***
Anna menutup pintu mobil yang dikendarai oleh supir pribadi Ayahnya, mengedarkan tatapan dinginnya pada rumah sederhana dengan taman yang dipenuhi oleh rumput hijau dan bunga bunga indah terawat.
Melangkahkan kaki jenjangnya memasuki pelataran rumah mungil dengan kursi yang dipenuhi oleh bantal di berandanya, kehangatan yang sangat sulit ia temui itu menyambutnya saat pintu bercat coklat itu terbuka lebar untuknya.
"Anna?"
Anna tersenyum melihat Clara benar benar sampai di rumahnya dengan selamat, membuktikan jika Arash kakak menyebalkannya itu benar benar mengantar tunangannya pulang.
"Apa yang-"
"Boleh aku masuk?"
Anna menyela tidak mempedulikan Clara yang kini mengangguk cepat dan membiarkan gadis mempesona itu memasuki rumahnya.
"Maaf, rumahku tidak sebagus rumahmu"
Anna tersenyum simpul menatap gadis cantik yang selalu saja gugup jika berbicara dengannya.
"Sudah kukatakan, jangan meminta maaf jika kau tidak membuat kesalahan. Lagi pula aku suka rumahmu"
Clara merona mendengar pujian Anna yang terlihat begitu bersungguh sungguh, ia menggigit bibirnya lalu kembali menatap gadis itu.
"Terimakasih, tapi apa yang kau lakukan dirumahku?"
"Aku mengunjungi calon kakak iparku, ada yang salah?"
Wajah Clara makin memerah mendengar ucapan Anna yang diam diam mengulum senyumnya.
"Ah yah, dimana kamarmu?"
"Apa?"
Clara tersentak, merutuki dirinya saat Anna menatapnya dengan kening berkerut.
"Ada apa?"
"Aku tidak, aku-aku hanya malu"
Anna tertawa kecil yang membuat Clara tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari sosok mempesona berambut keemasan dihadapannya.
Melihat seorang Anna tertawa adalah hal yang tidak biasa.
"Clara? Hei, kau baik baik saja?"
Clara mengulum bibirnya malu sebelum membawa Anna menuju kamarnya.
Ruangan yang didominasi oleh warna putih itu menyambut Anna, boneka panda raksasa diatas tempat tidur Clara seketik membiusnya saat kakinya berpijak di dalam ruangan sederhana itu.
"Aku suka kamarmu"
Gumam Anna tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur yang dilapisi selimut berwarna putih bergaris itu, mengelus boneka panda yang begitu lembut dijemarinya.
Sesuatu yang seperti ini tidak akan pernah ia temui didalam rumahnya, tidak dikamar Ayahnya yang kaku, Arash yang mengerikan ataupun dirinya sendiri.
"Terimakasih, aku akan mengambil-"
"Tidak perlu"
Anna berbisik pelan, menatap Clara lekat lekat sebelum bergegas bangkit. Melangkah pelan menuju jendela sederhana bertirai putih itu sebelum berbalik dan bersandar disana seraya bersidekap.
Kembali menatap Clara.
"Tapi-"
"Kau baik baik saja?"
Sela Anna, membuat Clara menghela nafasnya sebelum mengangguk pelan.
"Iya, terimakasih untuk hari ini. Tapi seharusnya kau tidak perlu meminta Arash untuk mengantarku"
"Dia tunanganmu Clara, mengantarmu dan menjagamu adalah tugasnya. Jangan sungkan untuk meminta bantuanku dan Arash, kau mengerti?"
Anna tidak terbiasa bicara sebanyak ini, untuk itu Clara memilih untuk mengangguk patuh meskipun ia tidak yakin akan melakukan hal tersebut hingga nama Megan dan teman temannya kembali terlintas dikepalanya.
"Megan"
Sudut bibir Anna terangkat membentuk sebuah senyuman yang entah mengapa terlihat begitu mengerikan dimana Clara.
"Jangan pikirkan, mereka tidak akan menganggumu lagi"
"Apa yang kau lakukan pada mereka?"
Anna tersenyum, kali ini benar benar tersenyum merasa Clara sudah mulai nyaman berinteraksi dengannya tanpa gugup ataupun menunduk seperti biasa.
"Hanya memberi mereka sedikit pelajaran. Ah, aku harus pulang. Jangan lupa ingatkan ibumu untuk bergegas okey?"
"Bergegas?"
Anna mengangguk seraya mengenakan tasnya, mengedipkan matanya dengan senyum penuh arti kearah Clara yang hanya menatapnya dengan tatapan polos penuh tanda tanya.
"Ingatkan saja"
**
Arash membanting pintu mobilnya dengan keras, melangkah lebar memasuki rumahnya yang lengang seperti biasa dengan rahang mengeras dan mata yang berkilat mengerikan.
Brengsek!
Dimana Anna?
Ia sudah menyusuri setiap sudut sekolah mencari adik sialannya itu dan ia tidak menemukannya dimanapun.
"Anna!"
Arash meraung dengan keras, melangkah menuju pintu yang berhadapan dengan kamarnya dengan cepat.
"Apa?"
Suara merdu itu mengalun dengan lembut ditelinganya, dengan sekali sentakan Arash menarik kerah baju gadis itu dan mendorongnya dengan kasar kedinding tepat disisi pintu.
"Kemana saja kau hah!?"
Arash berteriak kesal dan gadis itu hanya menatapnya dengan dingin, mata tajam itu makin berkilat mengerikan.
"Aku disini"
"Kenapa kau mematikan ponselmu, apa anak penggoda sepertimu tidak punya otak?"
Arash mendesis tanpa perasaan menguatkan cekramannya dikerah baju Anna yang mulai ikut tersulut.
"Apa masalahmu?"
Desis Anna tak terima, menarik lengan kokoh yang terus menghimpit tubuhnya dengan cekraman kuat dikerah bajunya.
"Kenapa kau membohongiku jalang!"
"Aku tidak membohongimu b******k!"
Anna mencakar lengan Arash yang makin mengeraskan rahangnya, ia menarik jemari lentik itu dan menyatukan kedua tangan tangan nakalnya dalam satu genggaman kuat.
"Sekali lagi-"
"Apa? kau akan apa? Dia tunanganmu b******k"
Anna tidak menyerah, berusaha memberontak namun Arash menarik kedua lengannya keatas kepalanya sebelum menarik dagunya dengan kasar hingga wajahnya terangkat menatap tepat dimata tajam yang sedang berkilat mengerikan.
"Persetan dengan tunanganku"
"Kenapa? Kau tidak suka?"
Anna tertawa sumbang, membuat Arash makin mengeraskan rahangnya dan menguatkan cengkramannya dilengan juga pipi Anna yang sama sekali tidak mau menyerah.
Anna sudah terbiasa.
Ini bukan apa apa.
Dan ini akan terbalaska.
"Aku benar benar ingin membunuhmu"
"Kenapa tidak kau lakukan?"
Arash menunduk, berbisik pelan ditelinga Anna yang memilih tidak memberontak karna tahu akan berakhir dengan sia sia jika berada dalam cengraman pria mengerikan yang sialnya menjadi kakaknya.
"Aku akan terus menyiksamu Anna, menyiksa anak jalang sialan sepertimu. Membuat jalang itu menyesal telah menggoda Ayahku dan membuat aku kehilangan ibuku"
"Ibumu yang terlalu bodoh"
Arash menggigit bahu Anna dengan keras membuat gadis itu mengerang menahan dirinya agar tidak meraung kesakitan hingga membuat keributan.
"b******k!"
Anna memberontak benar benar ingin mencekik Arash yang menunjukkan seringaian tanpa dosany, sementara cekraman dilengan dan pipinya makin terasa mengerikan.
"Kau harus diberi pelajaran"
Anna menggelengkan kepalanya dengan keras hingga cengkraman Arash dipipinya terlepas, tersenyum sinis pada kakak sialannya yang terlihat benar benar ingin membunuhnya.
"Pelajaran? Wake up Brother!"
Arash mengerjap sekali, tersenyum sinis sebelum melepaskan cekramannya. Menyadari ucapan Anna juga bilur keunguan yang mulai terlihat ditubuh gadis itu.
Sial! Ayahnya sedang ada disini!
"Kali ini kau selamat"
Arash membuang tatapannya, mendur selangkah sebelum membalikkan tubuhnya menuju pintu yang tidak jauh darinya berhadapan dengan pintu kamar Anna.
"Aku harap kau tidak melakukan ini pada Clara"
Bisik Anna merapikan pakaiannya dengan tenang, membuat Arash yang baru saja menyentuh gagang pintu kamarnya berbalik dan melemparkan tatapan tajamnya kearah Anna.
"Apa maksudmu?"
Anna tersenyum penuh kemenangan, mengibaskan rambut keemasannya dengan anggun seraya mendorong pintu kamarnya yang masih terbuka sebelum kembali menoleh menatap Arash dibalik bahunya.
"Aku akan ikut Ayah ke Paris"
"Tidak tanpaku"
Sela Arash cepat, senyum penuh kemenangan Anna makin mengembang. Ia berbalik seraya bersidekap menatap Arash yang menajamkan matanya.
"Sayang sekali, Ayah dan Ibu Clara akan ke Moskow setelah mengantarku ke Paris. Dan kau Arash akan menjaga tunanganmu Clara"
"Aku tidak sudi!"
Arash berteriak tidak terima, rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal dengan kuat. Membuat Anna tersenyum seraya mengedikkan bahunya.
"Terima saja"
Ujar Anna berbalik memasuki kamarnya dengan senyum penuh kemenangan, tidak peduli Arash yang mengumpat dengan ribuan sumpah serapahnya.
"b******k!"
Terbalaskan.
**