"Dan, percayalah, tidak banyak wanita yang bisa melakukan hal itu pada pria seperti saya. Biasanya, setelah main cinta pada malam sebelumnya, maka pada pagi hari setelahnya, saya hanya ingin berhenti. Paham maksud saya?"
"Ya," kata Lisa. "Dan kamu tidak perlu khawatir tentang kerumitan. Aku sudah menikah... ingat?" Dia menyelipkan lengannya ke dalam jubahnya.
"Hei, kamu tidak akan menutupi tubuh indahmu itu, kan?"
"Aku kedinginan," jawab Lisa. "Pestanya sudah selesai." Dia memasukkan lengannya yang lain ke dalam jubah dan menariknya ke sekeliling tubuhnya.
"Apa hanya segini?"
"Memang begitulah adanya." Lisa berjalan menyeberangi ruangan, melewati kaki tempat tidur, dan berhenti di depan pintu. "Tolong berpakaianlah sekarang. Ada beberapa hal yang harus saya urus, jadi saya akan sangat menghargai jika saya dapat memulainya."
"Kamu mau kemana?" tanya pria itu.
"Ke dapur. Saya akan membuat kopi." Dia berhenti sejenak. "Seharusnya sudah siap pada saat Anda berpakaian, tapi itupun jika Anda menginginkannya."
Lisa meninggalkan kamar tidur dan berjalan menyusuri lorong pendek untuk bmenuju dapur.
Ketika ia melewati pintu menuju ruang tamu, ia melihat koleksi gelas dan nampan abu yang terisi penuh di atas meja di dekat sofa.
Lisa berharap tidak ada rokok yang masih menyala saat mereka semalam masuk ke kamar tidur karena ia tidak ingin ada bekas di meja kopi itu.
Di dapur, Lisa mulai membuat kopi. Perutnya keroncongan, dan ia menyadari bahwa ia sangat lapar.
Tapi dia tidak akan bisa makan sampai Harris pergi. Selalu seperti itu setelah menghabiskan malam dengan seorang pria; dia tidak bisa makan sampai pria itu pergi.
Kopi mulai mengepul di kenop kaca kecil di teko, dan Lisa mematikan apinya.
Di luar jendela dapur, matahari bersinar terik dan langit berwarna biru cemerlang. Hari yang cerah di luar sana, pikirnya, dan akan menjadi hari yang cerah juga di sini jika pria itu mau mengenakan celananya dan segera pergi dari sini.
Dalam hatinya, Lisa bertanya-tanya, Ken di mana, dan dengan siapa Ken menghabiskan malam tadi. Ia yakin pria itu mencari kenikmatan dengan wanita lain walaupun dia tidak punya buktinya.
Lisa mendengar Harris melangkah ke dapur di belakangnya.
Tangan Harris tiba-tiba muncul dari belakangnya dan meraup buah dadanya.
Buah dadanya naik dengan keras ke tulang belikatnya. Dan di bawah, di celah lembut pantatnya, dia merasakan ada sebuah batang yang tengah meraba pipi pantatnya.
"Saya pikir kamu sedang berpakaian," kata Lisa mencoba tenang.
Wajah Harris menempel di bahunya, dan nafasnya berhembus di kulit lehernya. "Aku belum siap. Sudah kubilang, aku masih ingin."
Lisa melirik teko kopi yang menggelegak di depannya. Sejenak ia mempertimbangkan untuk mengambil teko ini dan menyiramkan air yang mendidih itu ke seluruh tubuh Harris yang masih telanjang itu.
Tapi itu hanya akan menimbulkan masalah, dan masalah adalah sesuatu yang tidak diinginkan Lisa.
"Silakan masuk ke dalam dan kenakan pakaianmu," kata Lisa.
Harris mengabaikan kata-kata Lisa itu dan membuka jubahnya Lisa.
Harris terkesiap kagum saat bola-bola penuh, bulat, dan berujung gelap muncul di depan matanya.
Ukuran dan kekencangannya memenuhi pikirannya dengan hasrat meninggi dan membuat k*********a jadi tegang dengan sensasi kesemutan.
Seluruh tubuh Harris mulai bergetar saat tangannya memijat buah dadanya Lisa.
'Tidak,' pikir Harris, "tidak, saya tidak akan menidurinya lagi. Saya harus mengerjakan itu, Ken mendapatkan kontrak, kami berdua akan menghasilkan banyak uang. Tapi aku tidak akan meniduri istrinya lagi.
Tapi pikiran itu hanya sesaat bersemayam di benak Harris. Dia kembali maju.
Kali ini Harris melepaskan jubah itu dari pundak Lisa. Jubah itu jatuh dengan lembut ke lantai.
Harris melorotkan celana dalamnya Lisa, untuk memperlihatkan bulu-bulu lebat dan kusut dari rambut area keintiman Lisa yang hitam.
Lisa berdiri dengan kedua kakinya sedikit terbuka sehingga lekukan bulat dari bibir liangnya yang terkatup rapat dapat terlihat jelas oleh Harris.
Di dalam bibir liangnya, warna merah muda menjadi gelap dan di bawahnya Harris dapat melihat bagian bawah bokongnya Lisa yang bulat dan sempurna.
Mereka berkilau putih melawan kulit yang lebih gelap di bagian dalam pahanya.
Harris hampir merintih saat dia bergerak ke arah Lisa. Batangnya memantul di depan tubuhnya, berdenyut-denyut.
Panjang dan kaku serta lurus saat dia arahkan ke liangnya Lisa.
Harris mengerang dalam hasrat saat tangannya menjelajahi perutnya Lisa, pinggulnya, lalu turun melintasi pahanya dan naik ke area kewanitaan yang indah dan manis itu.
Saat ini Lisa ingin memberontak ingin menampar pipi lelaki di depannya ini tapi mengingat kontrak periklanan dengan biaya besar yang menunggu di depan meja kerja suaminya, maka dia terpaksa memendam amarahnya.
Batangnya Harris tersentak naik turun di antara kedua orang ini.
Sekali lagi Lisa bergidik saat jari-jarinya Harris mulai menyibak bibir k*********a dan mencelupkan batang itu ke dalam madu liangnya yang sempit.
Harris mulai bergerak di depan tubuhnya. Keduanya masih dalam posisi berdiri.
"Hei," kata Harris, sambil meremas-remas payudaranya Lisa dengan kedua tangannya dan menggerakkan pinggulnya ke arah Lisa. "Kamu mulai menginginkan sesuatu dengan caraku ini, bukan?"
"Saya sangat lelah," kata Lisa. "Tolonglah."
"Sekarang, dengar, saya mengerti bahwa kamu lelah, dan ada banyak hal yang harus kamu kerjakan, dan sebagainya. Percayalah, aku tidak ingin mengganggumu. Karena aku menyukaimu, Lisa. Sungguh."
"Kumohon," kata Lisa lagi. Dia tidak terpengaruh dengan kata-kata Harris itu.
"Aku sangat menyukaimu, bahkan, kupikir mungkin aku akan mampir minggu depan untuk sekali lagi seperti vlini. Bagaimana menurutmu?"
"Baiklah," katanya. "Tapi sekarang pergilah. Please."
Lisa pikir ini akan membuat Harris menjauhinya karena dia tidak mau lebih lama bersama Harris.
"Tapi, sekarang, aku hanya ingin sesuatu untuk mengenangmu. Sedikit makanan penutup, semacam itu. Apa itu terlalu berlebihan untuk diminta?"
"Tolonglah Pergilah," pinta Lisa.
"Kontrak itu tidak akan kutanda tangani kalau aku tidak mendapatkan apa yang ku mau!" Haris mulai tidak sabaran.
Lisa menyerah. Pria itu adalah orang kaya raya di bank. Dia juga setidaknya sama keras kepalanya dengan Ken. Satu-satunya cara untuk menyingkirkannya adalah dengan memberikan apa yang dia inginkan.
Lisa mematikan api di bawah teko kopi dan mengeluarkan tangannya dari buah dadanya yang tadi dia pakai untuk menutup buah dadanya itu.
"Baiklah," kata Lisa. "Ayo kita pergi."
"Kemana?"
