku gigit.” Fara menoleh ke samping, menatap Liam dengan ekspresi tenangnya. “Aku lihat, sekarang kamu sudah baik-baik saja, jadi aku rasa punggungmu tidak perlu lagi diobati. Aku keluar sekarang, dan aku akan pulang sendiri.”
Fara mengerutkan kening ketika pintu mobil itu tak bisa dibuka. Ia melipat bibir, menyadari Liam sengaja mengunci pintu mobil itu supaya ia tak bisa keluar.
Fara menjilat bibirnya, mencoba menahan rasa kesal. Perlahan wanita itu kembali menoleh ke arah Liam.
“Siapa yang mengizinkanmu keluar dan pergi dari sini?” desis Liam.
Fara terdiam. Ia menangkap raut tak senang di wajah tampan mantan kekasihnya itu. Pernah bersama 1 tahun sebagai pasangan kekasih yang romantis, Fara tahu betul berbagai perubahan ekspresi wajah Liam. Dan, semua perubahan ekspresi itu hanya akan diperlihatkan di depan Fara, tidak di depan orang lain.
Sett ...
Fara tertegun ketika Liam tiba-tiba mendekat, lalu mengungkung tubuhnya ke sandaran kursi. Dengan cekatan, tangan kekar Liam memencet tombol kecil sehingga sandaran kursi itu turun ke belakang, dan hal itu membuat Fara sempat memekik kaget.
“Liam, apa-apaan kamu?!” pekik Fara yang mencoba mendorong d**a bidang Liam.
“Sepertinya kamu akan terus asal bicara sebelum bibirmu ini disumpal. Apa kamu memang sengaja memancingku untuk cipo—”
Bugh!
“Akkhh!” Liam memekik sembari memegang sesuatu di balik celananya yang baru saja ditendang oleh Fara.
Pria itu menegakkan tubuhnya sembari merintih.
Duk!
“s**t!” Liam mengumpat karena kepalanya terbentur atap mobil. Ia segera terduduk di kursi kemudi, tangannya masih saja memegangi senjata legendaris di balik celananya. “Masa depanku.”
Fara segera menegakkan tubuhnya. Ia duduk tegak sembari merapikan baju serta rambutnya. Fara menoleh ke samping dengan mata memicing kesal. Ingin sekali rasanya ia menambah tonjokan di wajah tampan Liam itu.
“Kamu coba-coba lagi bertingkah me-sum seperti itu padaku, benar-benar aku buat pecah masa depanmu itu!” ancam Fara dengan mata melotot.
Liam balik menatap Fara sembari merintih pelan. “Sebelum bertindak, pikir-pikir dulu. Apa kamu ingin aku mandul? Kalau aku mandul, kita tidak akan bisa punya anak.”
Fara mendelik. “Siapa juga yang mau punya anak denganmu?” ketusnya kesal, “cepat buka pintu ini, atau aku tendang lagi anu-mu!” ancamnya lagi.
“Punggungku bahkan belum sembuh, sekarang kamu sudah melakukan kekerasan lagi. Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga!” gerutu Liam.
Fara menggulir bola matanya malas. “Cepat saja buka pintunya.”
“Kenapa? Kamu ingin kabur setelah membuatku kesakitan begini? Ingat, tujuanmu ke sini untuk tanggung jawab mengobati punggungku yang kamu buat sakit. Sekarang kamu malah membuat sesuatu yang lain ikut kesakitan.”
“Itu karena kamu yang memulainya. Aku sudah ingin turun dari tadi, tapi kamu sendiri yang mengunci pintunya, lalu tiba-tiba bertingkah me-sum! Jadi itu bukan salahku!”
“Tidak!” tukas Liam cepat, “ini semua tetap salahmu. Jadi kamu harus tanggung jawab lagi! Setelah mengobati punggungku, kamu harus mengobati ini juga.”
Kedua mata Fara terbelalak. Ia menatap sesuatu di balik celana Liam. “M-mengobati apa maksudmu?!”
“Apa lagi? Memangnya apa yang tadi kamu tendang? Ini masih sakit dan ngilu sampai sekarang. Aku tidak mau tahu, kamu harus tanggung jawab!”
Mulut Fara ternganga tak percaya. Ia meneguk ludahnya kasar, lalu menatap Liam dengan wajah bingung serta waswas. “Ekhm, b-bagaimana caranya tanggung jawab sama anu?” gumamnya ragu.
“Ssstt, bahkan aku akan kesulitan berjalan.”
Fara ikut meringis melihat Liam bergerak hati-hati turun dari mobil. Ia seakan ikut ngilu melihat pergerakan mantan kekasihnya itu.
“Apa sampai separah itu? Perasaan, aku tidak menendangnya terlalu kuat.” Fara bergumam sembari memperhatikan Liam yang mengelilingi kepala mobil untuk menuju pintu mobil seberang.
Cklek ...
Fara mendongak ketika pintu mobil itu dibuka dari luar. Siapa lagi yang membukanya jika bukan Liam.
“Cepat turun, ini sudah aku bukakan pintu. Bilang saja sedari awal, kalau kamu memang ingin dibukakan pintu mobil, jangan malah menendang anu-ku begini hanya karena marah dan kesal karena tidak aku bukakan pintu,” kata Liam.
Fara mendelik. “Aku tidak begitu! Aku menendang—menendang itu bukan karna kesal itu! Aku bisa buka pintu sendiri! Ck, intinya aku tidak perlu dibukakan pintu dan aku tidak kesal karena itu!” celotehnya kesal karena dianggap sedang merajuk.
“Biasanya dulu memang begitu. Cewek perajuk.”
Lagi-lagi Fara mendelik. “Tidak begitu!”
“Tuh ‘kan, cara merajuknya masih sama persis. Matanya suka melotot-lotot seperti ingin menelanku hidup-hidup.”
Fara mendengkus, lalu mengalihkan wajah. Dengan kesal ia mengeluarkan sebelah kakinya, membuat Liam terkejut. Liam yang mengira Fara akan kembali menendang benda pusakanya, dengan spontan menjauh sembari menutup s**********n dengan kedua tangan.
Fara berdecih melihat tingkah pria itu. “Cepat ‘lah, aku ingin segera pulang.”
Liam menutup pintu mobilnya, lalu tersenyum nakal. “Sudah begitu tidak sabar, ya? Kalau begitu ayo cepat naik, celanaku memang perlu dibuka, malu kalau buka di sini.”
Uhuk-uhuk!
Farattersedak ludahnya mendengar kalimat Liam yang terdengar ambigu. “Buka celana apaan? Jangan aneh-aneh, Liam,” bisiknya gemas.
Sebelah alis Liam terangkat. “Aneh-aneh apa, Sayang? Bukannya mengobati anu memang perlu buka celana dulu? Kalau tidak, bagaimana caramu mengobatinya?”
Seketika Fara mematung dengan wajah pucat. “Apa aku benar-benar perlu mengobati ... itu?”
Liam tersenyum miring. “Tentu saja. Kamu sudah menendangnya tadi, ini saja masih sakit. Jadi harus diobati.”
“B-bagaimana caranya aku mengobati itu?” gumam Fara dengan wajah pucatnya.
Senyum nakal Liam pun terbit, ia mendekat ke area wajah Fara, lalu berbisik nakal. “Dielus.”
Bugh!