Part 9

1065 Kata
** Clara mengintip dari celah pintu kamarnya, mencuri curi tatapan pada sosok tampan yang sedang berbaring disofanya dengan salah satu lengan ditekuk menyangga kepalanya. Pria itu masih disana sejak berjam jam yang lalu, menghabiskan lintingan mematikan yang terselip diantara bibir panasnya dengan sekaleng ber dingin. "Kemari" Clara tersentak, membelalakkan matanya saat pria itu berbicara tanpa menatapnya. Menyadari keberadaannya. "Kemari Clara" Clara menelan salivanya susah payah dan bergegas membuka pintu kamarnya lebar lebar dan menghampiri pria itu. "Kau akan pulang?" Arash bergegas bangkit, sebelum menatap Clara dengan tajam membunuhnya. "Tidak" "K-kenapa kau belum pulang? Ini sudah hampir malam" Arash menyandarkan punggungnya disandaran Sofa, menatap Clara yang menggunakan Dress sederhana dengan rambut sepunggung yang terurai dan masih lembab dengan lekat lekat. Yang baru disadarinya perempuan ini cukup cantik, meskipun ia belum mampu menandingi kecantikan Anna. Tapi. Kenapa ia tidak pernah melihatnya dimanapun? "Apa ibumu tidak pernah mengajarimu menerima tamu? Kau seharusnya memberiku makan" Clara mengerutkan keningnya tidak suka, belum lagi tatapan mengintimidasi yang sejak tadi membuat jantung berdebar tidak karuan. "Maaf, kau ingin makan sesuatu?" Arash menghela nafasnya pelan dan bergegas bangkit, menyampirkan kemejanya diatas lengan Sofa dan melemparkan kunci mobilnya pada gadis itu. "Ambil tasku dimobil" "Aku?" Clara menghela nafasnya pasrah saat tatapan tajam itu langsung membunuhnya. Grayen bersaudara. Kenapa mereka begitu mengerikan? "Baiklah" *** Clara melangkah memasuki rumahnya dengan tas punggung yang kini ada dalam genggamannya, keningnya berkerut dalam saat mendengar ketukan berirama itu menggema dari dalam dapurnya. Arash? Tidak mungkin! Clara mempercepat langkahnya, tubuh tegap dengan kaus putih yang membalut pahatan pahatan indah itu sedang berdiri didalam dapurnya. Menggerakkan jemari jemari panjangnya dengan mempesona tanpa melakukan gerakan tak berarti sedikitpun. "Hei" Clara tersentak, wajahnya memerah menyadari ia bahkan menahan nafasnya dengan mata membulat karna terpesona saat menatap Arash disana. Didapurnya. "Kau bisa memasak?" Mata tajam itu menghunusnya sebelum kembali memusatkan perhatianya pada bumbu sederhana dihadapannya "Pertanyaan bodoh" Clara menghela nafasnya, meletakkan tas Arash diatas kursi dan melangkah mendekat mencoba mencari tahu apa yang pria itu lakukan dengan bahan makanan yang terbatas dikulkasnya. "B-bagaimana bisa kau memasak?" Clara benar benar tidak percaya, ia menelan salivanya susah payah. Antara tidak percaya dan aroma kuat menggoda yang merasuki indra penciumannya saat dengan gerakan mempesonanya Arash mulai mengolah bahan bahan yang telah pria itu siapkan. "Kenapa tidak?" "Tapi, kau-" "Diam" Suara dingin itu membuat Clara menghela nafasnya, memilih bungkam dan menuangkan air kedalam gelas kristal diatas meja makan. Ah yah! "Kau akan pulang setelah ini bukan?" Arash mengangkat wajahnya menatap Clara sekilas sebelum kembali membumbui masakannya. "Kenapa? Kau ingin aku tinggal?" "Tidak!" Clara menjerit tertahankan membuat Arash diam diam menaikkan salah satu sudut bibirnya, sama sekali tanpa Clara sadari. "Aku akan tinggal kalau kau ingin berbagi tempat tidur denganku" Wajah Clara memeras sempurna, pria itu bahkan mengatakan semuanya dengan nada yang begitu datar tapi.. kenapa ia harus semalu ini? "Jika kau sudah selesai, kau bisa pulang" "Kau tidak makan?" Clara tersentak menatap Arash yang bahkan tidak menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Apa dia bilang? "T-tidak" Sahut Clara, Arash mematikan kompornya sebelum menatap Clara dengan tatapan tajam membunuh yang membuat debaran jantung Clara semakin memggila. "Aku tidak suka orang yang selalu melewatkan makan malamnya" Clara membeku, menatap mata tajam yang masih menatapnya dengan tatapan yang sama. Tidak. Kali ini ada yang berbeda dari mata itu, mata tajam itu sedang tidak menatapnya. Tidak benar benar menatapnya Apa yang Arash pikirkan? ** Anna menggerakkan gelas kristal ditangannya dengan pelan, menghirup aroma memabukkan cairan merah yang selalu membuatnya dalam masalah. Menatap kejauhan gemerlap kota impian sejumlah wanita yang begitu menggilai suasana romantika kota ini dengan sendu. Lebam biru dikedua pipinya masih terlihat dengan jelas karna ulah kakak tersayangnya, membuat Anna harus menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya dari tatapan Ayahnya. "Kau ingin pulang?" Anna menoleh dengan anggun, tersenyum saat pria berambut pirang dalam balutan kemejanya bersadar didinding. "Sebentar lagi Felix" "Kau minum, kau benar benar ingin Arash membunuhku yah?" Anna tersenyum membiarkan pria itu melangkah mendekat dan menyampirkan selimut dibahu mungilnya. "Boleh aku menginap?" Pria itu tertawa kecil, ikut menatap keindahan kota Paris dimalam hari meskipun sosok mempesona disisinya itu terlihat jelas lebih indah dengan tindik berlian yang berkilauan dihidung mungilnya. "Tidak, tidak. Arash mungkin hanya mengomeliku saat tahu kau minum tapi dia benar benar akan membunuhku jika ia tahu kau menginap diapartemenku" Anna kembali tersenyum, kali ini senyum tipis tak berarti dimata Felix. "Kau terlalu berlebihan" "Tidak juga, aku tentu tidak ingin berakhir seperti Ruhan" Anna mencengkram gelas kristal cukup kuat, menghela nafasnya berusaha agar ia tidak lepas kendali dan membuat Felix lagi lagi harus kerepot karnanya. "Kau tidak punya kesibukan?" Felix tersenyum mendengar suara lembut yang mengalun dengan dingin itu, mengambil alih gelas Anna dan menarik gadis itu agar duduk dipinggiran tempat tidurnya. "Tidak, aku punya pasien yang lebih penting disini" Felix menyelipkan rambut Anna kesisi telinganya sebelum menyingkap kerah gadis itu hingga menunjukkan lebam membiru yang begitu mengerikan dibahunya. "Kalian belum berubah" Gumam Felix menatap sekilas kearah Anna yang hanya menatapnya dengan tatapan tak terbaca yang sejatinya hanya berisi kekosongan dan ruang hampa mengerikan. Felix menghela nafasnya sebelum mengambil kotak obat didalam laci nakasnya. "Tidak akan Felix" "Anna" Felix menggenggan jemari gadis itu, meyakinkan jika semuanya akan segera baik baik saja. Meskipun ia tidak tahu. Entah sampai kapan dua anak manusia ini akan terus saling menyakiti saling membunuh. "Semua akan baik baik saja" Anna mengerjap, tersenyum kecut membalas senyuman hangat Felix yang seperti biasa mampu membuatnya tenang. "Aku hanya berharap Clara bisa menolongku dan Arash" Felix menghela nafasnya, mengangkat dagu gadis itu dan bergegas mengobati lebam diwajah cantiknya. "Kau yakin gadis itu akan menolong kalian?" Bisik Felix masih memusatkan perhatiannya pada lebam diwajah Anna yang kini menatap Felix dengan tatapan bingung. "Apa maksudmu?" Felix meletakkan kasanya, menatapan Anna sekilas sebelum kembali menurunkan kerah baju dan tali bra gadis itu. "Jangan gunakan bra bertali untuk sementara, itu akan membuatnya semakin membengkak" "Felix" Pria itu tersenyum kembali menatap Anna sekilas dan kembali melanjutkan pekerjaannya dibahu Anna. "Aku bersama kalian sejak kau dan Arash bahkan masih disekolah dasar, aku jelas tahu jika masalah ini semakin rumit dan tidak terkendali karna kalian berdua" "Apa maksudmu?" Felix mengulum bibirnya, berpikir dengan tatapan Anna yang menatapnya dengan kerutan samar dikening gadis itu. "Sederhananya, bagaimana jika gadis itu tidak berhasil?" "Clara?" Felix mengangguk kembali mengobati lebam yang jauh lebih mengerikan dibahu Anna yang kini menghela nafasnya, dengan tatapan sendu yang kembali menghiasi mata indahnya. "Maka aku dan Arash tidak akan pernah tertolong" Benar benar tidak tertolong **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN