Bugh!
“Aakkh!”
Untuk kesekian kalinya Liam mengerang oleh pukulan Fara. Kali ini perut kekarnya yang menjadi korban tinju kecil Fara. Meski kepalan tangan wanita itu kecil, tetapi masih berhasil membuat perut Liam sakit.
Fara menggeram kesal. “Jangan terus membuatku kesal. Kalau memang aku perlu tanggung jawab, aku tidak akan keberatan membawamu ke dokter khusus—ekhm, dokter khusus kelamin, supaya dia cek. Aku tidak menendangnya terlalu kuat tadi, harusnya tidak kenapa-kenapa.”
“Aku yang merasakannya, kenapa kamu yang sok tahu? Sekarang malah memberiku pukulan baru. Tadi punggung, lalu senjata perangku, sekarang malah perut. Kamu terlalu punya banyak uang, ya?”
Fara mendelik. “Makanya jangan pancing aku untuk terus memukulmu. Ck, jadi naik atau tidak ini? Kalau tidak, aku pulang sekarang.”
“Total tiga tanggung jawab.”
Fara mendengkus kesal memperhatikan Liam melewatinya. Ia mengangkat kepalan tangannya, lalu mengayun-ayunkan tangannya itu dari belakang, seakan ingin memukul Liam.
Liam menoleh ke belakang, pergerakan Fara pun seketika berhenti, ia langsung menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung. Liam memicing, ia tahu jika mantan kekasihnya itu mengoloknya dari belakang.
“Duluan kamu!” cetus Liam.
Fara mendongak. “Bukannya kita akan berkunjung ke apartemen Anda, Tuan CEO? Kenapa malah saya yang disuruh jalan duluan? Harusnya Anda sebagai pemilik apartemen yang jalan duluan.”
“Kenapa? Sekarang kamu ingin pura-pura lupa ingatan, tak tahu di mana apartemenku?” Liam tersenyum sinis.
Fara mengembuskan napas lelah. “Aku cuma takut salah, bisa saja kamu sudah pindah, dan tidak tinggal di apartemen itu lagi ‘kan? Misal sudah pindah ke lantai atas, atau lantai bawah?”
“Tidak pindah, masih di sana. Jadi cepat saja, jalan duluan.”
Fara berdecak. Dengan ekspresi kesal, wanita itu melangkah lebih dulu sembari menghentakkan kakinya—mengekspresikan rasa kesalnya. Liam memperhatikan itu dengan tenang. Ia malah tersenyum tipis, terbayang-bayang setiap kegiatan mereka 7 tahun lalu juga sering berjalan bersama di parkiran bawah tanah itu.
Liam mengembuskan napas pelan. “Sebenarnya kenapa kamu tidak datang waktu itu, lalu tiba-tiba menghilang tanpa kabar?”
Kalimat pelan Liam sempat membuat Fara terdiam. Wanita itu kembali melanjutkan langkah, seakan tak mendengar ucapan Liam. Melihat Fara pura-pura tak mendengar, Liam pun hanya bisa menarik napas. Ia tak ingin melanjutkan pembahasan itu, dari pada mood Fara benar-benar rusak, dan berakhir pergi dari sana.
Liam hanya bisa diam. Jika menuruti ego-nya, pria itu ingin sekali menuntut semua penjelasan dari Fara atas masalah mereka 7 tahun lalu. Ada banyak pertanyaan dan permasalahan yang perlu mereka bicarakan secara empat mata, tetapi Fara seakan sengaja menghindar, tak ingin membahas apa pun tentang kisah mereka 7 tahun lalu.
Hingga masuk lift, mereka berdua masih sama-sama diam. Sepasang mantan kekasih itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai hampir tiba di sebuah kamar penuh kenangan itu, langkah Fara semakin pelan. Tangannya terkepal, kedua bibirnya terlipat, Fara mencoba menenangkan dirinya sendiri, mencoba menariknya dari alam kenangan yang kini berputar-putar di benaknya.
Menyadari pergerakan Fara yang semakin pelan, Liam pun melangkah lebih dulu, lalu mulai membuka pintu apartemennya. Liam menoleh ke samping, ketika Fara masih diam di tempat.
“Kamu ingin aku buka baju di sini?”
Suara berat itu mengembalikan kesadaran Fara. Ia pun mengembuskan napas pelan. “Aku hanya akan mengobati punggungmu, karena pasti cuma itu yang ada luka bekas gigitan.”
Liam mengangguk singkat, kali ini ia tak memperpanjang perdebatan. “Masuk.”
“Pintunya tidak usah ditutup.”
Liam menoleh, lalu menggulir bola matanya. “Kamu ingin semua orang bisa mengintip isi apartemenku? Atau kalau ada orang yang ingin berbuat jahat, dia bisa masuk dengan bebas. Kalau aku kehilangan barang, apa kamu akan tanggung jawab?”
Fara mendengkus. “Seorang CEO perusahaan besar, sungguh sangat perhitungan. Semua hal tak luput dari uang dan uang.”
“Oh, tentu! Karena aku tahu bagaimana susahnya mencari uang. Kamu kira CEO tidak bekerja keras juga?”
Fara memutar bola mata lelah. “Sudah ‘lah, aku lelah berdebat. Sekarang aku boleh masuk ‘kan?”
“Dari tadi sudah aku suruh masuk. Memangnya apa yang kamu takutkan kalau aku tutup pintu ini?” decih Liam.
“Apa lagi? Ya, singa lapar ‘lah,” gumam Fara sembari berjalan.
“Apa?” Liam tak terlalu mendengar gumaman Fara.
Fara menoleh ke belakang, lalu tersenyum malas. “Cepat saja keluarkan kotak obatmu, Tuan CEO. Aku juga ingin segera pulang, ini hampir senja.”
“Lalu kalau senja kenapa? Memangnya kamu sudah punya suami, sampai harus tiba sore di rumah?” Liam berceloteh sembari melonggarkan dasinya, lalu berjalan ke sebuah lemari kecil dekat sofa.
Fara tak fokus dengan celotehan Liam. Ia malah terdiam melihat kondisi apartemen CEO muda itu.
“Masih sama, bener-bener sama. Padahal ini sudah 7 tahun berlalu, tapi tidak ada yang berubah. Letaknya, barangnya, warna dan seluruhnya, benar-benar masih seperti dulu.” Fara membantin dengan ekspresi tak dapat diartikan.
Fara masih ingat betul, seluruh dekorasi apartemen itu adalah hasil tangannya. Liam menyerahkan semuanya kepada Fara, entah itu soal warna cat dinding, dekorasi, letak, merek dan semuanya benar-benar sesuai kesukaan Fara.
Sekarang semua itu tak berubah. Bagaimana Fara tak terkejut dan terpaku. Keadaan apartemen Liam yang masih seperti itu, membuat Fara semakin masuk ke dalam jurang kenangan.
Fara beralih menatap Liam yang tengah mengambil kotak P3K di dalam laci pertama di samping sofa. Dan, itu pun masih sama seperti dulu.
“Liam!”
“Iya, Sayang.”
“Kenapa kamu taruh kotak P3K-nya di laci ketiga? Sudah aku katakan, kotak ini harus diletakkan di laci pertama, jangan pernah dipindah-pindahkan!”
“Iya-iya, maaf, Sayang!”
“Ck, jangan maaf saja, lihat aku sini!”
Liam yang tengah sibuk memotong sayuran di dapur pun segera berjalan, lalu tersenyum manis ke arah Fara yang tengah kesal. “Maaf, Sayang. Aku lupa kemarin. Apalagi kemarin aku buru-buru mau kuliah.”
“Sudah berapa kali aku bilang, lupa-lupa saja terus. Awas kalau besok kamu masih lupa, aku hukum kamu.”
Liam terkekeh. Ia mengecup singkat pipi Fara. “Siap, Bu Bos!”
Semenjak itu, Liam tak pernah lagi meletakkan kotak P3K di laci lain selain laci pertama.
Fara menggeleng cepat ketika bayangan masalalu hadir di benaknya. “Apa yang aku pikirkan? Sadar ‘lah, Fara. Tidak usah pikirkan hal yang sudah berlalu,” batinnya mencoba menyadarkan diri sendiri.
“Akan sampai kapan kamu berdiri di situ?”
Lagi dan lagi suara Liam menarik Fara dari alam lamunan. Wanita itu menoleh, dan terbelalak karena Liam sudah membuka kemeja-nya, sehingga sekarang sudah bertelanjang d**a.
Fara segera menutup kedua matanya dengan telapak tangan. “Apa yang kamu lakukan? Kenapa buka baju?!”
Liam menaikkan sebelah alisnya. Setelahnya pemuda itu berdiri sembari tersenyum nakal. “Kenapa harus begitu, Sayang? Kita bukan anak remaja lagi, kita sudah sama-sama dewasa. Kenapa harus malu-malu?” godanya.
“Cukup, Liam! Jangan terus permainkan aku, atau kamu ingin tendangan sesi kedua?” ancam Fara gemas.
Liam tertawa lepas. Ia kembali duduk, tak jadi mendekat ke arah Fara, takut benar-benar ditendang. “Baik ‘lah, cepat ke sini dan duduk di pangkuanku.” Liam menepuk pahanya.
Fara mendelik. “Ogah!”