Marina mengerling sebelah matanya pada Adelle. Dan Sullvian yang melihat menggelengkan kepala tidak ingin ikut campur dengan masalah para anak muda.
Setelah Alden dan Dale bersikeras tidak mengizinkan Adelle untuk mengikuti Marina, akhirnya Adelle membuat keputusan untuk ikut karena sudah terpengaruh oleh perkataan Marina. Pagi itu juga Adelle bersiap untuk pergi menghabiskan sedikit uangnya.
Membeli pakaian mahal, sepatu dan tas baru. Saat siang harinya, ketiga bodyguard Adelle beralih jobdesk menjadi tukang bawa barang dan babu penjaga. Baru dua jam mereka bertiga menunggu Adelle di dalam salon, tapi ketiganya seperti telah menunggu berabad-abad lamanya.
“Ck! Bateraiku habis. Bagus sekali.” Dale terbangun setelah mendengar dengusan kasar Alden.
“Aku membawa charger jika kau ingin meminjamnya.” Sullvian jadi tidak tega melihat ekspresi Alden sudah seperti akan menangis karena terlalu bosan.
“Apakah memang semua wanita yang pergi ke salon akan selama ini? Aku sempat berpikir kita sudah ada di abad ke 21 sekarang.” Dale dengan polosnya bertanya setelah satu jam dia tidur menggunakan pudak Alden.
“Aku berharap ada ribuan zombie di luar dan kegiatan ini bisa segera berakhir. Oh s**t… Number two. Jika Adelle sudah selesai, jangan tinggalkan aku, okay?”
Dale dan Sullvian memberikan gerakan tangan mengusir pada Alden yang tampak menahan sakit perutnya.
“Seminggu kau disana, Adelle masih belum selesai. Tenang saja. Kuku kakinya saja belum disentuh.” Ucap Dale agak keras dan sengaja mengganggu Adelle yang tengah membaca majalah.
Setelah berkutat di salon sampai hampir menjelang sore, akhirnya mereka semua pergi ke sebuah restoran untuk mengisi perut. Tentunya mereka tidak lama disana karena Adelle meminta pulang untuk istirahat karena lelah juga duduk di salon seharian.
-Nightsky Club-
Di sebuah club malam, seorang wanita turun dari mobil dan diantar masuk ke dalam dengan dua orang bodyguard yang mengawalnya. Ketika wanita itu masuk ke dalam club, suara riuh musik terdengar sampai keluar.
Wanita dengan gaun sexy berwarna merah itu tampil mencolok sekali di dalam club. Hiasan bulu serigala impor yang menghiasi lehernya juga menambah kemewahan dandanannya malam itu.
"Wanita itu sudah datang."
Drake yang duduk di depan meja bartender berbalik perlahan sambil memesan segelas whiskey. Dia menjaga matanya agar tidak terlalu melirik ke arah wanita itu terlalu sering. Gerak tubuhnya yang mengikuti lantunan musik itu terhenti ketika ada seorang wanita mendekatinya.
"Jangan terlalu menikmati peranmu, Drake. Tujuan kita bluefin tuna di depan sana." Ucap Christian yang duduk di sampingnya seperti pria asing. Drake tertawa mendengarnya.
"Kau pikir kita sekarang ada di restoran sushi?" Christian mendengus malas. "Ayolah! Kita nikmati saja sambil menunggu kelinci berengsek itu tiba." Drake memberi usul.
Para gadis yang mengelilinginya tertawa cekikikan saat tangan nakal Drake meraba bamper belakangnya. Christian iritasi sekali melihat kelakuan anak buahnya itu. Tidak adab sama sekali. Padahal bosnya ini baru saja ditolak mentah-mentah oleh Adelle bulan lalu.
Sebulan penuh yang dilakukan Christian hanya menguntit Adelle di sosial medianya. Apa yang dikerjakannya hari ini, apakah ia makan dengan teratur. Christian merasa hampir gila karena memikirkan Adelle.
"Ck!" Tapi melihat Drake sudah menggila setelah b******u dengan para gadis, Christian membuang muka dan menghabiskan satu botol whiskey seorang diri.
Dentuman musik dan aroma parfum menyengat sampai memenuhi seisi ruangan. Hal itu memang sudah menjadi kejadian biasa di dalam club. Dan Christian berulang kali mengusir para wanita yang mendekatinya.
"Sendirian, tampan?"
"Pergilah."
Tidak ada yang diinginkannya di dunia ini kecuali Adelle seorang. Wanita yang jual mahal dan sombong tingkat wahid itu membuat sekujur tubuh Christian berguncang menginginkan Adelle.
Bibirnya yang tebal dan penuh, hidungnya yang mancung dan lirikan matanya yang tajam. Bahkan suaranya menghantui di setiap mimpinya. Sebulan menahan diri untuk tidak bertemu dengannya sudah membuatnya sakit sampai separah ini.
Tapi semua itu harus Christian tahan sampai masanya tiba untuk bertemu perdana dengan Adelle nanti. Menculiknya? Tentu saja. Bibir Christian mengembang sedikit membayangkan betapa heroiknya nanti saat dia menculik Adelle.
Christian berbalik dan menatap ke arah lain ketika target yang ditunggunya tak kunjung datang. Wanita hedon yang bergaya berlebihan tadi juga tampak menunggu pasangannya datang sejak tadi.
"Apakah dia tidak datang?" Tanya Drake yang telah kembali.
"Apa kau yakin dia selalu datang di jam ini?" Christian balik bertanya sambil melihat jam tangannya. Ini sudah pukul 11 malam dan laki-laki itu belum juga tiba.
"Aku sudah dua minggu berkamuflase disini, Christian. Kebiasaannya memang datang kemari setiap hari pukul 10 malam. Dan Lucia juga selalu kemari setiap dua hari sekali sehabis syuting." Drake jadi was-was dan gemas karena menunggu seseorang yang tak kunjung datang.
Tapi saat bokongnya baru saja menyentuh kursi, matanya tak sengaja melihat seorang pria surai coklat yang menjadi targetnya kali ini.
"Hahahaha Anda memang luar biasa Nona Cameron. Aku akui Anda peminum yang hebat!"
Ekspresinya berubah horor saat Hector, pria berengsek itu tampak bersenda gurau dengan seseorang yang membuatnya bergidik ngeri.
"Aku rasa… dia sudah sejak tadi tiba di tempat ini." Ucapnya ragu-ragu sekali. Christian menoleh ke samping.
Drake langsung panik saat tiba-tiba Christian berdiri sampai tak sengaja menumpahkan whiskey di atas meja.
"Hey! Hey, hey! Tunggu dulu. Jangan mendekatinya sekarang!"
"Persetan! Demi tuhan Adelle satu meja dengan si berengsek itu!" Christian memaki tidak terima sekali melihat wanitanya duduk bersensa gurau dengan pria lain.
Matanya tidak mungkin salah mengenali Adelle disana. Duduk dengan gaun berwarna emas tak lupa dengan cincin permata merah muda pemberiannya. Christian kesal sekali melihat wanitanya tengah bersenda gurau dengan laki-laki lain.
"Tapi-HEY! Astaga…."
Drake terpaksa mengikuti Christian ke meja tempat Adelle berdiam diri.
"Boleh aku bergabung?"
Tatapan mata Christian tertuju pada Adelle yang menundukkan kepala. Tangannya masih tampak erat sekali memegang gelas whiskey yang tersisa setengah itu.
"Oh? Bukankah Anda Tuan North? Sudah lama sekali saya tidak melihat Anda. Terakhir kali sebulan yang lalu Anda mengunjungi Manor Nona Adelle."
Drake menghela nafasnya lega sekali saat ketiga bodyguard yang menjaga Adelle sudah teler tak berdaya di atas sofa. Iris hitamnya menatap wanita yang menyapa Christian tadi. Christian tersenyum ramah dan demi tuhan hanya Drake yang bisa melihat aura hitam penuh kutukan keluar dari punggung Christian.
"Bagaimana kabar Nona Adelle? Aku sibuk sekali sampai tidak sempat untuk berkunjung lagi."
"Nona Adelle… Baik-baik saja tentunya hahahaha."