Lisa menatapnya, memusatkan perhatiannya pada wajah Harris. "Kamar tidur, tentu saja."
"Oh, mengapa repot-repot?" katanya, tersenyum. "Kita bisa melakukan semuanya dengan baik di sini, bukan?"
"Di dapur?"
"Tentu. Sudah kubilang, aku tak mau banyak. Tidak semua hal yang berbau seks. Hanya kenang-kenangan semalam, hanya itu yang saya inginkan."
Harris menatap Lisa dengan lapar.
Dan seketika itu juga, Lisa tahu akan apa yang ada di pikiran Harris.
'Sialan dia,' pikir Lisa. 'Pada jam segini pagi, si b******k itu ingin aku menghisap batangnya.
"Baiklah," Lisa menyerah sambil menunjuk ke sebuah kursi dapur. "Duduklah di sana."
"Aku belum memberitahumu apa!"
"Saya tahu apa yang Anda inginkan."
Harris menyeringai. "Ya, kurasa mungkin kau tahu. Anda benar-benar seorang wanita yang luar biasa." Harris menghampiri kursi dan duduk.
Lisa membungkuk dan membuka lemari di bawah wastafel. Ada sebuah keset dapur dari karet yang lembut di sana, dan ia menariknya ke lantai.
"Untuk apa ini?" tanya Harris.
"Untuk saya," jawab Lisa. Masih tanpa menatap sang pria, dia menendang keset di depannya dan berlutut.
Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Harris ketika Harris mendorong tangannya.
"Tunggu sebentar," kata Harris. Suaranya kental dengan nada kegembiraan. "Ada sesuatu yang ingin saya lakukan terlebih dahulu."
Harris bersandar ke belakang dan tangannya meluncur ke bawah untuk melingkari buah d**a sang gadis.
Harris memainkan daging itu dengan jari-jarinya, menggodanya secara metodis.
Lisa masih menunggu, tangannya bertumpu pada lututnya, untuk menahan tubuhnya.
"Honey," kata Harris, "kamu punya sepasang buah d**a yang hebat! Katakanlah, Lisa sayang, apakah ada yang pernah memberitahumu bahwa kamu punya sepasang benda yang pastinya terbaik dari siapapun."
Lisa tidak menjawab. Dia merasakan daging itu merespons sentuhannya Harris.
Dia yakin tonjolannya yang menegang adalah sebuah sinyal gairah. Para pria selalu berpikir seperti itu.
Lisa sering berharap dia bisa mengendalikan reaksi itu. Itu akan menyelamatkannya dari banyak masalah kalau dia bisa mengendalikannya.
Dan dia bisa, sayangnya selalu saja ada masalah yang membuat dia tetap saja terjerat seperti saat ini masalah kontrak periklanan yang diinginkan Ken yang membuat Lisa harus mengikuti keinginan Haris itu
"Lisa? Sayang?"
"Apa?"
"Sentuhlah aku," kata Harris. "Aku bisa merasakan betapa kamu menikmati ini. Iya kan? Ayo, lakukan dengan baik, seperti yang kamu lakukan tadi malam."
Lisa melakukan apa yang Harris minta. Kedua tangannya terangkat ke atas tubuhnya. Nafasnya mendesis di antara giginya saat dia mulai membelai barang itu.
Lisa tidak ingin menikmati ini. Karena itu Ia mencoba memikirkan hal-hal lain.
Dia berusaha memikirkan buku-buku yang telah dibacanya, pakaian yang ingin dibelinya, rencana masa depan dirinya dan Ken, teman-temannya, dan apa saja yang dapat membutakan pikirannya terhadap apa yang sedang dilakukannya.
Seperti biasa, usaha Lisa itu hanya berhasil sebagian. Jari-jarinya membentuk pola-pola lama yang sudah dikenalnya sementara pikirannya mengembara dengan marah.
Seandainya saja dia tidak perlu melakukan ini dengan pria lain dan cuma melakukan ini bersama Ken, maka dia akan merasakan kenikmatan yang dia inginkan.
"Sekarang, Lisa," kata Harris. Suaranya lembab dan serak seperti suara pemabuk. "Sekarang, sayang... sekarang!"