Delapan

1143 Kata
"Apa mau kamu, Mas mengatakan aku jelek? Kamu pikir wanita itu saat tidak ber-make up bisa cantik? Aku juga kalau ber-make pun cantik. Apalagi kalau aku nggak berbusana. Kamu pikir semua nggak butuh modal. Jangan hanya bicara!" Suci tersulut emosi saat semua perkataan Arya dengan pedas menusuk hatinya. "Halah, kamu itu orang kampung kalau dandan pun masih jelek." Tak mau kalah Arya pun kembali membela diri. Tak habis pikir pria itu bisa sejahat itu berbicara. "Kalau aku jelek, kenapa bisa ada Risa?" tanya Suci geram. "Mungkin kamu pakai ilmu pelet biar aku suka sama kamu." Penuturan asal Arya membuat Suci geram dengan perkataannya yang asal bicara. "Mas, kalau aku kenal hal seperti itu. Hal pertama yang aku lakukan adalah membuat keluarga kamu mati oleh teluh. Ngerti?" Suci membulatkan mata karen begitu kesal dengan tudingan Arya yang membuatnya mengelus d**a. Arya bergidik ngeri mendengar ucapan Suci. Benar juga pikirnya. Kalau Suci menggunakan hal semacam itu, tidak mungkin ia bertahan sampai enam tahun dengannya. Entah apa yang membuatnya berubah menjadi membenci sang istri. Bisa saja dia mengirim teluh dan membuat mereka meninggal dadakan, Arya kembali berpikir. "Kenapa? Kamu takut sama aku? Apa takut aku teluh. Kamu juga takut, kalau besok nama selingkuhan kamu Gisel ada di berita karena mati tiba-tiba,hah?" "Aku sudah bilang kalau aku dan Gisel nggak ada hubungan." "Iya, sekarang nggak ada. Nanti, kan mana tahu." Suci mengangkat bahu. Perdebatan sengit diantara mereka membuat Sharen terbangun. Namun, anak itu kembali tertidur saat Suci mengelus pelan pundaknya. Dirinya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Arya. Otaknya kini sudah terkontaminasi dengan ibu dan Cindy. Suci bisa saja saat ini meminta cerai. Namun, ia mau melihat seberapa kuat Arya tidak mengucapkan kata talak. Seperti ia memancing keributan agar dirinya mudah menceraikan Suci. itu tak masalah bagi wanita itu karena ia pun sudah muak dengan tingkah sang suami yang begitu menyebalkan. Suci tak mau gegabah, ia tak mau memudahkan sang suami bersama wanita lain. apalagi dengan menceriakan dirinya, Arya bisa bebas dengan yang lain. *** Seperti biasa Suci sudah sibuk di dapur. Ia membuat sarapan seadanya karena semua bahan habis. Kemarin tak sempat ia membeli karena sibuk dengan sang suami dan selingkuhannya. "Loh, kok, Mas. Dia masih di sini?" tanya Cindy. "Kenapa memang, Sayang?" Ivan sang suami bertanya. "Mas Arya semalam mau menceraikan dia." Cindy menunjuk Suci dengan tawa mengejek. Seolah-olah menyenangkan saat melihat Suci terinjak-injak. Wanita itu memang sangat jahat dan tak tahu malu. Ivan kembali menatap sang istri. Lalu, berbisik pelan tentang Suci. "Kalau Mas Arya menceraikan Suci, siapa yang masak? Kamu mau sibuk setiap pagi di dapur?" Ivan kembali berbisik di telinga sang istri. Cindy cepat menggeleng saat mendengar apa yang dikatakan Ivan. Mana mau dia pagi-pagi sudah berjibaku dengan bahan makanan seperti Suci. Hanya orang bodoh pikirnya mau bertahan selama enam tahun dan diperlakukan sebagai pembantu. "Mikir, kan. Kalau aku nggak ada, kalian mana bisa pagi-pagi duduk sambil berbisik menggosipkan aku." Sambil menaruh gelas s**u, Suci terus menatap dua pasangan itu. "Jangan terlalu pede, kamu." Cindy kembali bicara. "Pede ajah. Jangan banyak bergosip, lagi hamil kasihan anaknya takut kenapa-napa. Bisa aja azab dari ibunya, yang nanggung anaknya. Misalnya bibir sumbing akibat ulah ibunya berkata kasar pada Kakak ipar." Kini, Suci melempar senyum tipis pada dua pasangan itu. "Oh, ya, kamu juga hati-hati. Aku curiga aja, kandungan kamu bilang masih usia 20 Minggu, tapi kok udah kaya 28 Minggu." Suci mengangkat kedua alis menatap Cindy yang terlihat keringat dingin. "Mba, jangan bikin kegaduhan pagi-pagi," ujar Ivan. Pria itu mencoba menenangkan kakak iparnya. "Aku nggak buat kegaduhan. Aku hanya memastikan. Perhatikan saja, memang kamu pikir aku nggak pernah hamil?" Suci puas membuat Cindy tak berkutik sampai kedua mertuanya datang juga Arya. Suci semua menatap Cindy yang mulai ketakutan. Wanita hamil itu berusaha tenang, tapi Suci bisa membaca gesture tubuh yang tegang itu. "Itu baru permulaan," ujar Suci. "Maksud kamu apa, Ci?" Kini, ibu Ratu ikut tersulut emosi. "Nggak ada maksud apa pun, kok. Lupakan saja." Suci mengibaskan tangan. Setelah puas, Suci mengambil piring untuk dirinya makan. Lalu, ia ikut duduk bersama mereka. Setelah pertanyaan Suci, Cindy pun tidak berani bicara lagi. Ia mulai panik dengan kata-kata Suci tadi. Napsu makan pun sudah tidak terasa lagi. Hanya mual yang kini mendera. Otaknya terus berputar kenapa bisa setiap ucapan Suci membuat dirinya tak berkutik apalagi sampai membuat Cindy setengah sakit kepala. "Jangan lupa belanja bahan. Saya nggak mau kelaparan dengan hanya makan mie instan." Ibu Ratu memperingati Suci. "Beres, Mami." Senyum penuh kepuasan ia lempar pada adik iparnya. Cindy menjadi ciut dengan perkataan Suci. Memang sejujurnya usia dalam kandungan Cindy adalah 28 Minggu. Walaupun ditutupi, tidak akan bisa menipu orang yang jeli dalam memperhatikan. Setelah makan, Cindy langsung beranjak ke kamar dengan alasan kesal dengan ucapan Suci dan ingin menenangkan diri lebih dulu di kamar. padahal, ia hanya menghindari kakak iparnya agar tak terlalu jauh bicara. *** Cindy masih saja terdiam sambil menonton TV. Kehamilannya itu pun sebentar lagi akan memasuk waktunya. Kemungkinan mereka akan mempertanyakan juga saat kelahiran itu. Namun, ia tak mempunyai banyak cara untuk berpikir bagaimana menutupi semua itu. Niat mengaku melahirkan prematur, tapi setelah mendengar ucapan Suci, ia kembali mengurungkan hal itu. Ia takut malah menjadi bumerang pada dirinya sendiri. Entah, TV yang ditonton atau Cindy yang di tonton TV. Ia kehilangan selera kali ini. Bahkan sang ibu mertua hanya ia angguri dan tak diajak bicara. "Kamu kenapa?" tanya ibu mertuanya. Bu Ratu tidak biasa melihat sang menantu diam membisu. "Kesel sama Suci. Kalau ngomong asal saja," celetuk Cindy. "Tapi, bener sih. Kan, kau bilang masih empat bulan, tapi kok kaya delapan bulan, ya?" Bu Ratu memperhatikan perut Cindy lagi. "Mami udah terkompor sama Suci, ya. Ini karena perut aku tebel dan besar. Apalagi abis makan, tambah deh buncit." Cindy mengomel dan mencoba diam Ratu tertawa mendengar penuturan sang menantu. Ia kembali tidak memikirkan hal itu, ia hanya fokus pada grup arisan sosialitanya yang kembali membahas berlian. *** Suci bersama Sharen mengitari swalayan untuk membeli bahan makanan. Ia senang sudah membuat Cindy diam dan tak banyak bicara. Kalau perlu, dia bisa membuat Cindy mengakui kalau itu bukan anaknya. Namun, Suci ingin bermain dahulu dengan adik iparnya. Ia akan bersandiwara dengan cantik untuk membuat mereka satu per satu merasa menyesal telah membuat dirinya menderita selama ini. Suci kembali mendorong troli belanjaannya. Kemudian berhenti saat melihat kue tart. Rasanya ingin membelikan untuk kedua orang tua angkatnya. Suci merogoh saku mengambil ponsel yang sedari tadi tak berhenti. Nama Bu Yuni terpampang di benda pipih itu. Dengan semringah ia mengangkat teleponnya. Akan tetapi, wajah bahagia itu berubah sendu kala mendengar Pak Wahyu mendapatkan kecelakaan dan sedang kritis di rumah sakit. Gegas Suci beranjak ke rumah sakit. Sebelum itu ia ke kasir untuk membayar belanjaannya. Ia begitu panik dengan keadaan ayahnya. Tuhan, selamatkan orang baik itu izinkan aku membalas kebaikannya. Air matanya tak terbendung saat mengingat kebaikan pak Wahyu kala itu. Menolongnya walau belum kenal dengan dirinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN