Akhirnya....

2046 Kata
   "Sooo...." ulang Brian.    "Siapp mengawal sampai jadian, kalau nggak dia buat gue." ucap Brian pada kakaknya.    "Apaan sih Lo." sahut Bara.    "Jadi... Gimana?" tanya Brian lagi.    "Kan aku udah jelasin alasannya ke kamu." kata Bara.    "Tapi kamu nggak bilang ke dia." serang Brian.          "Ngomong dong ke dia, biar dia nggak overthingking Mulu!" kata Brian.     "Ngomong apa?" tanya Niana.     "Ehh itu... Jangan dengerin dia." kata Bara pada Niana.     "Ya kalau nggak boleh dengerin dia, berarti aku harus dengerin kamu dong." kata Niana.     Bara terdiam, dia terlihat sangat kesal pada adiknya. Namun dia juga tidak bisa selalu seperti ini seakan-akan lari dari kenyataan dan membohongi dirinya sendiri.    "Na..." ucap Bara.    "Aku tau kamu nggak bego, kamu pasti tau kan kalau aku sayang banget sama kamu, cinta banget sama kamu?" ucap Bara.    "Aku nggak tau... Karena kamu nggak pernah ngomong." ucap Niana.    "Okke... Tapi aku barusan ngomong." kata Bara serba salah.     "Tapi... Aku takut, takut banget kalau kita jadian, aku bakalan nempatin kamu dalam bahaya, kamu tau, musuh aku banyak banget Na... Aku emang bukan superhero, tapi musuh aku banyak banget dan berdarah dingin, aku nggak mungkin bisa ngebahayain kamu, karena kelemahan aku adalah orang-orang yang aku sayang, karena itu aku nggak pernah jalanin relationship sama siapapun, aku takut mereka bakalan nyelakain kamu, hanya untuk membuatku tersungkur. Aku nggak mau hal itu terjadi." kata Bara.    "Terus?" tanya Niana.    "Tapi aku nggak bisa bohong, kalau aku sayang banget sama kamu... sejak kecil, sejak pertama kali aku mutusin buat nyelametin kamu dari penculikan." ungkap Bara.    "Tenang aja, aku yang jadi pengawal kalian sampai aku punya gebetan baru dan teralihkan oleh kencan baru." kata Brian.    "Kalau kamu nggak ngomong, mana tau kalau aku harus menjaga hati aku buat kamu Bara." kata Niana.    "Maaf Na.. aku emang pengecut, tapi jujur daripada melihat kamu terluka karena bersamaku, lebih baik melihatmu bahagia bersama yang lain." jawab Bara.    "Dan itu adalah kebohongan besar yang pernah aku dengar." Niana tersenyum.    "Hufff... Ya benar, itu adalah kebohongan, karena melihat kamu sama Brian saja aku cemburu." kata Bara.    "Terus..." kata Niana.    "Ya... Mungkin keputusan yang akhirnya aku ambil adalah, gimana kalau kita upgrade hubungan kita menjadi pacar. Ya tapi tidak untuk dipublikasikan Na. Kamu tau kan alasannya." kata Bara.    Niana tersenyum, dia mengangguk. Airmatanya jatuh begitu saja.    "Loh kok kamu nangis sih." kata Bara sambil menggenggam jemari Niana.    "Nangis itu nggak melulu karena bersedih Bara, bahagia pun juga nangis." kata Niana.    "Emang ya cewek susah banget di mengerti." kesah Bara.     "Berarti kalian jadian nih?" tanya Brian.     "Menurut loh?" tanya Bara.     "Ya syukurlah, jadi habis ini kalau gue lihat Lo, ciuman sama Ellea atau cewek lain, gue berhak dong matahin leher Lo." Kata Brian.    "Kejam banget, Lo ngewarisin sifat nya Sam?" kata Bara.     "Ehhh anjing jangan sebut nama itu." kata Brian.     Niana tertawa melihat tingkah dua kakak beradik itu.     "Akhirnya aku punya kalian berdua, dan aku nggak bakalan kesepian menjalani sisa hidupku." ungkap Niana.     "Kami juga senang kamu hadir diantara kami." ucap Brian.     "Btw Na... Salma ngajakin aku dinner malam ini bersama para koleganya." ucap Bara.     "Salma... What?" ucap Niana.     "Ya tapi kalau kamu nggak ngizinin aku juga nggak akan berangkat kok." ucap Bara.    "Nggak papa, sekalian cari informasi tentang mereka, kamu ingat, yang dikuasai Salma sekarang adalah milik orang tuaku." ucap Niana.    "Baiklah aku akan datang demi kamu." kata Bara.     "Ehh btw berita tentang kamu udah tayang Na.." Brian membuyarkan percakapan mereka dan menunjuk kelayar televisi.    "Rayya Amora, pemilik baru Desta de Drago, di terror seseorang dan kini tengah kritis di rumah sakit." Niana membaca headline berita yang ada di layar televisi.    "Kan aku udah nggak papa." protes Niana.    "Enggak ini demi keselamatan kamu, kami sengaja ngasih tau kalau kamu masih kritis, bagi yang menginginkan kematian kamu, mereka akan senang dan nggak akan melakukan apapun lagi, karena tau kamu udah nggak bisa apa-apa. Jadi hal ini justru akan menguntungkan kamu, karena kamu jauh dari jangkauan mereka." jelas Bara.    "Ehmm gitu paham aku." jawab Niana.    "Tapi beneran kamu udah nggak papa?" tanya Bara.    "Ehmm gimana ya, sebenarnya sakitnya gak seintens kemarin sih, cuman kadang tiba-tiba nyeri banget pas buat gerak, kata dokter luka tusuk nya nggak dalam tapi pas kena arteri ya." kata Niana.    "Iyaa... Aku panik banget pas Brian nelpon, aku takut kamu kenapa-napa." ucap Bara.    "Apalagi gue yang liat dia tergeletak tak berdaya dengan darah hampir seliter."celetuk Brian.    "Tapi makasih kalian udah perhatian banget sama aku." ucap Niana.    "Na.. kamu tau, aku tidak mungkin mengurung kamu terus di rumah kita, karena sekarang kamu sudah menunjukkan diri sebagai Rayya, maka mari kita lanjutkan sampai akhir, aku tau, Sam mengincar perusahaan Salma, maksud aku perusahaan mendiang ornag tua kamu, jadi mari kita lakukan sesuatu sebelum hal terburuk terjadi lagi, kamu tau kan hanya nama Niana yang ada di dalam hal waris mereka. Tidak ada nama Lucia bukan?" tanya Bara.    "Kamu tau saudari ku bernama Lucia." Niana balik bertanya.    "Iya... Aku tau beberapa hal tentang Salma." ucap Bara.    "Menurut kamu kita harus melakukan apa, aku tidak mungkin tiba-tiba muncul sebagai Rayya di tengah mereka dan mengakusisi perusahaan.." jawab Niana.    "Aku sama Brian yang akan mengatur semuanya, sekarang kamu hanya harus Fokus untuk sembuh dan pulih, karena apa yang bakalan kita hadapi di depan sama sekali tidak terprediksi, lawan kita banyak Na, bahkan Sam saja menginginkan perusahaan orang tua kamu, dia juga mengincar aku sama Brian buat bergabung sama mereka." kata Bara.    "Sebenarnya..." ucap Niana kemudian membisu.    Brian mematikan kembali televisi dan menyimak penuturan Niana. Sementara Bara masih memegang jemari Niana sambil menunggu kelanjutan kalimat gadis itu.    "Sebenarnya dari awal aku udah pasrah dan melepaskan semuanya, karena aku tau sangat impossible melawan mereka, bahkan aku udah disingkirkan di awal Bara..." kata Niana.    "Aku tidak akan sanggup untuk merebut hak aku kembali, dan aku tidak akan bisa melawan mereka." ucap Niana.    "Lalu apakah kamu akan melepaskan begitu saja sesuatu yang sudah dibangun, sudah diperjuangkan orang tua kamu dari nol Na? Dan kamu melepaskan semuanya ke tangan orang-orang yang salah, yang serakah." kata Bara.    "Memang aku bisa ngapain sekarang Bara? Aku sama sekali nggak punya kekuatan buat ngelawan mereka." kata Niana.    "Dan kamu... Kamu udah terlalu baik sama aku, setidaknya aku bisa mengambil Desta de Drago dari mereka. Kalau kamu nurutin mereka, uang kamu pun akan habis ditangan aku Bara, dan aku nggak mau." lanjut Niana.    "Eeeiii .. jangan meremehkan kami, kami ini pencetak uang terbaik, mau dollar mau rupiah berapapun bis alami dapatkan dalam sekali gerak." kata Brian.    "Kamu baru pakai uang bara $30.000 dia masih punya banyak, dan kamu nggak mau pakai uang juga?" tanya Brian.    "Kita akan buat Niana menjadi sosok Rayya yang benar-benar strong Girl. Dia mampu menghadapi semua musuhnya, dan mendapatkan apanyang seharusnya menjadi miliknya." kata Brian.    "Benar kan Bara." Sambungnya.    "Iya... Benar sekali." jawab Bara.    "Enggak... Aku nggak mau, aku nggak mau memperalat kalian demi semua ini, dan yang Bara, aku janji akan mengembalikannya." ucap Niana.    "Hmmm emang susah ya ngomong sama cewek." keluh Bara.    "Yaudahlah... Biarin dia istirahat dulu. Mungkin dia butuh waktu untuk memikirkan semua ini." kata Brian.    "Jangan anggap kami orang asing, dia calon suami kamu dan aku adalah adik ipar kamu ok?" tanya Brian.    Niana mengernyitkan dahi.    "Baru juga jadian beberapa menit yang lalu, udah deklarasi jadi calon suami, jangan gila dehh Brian." kata Bara.    Niana tersenyum geli. Dia menggelengkan kepala.    "Kamu enggak lupa kan, kalau mau ngajak aku ke tempat pertama kali kita ketemu dulu?" tanya Niana.    "Enggak dong... Iya nanti kalau kamu udah sembuh dan boleh pulang kita main kesana ya." jawab Bara.    "He em..." ucap Niana.    "Btw Bar... Akhir-akhir ini Lo denger nggak sih, rumor tentang pembunuh bayaran yang freak banget?" tanya Brian.    "Iya... Tau sih, yang ngubur korbannya hidup-hidup kan." jawab Bara.    "Iiihh masa sih, serem banget, emang ada ya, yang tega nyuruh orang buat ngubur orang lain hidup-hidup?" tanya Niana.    "Pesuruh juga kaya kalian?" tambahnya.    "Ada lah Na... Kamu terlalu naif kalau menganggap semua orang itu baik." jawab Bara.    "Mereka bukan pesuruh kaya kami, tapi memang pembunuh bayaran secara spesifik." tambah Bara.    "Terus... Nggak bisa ditemuin dong para korbannya?" tanya Niana.    "Kebanyakan mereka ditemukan pas udah tewas, di tempat-tempat yang nggak lazim." jawab Brian.    "Sebenarnya aku ada tugas buat nyelidikin tentang pembunuh ini Lou Bar." ucap Brian pada kakaknya.    "Terus..." tanya Bara.    "Ya aku sambil jalan mau nyari informasi juga, soalnya mereka itu nggak keendus kepolisian sama sekali loh, tapi banget." jelas Brian.    "Iya aku tau itu, tapi kalau boleh aku curiga ya, dari berita yang selalu aku dapat nih, para korban kebanyakan adalah wanita, terus ditempat kejadian yang sekitarnya ada cctv selalu terekam sebuah kontainer yang parkir agak lama." kata Bara.    "Bisa jadi pelaku itu membawa korban dengan kontainer tersebut." pangkas Brian.     "Duuhh udah deh, kalian bahas yang lain aja, aku ngeri banget tau." ucap Niana.     "Tenang aja nggak bakalan ada yang bisa nyentuh kamu sayang, selagi ada aku." bisik Bara.    "Ya tapi ngeri tau..." ucap Niana.    "Udah kamu istirahat aja, jangan mikirin yang nggak perlu dipikirin." ucap Bara.    "Temenin aku ya." ucap Niana.    "Siapp!" ucap Bara.    "Yaudah kalian udah pada makan belum nih?" tanya Niana.    "Udah kok tadi udah makan diluar." jawab mereka berdua.     "Kamu sendiri... Ini apa, kok belum dimakan?" tanya Bara.     "Males tadi mau bangun sendiri nggak bisa." jawab Niana.     "Yaudah... Makan ya, biar aku yang suapin." kata Bara.     "Bolehh dong, order dari pacar." kata Bara sambil meraih nampan berisi makanan untuk Niana dari pihak rumah sakit.    "Iya udah iya..." kata Niana.    "Soalnya ntar malem dia ada kencan sama emak nya Lucia." kata Brian.     "Iihhh amit-amit deh." ucap Bara.     "Dia terpesona sama Lo Bar." kelakar Brian.     "Ehh jangan hancurin mood gue please!" sahut Bara sambil menyuapi Niana.     "Ehhh gue cabut dulu ya, mau mandi dirumah, sekalian ganti baju, udah gak betah pake baju ini dari kemarin." kata Brian.    "Hati-hati..." pesan Bara.    "Siapp..." ucap Brian.    Niana meraih ponselnya, dia mulai membuat akun sosial media baru atas nama Rayya Amora.    "Nih tinggal buahnya Na..." ucap Bara.    "Udah Bar... Kenyang!" tolak Niana.    "Ehhh mana bisa gitu, kamu harus habisin, tau nggak pihak rumah sakit itu udah ngitung semua kalori dan gizi dari makanan tersebut jadi sangat baik untuk pemulihan kamu." kata Bara menjelaskan.    "Iya nanti aja Bara... Aku udah kenyang." elak Niana.    "Sayaang...." ulang Bara dengan sangat lembut.    "Nurut nggak nih, mau cepet sembuh nggak nih, ntar kita bisa cepet-cepet nge date." bujuk Bara.    Akhirnya Niana membuka mulutnya dan Bara menyendokkan sepotong apel untuk Niana.    Hingga beberapa saat kemudian, Niana tidak kunjung mengunyah potongan apel tersebut, dia hanya menggigitnya di ujung bibir.    "Nih anak susah bener di kasih tau." ucap Bara.    Dia lantas merebut potongan apel itu dengan mulutnya, bibir mereka bersentuhan membuat Niana kaget dan menatap kearah Bara yang tengah mengigit apel miliknya.    Hanya beberapa detik saja, namun cukup membuat darah Niana membeku.    "Hmmm manis sih, kamu kelamaan makannya, makan tuh jangan sama main hp, nggak jadi daging kelamaan." kata Bara.    "Iya soalnya aku masih fokus bikin akun baru." jawab Niana.     "Hmmm iya deh percaya yang mendadak banyak penggemarnya." kata Bara.     "Iihh mana nggak ada kok." kata Niana.     "Na... Aku pingin cium kamu." ucap Bara sesaat setelah mereka berdua lama terdiam.     "Hmmm... Biasanya langsung aja gak pake izin segala." sahut Niana.     "Iya kalau sekarang aku grogi banget setelah jadi pacar kamu." tutur Bara.     "Hehehhe..." kata Bara kemudian.     "Apakah setelah berpacaran denganku kamu masih akan berciuman dengan Ellea?" tanya Niana.    "Enggaklah ... Aku janji, biar gimana pun aku harus ngehargain kamu sebagai pacar aku." jawab Bara dengan yakin.     "Hmmm iya kalau ada aku, kalau nggak ya mana ku tau." kata Niana.     "Lahhh nggak percaya banget sih." kata Bara.     "Kamu sama dia udah ngapain aja?" tanya Niana.     Bara merebahkan diri di sisi Niana, dia memandang langit-langit. Lalu menatap gadis yang ada di sampingnya.     "Aku sama dia, nggak pernah ngapa-ngapain Na..." Jawab Bara.     "Karena emang diantara kami nggak ada apa-apa." tambah Bara.     "Yakin? Tapi kelihatannya dia suka loh sama kamu." kata Niana.     "Iyaa... Aku tau kok, ya tapi aku nggak suka sama dia, ya mungkin hanya sebatas pengabdian saja. Kalau ciuman mah bonus, mana sih laki-laki yang bisa nolak, hehehe..." kata Bara.     "Lain kali jangan diambil bonus nya." kata Niana.    "Iya sayang ku..." jawab Bara.         Dia mendekatkan wajahnya pada Niana. Lalu membisikkan sesuatu lirih.    "I love You..." ucap Bara.      Maaf ya... Kecepetan nggak sih kalau mereka jadian di awal? Dan maaf baru dapat feel nya setelah lama Hiatus, makasih yang udah setia menunggu, setelah ini bakalan banyak kejutan , makasih.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN