Seperti saran Dokter Chandra Lukmana, memang Emmy menjalani bed rest selama lima hari penuh di rumah sakit. Kakek neneknya yang menjaga gadis itu. Namun, setiap pagi dan malam bosnya selalu menjenguk dia sambil membawakan makanan favorit Emmy yang dibuat oleh Chef Juno.
"Siomay udang dan springroll rebung, pesanan kamu, Emmy Sayang! Momo nitip salam buat kamu juga," ujar William menyodorkan kotak bekal berisi makanan ringan berjenis dimsum itu ke hadapan gadis kesayangannya.
Wajah Emmy berseri-seri menerimanya lalu mulai mencicipi sebuah siomay udang. "Mmm ... yummy, Kak Willy. Thank you bingits ya, udah lama lho nggak makan ini. Di Amrik agak susah carinya, dan semenjak pulang ke Jakarta belum sempat jalan-jalan!" ujar gadis itu bersemangat lalu mengambil sebuah siomay udang lagi untuk disuapkan ke mulut William.
"Lezat memang, Chef Juno pinter bikinnya!" puji William untuk koki rumahnya.
Emmy pun menyahut, "Sampein terima kasihku buat Chef Juno ya, Kak!"
"Okay, besok pas sarapan kubilangin ke dia," jawab William.
Pria itu ditinggalkan berdua saja bersama Emmy oleh Kakek Hasan dan Nenek Dahlia di ruang VIP rumah sakit. Mereka pamit pergi ke kantin rumah sakit untuk makan malam. Memang hal itu dilakukan dengan sengaja karena Kakek Hasan mendukung usaha pendekatan William ke cucu kesayangannya.
"Besok kata dokter, aku sudah boleh pulang. Kak, aku bisa masuk kerja lagi mulai kapan?" tanya Emmy penuh harap, dia tidak suka menganggur tanpa pekerjaan karena sudah terbiasa bekerja semenjak remaja.
William berdehem lalu mengatakan sesuatu yang membuat Emmy terkejut, "Kalau sudah nggak pusing kepalanya, kamu bisa berangkat lusa kok. Oya, aku sudah lihat isi rekaman CCTV selama pergi ke New York. Pelaku bikin kamu celaka juga aku tahu!"
""Hah! Siapa tuh, Kak?" sahut Emmy terkejut.
Sembari menatap wajah penasaran Emmy, pria itu menghela napas untuk mengontrol emosinya. Dia berniat memberi pelajaran untuk para wanita jahat yang picik itu. "Mereka teman sekantormu; Vera, Virna, Anneke, dan Yuni. Memang yang nemuin kamu pertama tergeletak di tangga adalah Bu Rita, tetapi justru dia nggak bersalah sama sekali. Vera yang menaruh minyak goreng di anak tangga dari lantai dua. Memangnya kamu ada masalah apa sih sama mereka berempat?" ujar William sedikit heran karena Emmy masih baru bekerja di kantornya, ruang kerjanya juga berbeda dari kumpulan wanita culas itu.
"Mungkin mereka naksir sama Kak Willy. Sepenangkapanku sih begitu, soalnya aku dibilang murahan dan ngegoda bos jadi diistimewain sama kamu!" jawab Emmy sesuai yang dia mengerti.
"Ckk ... naksir aku juga percuma! Mereka sudah kerja di kantor arsitek milikku itu bertahun-tahun, apa aku pernah kasih perhatian lebih atau ngajakin kencan? Nggak tuh!" balas William bersedekap duduk di kursi samping tempat tidur Emmy.
Emmy yang mendengar jawaban bernada kesal plus cuek itu terkikik. Dia pun sadar bahwa keberadaannya di kantor William membuat para wanita itu mati gaya. Sudah memendam rasa begitu lama. Namun, cinta tak berbalas. Anak baru masuk justru diberi perhatian ekstra.
"Terus aku mesti gimana dong, Kak. Serem juga kalau masuk kerja lagi ntar bisa dibikin perkedel aku di kantor. Hihihi!" ujar Emmy geli sekalipun merasa agak seram juga dengan itikad buruk para seniornya.
"Besok kalau kamu sudah masuk kerja lagi, mereka mau kusidang rame-rame di ruanganku bareng kamu biar malu. Kalau masih berani cari gara-gara lagi sama kamu, bakalan kupecat mereka!" jawab William tegas.
"Wah, galak juga ternyata kamu, Kak. Aku jadi takut nih!" sahut Emmy melirik ke arah William.
Namun, William membelai pipi Emmy dengan gemas. Dia berkata, "Kamu kesayanganku, Emmy. Kenapa mesti takut? Oya, aku sempat bilang ke Kakek Hasan kalau aku minta izin pacaran sama kamu. Kata beliau asalkan kamu mau sih boleh-boleh aja. Gimana, kamu setuju apa nggak pacaran sama aku?"
"Weits ... jadi ini aku ditembak?" tanya Emmy tak siap. Dia bimbang harus menerima atau menolak tawaran William untuk jadi kekasihnya.
Alis William terangkat sebelah, dia tersenyum tampan menatap Emmy yang cekikikan dan bingung menanggapi tawaran berpacaran darinya. "Ayolah, dicoba dulu ya? Menurut kamu aku ganteng nggak sih?" bujuk William seraya meraih tangan Emmy.
"Ganteng bingits sih, tapi masa pacaran coba-coba?" jawab Emmy mengerutkan alisnya yang melengkung seperti bulan sabit kembar.
William pun beralasan, "Kalau nggak cocok masa mau maksa buat dilanjutin. Memangnya kamu dulu sudah pernah pacaran dengan berapa cowok, Emmy?"
Gadis itu mengulum senyumnya sambil tersipu malu. Dia bukannya playgirl, tetapi teman laki-lakinya seperti begitu mudah jatuh cinta kepadanya. "Mesti dijawab nggak?" tanya Emmy tak yakin menjawab pertanyaan William. Dia takut pria yang sedang menembaknya menjadi pacar itu akan syok dan pingsan.
"Jawablah!" tukas William makin penasaran. Dia menebak dalam hatinya, mungkin lima atau tiga saja mantan Emmy.
Namun, jawaban gadis itu di luar dugaan. "Ehm, dua puluh dua!" jawab Emmy singkat.
"Hah! Banyak amat?! Itu mah setara dua tim kesebelasan sepak bola, Emmy!" seru William syok berat.
Emmy justru tergelak mendengar komentar William, dia pun berkata, "Nah, dari pada jadi mantan kedua puluh tiga nggak usah deh, Kak. Kita temenan aja ya, lagian Kak Willy 'kan bosku di kantor. Nanti aku nggak enak sama senior-senior fansnya kamu lho, Kak!"
"Ckk ... nggak seru ahh, masa temen aja. Pacaran dong!" desak William tak kenal putus asa.
Setelah menimbang-nimbang sisi plus minus hubungannya dengan William, maka Emmy pun bertanya, "Kalau kita suatu hari putus, apa aku bakal langsung dipecat, Kak?"
"Nggaklah, urusan kerjaan tetap profesional. Di luar jam kerja baru kita bisa jadi lebih dari sekadar bos dan bawahan. Gimana, deal?" balas William penuh harap.
Akhirnya karena tidak tega dan juga memang di mata Emmy, pria itu memang begitu sempurna. Maka dia menerima tawaran berpacaran itu saja dan melihat seperti apa perkembangannya.
"Yuhuu ... asik aku punya pacar!" seru William kegirangan. Dia lalu mengecup kening Emmy dengan lembut.
"Ehh ... tunggu dulu, Kak. Kita nggak pacaran gaya bule 'kan? Aku nggak mau dicelup-celup sembarangan kalau belum nikah sah!" sergah Emmy dengan wajah serius.
Mendengar kekuatiran gadis imut itu, William malah tertawa. "Memangnya teh celup! Kagaklah, Baby, kita pacaran yang normal-normal aja, okay?" balasnya dengan hati girang.
Setelah kakek nenek Emmy kembali ke ruangan VIP rumah sakit itu, William pun mengantar pulang mereka sekaligus pulang ke rumahnya sendiri. Dia tak sabar menunggu lusa ketika Emmy masuk kerja. Pria itu berencana mengumumkan status hubungan mereka berdua kepada seluruh karyawan-karyawatinya. Dia ingin memastikan para perempuan yang ngefans kepadanya tahu diri dan tidak akan membully Emmy lagi.
Di kamar rumah sakit, gadis itu terbaring sendirian menatap langit-langit kamar bercat putih itu. Emmy berpikir bahwa status sosial keluarga mereka berdua terlalu berbeda bak langit dan bumi. Namun, bukan hanya itu, usia William berbeda 15 tahun lebih tua darinya, dia pasti akan dituduh sebagai cewek matre yang hanya ingin harta pria yang lebih cocok menjadi pamannya. Bagaimana ini?