Bagian 20

2784 Kata
"Jeva sayang, kamu udah makan?" Seorang wanita paruh baya duduk di samping Jevarra. Membuat cewek itu menoleh. "Udah kok bunda, tadi bareng Kala. Iya kan?" katanya menatap Kala yang berada di hadapannya. Di ruang tamu ada Madhava yang sedang bermain PS dan Kala yang sedang mengerjakan tugas sembari di bantu oleh Jevarra. "Abang udah makan juga?" tanya Luna menatap putra kedua nya. Madhava menoleh sekilas. "Udah, bun." jawab nya lalu kembali fokus pada game. "Jevarra kamu belum ketemu anak bunda yang pertama ya? kemarin dia pulang," "Iya bunda? aku belum ketemu kemarin. Sekarang kemana?" kata Jevarra menatap minat ke arah Reina. Luna menautkan kedua alisnya. "Loh belum? kira bunda udah kemarin.Dia sebentar aja sih, terus balik lagi ke Bandung." "Yah bun, kayaknya kemarin pas aku ketiduran deh." "Bang Dheta seru tau kak Jeva! Dia orang nya berisik, kadang kadang ngeselin. Beda sama abang ku yang sebelah." ucap Kala santai membuat Jevarra terkekeh karena tahu siapa yang gadis itu maksud. "Iya? jadi mau kenalan." "Dia biasanya pulang kalau lagi kosong tugas atau lagi libur." ucap Kala tanpa menoleh ke arah Jevarra. Jevarra menganggukkan kepalanya. "Oh iya kak Jeva!" tiba tiba cewek itu menoleh ke arah Jevarra sambil menatapnya dengan antusias. "Kenapa, Kal?" "Aku baru inget, waktu kemarin kak Jeva jemput aku, teman teman aku yang cowok pagi nya pada nanya ke aku." ucap Kala menatap Jevarra membuat Jeva mengernyitkan alisnya. "Nanya apa?" "Katanya kok mereka enggak tahu kalau aku punya kakak cantik. Mereka mau kenalan." ujar Kala membuat Jevarra sedikit tersipu. "Masih kecil." kata Madhava tiba tiba ikut menyambung. "Ih biarin! Teman teman aku juga ganteng ganteng." "Hahaha kok bisa?" ucap Jevarra. "Iya, habisnya kak Jeva cantik sih." kata Kala menghendikkan kedua bahunya lalu kembali melanjutkan kegiatan menulisnya. Jeva tertawa lalu menggelengkan kepalanya. Ada ada saja anak SMP ini. Memang kemarin Jevarra sempat menjemput Kala, ia masuk ke dalam sekolah gadis itu. "Kamu juga belum ketemu suami bunda ya, sayang." ucap Luna membuat Jevarra kembali menoleh. "Iya bunda," "Kebetulan banget jadwal flight nya lagi lama, dua minggu." Jevarra menganggukkan kepalanya. "Bunda jadi nahan kangen terus dong." ucap Jevarra membuat Luna terkekeh. "Iya gitu deh nggak enaknya punya suami pilot. Tapi ya gimana, rezeki nya udah kaya gini." "Sini Jevarra, lihat deh, bunda chatan sama Madheta barusan, ngomongin kamu." ujar Luna lalu memberikan benda berbentuk persegi panjang itu. Jevarra mendekat agar bisa melihat chat yang berada di layar handphone itu. Membuat cewek itu lagi lagi tertawa. "Dia nih ngebet banget mau di kenalin ke kamu. Nanti di kenalin ya, siapa tahu kan bunda jadi besanan sama Violin." kata Luna sambil terkekeh. "Ah, bunda bisa aja." BISA BUN BISA! YAALLAH! Tapi sama anak bunda yang kedua aja mau nya... batin Jevarra. Lalu Jevarra melirik ke arah Madhava yang tiba tiba berdeham. Dan bangkit dari duduknya. "Abang mau kemana sayang?" "Ke atas bun, bosen main PS." ucap Madhava lalu meninggalkan Jevarra, Reina dan Kala di ruang tamu. Jevarra terkekeh sendiri membayangkan bahwa Madhava cemburu. Padahal itu sama sekali tidak mungkin. Tiba tiba suara handphone berbunyi membuat mereka semua menoleh. "Aduh, suami bunda telfon nih, bunda mau kangen kangenan dulu ya." ucap Luna ikut bangkit dari duduknya. Lagi lagi Jevarra tertawa. Kala yang mendengar itu pun ikut bangkit. "BUNDAA! AKU JUGA KANGEN AYAHHH!" teriak gadis itu lalu menyusul sang bunda yang pergi ke kamar. Jevarra hanya menggelengkan kepalanya melihat interaksi keluarga ini. Ah, ia jadi kangen mama dan papa nya, jangan lupakan Rara sang kakak yang selalu merecokinya. Tidak ingin sendirian di ruang tamu, Jevarra melangkahkan kakinya untuk pergi ke lantai atas. Karena ia bosan harus apalagi. Tadi setelah telfonan dengan sang mama, Jevarra mencharger handphonenya. Tugas sekolah nya juga sudah selesai, jadi ia tidak tahu harus apalagi. Saat ingin pergi ke kamar, Jevarra melihat Madhava yang sedang berdiri sambil menyender di pagar Balkon. "Hoi! Bengong aja, nanti kesambet lho, Madhava." kata Jevarra menepuk pelan bahu cowok itu. Madhava menoleh. "Udah ngobrol sama bunda?" Jevarra menganggukkan kepalanya. Lalu duduk di sofa sambil menatap punggung Madhava di depannya. Lagi lagi rasanya seperti mimpi bisa berhadapan dengan seorang Madhava, cowok yang ia suka sejak tiga tahun yang lalu. "Lucu banget bunda, katanya mau lepas kangen tadi pas ayah lo telfon." kekeh Jevarra. "Bunda emang gitu." "Bang Dheta ambil jurusan apa kuliahnya Dhav?" tanya Jevarra membuat Madhava menoleh. "Kenapa?" "Enggak, tanya aja. Kalo lo mau lanjut di mana?" Madhava menggelengkan kepalanya. Padahal sebenarnya sudah pasti ia meneruskan pekerjaan sang ayah. "Enak nggak Dhav punya abang? pasti seru ya? Lo suka ngerasa sepi enggak kalau Bang Dheta nggak dirumah?" "Kadang kadang." ucap Madhava, lalu cowok itu ikut duduk di samping Jevarra. Jevarra menatap Madhava membuat cowok itu menoleh. "Dulu gue punya kakak cowok, dia sayang banget sama adik adiknya. Kalau gue atau kak Rara mau pergi, pasti dia selalu nganterin." Jevarra tersenyum, lalu menatap langit malam yang di terangi oleh cahaya bulan. "Sekarang kemana?" tanya Madhava. "Terus tiba tiba kak Gharsa pergi jauh. Tapi gue berdoa semoga balik lagi. Gue belom siap kehilangan kakak gue. Dia bobo lama banget, udah empat tahun." Madhava menatap Jevarra. Ia melihat mata gadis itu mulai berkaca kaca. Walau bibirnya melengkung indah membentuk sebuah senyuman yang terlihat sangat menyakitkan. "Kakak lo pasti sayang banget sama lo. Dia bakal berjuang buat peluk lo kaya dulu." ucap Madhava mengelus lembut rambut Jevarra. Jevarra menghela nafasnya. "Kangen banget sama kak Gharsa. Dia kangen gue enggak ya, Dhav?" Akhirnya pertahanan Jevarra runtuh. Untuk pertama kalinya Jevarra menangis di depan Madhava. Gadis itu benar benar merindukan sosok kakak laki laki nya. "Kangen. Pasti kangen adik cantik nya ini." ucap Madhava, cowok itu kembali mengelus lembut rambut Jevarra lalu mengusap bahu Jevarra yang terlihat bergetar. Madhava membawa Jevarra ke pelukan nya. Ia membiarkan kepala Jevarra bersandar di d**a bidangnya. Kalau saja suasana nya berbeda, sudah di pastikan Jevarra akan terlihat salah tingkah. Tapi sekarang, Jevarra tidak memikirkan itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah kakak nya. Cewek itu masih menangis, mengingat bagaimana Gharsa, sang kakak bisa tertidur panjang sampai sekarang. "Maaf, aku cengeng lagi, kak." lirih Jevarra pelan yang masih bisa di dengar Madhava. Cowok itu terus mengelus lembut rambut Jevarra, mencoba untuk menenangkan Jevarra. "Gapapa Jeva, nangis itu wajar. Nggak usah ngerasa salah untuk nangis. Kadang lo perlu nangis buat ngeluapin semuanya." Madhava menyelipkan beberapa rambut Jevarra yang menutupi wajah gadis itu ke belakang daun telinga. Cowok itu masih mengelus lembut rambut Jevarra. Untuk bagian ini, Madhava sulit menjelaskan. Ia merasa seperti kembali menjadi rumah untuk seseorang. Ada rasa ingin melindungi Jevarra, si gadis yang selalu terlihat gugup saat bertemunya awal awal. Saura, engga apa untuk merasakan jatuh cinta kembali, kan? batin Madhava. "Jev?" panggil Madhava saat tidak lagi mendengar Jevarra. Cewek itu tidak menyahut, sepertinya Jevarra tertidur. Wajar, habis menangis pasti mengantuk. "Madhava, kamu lihat..." Luna tiba tiba datang menghampiri Madhava yang tengah mengelus rambut Jevarra. Luna menghentikan ucapannya saat melihat Jevarra yang tengah tertidur di pelukan Madhava. Luna menahan senyumnya, lalu menatap anak kedua nya. "Apa, Bun?" tanya Madhava saat melihat sang bunda. "Jevarra kenapa?" tanya Luna sedikit berbisik. "Dia kangen kak Gharsa katanya, aku enggak tahu." Mendengar itu, Luna menghela nafasnya. Ia tahu siapa Gharsa dan apa yang di alami oleh cowok itu. "Nangis?" "Iya, bun." "Kasihan anak bunda yang cantik. Nanti kamu pindahin ke kamar ya?" "Iya, Bunda." "Yaudah bunda mau ke bawah lagi." ucap Luna lalu berjalan meninggalkan Madhava dan Jevarra yang tengah tertidur. Belum ada tiga langkah, Luna kembali membalikkan badannya dan menatap Madhava membuat yang di tatap mengernyitkan dahinya. "Apa?" "Kayaknya bunda nggak jadi kenalin ke tetangga deh Jevarra nya, kamu mau maju bang?" tanya Luna kembali menahan senyumnya. Madhava terdiam. Melirik Jevarra lalu kembali menatap sang bunda. "Iya, aku yang maju." Kalau Jevarra mendengar ini, bisa saja cewek itu langsung loncat dari balkon sekarang juga. "Asik! Kabarin kalau udah sampai di garis finish ya?" "Iya, bunda." *** Jevarra membuka matanya perlahan saat mendengar suara alarm yang berasal dari handphonenya. Cewek itu bangkit dari tempat tidur dan mengambil benda canggih itu. Setelah mematikan alarm, Jevarra tersadar lalu mengedarkan pandangan nya penjuru kamar. "HAH?" "Kok gue bisa ada disini? terakhir gue cerita ke Madhava tentang kak Gharsa terus gue..." "GUE NANGIS????? Depan Madhava???" Jevarra berjalan ke arah cermin. "Aduh, kok lo bisa bisanya nangis di depan Madhava. Tapi bentar deh," Jevarra mengernyitkan dahinya, menatap pantulan dirinya di kaca. "Gue semalem ketiduran di..." "Pelukan Madhava?????????" Jevarra membelalakan matanya. Pagi pagi seperti ini ia sudah heboh sekali. Lalu gadis yang masih memakai piyama itu mengusap wajahnya dengan gusar. "Ya Allah, malu banget hamba. Apa aku hilang dulu ya." "Enggak bisa Jevarra Oon!" kesalnya menatap pantulan dirinya. "Berubah jadi power rangers dulu bisa enggak sih?" ucap nya sembari mengerucutkan bibir. Merasa malu dengan apa yang terjadi semalam. Ia tidak tahu harus bersikap apa saat bertemu Madhava nanti, entahlah. Lalu Jevarra melirik jam. Matanya kembali melotot melihat jam. "Udah jam enam????" ujar nya panik lalu langsung berlari ke kamar mandi. *** Jevarra menuruni anak tangga. Ia melihat sudah ada Kala dan Bunda Reina di meja makan. Kalau Madhava, mungkin cowok itu belum selesai rapih rapih. "Pagi Bunda, Kala!" sapa Jevarra sambil tersenyum manis. "Pagi sayang. Sarapan dulu, kamu mau apa? Roti atau nasi goreng buatan bunda?" tanya Luna penuh dengan kelembutan. Ia selalu merindukan sang mama saat berhadapan dengan Luna. "Pagi kak Jeva!" Jevarra duduk di kursi samping Kala. "Aku mau sarapan nasi goreng buatan bunda. Kangen nasi goreng buatan mama." Luna yang mendengarnya pun terkekeh. "Yaudah ini bunda ambilin ya," "Makasih Bunda!" Lalu mereka semua menoleh saat Madhava datang. Membuat Jevarra menundukan kepalanya, tidak berani menatap cowok itu. "Pagi." sapa Madhava lalu duduk di kursi sebrang Jevarra. "Pagi." "Pagi abang!" "Pagi Bang, mau sarapan apa kamu?" tanya Luna menatap anak kedua nya. Madhava melirik ke arah Jevarra, lalu kembali melirik tatanan makanan atas meja makan. "Roti." "Bunda, hari ini aku pulang ya? Maaf banget udah ngerepotin bunda selama aku disini." ucap Jevarra tiba tiba. Luna mengernyitkan dahinya. "Loh sayang? kok pulang? kamu enggak mau nunggu sampai mama papa kamu pulang?" "Masih lama banget itu bun, aku enggak enak kalau terus terusan disini. Lagi pula mamang sama bibi yang kerja di rumah ku besok juga pulang," Jelas Jevarra. "Yah, nanti aku enggak ada temannya dong, kalo kak Jeva pulang?" ujar Kala mengerucutkan bibirnya. "Sayang, gapapa tinggal disini aja sampai mama pulang, lagi juga nanti kamu sendirian disana. Disini kan jadi rame, bunda enggak keberatan kok." Jevarra menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. "Gapapa bunda, aku gamau ngerepotin bunda lagi." "Ih kamu tuh! Ngerepotin apa sih? orang udah bunda anggap anak sendiri." Jevarra melirik Madhava yang asik sarapan. Cowok itu bahkan tidak menoleh ke arahnya. "Kamu belum bunda kenalin ke anak bunda sama suami bunda." ucap Luna. "Nanti aku sering sering main deh kesini bun, sekalian bilang makasih sama suami bunda." ujar Jevarra merasa tak enak. "Huft. Yaudah deh." *** Jevarra melangkahkan kakinya ke Kantin sekolah. Teman teman nya masih berada di kelas karena harus piket. Sedangkan kantin tidak begitu ramai karena jam pulang sudah dari 15 menit yang lalu. Jevarra membeli minuman. Ia masih menunggu Madhava yang sedang ada pelajaran tambahan. Sebenarnya kalaupun bisa, Jevarra tidak ingin bertemu dengan cowok itu dulu, ia masih malu perihal semalam. Saat tadi berangkat sekolah pun mereka berdua lebih banyak diam. Jevarra yang masih malu dan Madhava yang masih larut dalam pikirannya. Cewek dengan tas berwarna biru itu duduk di kursi kantin sendirian. Di temani minuman strawberry milkshake yang berada di atas meja. Seseorang menggebrak meja yang sedang ia pakai membuat Jevarra tersentak kaget. "Kurang kerjaan banget?" ujar Jevarra mendongak, melihat siapa yang datang. Assya tersenyum sinis. "Suka suka gue dong, ada larangan?" "Apa sih, kok lo enggak jelas? Bisa nggak, gausah ngusik hidup gue. Ganggu lo." ucap Jevarra tidak suka. Membuat Assya semakin menajamkan matanya. Kali ini Assya sendirian, tidak ada kedua teman nya. "Lo duluan yang ngusik gue, Jevarra!" Jevarra mengernyitkan dahinya. "Sinting ya? kurang kerjaan banget gue ngusik lo." Assya yang mendengar itu pun mengepalkan tangannya. Lalu menghela nafas. Dan kembali tersenyum sinis. "Ngapain dekat dekat Madhava? caper lo?" ujar Assya. Membuat Jevarra muak dan berdiri. Ingin segera pergi dari sini. "Sorry gue ga perlu caper kaya lo buat dekat sama seorang Madhava." kata Jevarra menghendikan bahunya. Assya tertawa sinis. "Oh iya lupa. Madhava udah lo kasih apa, Jev? tubuh lo? udah berapa kali di pake sama Mad—" PLAK! Tangan Jevarra melayang bebas menampar pipi Assya membuat yang di tampar meringis karena tamparan Jevarra cukup keras. Untung kantin sepi. Kalau tidak pasti sudah ramai mendukung Jevarra maupun Assya. "Berani lo nampar gue?" geram Assya merasa tidak terima. "Itu pelajaran buat mulut lo yang kaya sampah!" Assya memegangi pipinya. Belum selesai, ia masih tersenyum sinis sambil meringis perih. "Kalau enggak bener, lo ga perlu marah. Kalo lo marah, berarti emang lo sering di pake sama Madhava." ucap Assya menatap Jevarra. Jevarra sudah siap ingin menampar kembali pipi Assya. Ucapan nya terlalu kurang ajar. Namun seseorang menahan tangan Jevarra. Membuat Assya dan Jevarra menoleh. Ada Madhava yang berdiri sambil menatap mereka tanpa ekspresi. "Madhava! Jevarra kasar banget, gue tiba tiba di tampar sama dia. Sekarang dia mau nampar gue lagi!" ujar Assya menatap Madhava. Jevarra berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Madhava. Cewek itu sudah kelewat emosi dengan ucapan Assya yang keterlaluan. "Lepasin Madhava! Cewek kayak dia harus di kasih pelajaran." ujar Jevarra. "Nggak harus pake kekerasan." ucap Madhava membuat Jevarra menoleh. Apa ini? Madhava membela Assya? "Tapi Madhava, dia udah ngatain gue sama lo—" Ucapan Jevarra langsung di potong oleh Madhava. "Tapi tindakan lo bukan berarti bener." Jevarra menggelengkan kepalanya, menatap Madhava dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia beralih menoleh ke Assya yang tersenyum menang. Jevarra menghempaskan tangan Madhava yang masih menggenggamnya. "Kok lo jadi belain dia?" "Tunggu di parkiran." ucap Madhava melirik Jevarra. Assya menatap ke arah Jevarra penuh kemenangan. "Utututu, nggak di bela ya? Tangan lo nakal sih, main tampar tampar aja pipi mulus gue." Jevarra menautkan kedua alisnya. "Ya karena mulut sampah lo!" "Jadi cewek kok kasar banget. Iya kan Madhava?" ucap Assya melirik Madhava. Jevarra menatap Assya tajam. Ia sudah ingin kembali maju, tetapi Madhava menahannya. "Jevarra." "Apa sih Madhava? biarin ini urusan gue." kesal Jevarra. Ia sudah kesal karena omongan Assya, di tambah lagi Madhava yang malah menahannya. "Ke parkiran, sekarang." ujar Madhava tanpa ekspresi. Namun terdengar tidak ingin di bantah. Assya tersenyum remeh. Mengayunkan tangannya di hadapan Jevarra, seolah olah cewek itu mengusir Jevarra. "Gue pulang sendiri. Lo anterin aja itu CEWEK lo!" kata Jevarra dengan kesal. Tidak perduli itu adalah Madhava, cowok yang ia sukai. "Makasih Jeva! Dhav, anterin aku pulang yaa!" ucap Assya dengan nada genitnya. Membuat Jevarra membalikkan badan dan meninggalkan Assya serta Madhava. Masih merasa kesal karena tak ada respon dari Madhava, Jevarra mengacungkan jari tengahnya tanpa membalikkan badannya. Hari ini ia benar benar di buat kesal oleh Assya, di tambah Madhava yang malah tidak membela nya. GUE MAU UDAHAN SUKA SAMA MADHAVAA! teriak batin Jevarra. Ia menghentakkan kakinya kesal. Lalu berjalan ke arah parkiran. Belum sampai di parkiran, Jeva melihat Gaveska dan Rehuel yang berjalan dari koridor. "GAVEEEE! ELLLL!" teriak Jevarra membuat keduanya menoleh. Bukan hanya Gave dan El yang menoleh, tetapi tak sedikit murid yang masih menunggu depan sekolah pun menoleh. Keduanya menghampiri Jevarra. "Lah kirain udah pulang?" tanya Gaveska. "Belum! gue mau pulang sendiri." ucap Jevarra. Rehuel mengernyitkan dahinya. "Si Madhava kemana?" "Gatau, nganterin ceweknya balik kali." kata Jevarra menghendikkan bahunya. "Lah siapa anjrit??? punya pacar emang dia?" tanya Gaveska. "Gatau ah, bete gue. Lo nanti pada jadi kerumah gue? Adrea mana?" Gaveska dan Rehuel menganggukkan kepalanya. "Jadi, Adrea udah pulang sama abang nya." "Yaudah gue mau ke halte dulu. Dadah!" ucap Jevarra melambaikan tangan ke arah teman teman nya. Saat sampai di halte, Jevarra duduk sambil menggenggam minuman yang sedikit lagi akan habis. Ada beberapa anak yang lain yang juga sedang menunggu jemputan. Sebuah motor terhenti di depan nya membuat Jevarra menoleh. "Balik sendiri, Jev?" "LEOOOON! Iya, ini lagi nunggu taksi." ucap Jevarra saat melihat siapa yang ada di hadapan nya ini. Leon si ketua OSIS sekaligus teman sekelasnya. "Sini buru naik, gue anterin." kata Leon. "Widih tumben baik!" Leon tertawa. "s****n, gue mana pernah jahat sih?" Jevarra menghendikkan bahunya. "Nggak jahat, tapi sadis." Lagi lagi Leon tertawa. Hal itu memang benar adanya, Leon di kenal sebagai ketua OSIS yang tegas. Apalagi saat Penerimaan murid baru, Masa MPLS adalah hal yang paling ingin di hindari karena Leon tidak akan segan segan berbuat s***s kepada adik adik kelasnya yang melanggar peraturan. "Dasar. Udah ayo naik, gue anterin sampe depan kamar." Jevarra melototkan matanya. Menunjukan kepalan tangan di hadapan wajah cowok itu. "Makan nih depan kamar!" Akhirnya Jevarra menaiki motor Leon. Lumayan kan selagi ada tumpangan. Jevarra berniat untuk pulang dahulu karena ingin mengambil mobil, lalu setelah itu kembali kerumah bunda Luna untuk berpamitan dan mengambil barang barangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN