**
Clara menghela nafasnya dengan pelan sebelum bergegas turun dari mobil Arash yang sudah lebih dulu melesat dengan wajah dingin seperti biasa.
Tatapan itu menghujam Clara begitu saja, menghunus punggungnya hingga ia hanya mampu menunduk sepanjang koridor menuju lokernya.
"Arash!"
Clara mengerjap menyadari pria panas itu melangkah tak acuh dibelakangnya, hanya mengangkat tangannya sekilas saat Gerald berteriak dari ujung koridor. Ia bahkan tidak menyadari sejak kapan Carter ada disamping pria itu dengan buku yang terbuka ditangannya sementara tangan satunya bersembunyi disaku celananya.
Clara harus pergi dari sini.
Ia mempercepat langkahnya menuju lokernya, mencoba menghindari pria pria yang selalu mampu membuat siapapun menelan ludahnya dan berita buruknya ia harus berpapasan dengan Gerald.
"Selamat pagi Clara!"
"Selamat pagi"
Clara menghentikan langkahnya sejenak tersenyum kikuk, semakin salah tingkah saat Ruhan menubruk bahu pria itu dan merangkulnya.
"Hai Clara"
Clara lagi lagi merona, benar benar tidak terbiasa dengan tatapan dan senyuman hangat dari Ruhan.
"Hai"
Bisik Clara salah tingkah, Gerald terbahak dan Ruhan hanya tertawa kecil melihatnya.
"Santai Clara"
Gerald mengedipkan matanya, menggoda Clara yang semakin memerah.
"Kalian bosan?"
Suara berat yang begitu dalam itu membuat Clara terkesikap, ia berdehem pelan dan beringsut membuka lokernya yang hanya beberapa langkah dari tempatnya.
Tidak ingin berurusan dengan Arash yang akan membuat pria itu lagi lagi ingin membunuhnya.
"Bosan apa Arash?"
"Bosan untuk hidup, aku mungkin bisa membantu kalian kerumah sakit"
Gerald tertawa memukul bahu Arash yang hanya berdecak kesal dan Carter yang hanya melemparkan tatapannya sekilas pada Clara yang memeluk beberapa buku tebal didepan lokernya.
"Ayolah Arash, kau selalu saja seperti ini"
"Mr. Alvin sepertinya bekerja terlalu keras"
Gerald dan Ruhan mengikuti arah tatapan Arash, ada seringaian kecil diwajahnya saat memainkan pematik api dijemari panjangnya.
"Apa ada sesuatu dikelasmu?"
"Sepertinya"
"Arash"
Gerald menggeram kesal, penasaran apa yang telah terjadi juga apa yang akan Arash lakukan kali ini.
"Ayo Gerald, Paper kita belum selesai. Kita tidak bisa lari kali ini"
"Ayolah"
"Bersenang senanglah"
Ruhan tersenyum menyeret Gerald dalam rangkulannya agar bergegas mengikutinya menuju kelas mereka yang berbeda.
"Dimana Anna?"
Bisikan datar itu membuat Arash menoleh cepat bersamaan dengan Carter yang menutup bukunya dengan kasar.
"s**t Marko!"
Arash mengumpat, menenendang loker disamping pria berambut curly yang sedang sibuk memainkan Gedget nya dan entah sejak kapan ada disana.
"Kau mengejutkanku"
Kesal Carter melempatkan tatapan tajam penuh peringatan.
"Aku tidak melihat Anna"
Arash mengeraskan rahangnya, membuang tatapannya dengan cengkraman kuat pada pematik api ditangannya.
"Dia ke Paris"
Sahut Arash dengan dingin, masih merasa kesal dengan kepergian gadis satu itu.
"Kau hanya membuka mulut besimu jika itu Anna"
Gerutu Carter kembali membuka bukunya, berniat kembali melanjutkan bacaannya.
"Aku ingin bermain basket"
Ujar Arash berbalik meninggalkan Carter yang juga bergegas menegakkan punggungnya. Mengekori Arash dalam diam seperti biasa.
"Siapa Clara James?"
Carter menghentikan langkahnya sejenak, menoleh kearah Marko yang masih memusatkan perhatiannya pada layar datar ditangannya.
"Perempuan"
Carter berbalik melanjutkan langkahnya dengan Marko yang hanya berdecak mengingat bagaimana tingkah pria itu.
Clara James?
Bersama Anna dan Arash?
**
Clara memekik keras, kepalanya mendongak saat jemari tak beretika itu menarik rambutnya begitu kuat. Tawa yang begitu menjijikan itu membuat kepalanya makin berdenyut terasa menyakitkan.
"Ada apa James? Berharap Anna menyelamatkanmu?"
Senyum penuh kemenangan itu terlihat jelas diwajah cantik gadis dihadapannya, ia tidak tahu siapa orang orang yang menyeratnya ketempat ini dan melakukan hal sehina ini padanya.
"Lepaskan aku"
Clara mendesis saat cengkraman itu makin terasa kuat dikepalanya sementara lututnya terus mengucurkan darah karna posisinya yang belutut diatas kerikil dibelakang gedung kesenian disekolahnya.
"Jalang seperti mu harus diberi pelajaran, kau sudah membuat Anna marah pada Megan dan sekarang kau berusaha mengambil tempat Rachel?"
"In your dream b***h!"
Gadis itu berteriak kesal di iringi suara tawa menjijikan ditelinga Clara yang benar benar tidak berdaya.
"Lepaskan aku"
Gadis itu mendecih sinis, melempaskan cengkramannya dirambut Clara dengan kasar hingga gadis itu tersungkur dan membuat sikunya ikut mengeluarkan darah disana.
"Kau tidak pantas hidup"
Clara menjerit merasakan tendangan keras itu dipunggungnya, memejamkan matanya merasakan sakit luar biasa yang membuat butiran butiran kristal itu berjatuhan dipipinya.
"Girls, James sialan ini benar benar menjijikan"
"Oh ayolah, apa perlu kita memotong rambutnya?"
Clara terisak mendengar suara tawa itu kembali menggema ditelinganya, mencoba bertahan dengan sisa kesadarannya.
"Aku tidak membawa gunting"
"Sayang sekali, ini kesemparan yang sangat bagus kau tahu. Anna sedang tidak disini"
"Jangan menangis!"
Clara kembali menjerit saat salah seorang kembali menendangnya dan lagi lagi tertawa.
Menertawakan dirinya.
"Tolong, hentikan.."
Clara terisak, tangannya bergetar hebat karna kesal akan ketidak berdayaannya.
Kenapa?
Kenapa ini terjadi padanya?
Kenapa mereka melakukan ini padanya?
"Aku bilang jangan menangis!"
Bentakan keras itu membuat Clara menunduk, menggit bibirnya dengan kuat berusaha meredam isakannya.
Kembali merutuki ketidak berdayaannya, putus asa karna kali ini ia sendiri.
Tidak ada Anna.
Tidak ada yang akan menolongnya.
"b******k! Aku akan merobek-"
"Merobek apa?"
Suara berat nan dalam itu mengalun pelan bagaikan bisikan mematikann yang membuat tubuh Clara menegang.
Tidak.
Tidak hanya Clara.
Tapi gadis gadis yang berdri mengelilinginya bergetar dan beringsut ketakutan.
"Kalian ingin aku merobek mulut kalian?"
Geraman itu semakin terdengar jelas ditelinga Clara, suara dalam yang begitu dikenalinya.
"A-arash?"
Clara semakin menunduk dalam saat sepasang sepatu itu berdiri begitu dekat tepat disampingnya.
Pria itu berlutut, mengulurkan jemarinya dan mengangkat dagu Clara hingga gadis itu dapat melihat dengan jelas wajah tampan dengan tatapan mengerikan dihadapannya.
"Tidak ada ampun untuk kalian"
Suara berat itu mengalun begitu dingin dan menusuk hingga gadis gadis itu menjerit ketakutan.
"Arash, k-kami. Maafkan kami Arash, Kami-"
Berusaha mencari pengampunan
"Diam"
Rahang kokoh itu mengeras melihat lebam dan luka terbuka disekujur tubuh Clara.
"Kita pulang"
Clara memekik pelan saat lengan lengan kokoh itu mengangkat tubuhnya, membawanya dalam dekapan hangatnya. Berbalik dan melangkah melewati Carter yang bersandar didinding dengan buku yang terbuka.
"Singkirkan mereka"
Bisiknya pelan, membuat pria berambut pirang itu menutup bukunya dengan tenang dan menegakkan bahunya.
"Tentu saja"
Arash berlalu, membawa Clara dalam gendongannya. Melupakan mahluk mahluk menjijikan yang terus menatap mereka dengan beribu tatapan berbeda.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk selalu bersamaku Clara, jika hal ini kembali terjadi aku yang akan membunuhmu"
Arash menatap gadis dalam dekapannya dengan tatapan penuh peringatan sebelum kembali mengalihkan tatapannya pada koridor yang tidak terlalu ramai namun cukup riuh karnanya.
"Terimakasih"
Isak Clara meneggelamkan wajahnya didada bidang dengan aroma memabukkan seorang Arash yang hanya menunjukkan wajah dingin tak tersentuhnya.
Benar benar tidak tahu, apa yang akan terjadi padanya jika pria menyeramkan ini tidak ada.
Pria menyeramkan yang membuat kehidupan membosankannya berubah.
Pria menyeramkan yang membuat sesuatu didalam dirinya mulai terasa berbeda.
Arash Stevano Grayen.
**