Lima

1691 Kata
Bu Ratu dan Cindy saling pandang melihat Suci yang menggoreng sosis untuk dirinya sendiri. Wanita dengan tubuh urus itu mengabaikan perintah ibu mertuanya untuk pertama kali. Suci sudah muak dengan keluarga mereka. Malam tadi, mereka tak peduli dengan perasannya. Dengan santainya Suci mengambil nasi dan langsung menyuapi sang anak yang juga duduk di meja makan. Ia tak peduli dengan ibu mertua dan adik iparnya yang menatap penuh kebencian. “Suci, kamu benar-benar buat kami muak,” ujar Bu Ratu. “Tolong, Ma. Jangan kasar di depan anakku.” Suci berteriak dengan lantang. Bu Ratu semakin heran dengan sikap Suci yang membangkang. Tidak biasanya ia seperti itu. Menantunya selalu menurut apa yang dikatakan ibu mertuanya. Akan tetapi, kali ini Suci sangat berbeda. Ia menjadi pembangkang, dari biasanya. “Heh, kamu itu di sini menumpang. Makan saja kamu menggunakan uang kami, jangan mencari gara-gara dengan kami, mengerti!” Bu Ratu mengancam Suci. “Aku dan Cindy sama-sama menantu, dia juga sama menumpang hidup. Kalau aku masih bisa mengerjakan apa pun, bahkan menjadi pembantu yang kalian mau tanpa kalian gaji, sedangkan Cindy, hanya bisa merengek meminta di buatkan ini itu,” oceh Suci. “Cindy itu beda sama kamu, jangan pernah di samakan. Lagi pula Cindy sedang hamil, mana boleh mengerjakan apa pun,” jawab Bu Ratu. “Dulu, saat aku hamil pun, Mami selalu menyuruh aku, bahkan sengaja memecat pembantu agar aku yang mengerjakan semuanya. Mami amnesia, atau memang pura-pura lupa?” Suci semakin berani, ia kembali menyuapi Sharen, anak itu memperhatikan neneknya yang sangat jahat. Sementara, Cindy semakin menjadi. “Mi, bagaimana ini, dia sudah enggak mau mengerjakan banyak pekerjaan, untuk apa dia masih di sini, suruh ke luar saja dia dari sini,” bisik Cindy. “Kalau dia kita usir, siapa yang mengerjakan semuanya, biarin saja. Dia ngambek sebentar, kok. Tenang saja, nanti juga balik lagi ke kodratnya. Pembantu,” jawab Bu Ratu. Mereka kembali ke ruang tengah dan memesan makanan lewat go food. Suci menarik napas melihat kedua orang itu, lalu ia kembali fokus menyuapi Sharen agar ia tak masuk angin karena akan kontrol ke rumah sakit lagi. *** Bu Yuni dan Pak Wahyu sarapan di meja makan. Mereka membicarakan Suci yang sudah mereka angkat menjadi anak angkatnya. Bu Yuni berharap suaminya cepat mengajak Suci pindah dan tinggal bersama mereka karena ia sangat merindukan putrinya yang dulu hilang. Apalagi di rumah megah ini hanya mereka berdua yang tinggal dan itu membuat mereka kesepian. Saat Pak Wahyu bekerja, Bu Yuni hanya menyibukkan dirinya dengan tanaman di halaman rumah. “Pak, hari ini kayanya Sharen kontrol, ya?” tanya Bu Yuni. “Iya, Bu. Tadi Suci sudah bapak hubungi agar dia tidak lupa untuk kontrol ke rumah sakit. Setelah itu dia mau mampir ke rumah katanya,” ujar Pak Wahyu. Mendengar hal itu Bu Yuni merasa senang. Ia pun langsung antusias kembali makan agar kuat bermain dengan Sharen. “Gisel, jadwal saya hari ini apa?” Pak Wahyu menghubungi Gisel—sekertaris Pak Wahyu melalui sambungan telepon. “Jadwal ke PT Adi Jaya, Pak. Bertemu dengan Pak Arya dan Pak Adi jaya .” Gisel menjawab dari seberang ponsel. “Baik.” Pak Wahyu langsung menutup ponselnya, dan kembali makan pagi. Sepertinya hari ini ia akan sibuk dengan beberapa pekerjaan. “Bapak bekerja sama dengan PT Adi jaya?” tanya Bu Yuni. “Iya, Bu. Ada apa?” tanya Pak Wahyu. “Bukannya itu suaminya Suci, benar apa enggak, ya?” Bu Yuni sedikit ragu saat mengatakan hal itu. Pak Wahyu pun kembali berpikir dan ia pun mengingat jika Suci pernah mengatakan jika suaminya adalah anak dari Adi guna. Pak Wahyu tersenyum, menurutnya sangat menarik jika bertemu degan mereka. “Oh, iya benar, Bu. Nanti ayah cari tahu, ya.” Pak Wahyu kembali meneruskan makan, sedangkan Bu Yuni yang sudah selesai langsung membantu Bi Imah merapikan piring kotor. *** “Mau ke mana kamu Suci?” tanya Bu Ratu. “Sharen mau kontrol,” jawab Suci. Suci langsung melenggang melewati ibu mertuanya dan adik iparnya. Namun, Bu Ratu kembali menghalangi Suci di ambang pintu dengan bertolak pinggang. “Kamu pakai BPJS, kan?” tanya Bu Ratu. “Tenang, Mi. Aku enggak bakal menggunakan uang anak Mami. Sejak awal aku menggunakan BPJS.” Suci sengaja berbohong, padahal Bu Yuni dan Pak Wahyu sudah membayar semuanya dengan lunas. “Oh, baguslah. Uang Arya enggak habis untuk hal enggak penting.” Bu Ratu kembali bicara. Suci menatap kesal, ia pun merutuk keluarga itu, untuk berobat di bilang membuat uang dan menghabiskan uang Arya. Suci langsung menggandeng sang anak ke luar dari neraka itu. Sementara, Cindy pun puas melihat kakak iparnya dijadikan sebagai pembantu, sedangkan ia dijadikan Ratu. Suci langsung menaiki taxi online. Ia masih memiliki uang simpanan yang di berikan Arya beberapa Minggu lalu sebelum pria itu menyebalkan. Sepertinya ia tidak akan pusing jika bercerai dengan Arya karena memang pria itu sudah lama tak menganggapnya seperti istri. Sepanjang jalan Suci memikirkan tentang ucapan ibu mertuanya. Tentang sebuah perceraian, apa Arya akan menceriakan dirinya atau tidak, pikir Suci. Memikirkan hal itu saja sudah kembali membuat perih. Bisa-bisanya mereka mengatakan itu. Seolah-olah menyingkirkannya dengan cepat karena sudah menemukan pengganti dirinya. Selama ini ia melakukan banyak pekerjaan agar mereka bisa menerimanya. Namun, semuanya hanya sia-sia, mereka malah menganggap dirinya sebagai pembantu saja. Suci menyeka bulir bening yang mengalir di pipi, tanpa sengaja ia mengisi nasibnya yang seperti pembantu bukan seorang istri. “Mama kenapa menangis?” tanya Sharen. “Eh, mama kelilipan.” Suci menjawab cepat. “Jangan menangis, nanti Nenek di balas sama Tuhan kalau nakal sama Mama,” ujar Sharen polos. Suci hanya tertawa, sepertinya sang anak sangat paham jika neneknya tidak baik pada sang ibu. Perasaan sang anak sangat peka, Sharen langsung memeluk sang ibu yang nampak sedih. *** “Kondisinya baik, sudah sehat. Tapi, jaga makanya, ya Bu. Soalnya masih sangat rentan jika Sharen terlalu banyak makan yang kurang baik.” “Terima kasih, Dok.” Suci langsung membawa Sharen ke luar ruangan setelah kontrol. Ternyata tidak begitu lama karena Suci dan Sharen sudah di daftarkan sebagai pasien lebih cepat karena Pak Wahyu sudah mendaftarkan lebih dahulu. Suci gegas beranjak untuk menemui Bu Yuni di rumahnya. Akan tetapi, ia tak sengaja bertemu dengan Cindy, tepatnya melihat adik iparnya itu ke dokter kandungan sendiri. Suci penasaran, tapi ia malah menghampirinya. Langsung saja ibu satu anak itu pergi dari rumah sakit itu dan menuju rumah Bu Yuni karena sejak tadi wanita itu terus menghubunginya agar cepat datang ke rumahnya. Sudah lama sekali Suci tak pergi ke luar rumah selain ke pasar. Semenjak beberapa tahun sang suami mengalami perubahan hingga menatapnya saja enggan. Arya selalu berteriak mengatakan Suci bau bawang dan ikan asin karena sering di dapur. Suci menarik napas panjang saat penghinaan demi penghinaan terlontar dari mulut sang suami. Padahal ia sudah berusaha tampil cantik dengan bedak dan alat make up seadanya saat Arya pulang. Akan tetapi, tetap saja pria itu selalu menghindar dan menolaknya. Apalagi terakhir, ia membandingkan dengan Gisel. Hatinya begitu rapuh hingga ia bersumpah akan membuat pria itu menyesal. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Bu Yuni, Suci bergegas menggendong Sharen turun dari mobil. Bu Yuni sudah menyambut kedatangan Suci di depan gerbang, layaknya seorang cucu, Sharen berlari menghampiri Bu Yuni yang merentangkan tangan untuk di peluk. “Nenek,” ujar Sharen. Bu Yuni memeluk Sharen seolah-olah sudah tak bertemu lama. Bu Yuni langsung mengajak mereka masuk dan meminta beberapa asisten untuk membuat makanan dan cemilan tidak lupa Minuman dingin untuk Suci. “Ci, suami kamu namanya Arya bukan?” tanya Bu Yuni. “Iya, Bu. Ada apa?” Suci bertanya balik. “Mertua kamu Adi jaya, pemilik PT Adi Jaya?” tanya Bu Yuni lagi. “Iya, Bu. Kenapa memang, bikin aku penasaran.” Bu Yuni menceritakan jika mereka sedang ada kerja sama. Gisel, yang mengurus semuanya termaksud kontrak kerja dengan Pak Wahyu. Suci menggigit bibir mengetahui jika Gisel yang membuat ya kesal semalam adalah karyawan Pak Wahyu. Suci menceritakan bagaimana Arya datang bersama Gisel dan membuat hatinya panas. Suci pun menceritakan bagaimana Gisel memperlakukan dirinya seperti wanita yang tidak berkelas. Menghina penampilan Suci dan menghinanya dengan tatapan sinis. “Aduh si Gisel itu, biar saja nanti Ibu buat pelajaran ke dia. Kamu mau enggak ke salon langganan ibu, mempercantik diri, Bagaimana?” tanya Bu Yuni. “Jangan sekarang, Bu. Nanti saja, setelah aku ke luar dari rumah mereka. Nanti mereka curiga aku dapat uang dari mana. Aku pun sudah muak di perlakukan sebagai pembantu, Bu. Sakit hati aku,” tutur Suci. Selama menjadi istri Arya, sejak datang hingga saat ini mereka selalu bersikap jahat. Kecuali Ivan, adik iparnya. Pria itu baik sering mengajak Sharen main dan memberikan makanan atau mainan. Tak jarang Ivan pun sering menjadi sasaran kemarahan sang ibu karena terlalu baik pada Sharen. Padahal tak salah karena anak itu adalah keponakannya. “Kita bicarakan dengan Bapak,” ujar Bu Yuni. “Tadi juga mereka mengancam jika aku tak melakukan pekerjaan di rumah, ibu mertua aku akan mengancam akan meminta Arya menggugat aku cerai.” Suci terlihat sangat terluka dengan ucapan Bu Ratu. “Aduh, kesel sekali Ibu dengarnya. Andai saja ketemu ibu mertua kamu, sudah ibu kasih cabai mulutnya. Lagian juga ipar kamu, manja sekali baru hamil saja sudah malas.” Bu Yuni mengomel sepanjang hari. Ia sangat kesal dengan cerita Suci dan ingin cepat mengeluarkan anak angkatnya dari rumah mereka itu. “Tenang saja Suci, kita buat mereka menyesal membuat kamu menderita. Apa kamu tidak ada keluarga di kota ini?” tanya Bu Yuni. “Enggak, Bu. Saya sebatang kara,” ujar Suci. Bu Yuni semakin iba pada Suci. “Bu, Suci bekerja saja di rumah Bu Yuni untuk membayar hutang rumah sakit Sharen. Gajinya nanti di potong saja, tapi setidaknya aku dan Sharen ada tempat tinggal untuk berteduh,” ujar Suci. “Jangan, kamu kan sudah saya anggap anak. Tinggal saja di sini, enggak usah kerja, uang rumah sakit juga jangan kamu pikirkan,” tutur Bu Yuni. Suci mengeluarkan air mata, ia menatap sendu wanita baik hati di depannya. Baru kali ini ia merasa bahagia setelah penderitaan yang ia alami selama di rumah suaminya. Ia bertekad akan melakukan hal baik di rumah Bu Yuni. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN