"TOK TOK TOK."
"Ya, sebentar!" sahut suara wanita renta dari dalam rumah bertipe sederhana yang genting cokelatnya telah berlumut di sana sini itu.
William yang berprofesi sebagai arsitek ternama pun menilai dalam hatinya tentang tempat tinggal gadis imut kesayangannya yang kini tergolek di ranjang rumah sakit. Halaman depan yang asri dengan pohon mangga Manalagi, alpukat, dan durian. Tanaman bunga hias juga menghiasi sepetak tanah berukuran kurang lebih 20 meter persegi itu. Semuanya tanpa sengaja membuat pria itu membersitkan senyuman mahal di bibirnya.
"Alami banget, sepertinya kakek nenek Emmy suka berkebun!" gumam William sebelum pintu di balik punggungnya terbuka.
"Ohh ... selamat malam. Anda mencari siapa ya?" sapa Nenek Dahlia kepada pria ganteng yang tinggi menjulang di hadapannya.
Mobil sedan Mercy hitam yang tadi pagi dan kemarin sore mengantar jemput cucu kesayangannya terparkir di depan pagar. Wanita berusia lanjut itu menduga bahwa pria ini mungkin bos Emmy.
William segera mengulurkan tangan kanannya seraya memperkenalkan dirinya, "Selamat malam, Nek. Saya Willy, atasan Emmy di kantor."
Uluran tangan lebar itu disambut oleh Nenek Dahlia. "Duduk dulu, Pak Willy. Kok Emmy malah belum sampai di rumah ya, sudah petang begini. Apa ban sepeda motornya gembos lagi?" ujar nenek Emmy risau.
"Ehm ... sebelumnya saya harus meminta maaf karena nggak bisa menjaga Emmy selama pergi keluar negeri kemarin. Jadi siang ini saya baru sampai di Jakarta dan ada kabar buruk. Emmy jatuh tergelincir di tangga, dia sekarang dirawat di rumah sakit, Nek!" jawab William dengan jantung berdetak kencang. Dia tidak tahu riwayat medis nenek gadis itu, William hanya berharap tak ada penyakit jantung.
Nenek Dahlia terkejut, dia pun dengan terbata-bata berkata, "La—lalu ... Emmy ... Emmy gimana sekarang, Pak?"
"Tenang, Nek. Emmy sudah dirawat oleh tenaga medis yang berkualitas. Semoga segera pulih. Apa Nenek dan kakek mau menengok Emmy di rumah sakit? Kalau iya, bisa saya antarkan dengan mobil," balas William berusaha tetap kalem sekalipun aslinya dia grogi.
"Mau, Pak. Sebentar ya, saya ke dalam buat ngasih tahu kakeknya Emmy!" Nenek Dahlia bergegas masuk ke dalam rumah dan meninggalkan William duduk sendirian di kursi bambu yang ada di teras depan.
Sungguh kata sederhana saja yang terlintas di benak William mengenai keluarga Emmy. Namun, dia sangat menyukai sifat gadis itu yang murah hati dan gemar berbagi. Secangkir kopi di cafe bandara itu membuat William dan Emmy berkenalan lalu menjadi dekat.
Tak lama kemudian Kakek Hasan tergopoh-gopoh keluar ke teras menemui William dengan pakaian rapi bepergian dan jaket tebal yang hangat. Sontak pria itu bangkit dari kursi bambu dan menjabat tangan kakek Emmy. "Selamat malam, Kek. Saya William, atasannya Emmy di kantor," ujarnya formal seraya tersenyum ramah.
"Iya, salam kenal. Saya Hasan, kakeknya Emmy. Mungkin sambil ngobrol di perjalanan saja ya supaya nggak terlalu larut malam sampai di rumah sakit," sahut Kakek Hasan dengan bijak.
Maka mereka pun naik ke mobil Mercy yang dikemudikan oleh Mang Ali. Di sepanjang perjalanan, barulah Kakek Hasan menginterogasi William habis-habisan.
"Nak Willy ini sudah menikah atau masih single?" tanya Kakek Hasan dari bangku belakang. Beliau duduk bersebelahan berdua dengan Nenek Dahlia.
William duduk miring di bangku samping sopir sambil menjawab pertanyaan kakek Emmy, "Saya belum menikah, Kek. Mungkin karena terlalu sibuk bekerja jadi kurang tertarik untuk menikah cepat-cepat!"
"Lho, memang usia kamu berapa sekarang?" lanjut Kakek Hasan.
"Ehh ... tiga tujuh, tahun ini, Kek!" jawab William jengah ditanya tentang umurnya. Dia memang bisa dibilang bujang lapuk karena telat menikah, tiga tahun lagi usianya sudah menginjak kepala empat. Namun, pacar saja tak ada.
Sementara istrinya menahan tawa, dia tahu bahwa pasangan pendamping hidupnya itu sedang menyelidiki bos cucu mereka. Memang William nampak baik dan potensial untuk dijadikan cucu menantu. 'Akan tetapi, usia pria itu dengan Emmy agak terpaut jauh, apa Emmy mau?' pikir Nenek Dahlia.
"Nak William jangan terlalu lama menunda untuk menikah. Nanti anak-anak kamu masih kecil, tapi usia papanya sudah tua sekali," nasihat Kakek Hasan yang memang benar adanya.
Mendengar nasihat itu, William pun merasa agak melankolis. Dia belum ada calon istri. Kemudian dia bertanya, "Oya, Kek. Emmy apa sudah punya pacar? Kami boleh nggak kalau pacaran?"
"HA-HA-HA. Cucuku cantik ya? Hmm ... boleh, dengan catatan kalau Emmy setuju. Kakek dan Nenek Dahlia hanya berpesan, jangan diajak pacaran gaya zaman now ya!" jawab Kakek Hasan dengan tawa berderai.
"Jangan kuatir, Kek, Nek. Saya pria yang bertanggung jawab dan nggak suka pergaulan bebas kok, kalian tenang saja! Emmy pasti aman kalau sama saya," ujar William mencoba mendapat lampu hijau dari orang tua gadis yang disukainya.
Mereka pun berbincang dengan akrab hingga sampai di rumah sakit. William mengantarkan kakek dan nenek Emmy ke ruang ICU. Di dalam ruangan Haikal masih setia mendampingi gadis itu.
"Mo, kamu sudah makan apa belum? Sana ke kantin rumah sakit dulu, bawa duit nggak?" tanya William karena memang sudah lama kepala ART-nya menjaga Emmy sedari siang.
"Oke, Boss. Eike cabut dulu ya!" sahut Haikal buru-buru kabur dari ruang perawatan Emmy karena sudah ramai orang di sana.
Kakek nenek Emmy memandangi cucu mereka yang masih belum sadarkan diri. "Emmy Sayang, kamu kasihan sekali!" ucap Nenek Dahlia menitikkan air mata.
Suaminya merangkul bahu Nenek Dahlia seraya menghiburnya, "Jangan cemas, Lia. Cucu kita pasti sembuh, doakan saja dia!"
Emmy menangkap suara kakek neneknya lalu dia mulai membuka kelopak matanya yang berat. "Ouchh ... sakit sekali!" rintih gadis itu.
"Emmy! Kamu sudah sadar, Sayang," seru Nenek Dahlia dengan girang.
"Sebentar saya panggilkan dokter dulu ya," ujar William lalu bergegas keluar dari ruang ICU. Dia berlari-lari menuju meja jaga perawat lalu berkata, "Suster, apa bisa panggilkan dokter jaga, pasien ruang ICU nomor tiga sudah siuman!"
Dengan segera perawat menghubungi dokter agar segera datang ke poli ICU via telepon. Beberapa menit kemudian Dokter Chandra Lukmana berlari-larian menuju ke ruang perawatan Emmy diikuti oleh perawat dan juga William.
Dokter muda berkaca mata itu memeriksa kondisi Emmy lalu bertanya ke pasiennya, "Apa kepala Anda pusing, Nona Emmy? Bagian mana yang terasa sakit? Apa pandangan mata Anda jelas?"
"Iya, pusing. Kening dan sebelah kiri kepala saya nyeri. Mata saya baik-baik saja!" jawab Emmy lancar.
"Bagus, nampaknya Anda hanya perlu banyak istirahat dan minum obat sesuai jadwal. Besok pagi akan saya periksa lagi!" Dokter Chandra Lukmana menghela napas lega seraya tersenyum sebelum meninggalkan ruang ICU ditemani oleh William.
"Pak, pasien masih harus diobservasi di ruang ICU 24 jam dari siuman sebelum dipindah ke ruang perawatan reguler. Hasil MRI Nona Emmy hanya cedera tengkorak dan pembuluh darah tepi. Dengan obat oral masih bisa disembuhkan apa lagi kondisi pasien sudah sadar, risikonya berkurang!" terang Dokter Chandra dengan detail.
"Baiklah, Dok. Saya ikut prosedur perawatan medis yang seharusnya saja untuk Emmy. Soal biaya semua akan saya tanggung!" jawab William yang mendapat anggukan dari Dokter Chandra sebelum melanjutkan perjalanannya kembali ke ruang praktik spesialis saraf.