** Clara menjatuhkan lengannya yang menggenggap ponsel miliknya, mengulum bibirnya saat butiran kristall itu seolah tak pernah bosan untuk kembali jatuh membasahi pipinya. Tubuhnya muluruh disisi tempat tidurnya, menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya diantara lengan lengan mungilnya. Berusaha meredam isakan yang semakin menjadi saat mengambil keberanian untuk mengakhiri segalanya. Semakin terisak keras saat kilasan kilasan mengerikan itu terus berputar berulang ulang dikepalanya, memperjelas jika memang seharusnya Clara berhenti. Berhenti melakukan apapun dan melepeskan diri dari jalinan takdir yang dengan kejam mengikatnya dengan dua saudara yang entah mengapa tersimpul mati dalam kegilaan mengerikan. Begitu mengerikan hingga Clara lebih memilih mati jika m

