“Wah-wah-wah, ada apa denganmu, Pak CEO?” Bayu memperhatikan wajah Liam dengan ekspresi cukup heran. “Kau seperti orang tidak tidur satu minggu. Atau malah seperti suami yang tidak dapat jatah dari istrinya. Lusuh dan lemas sekali.”
Liam tak menghiraukan celotehan Bayu. Ia terus melangkah dengan ekspresi datarnya. Pria itu menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana, lalu melangkah masuk gedung perusahaan sembari terus diikuti oleh Bayu dari belakang.
“Heh, lebih baik kali ini kau jawab, deh. Ke mana perginya wajah tampanmu itu, Liam Collan?”
Pertanyaan Bayu itu berhasil menarik perhatian Liam. Terbukti dengan terhentinya langkah kaki CEO tampan itu.
Liam langsung menoleh ke samping, menatap Bayu yang juga tengah memperhatikannya dalam heran. “Apa katamu? Apa aku sudah tidak tampan? Apa aku begitu buluk sekarang?”
Bayu melongo melihat Liam berceloteh heboh sembari mengusap-ngusap wajahnya sendiri. “Itu—”
“Tidak bisa!” Liam kembali bersuara, lalu kembali ke arah mobilnya yang belum sempat dibawa ke parkiran. “Tunggu!”
Sopir pribadi Liam mengurungkan niat yang hampir menginjak gas mobil. Ia langsung keluar, lalu membukakan pintu belakang untuk sang atasan. Namun, Liam malah membuka pintu kemudi lalu masuk dengan wajah setengah panik.
Sopir itu pun bingung. “Tuan, apa Anda ingin mengemudi sendiri? Ini kunci mobilnya, Tuan.”
Bayu melangkah dengan ekspresi cengo serta bingung. Heran sendiri dengan tingkah Liam saat ini. “Dia kenapa, sih? Apa jangan-jangan itu bukan Liam? Pagi-pagi wajahnya sudah sangat kusut, dan sekarang ketakutan tidak jelas. Sejak kapan seorang Liam begitu panik dengan bentuk wajahnya?”
Bayu berceloteh sembari menyusul Liam ke arah mobilnya. Ia melirik jam tangan, lalu berdecak malas. Tanpa basa-basi, Bayu mengetuk kaca mobil di mana Liam duduk.
“Liam! Ah, tidak, Pak CEO, sebentar lagi kita ada meeting. Ayo kita naik sekarang,” tutur Bayu.
Liam tak menghiraukannya, ia malah sibuk berkaca, memperhatikan wajahnya dari seluruh sudut. “Apa benar begitu kusut dan buluk? Rasanya aku masih tampan.”
Bayu yang gemas karena tak mendapat respon dari Liam, langsung saja membuka pintu mobil itu. Ia tercengang melihat Liam tengah sibuk memanfaatkan kaca mobil untuk memperhatikan setiap sudut wajahnya.
Bayu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia merasa heran serta tak percaya dengan apa yang tengah ia lihat saat ini.
“Apa ini benar-benar Liam Collan? Astaga, aku tidak percaya. Seumur-umur, rasanya ini pertama kali Liam berkaca fokus pada wajahnya. Seperti pria alai yang sedang jatuh cinta.” Bayu menggeleng-geleng tak percaya.
“Kau berbohong, ya?”
Bayu mengerutkan kening melihat Liam tiba-tiba menoleh ke arahnya sembari bertanya. “Berbohong apanya? Perasaan barusan aku tidak bicara apa-apa.”
Liam menatap Bayu dengan mata memicing. “Kau bilang wajahku buluk dan kusut.”
“Hah? Kapan aku bilang begitu? Aku tidak bilang, tuh.”
“Kau katakan tadi! Kau bilang aku sudah tidak tampan!”
Mulut Bayu ternganga. “Lalu? Bukannya biasanya kau tidak peduli dengan itu?”
Liam menggeram kesal. Ia pun keluar dari mobil. “Bonusmu bulan ini dipotong!”
Mata Bayu terbelalak. Ia segera mengikuti langkah lebar Liam yang kembali masuk ke dalam gedung perusahaan. “Apa kau bilang? Kenapa tiba-tiba bonusku dipotong? Aku salah apa? Ini baru pagi hari, loh! Astaga, bagaimana bisa aku meragukanmu sebagai seorang Liam Collan barusan? Ternyata kau memang Liam Collan yang asli, hanya saja semakin aneh. Ah, bukan begitu, sekarang aku bertanya, kenapa bonusku kamu potong wahai, Tuan CEO?”
Liam tak menyahut, ia terus melangkah, lalu berdiri di depan lift. Ekspresi wajahnya begitu kesal, sedari tadi malam dibuat tak bisa tidur, sekarang pagi-pagi mood-nya semakin dibuat hancur oleh kata-kata Bayu.
Sungguh Bayu yang malang. Kamu memancing Liam di saat dan dikondisi yang tidak tepat. Akhirnya Bayu menjadi tumbal mood buruk Liam.
Bayu masih berceloteh tak jelas. Liam tetap saja tak mengindahkannya, seakan tuli. Dengan santainya Liam masuk ke dalam lift. Bayu pun mengikuti sembari terus berceloteh.
Tepat ketika kedua pintu lift menyatu di pertengahan, tangan seseorang menghentikan pertemuan itu, mengejutkan Liam dan Bayu. Beberapa karyawan yang mengantri untuk masuk lift di sebelah pun ikut terkejut dengan aksi Fara.
Iya, Fara adalah orang yang menahan pintu lift Liam dan Bayu. Semua orang dibuat ketar-ketir, karena Fara sangat berani menghalangi lift khusus CEO. Mungkin karena masih pegawai baru di perusahaan itu, Fara tak tahu jika itu adalah lift khusus untuk CEO.
“Apa dia cari mati?”
“Dia sekretaris baru CEO ‘kan?”
“Eh, iya, ternyata dia.”
“Sepertinya dia akan langsung dipecat sama Tuan Collan. Berani sekali dia menghentikan lift CEO.”
“Tapi katanya kemarin sore, dia digendong paksa oleh Tuan Collan, loh. Kira-kira apa yang terjadi di antara mereka, ya?”
Berbagai bisikan mulai berdengung bak suara lebah. Dan, Fara pun langsung tersadar oleh bisik-bisikan para karyawan itu.
Fara mendongak, dan baru menyadari jika yang berada di dalam lift adalah Liam dan Bayu. Fara melirik ke samping, di mana para karyawan tengah mengantri panjang di depan pintu lift sebelah.
“Sial, pantas saja mereka antrinya sebelah sana saja. Ternyata ini lift khusus CEO. Ck, Fara bodoh, bagaimana bisa hal ini tidak tahu?” gerutu Fara di dalam hati.
Fara pun berdeham pelan, lalu tersenyum kikuk ke arah Liam yang tengah menatapnya tanpa berkedip. “Ekhm, maaf, Tuan CEO. Saya masih baru, jadi tidak tahu kalau lift ini khusus untuk CEO. Silakan.”
Fara pun mendekat, berniat memencet tombol lift supaya pintu lift itu kembali tertutup. Tepat ketika Fara mengulurkan tangannya untuk memencet tombol itu, Liam langsung menarik tangannya untuk masuk ke dalam lift tersebut.
“Kyaaa!” Fara memekik terkejut karena tiba-tiba ditarik oleh Liam.
Tak kalah terkejut, orang-orang di sana pun ikut melongo tak percaya dengan aksi Liam. Termasuk Bayu yang sudah melotot tak berkedip menatap sepasang insan di depannya.
Fara melipat bibirnya, ia melepaskan diri dari pegangan Liam. “Saya akan antri di lift sebelah, Pak.”
Liam melirik jam tangannya. “Sisa dua menit lagi menuju absenmu, telat 1 detik potong 1 juta.”
Seketika langkah Fara terhenti. Ia mengepalkan tangannya kesal. “Saya baru tahu ada peraturan seperti itu, Pak.”
“Itu peraturan khusus untuk sekretaris CEO.”
Fara mengumpat kesal dalam hati.
“Ke sini ‘lah dengan patuh,” lanjut Liam.
Fara menarik napas dalam, lalu diembuskan perlahan. Wanita itu pun melangkah mundur, seperti enggan untuk menatap Liam.
Bayu masih planga-plongo di belakang. Akhirnya ia pun melangkah, lalu berdiri sejajar di samping Liam. “Aku jadi meragukanmu lagi. Apakah ini benar-benar Liam Collan?”
Liam melirik kesal ke arah Bayu. “Bacot!”
Tanpa pakai hati, dengan santainya Liam menendang pan-tat Bayu hingga tersungkur keluar dari lift. Semua orang melotot terkejut, termasuk Fara.
Gedebuk!
Bayu mengumpat sembari meringis pelan. Ia mendelik kesal ke arah Liam yang tampak tenang tanpa dosa.
“b*****h!” umpat Bayu.
“Telat satu detik, dipotong 5 juta,” cetus Liam sembari tersenyum sinis.
“APA?!” teriak Bayu heboh, “heh, tunggu aku! Heeeh!”
Liam dengan segera menutup pintu lift, Bayu tak diizinkan masuk. Ia seakan sengaja hanya ingin berdua di dalam lift tersebut bersama Fara. Benar saja, tanpa banyak bicara, tiba-tiba Liam mendorong tubuh Fara ke sudut lift.
Grep ...
“Aaa! Apa-apaan ini, Liam?”
“Diam ‘lah, atau aku buat bibirmu bengkak.”