Suci kembali menjadi menantu rasa pembantu. Ia sengaja masih bertahan karena sengaja ingin mengetahui apa yang direncanakan Cindy saat ini. Setelah ia tanpa sengaja mendengar pembicaraannya dengan sang ayah, Suci mulai curiga dengan wanita itu.
Tatapan tidak suka padanya sudah ditunjukkan ibu mertuanya. Sementara, Cindy, duduk di samping sambil memainkan ponsel bak ratu yang di manja oleh para pembantunya.
“Suci, kamu bawa apa?” tanya Bu Ratu saat melihat Suci membawa kantong hitam.
“Hanya jus saja. Harga murah, pasti Mami dan Cindy tidak akan doyan.” Suci berucap sambil mengangkat jus jambu yang ia bawa.
“Oh, kamu tahu. Mami itu sukanya yang di jual di tempat mahal bukan di pinggir jalan. Harga pun mahal. Bener enggak Cindy?” Bu Ratu meminta pendapat ibu mertuanya.
“Bener.”
“Terserah kalian, mau harga mahal apa enggak, sama saja intinya buah.” Suci tertawa sambil masuk ke kamar menggandeng Sharen.
“Ma, kenapa Oma Ratu sama aku selalu enggak suka?” tanya Sharen.
“Oma hanya lagi sedikit emosi, oh ya, Sharen jangan bilang kalau punya nenek dan kakek baik ya sama mereka.” Suci mencoba bernegosiasi dengan Sharen agar anaknya tidak salah bicara.
“Iya, Ma. Beres.” Senyum anaknya membuat ia semakin kuat menghadapi semuanya.
Ia kembali keluar untuk merapikan dapur. Ibu mertuanya sudah tidak ada. Suci melihat Cindy yang gegas ke luar rumah sambil menerima telepon. Dengan cepat ia mengikuti adik iparnya itu.
Suci bersembunyi di balik dinding dekat Cindy berdiri. Sambil melihat kondisi, adik iparnya itu mengangkat telepon.
“Halo, ada apa lagi? Sudah kubilang jangan pernah menelepon aku lagi. Kamu tahu, aku sudah menikah dengan Ivan Adijaya.”
Suci penasaran dengan siapa dia menelepon sampai tidak ingin ada yang tahu. Namun, ia hanya bisa mendengar suara Cindy.
“Ini anakku, jangan pernah kamu mengaku anakmu. Ini jelas anak Ivan, enggak usah datang membuat masalah, apa uang yang aku berikan?”
Suci menutup mulutnya, sepertinya Cindy berbuat kecurangan Pada adik iparnya Ivan. Akan tetapi, ia harus mencari bukti dari semua itu. Kembali Suci melangkah ke dapur agar tidak ketahuan oleh Cindy.
Ia duduk menatap sekeliling ruangan. Ia sedih suatu saat akan meninggalkan dapur kesayangannya. Sudah hampir enam tahun ia selalu membuat makanan enak, dari mulai Aryo masih memujinya sampai sang suami sudah mulai tak menggubrisnya.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Foto sang suami dan Gisel membuatnya ingin membanting seisi dapur. Orang suruhannya mulai mengikuti ke mana mereka pergi.
Cepat ia menelepon si pengirim pesan.
“Mereka hanya makan saja?” Suci mencoba bertanya lagi.
“Iya, Bu. Sekarang mereka kembali ke kantor masing-masing.”
“Terus pantau mereka dan laporkan pada saya.”
Suci mengatur napasnya. Benar dugaannya sang suami sudah mulai bermain api. Awalnya rekan kerja, tapi tidak menutup kemungkinan jika menjadi selingkuhan. Walau niat awal mendekati Gisel untuk mendapatkan kontrak Pak Wahyu.
“Kamu ngapain Suci?” Teguran Ibu mertuanya membuat Suci terkesiap. Untung saja ponsel sudah ia masukan ke kantung celana.
“Mau masak bingung, Mami belum memberi uang. Lagi pula bahan makanan sudah habis. Boleh aku minta uang buat ke swalayan, Mi?” Suci mencoba meminta pada mertuanya. Namun, bukan memberikan, ibu Ratu malah memarahinya.
“Memang uang yang dikasih Arya kurang?”
“Mas Arya nggak pernah memberi uang sama aku. Bukannya Mami yang mengatur semuanya?” Kini, Suci mencoba membela diri.
Mertuanya bergeming. Dikiranya Suci tidak tahu kalau sang suami memberikan uang pada ibu mertuanya.
“Kalau Mami nggak mau memberikan uang belanja, aku, ya enggak masalah. Sudah biasa nggak makan juga, Sharen pun ada s**u. Terserah,” ucap Suci sambil mengangkat bahu.
“Tidak usah banyak omong kamu. Ini, jangan boros.” Ibu mertuanya memberikan uang biru beberapa lembar.
“Nah, gitu, dong. Mami kalau makanan jadi juga enak.” Suci tersenyum puas saat ibu Ratu memberikan beberapa lembar uang merah.
Kali ini Suci berhasil membuat ibu mertuanya semakin keki. Sebelum berangkat, Ratu Kembali memanggil Suci. “Kamu nggak bawa anakmu?”
“Ini aku mau ajak Sharen. Dari pada di sini bersama kalian yang nggak bisa baik pada anakku.” Suci kembali tersenyum tipis.
Suci gegas masuk ke kamar dan ke luar lagi bersama Sharen yang sudah berganti baju. Kebetulan saat ia keluar untuk membeli bahan makanan, detektif sewaannya mengirimkan pesan kalau sekarang suaminya dan Gisel sedang berada di pusat perbelanjaan.
Lalu, Suci dengan taxi online segera ke swalayan itu sebelum mereka pergi. Dalam perjalanan hatinya sangat gusar. Hal ini sangat tidak ia inginkan, tetapi terjadi juga. Ia kira sang suami setia, tetapi nyatanya tidak.
Laki-laki mana yang tidak menolak jika di hadapannya berdiri wanita sexy dan cantik? Hatinya begitu teriris saat melihat foto yang dikirimkan lagi. Setelah sampai, ia bergegas menemui sang detektif.
“Itu, Bu. Suami Ibu bersama Gisel.” Suci mengarahkan matanya sesuai petunjuk.
Tangannya bergetar melihat mereka saling pandang. Tangan Arya menggenggam erat jemari Gisel. Dengan api membara, ia melangkah penuh amarah. Saat sampai, ia siram wajah Gisel dengan minuman dingin di meja wanita itu.
Serempak keduanya tersentak kaget melihat Suci berada di hadapan mereka. Gisel membersihkan wajahnya dengan tisu dibantu Arya. Suci semakin geram dengan tingkah mereka.
“Kamu enggak malu Suci seperti itu?” Tegur Arya padanya. Sang suami bukan merasa bersalah malah terus membela Gisel.
“Untuk apa malu, harusnya kalian yang malu. Ini di muka umum. Kamu juga, memang enggak ada pria lain selain suami saya? Hari ini kamu aku siram pakai air minum, besok, kalau masih berani mendekati Arya, kusiram pakai saos ini!” Tangan Suci mengangkat botol berisi saos.
Seketika Gisel memundurkan tubuhnya. Ia juga takut tiba-tiba saja Suci nekat menyemprotkan saos itu ke wajahnya. Namun, ia mencoba tidak takut dengan ancaman Suci.
“Harusnya kamu sadar, kenapa suami kamu lebih suka bersama saya. Lihat, dong jauh berbeda dengan kamu yang ke swalayan saja pakai daster. Seperti pembantu!” Gisel menatap Suci dari atas sampai ke bawah.
Beberapa orang sudah menatap mereka. Ada yang berbisik, ada juga yang mengelukan Suci agar kuat melawan pelakor.
“Justru yang terlihat kaya, padahal miskin. Hanya banyak gaya, lebih baik seperti aku. Apa adanya, tapi jangan salahkan jika aku sudah menjadi lebih dari sekarang!” Sengaja Suci menatap Arya yang sudah bingung menghadapi Suci.
Dirinya tidak mengerti kenapa Suci bisa tiba-tiba mengganggu kebersamaannya dengan Gisel. Ia hanya tahu jika Suci ada di rumah sedang sibuk memasak. Malah kini ia berada di sana bersama Sharen.
Gadis kecil itu bersembunyi di belakang tubuh sang ibu yang sudah mengamuk sedari tadi.
“Lebih baik kamu pulang, Suci!” titah Arya.
“Lalu, kalau aku pulang, kamu di sini bersama dia? Mengantar dia pulang atau malah kalian lanjut ke hotel, hah!” Suara Suci semakin nyaring hingga mengundang banyak mata.
Beberapa satpam pun sudah mendatangi mereka dan meminta untuk tidak berbuat kegaduhan.
“Mas, ikut aku pulang atau aku buat keributan dengan menarik kasar dia!” Suci menunjuk wajah Gisel dengan geram. Lalu, menarik tangan suaminya tanpa perlawanan. Arya diam karena kalau ia melawan pasti akan membuat seisi swalayan menyalahkannya. Belum lagi takut menjadi artis dadakan.
“Gendong Sharen! Kasihan anakmu nggak pernah kamu perhatikan. Malah memperhatikan wanita lain!” Suci terus mengomel pada Arya. Sekilas ia menatap bengis Gisel yang masih berdiri menatap mereka dari kejauhan.
Awas aja kamu sampai berani mengganggu rumah tanggaku. Untuk kamu, Mas. Kado spesial akan kuberi jika kamu berani mengkhianatiku.
***
Sesampainya di rumah, Suci di sambut Bu Ratu yang sedari tadi menunggu menantunya pulang karena ia begitu lapar. Begitu juga dengan Cindy dan ayah mertua Suci.
“Kok, kalian pulang bersama? Ketemu di jalan?” tanya Ibu Ratu.
“Tanya saja sama anak Mami.” Sorot mata itu masih sangat tajam menatap sang suami. Suci masih begitu emosi mengingat kejadian Arya menggenggam tangan Gisel.
"Nggak pentinglah. Sudah masak saja kamu, Ci," pinta ibu mertuanya.
"Mih, aku nggak bisa masak. Lagi pula belum belanja, kalau pun masak aku lagi nggak mood."
"Maksud kamu apa?"
Suara Bu Ratu meninggi saat tahu Suci tak mau memasak untuk makan malam mereka. Apalagi perutnya sekarang sangatlah lapar.
"Ada Indomie, Mami masak aja sendiri, ya. Aku capek-capek masak dan dijadikan pembantu di sini, eh ternyata suamiku bermesraan dengan wanita lain! Yang kalian sebut relasi bisnis itu, wanita kelas atas, masa ia merebut suami orang?" Terus saja Suci mengomel. Ia tidak takut dengan mereka sekarang. Lagi pula jika Arya menceraikannya itu tidak masalah.
Akan tetapi, harga dirinya harus dipertahankan sebagai seorang istri.
Suci melangkah masuk ke kamar sambil membawa Sharen yang sudah tertidur pulas. Kemudian, ia menghempaskan tubuh di kasur sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.
Efek mengomel ia menjadi sakit kepala. Ia kembali bangkit untuk mengambil air minum.
***
Sementara, Ratu yang emosi mendengar ucapan Suci kembali bertanya pada Arya yang sebenarnya. Pria itu bercerita dari awal hingga akhir yang terjadi dengannya tadi.
"Duh, kamu itu baru mau mulai mendekati perempuan aja sudah ketahuan Suci.”
Bu Ratu kembali mengomel saat tahu sang anak salah mengambil keputusan. Salah juga dia mencari masalah dengan Suci karena kesalahan Arya mereka tak jadi makan malam.
"Mas, kenapa masih bertahan sama Suci, sih? Gisel juga cakep pintar, juga kaki tangan Pak Wahyu. Kenapa nggak nikahi saja dia."
Usul Cindy membuat Aryo mempunyai ide untuk membuat Suci diam.
"Kalau Mas ceraikan dia, apa kalian mau kelaparan kaya hari ini? Pembantu yang sesuai sama selera kita jarang. Masakan Suci enak, tapi kalau kalian meminta aku menceraikannya?”
"Ceraikan saja, Mami juga muak ngeliat dia semakin berani sama Mami." Ibunya menimpali.
"Iya, kalau menikah dengan Gisel, pasti semua relasi mudah didapat. Bener nggak, Mi?"
"Iya.”
"Tapi tiba-tiba Pak Wahyu pending proposal kita mih. Harusnya sudah mulai, tetapi Gisel bilang Pak Wahyu menelepon katanya pending dulu.”
“Menunggu apa?”
“Menunggu anaknya pulang dari luar negeri.”
"Memang Pak Wahyu punya anak? Bukannya mereka nggak memiliki anak?"
Arya hanya mengangkat bahu. Lalu, pamit untuk masuk ke kamar. Merasa mendapat dukungan, Arya tersenyum.
"Aku mau bicara sama kamu, Ci!" Suara bernada tegas Arya membuat Suci berpikir apa yang akan pria itu katakan. Pastilah ia akan membahas masalah tadi siang.
"Kalau Mas mau membahas masalah tadi siang, aku nggak mau bahas dulu. Kepala aku pusing," ujar Suci.
"Penyakit dibuat sendiri. Lagi pula kamu jangan sok berani sama suami. Benar kata Gisel, kamu tuh nggak bisa nyenengin suami. Hanya malu-maluin ke swalayan saja pakai daster. Mikir dong, pakai melabrak Gisel segala, kamu sama dia jauh. Bagikan langit dan bumi." Ucapan pedas Aryo kembali membuat sakit hati Suci. Ia bangkit, tangannya terkepal keras.
"Kamu bilang malu sama aku yang ke swalayan pakai daster? Heh, Mas. Malu dunk bicara seperti itu, kamu harusnya modalin istri biar cantik, malah modalin orang lain. Istri dijadikan pembantu, situ waras?" Suci berkaca pinggang di hadapan sang suami.
Wajah Arya memerah mendengar penuturan Suci. Semua itu benar, harusnya dia memberikan uang pada istrinya. Namun, terkadang ia habiskan uangnya sendiri.
“Jangan kurang ajar kamu Suci!” teriak Arya.
“Aku hanya membela diri dari suami yang mati-matian membela wanita lain. Apa aku salah?”
Arya bergeming tak menjawab pertanyaan sang istri. Ia hanya diam dan membeku di tempatnya.
***