Gisel mencoba membuat Pak Wahyu percaya kalau perusahaan Arya memang pantas menerima saham yang ia berikan. Data dan kemajuan kantor yang di pimpin Arya pun begitu melesat hebat. Gisel tersenyum puas saat Pak Wahyu akan memberikan dan menginvestasikan saham di perusahaan Arya.
Pak Wahyu menerima telepon dari Bu Yuni. Wanita itu menceritakan tentang Gisel, wajah Pak Wahyu berubah seketika. Pria itu langsung menoleh ke arah Gisel yang sedang merapikan data.
“Sel, pending kontrak dengan Pak Arya sampai saya bilang oke.”
Gisel terkesiap, padahal ia sudah merapikan beberapa berkas untuk di tanda tangani oleh Arya. Ia mengernyitkan dahi dan berpikir ulang mengenai apa yang di katakan Pak Wahyu.
“Pending kenapa, Pak?” tanya Gisel.
“Ada beberapa berkas yang belum saya lihat.” Hanya jawaban singkat itu yang di berikan Opak Wahyu.
Lalu, pria itu ke luar ruangan dan kembali ke kantor untuk membahas banyak masalah. Baginya tidak penting hanya membahas masalah yang tidak masuk dalam dagtaran.
Gisel kebingungan bagaimana menyampaikan pada Arya. Ia tak mau dianggap tak bisa apa-apa dan hanya omong kosong saja. Namun, bagaimana pun ia harus menjelaskan pada Arya tentang Pak Wahyu.
Gisel menutup ponsel setelah menghubungi Arya, sepertinya pria itu sangat kecewa saat mendengar jika investasi dananya pada perusahaan pria yang sedang ia dekati itu. Ia pun tak bisa apa-apa saat pria itu kecewa.
***
Suci kembali ke rumah sang suami. Di sana ia sudah di sambut dengan wajah judes dari ibu mertua dan adik iparnya. Bu Ratu menatap sinis, lalu menarik lengan Suci yang masih berdiri di ambang pintu.
“Sini kamu,” ujar Bu Ratu.
Suci melepaskan tangan sang mertua, ia menatap sengit Bu Ratu yang seenaknya saja menyuruh dirinya. Ia tak suka di perlakukan seperti ini oleh ibu mertuanya.
“Aduh, lepas.” Suci mulai berontak pada Bu Ratu.
“Kamu sudah berani sama saya? Cepat buatkan kami makan sore, kamu pergi nggak ingat waktu apa, kamu tahu kamu belum makan?” Bu Ratu kehilangan akal, ia terus saja membuat Suci kesal.
“Loh, kalian yang mau makan. Kok aku yang repot, lagian ada makanan online, kenapa harus menyuruh aku?”
Kembali Suci mengajak sang anak masuk ke kamarnya. Terlihat beberapa kali Bu Ratu menatap tajam dan memberikan wajah tidak suka pada Suci yang mulai jadi pemberontak di rumah itu.
“Kamu jangan lupa di sini kamu di kasih makan dan tempat tinggal. Kamu jangan lupa semua itu.”
“Aku enggak akan lupa kalau kalian menganggap aku sebagai pembantu. Harusnya aku di perlakukan baik, karena aku dan Cindy sama. Sama-sama menantu, tapi Mama membedakan kami.” Suci sengaja mengatakannya ia pun sudah mulai kesal dengan sang ibu mertua.
“Jangan harap kamu kami perlakukan dengan baik. Kamu cuma perempuan yang tak memiliki harta dan kekayaan. Beda dengan Cindy yang banyak uang,” ucap Bu Ratu.
Suci benar-benar emosi, semua di liat dari banyaknya uang. Belum tahu saja ibu mertuanya jika Suci akan menjadi orang kaya karena ia sudah menjadi bagian keluarga Pak Wahyu.
Merasa sudah geram, Suci kembali mengajak sang anak masuk ke kamar, terjadi lagi Bu Ratu menarik tangan Suci, tapi Suci berhasil menangkisnya dan masuk ke dalam kamar, lalu menutup kencang kamarnya.
“Suci, Awas kamu, ya!” teriak Bu Ratu.
“Kurang ajar sekali, dia Mi.” Cindy kembali mengompori. Keduanya kembali ke dapur mereka bingung mau makan apa.
