“Ssst.” Liam mendesis merasakan kepalanya agak pusing. Ia menggeliat kecil, lalu kembali meringis ketika merasakan tubuhnya pun sakit-sakit. “Astaga, kenapa rasanya sakit begini, seperti siap adu tinju, badanku sakit-sakit.” Liam perlahan mulai membuka matanya. Kelopak matanya terbuka perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk. Beberapa detik, Liam bengong dengan wajah bingung, karena merasa asing dengan lokasi tempatnya berada sekarang. Per sekian detik berikutnya, Liam mulai berhasil mengumpulkan kesadarannya. “Ini apartemen Fara.” Liam bergerak pelan, lalu kembali meringis merasakan tubuhnya sangat sakit-sakit. Pria itu baru menyadari dirinya terbaring di atas lantai beralaskan karpet tipis. Parahnya lagi, kepalanya bahkan hampir menghantam kaki sofa. “Apa semalaman aku tidur di sini? D

