**
Clara menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya menelungkupkan wajahnya diatas meja, menunggu jam pertamanya agar segera dimulai beberapa menit lagi.
Entah mengapa, setelah ia tertarik dalam lingkaran
mengerikan Grayen bersaudara itu ia sering kali menghela nafasnya.
Yang ia tahu tekanan yang begitu menguras tenaga dan emosinya membuatnya begitu mudah merasa lelah.
Benar benar lelah.
"Look"
"Aku tidak tahu apa yang menarik dari sijalang sialan itu hingga Anna dan Arash ingin bersama dengannya"
"Truly b***h! Aku dengar Anna bahkan membuat Megan harus dirawat di rumah sakit"
"Seriously? Seorang Anna?"
"Ya, bahkan Arash mengantarnya pulang"
"Oh! my! god!"
"Tidak mungkin!"
"Rachel akan membunuh si James itu saat ia kembali dari Paris"
Clara mengulum bibirnya mendengar celoteh beberapa gadis tidak jauh darinya yang akhirnya memilih menghentikan obrolan mereka saat sang guru memasuki ruangan.
Membuat Clara dengan enggan mengangkat wajahnya dan mengeluarkan beberapa catatam dari sana.
Lagi lagi tekanan yang luar bisa menyebalkan.
Ia jelas tahu siapa Rachel.
Satu satunya perempuan yang pernah berkencan dengan Arash.
Atau mungkin masih menjadi teman kencannya.
Berita terburuknya adalah Anna yang pergi ke Paris bersama tuan Stevano serta Ibunya, jangan lupakan Arash yang harus menemaninya.
Harus.
Dan ia baru saja membuat satu kesalahan kecil yang akan jelas membawa masalah besar.
Clara menelan salivanya susah payah saat mendengar pekikan dan bisikan dikelasnya makin berdengung keras ditelinganya, dengan ragu ia mengangkat kepalanya dan menemukan wajah mengeras itu berdiri diambang pintu kelasnya.
"Ada yang bisa aku bantu Arash?"
Pria itu bahkan tidak perlu repot repot untuk menoleh, hanya memerangkap Clara dengan mata tajam mengerikannya yang sedang berkilat penuh kemarahan.
"Aku akan meminjam muridmu Mrs. Hilton"
Desis Arash mulai melangkah lebar menuju meja Clara yang duduk dengan gelisah disudut kelas.
"Ikut aku"
"Tapi-"
"Tinggalkan itu"
Clara nyaris terjungkal saat jemari panjang itu melingkupi lengannya sebelum menariknya dengan kuat agar mengikuti langkah lebarnya.
"Arash"
Clara berusaha melepaskan cekalan Arash dilengannya namun lagi lagi kekuatan seorang Arash bukanlah sesuatu yang patut untuk disalah artikan.
Pria ini mengerikan.
Dan entah bagaimana bisa menjadi tunanganya.
"Kau tahu apa kesalahanmu?"
Arash melepaskan cekalannya dengan kasar menatap Clara dengan tatapan tajam membunuhnya, ingatan tentang Anna yang pergi semalam membuatnya benar benar nyaris hilang kendali.
"Kau tidak perlu menjemputku"
"Dan membuat Ayahku membunuhku!?"
Teriak Arash kesal membuat Clara berjengit ketakutan ditempatnya belum lagi bisikan dan tatapan yang terus menghujamnya dari ujung lorong sekolah.
"Tapi kau benar benar tidak harus melakukan itu Arash"
Arash mengeraskan rahangnya, melangkah mendekat mendesak Clara yang beringsut hingga punggungnya menyentuh lorong sekolah yang cukup lengang meskipun beberapa orang diujung sana masih memperhatikan mereka.
"Dengar"
Arash menarik dagu Clara dengan telunjuknya, mencoba menekan gadis itu hingga kedasarnya agar tahu dengan jelas bagaimana keadaan mereka saat ini.
"Mulai hari ini jangan pergi kemanapun tanpaku dan tanpa sepengetahuanku"
Desis Arash dengan suara berat nan dalamnya yang membuat Clara mengerutkan keningnya.
"Aku tidak mau"
Clara menepis tangan Arash, tersentak saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan pada sisulung Grayen yang makin memanas ingin segera membunuhnya.
"Kau bilang apa?"
"Aku-"
"Menurutlah jika kau tidak ingin berada dalam masalah, Clara"
Clara mengulum bibirnya, menunduk seraya menghela nafasnya dengan pelan saat tau ia lagi lagi tidak berdaya dibawah tatapan mengerikan seorang Arash Setevano Grayen
Clara tahu.
Sangat tahu.
Sejak awal hidupnya akan berubah karna Pria satu ini.
**
Carter mengalihkan perhatiannya sejenak dari buku tebal yang terbuka lebar dihadapannya saat gadis cantik berambut hitam dihadapannya merona hanya karna Ruhan mengambilkan makan siang untuknya.
Ia lalu menatap Arash yang seperti biasa hanya menunjukkan wajah dingin tidak tersentuhnya dan menikmati makanannya dalam diam.
"Terimakasih"
Gadis itu bergumam pelan, membuat Carter mengedikkan bahunya dan kembali terpaku pada susunan kata didalam bukunya, mengabaikan Gerald dan Ruhan yang melanjutkan obrolannya.
"Baby Ann ke Paris"
Gumam Gerald berdecak pelan membuat pria dengan tatapan jenaka itu mendapatkan tatapan tajam dari Arash.
"Dan tidak biasanya Anna pergi dan kau tetap disini"
"Gerald"
Pria itu terkekeh pelan tidak berniat menggoda Arash lebih jauh sebelum pria itu meledakkan mobil barunya.
"Kau di kelas berapa Clara?"
Gadis yang duduk disisi Arash itu tersentak, wajahnya merona saat membalas tatapan Ruhan yang hangat seperti biasa.
"S-satu tingkat dibawahmu"
"Santai Clara, jangan terlalu kaku"
Gerald merangkul bahu Clara membuat gadis itu semakin merona malu dengan degup jantung yang menggila dengan tatapan membunuh yang sejak tadi terus menghunus punggungnya.
"Tanganmu Gerald"
Gerald menaikkan alisnya sebelum menarik lengannya dari bahu mungil Clara yang duduk diantaranya dan Arash. Tanpa tahu jika Ruhan dan Carter saling melempar tatapan penuh arti.
Tidak biasanya.
"Kau cemburu?"
Gerald memekik keras saat Carter menendang kakinya dengan kuat dibawah meja, menyadarkan pria bodoh itu agar tidak membangunkan iblis yang sedang tertidur didalam raga rupawan dihadapannya.
"T-tidak, Arash tidak-"
"Habiskan makan siangmu Clara"
Carter dan Ruhan kembali saling melempar tatapan, menyadari Arash yang luar biasa tidak berperasaan itu lagi lagi melakukan sesuatu diluar kebiasaannya.
"Ada apa denganmu Arash? Aku mengerti jika kau marah saat aku menggoda Anna karna dia adik kesayanganmu tapi aku tidak mengerti kenapa-"
"Gerald, kau tidak ingin Arash meledakkan mobilmu lagi bukan?"
Tegur Ruhan membuat pria itu berdecak tidak berniat melanjutkan argumennya, meskipun Ruhan dan Carter benar benar penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi antara Arash dan Clara.
Getaran iPhone Arash membuat pria itu mengurungkan niatnya mematahkan tangan salah satu teman dekatnya itu, nama Anna dilayar datarnya bahkan sama sekali tidak membuat suasana hatinya lebih membaik.
"Apa?"
Sahut Arash, suara lembut itu menyambutnya. Mengalun tenang yang membuat Arash mengeraskan rahangnya karna kesal.
"Apa kau menjaga tunanganmu dengan baik Arash?"
"Tutup mulutmu sialan"
Desis Arash, mengepalkan jemarinya dengan kuat mengingat ia tidak akan bisa memberi adik sialannya itu pelajaran dalam waktu dekat.
"Kenapa? Ada yang salah? Aku hanya menanyakan kakak iparku"
"b******k"
Arash nyaris menghantam iPhonenya dilantai cantik kantin sekolahnya karna kekesalan luar biasa yang makin menguasainya.
Anna dan Clara.
Ia benar benar membenci dua perempuan ini.
"Ah, aku dengar Clara tidak boleh terlambat makan. Ia juga alergi dengan debu"
"Persetan"
Arash mematikam sambungan, melempar tatapan tajam membunuh pada Clara yang dengan susah payah menghabiskan makanannya tepat disampingnya.
"Itu Anna?"
Arash tidak menjawab ia bergegas bangkit, mengambil menuman Clara sebelum kembali menarik gadis agar bergegas bangkit.
"Arash"
Clara memekik pelan dan Arash tidak peduli. Tidak peduli pada tatapan orang yang berlalu lalang ataupun tatapan penuh tanda tanya teman teman dekatnya.
Ia hanya ingin menjauh.
Menenangkan dirinya.
Sebelum ia kembali menggila.
"Kita pulang"
**