Bab 15. Anjing Husky

1010 Kata
Marina tertawa tidak jelas karena dia sudah hampir mabuk. Bicaranya juga mulai tidak jelas. Manik abu-abunya itu melirik Alden, Dale dan Sullvian dengan lirikan tajam. Bisa-bisanya bodyguard yang tugasnya melindungi majikannya itu malah terkapar disana. 'Ck! Dasar tidak berguna.' Batin Christian kesal setengah mati. Dia menggeser kaki Dale ke samping dan dengan santainya duduk di samping Adelle. Hector memutar matanya malas saat melihat Christian melipat kaki layaknya bos disana. "Aku tidak menyangka bahwa Tuan North berteman akrab dengan Nona Adelle. Biar aku tebak, setelah kejadian Burton kalian akrab bukan?" Hector mendengus mengejek Christian. Tapi bukan Christian jika trik murahan seperti itu bisa mengalahkannya. "Ya. Kami menjadi dekat sejak saat itu. Tapi sepertinya kau tidak bisa berlama-lama duduk disini bukan?" Hector langsung mendengus kasar saat melihat ke arah Christian melirik. "Hector!" Lucia datang bersamaan dengan Drake yang ternyata berinisiatif memanggilnya kemari. Hector pun tanpa permisi segera hengkang dari meja para High Collector. Drake juga penuh pengertian mengajak Marina untuk membawanya ke dalam bilik agar Christian bisa leluasa memanfaatkan kesempatan itu. "Aku tidak tahu jika kau suka pergi ke tempat seperti ini." Sempat ada keheningan diantara mereka karena Adelle sejak tadi diam saja. Christian dengan sengaja menggerakkan kakinya untuk menyentuh paha Adelle dengan lututnya. Dan tiba-tiba Adelle mengangkat kepalanya. "Dulu aku hampir setiap hari datang ke tempat ini." Kata Adelle menuangkan minuman ke dalam gelasnya. Christian pada akhirnya menyadari bahwa Adelle sudah sangat mabuk karena tangan Adelle yang tampak kepayahan sekali menuangkan minuman. Christian pun mengambil gelas Adelle lalu meminumnya sampai habis. "Kau mabuk, Adelle." Ujar Christian mendorong pundak Adelle perlahan agar wanita itu bisa bersandar pada sofa. Dan Christian bisa melihat wajah indah Adelle. Sosok wanita yang tak pernah absen dari mimpinya itu tidak sadarkan diri karena mabuk berat. Dalam kepala Christian mencoba menerka ada apa gerangan dan sudah berapa lama Adelle di dal club ini? Dia mencoba menghitung berapa banyak botol di atas meja sebelum mengangkat tangannya dan meminta beberapa orang membersihkan mejanya. "Seseorang pernah datang padaku…." Adelle berbicara sendiri layaknya ia tengah dalam kamar dan berbincang dengan Marina. Christian diam mendengarkan dengan seksama. Adelle ternyata tipe orang yang cerewet saat mabuk. "Orang itu membawa anjing siberian husky lucu berumur 7 bulan…." "Ya tuhan… Aku pikir mantan kekasihmu." Gumam Christian sedikit sensitif jika membicarakan mantan kekasih. Adelle terus meracau dan enggan menampakkan iris ambernya pada Christian. "Aku membeli husky itu seharga 7 ribu dolar!" Adelle tiba-tiba bangkit dan menendang meja sampai beberapa gelas menggelinding ke bawah dan pecah. Christian berusaha mengatur suasana sambil menarik kaki Adelle agar berhenti bergerak tiba-tiba seperti tadi. "Lalu, kemana anjing itu sekarang?" Christian bertanya tapi matanya malah tertuju pada paha mulus Adelle. Otaknya mendadak kacau. "Anak nakal itu kabur dan tidak pernah kembali lagi… Padahal aku sangat mencintainya." Christian memutar matanya malas. Merasa bodoh karena ternyata Adelle pernah jatuh cinta pada seekor anjing husky licik. Dia berdoa terlahir sebagai anjing husky saja jika bisa dicintai oleh Adelle. Pikirnya mendadak gila sungguhan. "Aku punya banyak anjing di rumah. Jika kau ingin, kau bisa membawanya satu." Dan perkataan Christian membuat Adelle membuka matanya. "Kau serius? Kau memberikannya satu padaku?" Ekspresi antusias Adelle membuat Christian salah paham. Padahal tadi dia hanya bercanda. "Anjing apa yang kau inginkan? Husky lagi?" Adelle mengangguk cepat. Entah sadar atau tidak, tapi Christian yakin Adelle akan ingat hal ini saat ia sadar dari mabuk nanti. "Aku akan mengantarkannya besok ke rumahmu." "Kau baik sekali… Siapa namamu?" Adelle bertanya tidak jelas. Di dalam pandangannya yang kabur, wajah Christian tidak bisa ia kenali lagi. Christian jadi serba salah, apakah dia harus mengatakan identitas aslinya atau tidak. Perkataan Adelle sebulan yang lalu membuatnya bimbang. "Christian… North." Christian mengantisipasi Adelle akan kembali menjauh darinya seperti kemarin. Tapi Adelle tersenyum dan naik ke atas pangkuannya dengan gerakan s*****l. Demi apapun juga Christian sampai mengerjap kuat karena sempat mengira ini adalah mimpi. "Christian North? Nama itu seperti tidak asing bagiku. Kita pernah berkenalan sebelumnya?" Kedua tangan Christian kaku sekali tidak berani menyentuh Adelle. Apakah tuhan sekarang sedang memberinya berkah setelah penderitaannya selama sebulan? Adelle sungguh di atas pangkuannya sekarang. Duduk menghadapnya sampai celana dalamnya hampir terlihat oleh Christian. Beberapa pengunjung club yang hadir juga cuek saja dengan kegiatan Christian dan Adelle. "Kau tidak seharusnya duduk disini, Adelle… Itu berbahaya." Kata Christian memperingatkan. Instingnya sudah setajam penguasa alam rimba jika sudah Adelle menggodanya seperti ini. Tidakkah Adelle merasa bahaya duduk di atas pangkuan pria berjiwa buas seperti Christian? Tapi orang mabuk memang tidak bisa berpikir jernih. "Aku sudah duduk di atas sini lebih dari semenit dan tidak ada yang menerkamku, Christian. Kau berbohong padaku." Christian tercekat ludahnya sendiri. Kata-kata itu benar-benar memancing kewarasan otaknya. Dan dia tidak suka kalimat terakhir yang diucapkan Adelle. Christian lalu memberanikan diri untuk menyentuh pinggangnya. Saat ia menyentuh tubuh Adelle semakin ke atas dan mengelus dari punggung hingga ke paha, Christian tahu reaksi Adelle berbeda sekali. Kedua mata Adelle terbuka dan tertutup menikmati sentuhan tangan Christian hingga deru nafasnya memburu tidak teratur. “Ck! Dasar berengsek.” Gumam Christian saat menyadari Adelle tidak hanya mabuk berat, tapi juga terangsang saat ini. Kecil kemungkinan orang mabuk akan b*******h untuk melakukan seXs mengingat pembahasan Adelle hanya seputar kesedihan karena seekor anjing yang hilang. Besar kemungkinan Hector sudah memasukkan sesuatu ke dalam minuman Adelle tadi. “Kau benar-benar dalam masalah, Adelle. Sebaiknya aku mengantarmu pulang ke ruma-” Christian tidak bisa melanjutkan perkataannya ketika Adelle menciumnya tiba-tiba. Ciuman menuntut dan dalam itu terasa b*******h sekali sampai Christian sungguh gila dan tidak lagi bisa waras setelah digoda seintim ini oleh Adelle. Ditariknya kedua paha Adelle sampai tubuh mereka melekat sempurna. Ciuman yang semakin menggila dan tubuh yang memanas karena gairah tak lagi bisa dibendung. Christian melepaskan ciuman itu dan tidak lagi berpikir untuk membawa Adelle pergi dari club. -Beberapa jam sebelumnya- Adelle mematutkan diri di depan cermin seraya memperhatikan lekuk tubuhnya yang pas mengenakan gaun berwarna emas itu. Sebenarnya ia bukan akan pergi kencan hari ini. Tapi karena ia tidak punya pasangan dan sedang dalam pengaruh Marina, ia memilih untuk mengajak ketiga sahabatnya dan Marina juga untuk bersenang-senang di club.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN