Saat ini kantin sedang ramai. Tentu saja ramai, karena ini sedang jam istirahat.
Banyak yang melirik ke arah Jevarra karena cewek itu selalu berangkat dan pulang bareng sekolah bersama Madhava. Banyak yang mempertanyakan juga hubungan mereka. Apalagi Jevarra juga di kenal sebagai selebgram yang ramah.
Ditambah sekarang Jevarra dan teman teman nya duduk di meja yang sama dengan Madhava, Kaivan, Darren dan juga Arga. Sebenarnya tidak heran, karena Adrea adalah adik Arga.
"Gue berasa artis dari tadi dilihatin terus. Madhava, pengaruh lo besar banget sih?" kata Jevarra sambil terkekeh kecil.
"Tenang, sekarang masih santai. Nanti kalau udah jadi pacar lo siapin aja mental nya, Jev." ujar Kaivan asik memakan bakso nya.
Madhava hanya melirik tajam ke arah Kaivan.
"Jeva, udah kali, lo udah nambah sambel tiga kali. Kebiasaan banget sih." ucap Adrea saat melihat Jevarra lagi lagi menyendokkan sendok sambal ke mangkok nya.
Jevarra menyengir. "Nggak pedas, Re."
"Ngeri banget ngeliat kuah lo, Jev." ucap Darren.
"Nggak heran, Jevarra si penggila pedas." kata Rehuel melirik Jevarra, sedangkan cewek itu terlihat menikmati kuah bakso nya.
"Lo tau ga sih, nggak pedas itu—"
"Nggak enak!" kata Rehuel, Adrea dan Gaveska secara bersamaan karena sudah hafal dengan apa yang akan Jevarra katakan.
Jevarra tertawa. "Pinter banget sih babu babu ku. Jadi makin sayang."
"Najis."
"Lo aja, gue enggak."
"Amit amit."
"Gitu amat babu." ucap Jevarra.
Madhava hanya memperhatikan Jevarra dalam diam nya. Cewek itu benar benar berani sekali, tidak ada takut nya. Kuah pedas seperti itu membuat Madhava menggelengkan kepalanya.
Lalu cowok itu mengambil mangkok bakso yang dimakan Jevarra, membuat cewek itu menoleh. Teman teman yang lain juga ikut menoleh.
"Ih! Kok di ambil sih mangkok gue?" ucap Jevarra.
"Cobain." kata Madhava membuat Jevarra menggelengkan kepalanya.
"Nggak mau! Gue mau pelit kalo sama lo, Madhava." jawab Jevarra beralasan. Padahal ia tahu bahwa Madhava tidak menyukai pedas.
"Gue cobain atau lo nggak boleh makan ini."
"KOK GITUUU?"
"Jevarra."
"Yaudah, gue enggak makan ini." kata Jevarra membuat Adrea, Rehuel dan Gaveska kaget. Karena mereka tahu, Jevarra si penyuka makanan pedas ini akan rela melakukan apa saja demi makanan pedas.
Jevarra menghela nafas. "Terus gue makan apa?"
"Mau?" ucap Madhava menawarkan mie ayam yang ada di mangkok nya. Cowok itu hanya baru beberapa suap saja.
Jevarra menggelengkan kepalanya. "Nanti lo makan apa? Gue pesan baru aja."
Baru Jevarra ingin berdiri, Madhava menahannya. "Ini aja, dikit lagi bel, nggak akan keburu."
"Lo gimana?"
"Udah kenyang."
"NYAMUKKK NYAMUKKK NYAMUKKK!"
"Berasa dunia punya berdua, yang lain ngekost."
Jevarra menoleh ke arah Arga dan Gaveska. Menganggu saja.
"Yaudah, gue makan ya." ucap Jevarra menarik mangkok berisi mie ayam milik Madhava.
Jevarra ingin menyendokkan kembali sambal, karena ia melihat mie ayam Madhava yang masih polos tidak ada olesan sambal.
Namun Madhava menahannya lagi.
"Nggak."
"Satu aja plis, Madhava. Gue ga enak banget kalo ga makan pake sambel." kata Jevarra sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya."
Akhirnya Jevarra menyendokkan satu sendok ke arah mie ayam nya. Ada perasaan senang dan campur aduk saat Madhava memberi perhatian kecil seperti ini. Entah apa alasannya Jevarra tidak tahu, atau mungkin karena janji Madhava kepada bunda untuk menjaga gadis itu?
"Ya Allah, ribet banget ya makan doang." kekeh Rehuel.
"Jomblo iri ya?" ledek Kaivan melirik Rehuel.
El menatap Kaivan garang. "Lo juga jomblo!"
"Nah karena sama sama jomblo, gimana kalau kita jadian?" kata Kaivan sambil tersenyum menggoda, sedangkan Rehuel menatap Kaivan malas.
"Semangat, dikit lagi es nya mencair." bisik Gaveska pelan di samping Jevarra.
Oh sudah akur ya? Gaveska menyogok Jevarra dengan apa?
Diam diam Darren tersenyum kecil melihat apa yang Madhava lakukan. Darren tahu bahwa itu adalah bentuk perhatian kecil yang di berikan Madhava untuk Jevarra.
***
"Makan dulu ya," kata Madhava saat Jevarra memasuki mobil.
"Iya boleh, lo belum makan ya? Lagi sih tadi di kantin, Mie ayam nya segala kasih ke gue." ucap Jevarra sambil memakai sabuk pengaman.
Madhava menoleh. "Lo kan laper."
"Ya iya, tapi kan lo juga laper. Bakso gue juga pake diambil, padahal tadi kuah nya enak banget, Madhava." ucap Jevarra masih membayangi kuah bakso tadi siang.
"Lo nggak sayang lambung lo?" tanya Madhava.
"Ya, sayang sih tapi—"
"Sama diri sendiri aja nggak sayang apalagi sama gue?" ucapan Madhava membuat Jevarra melongo. Ia menoleh ke arah Madhava, memastikan bahwa di sebelahnya ini benar benar manusia. Bukan jelmaan.
"SAYANG! SAYANG BANGET MALAH MADHAVA!!!!"
"Hah? LO KATA SIAPA?" tanya Jevarra terlihat sedikit panik.
Madhava mengernyitkan dahinya. "Apanya kata siapa?"
"Gue sayang lo?"
"Tapi beneran?"
"Beneran apa?"
"Sayang sama gue?" ucap Madhava.
"Madhava, kesambet ya? kok gue merinding?" kata Jevarra merasa seram.
Madhava yang sedang menyetir pun terkekeh.
"Iya kayaknya."
"IH KOK SEREM SIH?"
"Kesambet rasa sayang dari lo kan?"
"ASTAGFIRULLAH! TURUNIN GUE PLIS! LO BUKAN MADHAVA KAN??? BALIKIN MADHAVA NYA GUE!" teriak Jevarra menatap horor ke arah Madhava.
Kali ini Madhava tertawa. Terlihat sangat menawan.
"Madhava nya lo emang gimana?"
"YA ALLAH! Keluar ga lo dari tubuh Madhava! Gue hafal ayat kursi nih, jangan macem macem lo." teriak Jevarra masih menatap Madhava.
"Apa sih Jeva? Gue Madhava."
"BUKAANNN! AAAA BUNDAA ANAK MU LAGI KERASUKAN!"
"Jeva jangan teriak teriak."
"Keluar dulu dari tubuh Madhava."
"Jeva.."
"Jangan panggil nama gue. Lo serem banget. Lo biasa diem di mana? Di kantin sekolah? Gudang sekolah? OH! Atau lo penunggu pohon Mangga belakang sekolah? NGAKU!"
Madhava menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu. "Jevarra ini gue."
"Nggak mau. Nggak mau noleh ke Madhava. Serem."
Madhava menghela nafasnya. Ia meminggirkan mobil nya terlebih dahulu.
"Jevarra,"
"ENGGAK!"
"Gue enggak kerasukan."
Perlahan Jevarra kembali menoleh dan menatap Madhava yang juga sedang menatapnya tanpa ekspresi. Lalu cewek itu menoleh ke kursi belakang.
"Udah keluar ya hantu nya?" tanya Jevarra.
"Iya udah."
Jevarra menghela nafas lega. "Pasti dia takut gara gara gue bisa baca ayat kursi." bisik Jevarra yang masih bisa di dengar Madhava.
Madhava menatap bingung Jevarra. Cewek berambut pendek itu benar benar menyangka bahwa Madhava kerasukan?
"Tadi seram banget masa tiba tiba lo ngomongin sayang sayang gitu. Untung udah gue usir hantu nya. Lo gapapa kan, Madhava?" tanya Jevarra.
Kali ini Madhava yang menghela nafas.
"Enggak Jevarra."
Jevarra menyengir tak enak. "Maaf ya, pasti lo keberisikan. Gue teriak teriak mulu. Habis hantu nya—"
Madhava langsung memotong ucapan gadis itu. "Nggak ada hantu dari tadi. Cuman ada lo sama gue di sini. Enggak ada siapa siapa lagi, Jevarra. Gue enggak kerasukan."
"Bohong! Terus tadi kenapa tiba tiba lo berubah aneh gitu?" tanya Jevarra.
"Aneh ya?"
"Iya aneh banget. Gue kaget lihat nya."
"Jangan kaget."
Jevarra mengernyitkan dahinya. "Kenapa emang?"
"Gapapa sih." kata Madhava melanjutkan acara menyetirnya.
Jevarra hanya menghendikkan bahunya.
"Mau makan di mana, Madhava?" tanya Jevarra menoleh ke cowok itu.
"Lo mau makan apa?"
"Kok gue? kan lo yang mau makan."
"Makan sushi mau?"
"Boleh, ayo!"
Setelah itu hanya keheningan yang menguasai atmosfer dalam mobil. Hingga suara Madhava memecah lamunan Jevarra.
"Jevarra?"
Jevarra menoleh. "Iya?"
"Kalau benaran sayang, tahan dulu ya. Tunggu gue biar bisa ikutan sayang."
****
Madhava keluar dari kamarnya, sebenarnya bukan kamarnya tetapi kamar Madheta, sang Abang. Karena kamar yang sebenarnya sedang di pakai Jevarra.
Tanpa sengaja Madhava melewati kamarnya, ia melihat gadis itu sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja. Seperti nya cewek itu sedang tertidur sehabis mengerjakan sesuatu karena Madhava melihat ada banyak buku berserakan di atas meja.
Tak ingin mengganggu, Madhava menutup pintu kamar kamarnya yang tadi terbuka. Cowok itu berjalan menuju ke Balkon rumah. Cuaca sore ini terlihat cerah, padahal sudah jam lima tetapi matahari masih sangat bersinar.
Madhava jadi memikirkan Jevarra, gadis yang akhir akhir ini selalu mengganggu hidup nya. Bukan menganggu sebenarnya, tetapi kehadiran Jevarra membuat Madhava jadi bingung.
Apalagi ia mengingat perkataan Kaivan yang menantangnya untuk mendekati gadis berambut sebahu itu. Apa Madhava bisa? Tapi rasanya terlihat sangat kejam jika Madhava benar benar mengikuti tantangan dari teman temannya.
Sulit untuk Madhava menerima orang baru di hidupnya.
"Widih bro! bengong aja."
Lamunan Madhava terhenti saat seseorang menepuk pundaknya. Ia menoleh, melihat Madheta yang tiba tiba ada di hadapannya.
"Pulang?" tanya Madhava, sedangkan cowok yang terpaut usia dua tahun di atas Madhava itu duduk di sofa balkon.
"Iya, tapi nanti malem balik Bandung. Cuman sebentar aja, nganterin teman ada urusan di Jakarta. Jadi gue ikut deh." kata Madheta menjelaskan. Madhava menganggukkan kepalanya.
"Kamar gue, lo yang pake kan?"
"Iya."
"Jaga kamar gue, awas aja kalo sampe berantakan dan ada barang yang pindah tempat."
Madhava menatap malas cowok itu. Ini sebabnya Bunda menyuruh Jevarra untuk tidur di kamar Madhava, karena Madheta paling tidak suka kamarnya di masuki orang lain atau pun berantakan.
"Berisik lo." ucap Madhava.
"Anaknya teman bunda mana? mau kenalan dong. Cantik nggak? Pasti cantik, ya?" kata Madheta menatap sang adik.
"Tidur."
"Bangunin dong."
"Lo aja,"
"Gue kan belum kenal."
"Gamau."
"Ah, payah lo!"
Sedangkan Madhava hanya menghendikan bahunya.
"Bang." panggil Madhava.
Madheta menoleh, jarang jarang Madhava memanggilnya bang, karena cowok itu akan memanggil sopan kalau sedang serius.
"Ada apa? Ada yang ganggu pikiran lo lagi?" tanya Madheta dengan serius.
Madhava ikut duduk di samping Madheta.
"Gue,"
"Lo kenapa?" tanya Madheta saat menatap Madhava yang terlihat ragu.
"Kepikiran soal Saura."
Madheta menghela nafasnya. "Kenapa?"
"Gue kangen. Tapi gue takut."
"Apa yang lo takuti Madhava, semua bukan salah lo. Lo nggak perlu takuti hal hal yang nggak perlu."
"Tapi Saura—"
"Sampe kapan lo kaya gini? Hidup lo nggak mau maju emang? Udah berapa tahun ini, Dhava. Udah cukup, lo harus bangkit. Tentang Saura itu nggak ada sangkut pautnya sama lo."
"Tapi semua tetap salah gue, bang." ujar Madhava ia terlihat frustasi.
"Gimana lo bisa bangkit, kalo lo aja masih nyalahin diri lo sendiri. Coba berdamai sama diri lo sendiri, Madhava. Nggak ada salahnya kan lo coba. Ini buat lo juga."
Madheta tidak akan pernah bosan untuk memberi tahu Madhava perihal ini. Adik nya itu terus saja di hantui rasa bersalah yang memuncak.
"Jadi gue harus apa?" tanya Madhava menoleh.
Madheta bangkit dari duduknya. Ia menepuk pelan bahu sang adik. "Coba pelan pelan terima orang baru, Madhava. Hidup lo nggak boleh berhenti di satu titik. Semuanya berjalan sesuai waktu."
"Kalau gue nggak bisa?"
"Kalau belum di coba pasti nggak akan tahu kan?" kata Madheta lalu pergi meninggalkan Madhava yang masih merenungi kata kata Abangnya.
***
Matahari sedang terik terik nya, sedangkan kelas Jevarra malah berada di lapangan karena ini adalah jam pelajaran Olahraga.
Banyak siswa yang berlarian di lapangan, sedangkan yang siswi lagi pengambilan nilai bola basket satu persatu. Tadi anak laki laki sudah, makanya yang lain boleh bersantai atau bermain bebas.
Jevarra duduk di samping Adrea, ia mengipasi wajahnya dengan tangan. Cewek itu baru saja menyelesaikan ujian nya.
"Keliatannya susah, tapi ternyata gampang juga ya kalau di praktekin." kata Jevarra membuat Rehuel menoleh.
"Serius lo, Jev? nggak susah? Duh dikit lagi gue nih." ucap Rehuel merasa panik menunggu giliran.
Gaveska menggelengkan kepalanya. "Susah El, percaya sama gue. Lo harus melangkah yang bener supaya itu bola masuk ke ring."
"Ini yang bener yang mana anying???"
Adrea tertawa, cewek dengan rambut di kuncir itu menggeplak pelan bahu Rehuel. "Lo perhatiin baik baik, nanti juga pas maju lo bisa."
"Nggak usah di gebuk juga ya, bu."
"Refleks nyet."
"Gue lupa bawa minum, ke kelas dulu ya?" kata Jevarra membuat teman teman nya menoleh.
"Temenin nggak?" tanya Adrea.
"Gausah, lo pada temenin si El aja kasihan tuh anak pucet mau tes." ujar Jevarra membuat yang lain tertawa.
Jevarra bangkit dari duduknya, ia berjalan di tengah lapangan yang terik karena kelasnya memang berada di sebrang.
BRUK!
Jevarra meringis saat sebuah bola basket mengenai bahunya. Tidak terlalu kencang tapi cukup membuatnya kaget.
"Aduh, Ra, sorry, Ra! Nggak sengaja, tadi mau oper ke Rian." kata seorang cowok yang langsung menghampirinya.
"Gapapa Leon, cuman sedikit doang kok kena bahu." jawab Jevarra sambil tersenyum.
Leon Pradipta, teman sekelasnya sekaligus ketua OSIS sekolah Pelita Bangsa ini.
"Serius nggak apa apa? Aduh gue nggak enak nih sama lo. Ke UKS aja gimana?" ujar Leon dengan wajah khawatirnya.
Jevarra tertawa. "Santai Leon, gue nggak selemah itu."
Namun tiba tiba tubuh Jevarra terhuyung ke arah Leon membuat cowok itu dengan sigap menangkap Jevarra.
"Katanya enggak lemah? tapi kena lemparan gue aja masa jatuh sih?" kata seseorang yang melempar kembali bola basket itu.
Jevarra yang masih dalam rengkuhan Leon pun tersadar. Cewek itu membalikkan badannya, melihat siapa pelaku tersebut.
"Lo apaan sih, Sya?" ucap Leon terlihat tidak suka.
"Maksud lo apaan nimpuk bola basket ke gue? Sengaja?" kata Jevarra menatap Assya.
Cewek itu terkekeh sinis. "Iya lah b**o, udah tau gue sengaja. Pake nanya lagi. Nggak ada otak lo?"
Jevarra maju satu langkah membuat Leon menahan pergelangan tangannya. Cewek itu menoleh, melihat Leon yang menggelengkan kepalanya membuat Jevarra menghela nafasnya.
"Mau apa lo?" tanya Jevarra dengan lantang. Tidak perduli tentang siapa yang ada di hadapannya ini.
Siswa yang sedang bermain basket pun terhenti. Menatap Leon, Jevarra serta Assya yang berada di tengah lapangan.
"Selain caper, lo juga emang ternyata nggak punya otak. Waras nggak lo dekat dekat Madhava?"
Kali ini Jevarra yang tertawa sinis. "Lo cemburu ya nggak bisa dekat dekat Madhava? Nggak bisa pulang pergi sekolah bareng Madhava?"
Assya menatap tajam Jevarra. Tangannya melayang, ingin segera menampar Jevarra tetapi tangan Leon lebih dulu menahannya.
"Berani banget ya lo berantem di depan ketua OSIS? Punya nyali juga. Ini masih area sekolah, kalau mau berantem silahkan tapi nggak disini." ucap Leon memperingati.
Assya menatap Leon. "Lo diem, gue nggak ada urusan sama lo."
"Selama itu masih di lingkungan sekolah, masih jadi urusan gue." kata Leon membuat Assya menggeram kesal.
"b******k lo Leon. Jevarra, lihat lo! Urusan gue sama lo belum kelar." ucap Assya lalu pergi meninggalkan Jevarra dan Leon.
Jevarra menghendikkan bahunya. "Nggak takut."
Sekarang cowok itu menoleh ke arah Jevarra. Tangan nya masih menggenggam tangan Jevarra.
"Lo gapapa, Ra?"
"Nggak, Leon."
"Ada yang sakit nggak?"
"Enggak."
"Ada masalah apa sih sama Assya?"
"Enggak tahu, tiba tiba di labrak aja sama—"
Seseorang masuk di antara celah Jevarra dan Leon, ia melepaskan tautan tangan Leon pada Jevarra.
"Lo ikut gue." kata orang tersebut menggenggam tangan Jevarra yang tadi di genggam oleh Leon.
Jevarra mengernyitkan dahinya, tapi cewek berambut sebahu itu tetap mengikuti langkahnya.
"Leon, gue duluan ya, dadah!" ujar Jevarra.
Jevarra menautkan kedua alisnya saat Madhava membawanya ke Rooftof sekolah.
"Madhava? Kok kesini? Enggak ada kelas memangnya? Ih! Atau lo bolos ya? Ngaku?"
"Berisik."
Ucapan Madhava membuat Jevarra mengerucutkan bibirnya. "Iya maaf."
Ia bingung kenapa cowok itu tiba tiba menarik nya, mana yang di tarik tangan nya yang sebelah kanan pula, sebenarnya tidak ada masalah sih, tapi kan ia bisa menarik Jevarra di tangan kiri, kenapa harus membuat celah sampai memutuskan genggaman Leon.
Bukan, bukan karena Jevarra terus ingin di genggam Leon, tapi perbuatan Madhava saat ini membuatnya merasakan kepercayaan diri yang meningkat.
"Diapain?"
"Hah?"
"Assya ganggu lo?" tanya Madhava. Membuat Jevarra mengangguk.
"Iya tuh! Fans lo! Ganggu banget. Masa dateng dateng gue di timpuk pake bola basket sih, mana yang kena kepala belakang gue lagi kan jadinya—"
"Sakit nggak?" Madhava maju dan mengelus lembut kepala Jevarra yang tadi kena lemparan bola basket.
Cewek itu terdiam, masih terlalu kaget dengan apa yang Madhava lakukan saat ini.
Madhava kembali mundur, ia menatap Jevarra. "Sakit enggak?" tanyan nya lagi.
"Sedikit." ucapnya terlihat gugup.
"Sorry, udah buat lo di gangguin gara gara gue."
Jevarra menggelengkan kepalanya. "Bukan salah lo juga, fans lo aja tuh yang bar bar."
"Lagi juga gue senang buat banyak orang iri. Nggak semua bisa dekat sama lo kayak gini, apalagi sampe pulang pergi bareng. Pasti mereka iri banget sama gue." ucap Jevarra sambil tertawa. Sesaat Madhava menikmati tawa indah dari gadis itu.
Madhava tersenyum kecil. "Kalau di ganggu lagi, bilang sama gue." ucapnya kembali mengelus rambut Jevarra membuat cewek itu lagi lagi mati kutu.