Marissa menggeliat dalam tidurnya. Perlahan membuka mata saat merasakan nyeri yang sudah berlangsung sejak sore tadi, kini semakin hebat. Wajahnya meringis menahan sakit sambil kedua tangannya meremas gamis daster yang ia kenakan. Netra Rissa melirik jam dinding sekilas, pukul dua dini hari. Melirik ke sebelah, Satya suaminya sedang asyik bergumul dengan guling dan selimut. Tidurnya pulas sekali. "Maas Satya...," ucap Rissa lirih diantara nyeri yang semakin menjadi. Tangannya mengguncang pelan bahu Satya agar suaminya itu terbangun, "Mas, sakit..., perutku sakit sekali," sambung Rissa, kali ini dengan nada terisak. Satya langsung tergagap saat merasakan guncangan serta suara isakan, "Rissa, kenapa sayang? Apanya yang sakit?" tanyanya dengan raut cemas. "Perutku Mas, nyeri seka