Bu Ratu masih sangat kesal, bagaimana bisa Suci melawannya, selama ini ia tak pernah membantah apa yang di katakan ibu mertuanya. Selalu menurut apa yang dikatakannya, tapi sekarang ia malah menjadi pemberontak.
***
Arya kesal karena mendengar Pak Wahyu menunda mengalokasikan dana di perusahaan miliknya. Padahal, Gisel sudah memberi tahu jika dirinya sedang mempersiapkan semua berkat. Namun, tiba-tiba saja Gisel menghubungi jika sedang mengurusi berkas yang siap di tanda tangan. Akan tetapi, tiba-tiba saja Pak Wahyu membatalkannya.
“Sial sekali, kenapa bisa batal, sih!” Arya bergumam kesal.
Arya langsung menghampiri sang ayah di ruangannya. Ia melaporkan jika Pak Wahyu menunda semua investasi di perusahaan mereka. Tak kalah kaget, Pak Adiguna pun terkejut bagaimana bisa tiba-tiba ditangguhkan.
“Bagaimana bisa, harusnya sudah ACC,” ujar Pak Adiguna.
“Aku juga enggak ngerti, Pa. Tiba-tiba Gisel menghubungi seperti itu,” ujar Arya setengah kesal.
Pak Adiguna pun menyayangkan karena ini kontrak besar, mengapa bisa Pak Wahyu tiba-tiba membatalkan begitu saja. Apalagi Gisel sudah mematikan akan mendapatkan kontrak ini dengan mudah.
Arya kembali ke ruangannya, ia memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan kontrak ini dengan cepat. Apa harus mendatangi mereka menanyakan apa yang membuat menahan investasi itu. Arya mengacak-ngacak rambut kasar, ia kesal dengan hal itu, sudah menunggu lama malah tak ada hasilnya.
Pria itu kembali ke ruangan sang ayah, dengan mengatakan apa yang di pikirannya. Namun, Pak Adi Guna mengatakan tidak setuju dengan cara Arya karena seolah-olah mereka memaksa pihak Pak Wahyu untuk menerima mereka.
“Lalu, kita harus berbuat apa?” tanya Arya.
“Kita tunggu saja.”
Arya tak bisa banyak bicara jika sang ayah sudah bicara seperti itu. Ia kembali ke ruangannya dan mencoba menghubungi Gisel kembali.
***
Pak Wahyu sudah kembali ke rumah dan langsung menemui sang istri. Pria itu berbicara jika sudah membuat keputusan tak menginvestasikan ke perusahaan suami anak angkatnya itu.
“Sudah Bapak batalkan, Bu. Untung saja Ibu bilang, awas saja Gisel ini.” Pak Wahyu kesal mendengar cerita Gisel dan Arya dari sang istri.
Untung saja belum di tanda tangani olehnya kontrak kerja sama dengan PT Adiguna tadi. Jika tidak, mungkin ia akan menyesal telah melakukan hal itu karena mereka telah melukai hati Suci yang juga akan melukai hatinya. Walau ia hanya mengangkat anak Suci, tapi ia merasa Suci begitu dekat dengannya.
Siapa pun yang menyakiti Suci, mereka pun akan menyakitinya dan akan berhadapan dengan dirinya sebagai ayahnya Suci.
Sama halnya dengan Bu Yuni, ia juga tidak suka dengan orang-orang yang membuat anak angkatnya menderita. Bahkan ia ingin secepatnya mengajak Suci tinggal bersama mereka.
“Kita harus secepatnya mengajak Suci tinggal bersama kita dan menjauhi orang-orang seperti itu, Pak,” ujar Bu Yuni.
“Bapak juga mau seperti itu.”
Mereka berdua kembali membicarakan Suci, banyak hal yang membuat wanita itu sangat mirip dengan Bu Yuni. Wajahnya, seperti Bu Yuni saat muda.
Hal itu yang membuat Pak Wahyu sedikit yakin jika Suci adalah anak kandungnya yang hilang.
“Bu, Bapak kok yakin kalau dia Adelia kita yang hilang,” ujar Pak Wahyu.
“Ibu juga, Pak.”
Keduanya terdiam sesaat memikirkan untuk mencoba tes DNA dengan Suci, tapi apalah Suci mau atau tidak?
***