Sembilan

1030 Kata
Suci menggandeng Sharen dengan tergesa-gesa saat sampai di rumah sakit. ia langsung mencari di mana Bu Yuni berada dan Pak Wahyu kini di rawat. "Bu, gimana kabar Bapak?" Suci datang langsung memeluk Bu Yuni yang terduduk lesu menangisi sang suami yang sedang berjuang di dalam ruang. "Masih kritis, Ci." Lagi, wanita dengan gamis biru memeluknya dengan erat. Ia sangat takut jika sesuatu terjadi pada suaminya. Entah, hidupnya akan seperti apa jika kehilangan belahan jiwanya. Setelah kehilangan sang anak, ia tak bisa jika kehilangan lagi. Suci melihat Dokter keluar, Mereka bergegas menghampiri sang Dokter saat ke luar dari ruangan IGD. "Gimana suami saya, Dok?" tanya Ibu Yuni. "Kami membutuhkan banyak darah. Golongan darahnya AB. Apa ada yang bisa mendonorkannya? Stok sedang tidak banyak, sedangkan Bapak butuh banyak darah." Merinding mendengar penjelasan sang dokter. "Golongan darah AB, Dok. Saya bersedia seberapa pun darah ini diambil." Kristal bening mengalir di pipi Suci. Entah, ia merasa sangat sedih mendengar keadaan Pak Wahyu yang sangat memprihatinkan. Bu Yuni tak menyangka jika golongan darah Suci sama dengan sang suami. harapannya kini kembali muncul saat kecocokan darah itu. "Baik, Ibu bisa ikut suster nanti." Dokter pamit ke dalam untuk meminta suster mengurus transfusi darah dari Suci ke Pak Wahyu. Lagi, Yuni memeluk erat tubuh Suci. Wanita tua itu kembali sangat yakin kalau Suci adalah anak kandungnya yang menghilang bertahun-tahun lamanya. Ia berpikir untuk sekalian tes saja DNA mereka siapa tahu benar kenyataannya. "Bu Suci bisa ikut saya?" tanya seorang suster. "Bisa." Suci menjawab pasti sambil menitipkan Sharen pada Ibu Yuni. "Suster, sekalian saja tes DNA untuk Suci dan suami saya." Suci sedikit heran saat Bu Yuni mengatakan hal itu. "Untuk apa, Bu?" Suci kini keheranan. "Ibu yakin kamu anak ibu yang hilang beberapa tahun lalu." Keyakinan itu sangat besar saat menatap wajah yang sangat mirip dengannya. Suci terhenyak mendapat jawaban seperti itu. Ia malah tidak berharap lebih karena menjadi anak angkatnya saja sudah lebih baik untuk dirinya dan Sharen. "Semoga doa Ibu terkabul, ya." Suci tersenyum dan memeluknya sebelum transfusi darah. Yuni memandang punggung Suci dari kejauhan yang semakin menghilang. Lalu, menatap Sharen penuh kasih sayang. bonus Tuhan untuknya, mendapatkan anak dan cucu yang telah lama mereka tunggu. *** Cindy sengaja menemui salah satu temannya yang yang bekerja sebagai seorang Dokter Kandungan. Ia berkonsultasi tentang apa yang dikatakan Suci tadi pagi. Dirinya sangat ketakutan jika semua percaya pada Suci. Apalagi ibu mertuanya sudah bertanya kembali. Benar jika usia kandungannya kini memasuki 28 Minggu. Jadi artinya saat menikah dengan Ivan, Cindy dalam keadaan hamil. "Mana bisa gue bohong kaya gitu, Com." Ratih menolak saat Cindy memintanya membuat surat untuk memundurkan usia kandungannya. "Sekali aja, gue janji nggak bakal lagi." Cindy setengah memohon pada Ratih. "Kalau emang lo hamil duluan, ya bilang aja sama ortu Ivan. Udah terlanjur, nggak akan marahlah." Sambil membereskan berkas, Ratih kekeh menolak permintaan Cindy. "Masalahnya, ini bukan anak Ivan." Cindy lemas saat mengatakan hal itu. Ratih tersentak dengan pengakuan Cindy. "Gila, lo. Pantes saja kelimpungan." "Makanya gue harus gimana?" tanya Cindy. "Ya, gue nggak bisa bantu. Memang anak siapa?" Ratih berbalik bertanya. "Gue nggak sengaja saat ulang tahun Jesica, gue mabuk. Tahu-tahu pas bangun udah begitu deh sama Jonathan." Cindy mengakui saat ia khilaf dan tak sengaja. "Kenapa nggak minta Jonathan tanggung jawab?" "Astaga, tiga bulan lagi mau nikah sama Ivan. Masa iya gue batalin. Sayang, Rat." "Ya, tapi kalau sudah seperti ini mau bagaimana?" tanya Ratih. Benar juga ucapan Ratih. Saat pertama kali hamil pun, ia sudah mencoba menggugurkannya dengan berbagai cara. Namun, anak itu sangat kuat bertahan di rahimnya. Sampai hari ini, ia mulai aktif menendangnya. "Kalau gue gugurin aja gimana?" "Gila! Udah gede, Cin. Makanya jangan teledor. Lo nikmatin aja, deh." Cindy merebahkan tubuh di sofa ruang praktik Ratih. Harapannya sudah tidak ada, dan kemungkinan ia harus bersiap menghadapi jika keluarga Ivan tahu jika anaknya bukan darah daging suaminya. "Kemarin gue lupa make kemben. Kakak ipar gue memperhatikan, jadinya mereka pada bertanya. Emang sih, kalau udah 28 Minggu pasti sudah besar." "Itu lo tahu." Cindy kembali bingung dengan beberapa hal yang harus di hadapi. *** Tubuh Suci masih sangat lemas setelah transfusi darah. Ia masih tiduran di ranjang rumah sakit. Ia menatap jam tangannya, sudah pukul 13.00. Pasti ibu Ratu mencari dirinya. Apalagi Cindy sudah kelaparan pasti jam segitu. Ia gegas mengambil ponsel untuk mengirim pesan pada ibu mertuanya. [Mi, aku keserempet mobil tadi pas mau nyebrang dari Swalayan. Aku masih di rumah sakit. Jadi, Mami aku pesankan go food saja.] Suci menatap lagi layar ponsel miliknya. Tidak beberapa lama muncul pesan balasan dari ibu Ratu. [Oke, pesan kwetiaw siram seafood saja 2] Suci mendesah. Tidak ada reaksi saat mendengar ia kecelakaan. Mereka sama sekali tidak memperdulikan Suci dan Sharen. Benar-benar tidak punya perasaan sama sekali. perhatian sedikit pun tidak. Setelah itu Suci langsung memesankan makanan untuk mertuanya yang serakah. Tubuhnya padahal masih sangat lemas. Ia bangkit untuk menemui Bu Yuni dan Sharen. Pak Wahyu sudah di pindahkan ke ruang inap. Dokter juga bilang kalau darah yang di didonorkan cukup untuk membantu ayah angkatnya. Suci sangat bersyukur dengan keadaan ini. Kini, ia mempertanyakan hasil tes DNA mereka. Suci sangat tegang membayangkan jika hasil tes itu sudah selesai. Apa mungkin dirinya memang anak Pak Wahyu? Suci menggeleng untuk menghilangkan bayangan hal itu. Ia tidak berharap banyak karena takut kecewa dengan hasilnya. Dirinya pun sangat berharap jika memang ia adalah anak dari keluarga tersebut. Saat hendak ke kamar mandi, ia melihat Cindy di rumah sakit itu. Ingin sekali ia melangkah menghampiri, tetapi ia kembali bersembunyi. Kalau dia tau apa yang dilakukannya di sana, pasti Cindy akan curiga. Ia kembali melangkah untuk ke kamar mandi. Tidak peduli dengan wanita yang sedang hamil itu. Ia hanya peduli dengan kesehatan Pak Wahyu. Setelah itu Suci kembali ke ruang di mana Pak Wahyu dipindahkan. Terlihat Ruang VVIP yang sangat bagus. Sharen duduk bersama Bu Yuni. Mereka belum juga masuk karena Pak Wahyu belum sadarkan diri. "Bu, makan dulu. biar kuat," ujar Suci. Suci mengelus lembut rambut sang anak. Sharen sudah mengantuk dan lelah, ia menggendong dan memindahkan ke sofa sebelahnya. "Ci, kita tunggu hasilnya nanti. Semoga saja ada kabar baik," ucap Bu Yuni. Suci mengangguk dan tersenyum. Dia pun tak sabar untuk menunggu hasil tes itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN