Jadi gimana?

1737 Kata
   Bara kembali ke rumah sakit dimana Niana di rawat, seperti saat dia berangkat tadi, semakin banyak wartawan yang menunggu di halaman.     Namun bukan Bara jika tidak lihai menghindari kejaran media.    "Sebenarnya apa yang mereka cari, Rayya orang baru, apa menariknya?" kata Bara.    "Selain dia cantik, dan kaya raya." jawabnya pada diri sendiri.    "Dia tidak meyumbangkan apapun dalam dunia bisnis, dan kepemerintahan bukan." kata Bara lagi.    Bara sampai di kamar rawat Niana, dia tidak melihat Brian ada di sana. Sementara Niana tengah tertidur.    Bara melepas jaketnya dan meletakkannya di atas sofa. Kemudian mendekat dan mengecup kening Niana.    Niana terbangun seketika Bara salah tingkah dan menjauh.    "Are you ok?" tanya Niana.    "Ah... Ya ya.. i am fine." jawab Bara.    "Si Brian kemana?" tanya Bara.    "Dia pergi dari tadi siang, katanya mau nangkap pelaku, dan sengaja akan dibesarin beritanya di media." jawab Niana.    "Ohh gitu... Kok dia nggak nanya dulu ke aku?" tanya Bara.    "Katanya kelamaan nunggu kamu respon, kalau kamu lagi nugas gak pernah perhatiin hp, tapi niat dia bagus kok, dia bilang aku harus di up, untuk mencegah hal serupa terjadi lagi, dan justru aku akan aman jika berada di keramaian. Kan semakin aku banyak dikenal orang maka semakin banyak yang nge notice jika ada bahaya mendekati Bara " jelas Niana.    "Iya tujuannya emang baik sih, tapi kenapa dia bertindak sendirian." kata Bara.    "Kamu mau aku ikut dia?" tanya Niana.    "Ehh... Ya enggaklah gila kali..." jawab Bara.    "Enggak , maksudnya, aku juga khawatir sama dia soalnya ya kamu tau kan di belum sembuh bener." kata Brian.    "Iya tadi sebelum dia berangkat juga udah aku bantu obatin luka di wajahnya itu, udah mulai mengering sih, dia kurnag protein makanya penyembuhannya agak lama, kalau udah pulang kerumah aku bakalan masakin banyak makanan yang bergizi buat kalian." kata Bara.    "Iya makasih ya.." ucap Bara.    Belum lama dia duduk, ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk dari Ellea.    "Ehhh bentar ya nona Ella menelpon." ucap Bara.    Dia berdiri agak menjauh untuk menerima panggilan tersebut. Setelah itu dia kembali ke tempat Niana.    "Na.... Maaf ya, aku harus ke tempat Ellea bentar, dia pulang hari ini, aku harus nganteri dia sampai rumah." ucap Bara.    "Ok... Pergi aja." jawab Niana.    "Aku janji akan cepet." ucap Bara.    "Iihhh kamu ngapain janji segala, aku nggak papa, disini aman kok, lagian itu juga tugas kamu." ucap Bara.    "Tapi..." ucap Bara.       "It's okay .. jangan mikir aku cemburu, aku juga nggak ada perasaan apa-apa ke kamu." kata Niana berikutnya.    "Hah... O... Okay." ucap Bara.    "Ehmm kalau kamu udah pulang, mau nggak kita pergi ke tempat pertama kali kita ketemu, dan bertemu lagi setelah belasan tahun?" tanya Bara.    "Ehmmm di tempat peleburan limbah itu plastik itu?" tanya Niana.    "Iya..." jawab Bara.    "Bolehh..." ucap Niana.    "Okeee aku berangkat ya, kalau ada apa-apa kamu langsung telpon aku ya." ucap Bara.    "Siapp..." Niana tersenyum dengan manisnya.    Bara lalu berjalan keluar ruangan, dia merasa ada yang aneh.    "Dia nggak suka sama aku? Itu bohong banget. Ya tau lah aku kalau dia suka sama aku." ucap Bara.    "Maafin aku Na... Kalau saja aku bilang suka sama kamu, dan berani ambil resiko untuk hubungan kita mungkin..." ucap Bara terpotong, dia berbalik kembali kearah pintu, dan mengintip perlahan kedalam.    Dia lihat Niana yang melihat keluar jendela dengan airmata meleleh dari kedua sudut matanya.    Sesaat kemudian dia menghapusnya. Lalu menarik selimutnya dan memejam kan mata.    "Dia sedih karena aku pergi lagi, fix dia suka sama aku." ucap Bara.    "Aku harus gimana Na... Please lihat kamu nangis tuh kelemahan aku banget." ucap Bara.    Namun dia tetap melangkah menjauh dan meninggalkan Niana menuju rumah sakit tempat Ellea dirawat.    Sampai di sana Ellea sudah menanti diatas kursi rodanya. Walaupun wajahnya sudah di poles dengan make up tipis namun tidak bisa menutupi kalau memang pucat.    "Kita pulang sekarang Bara, kamu gimana tugasnya tadi?" tanya Ellea.    "Clear... " jawab Bara.    "Malam ini menginap ya dirumah." pinta Ellea.    "Malam ini saya ada tugas lagi nona." jawab Bara.    Seketika dia teringat akan undangan makan malam dari Salma.    "Sial... Wanita itu ngajakin aku makan malam bersama para koleganya di perusahaan nanti malam." ucap Bara.    "Kok kamu diem?" tanya Bara.    "Iya maaf Nona... Mari kita pulang." ajak Bara.     Sampai di kediaman Ellea, ternyata sudah ada Ave di sana. Entah apa keperluan dia berada di sini, namun hal ini membuat Bara terpaksa mengulur kepulangannya.    "Haii adik ku yang cantik, kamu sudah sembuh ya, maaf ya Kakak sibuk banget baru bisa jenguk kamu sekarang." ucap Ave.    "Nggak usah basa basi ada keperluan apa Kakak kesini, toh kakak juga nggak tau aku ada dirumah sakit." serang Ellea.    "Hmmm kamu suka to the point ya, ehm jadi gini, sesuai pembicaraan kita kemarin, gimana kalau untuk sementara kamu serahin semuanya ke kakak kakak kamu ini, kondisi kamu lemah, dan kamu nggak akan mampu loh pegang semuanya." kata Ave.    "Papa menyerahkan kepadaku berarti papa percaya aku mampu, lalu apa yang menjadi masalah, jangan lupa, kita sudah mendapatkan bagian masing-masing, jadi jangan coba-coba berani mengambil apa yang tidak menjadi hak kalian." tegas Ellea.    Dia mengarahkan kursi rodanya menuju kamar, Ave berusaha mengejar Ellea untuk menyalinnya, namun Bara buru-buru menahannya.    "Maaf Nona... Nona Ella harus beristirahat, sebaiknya anda pulang." tegas Bara.    "Jangan ikut campur ya!" bentak Ave yang emosinya meledak-ledak karena sudah tidak tahan lagi pada adiknya.    "Ssstt... Jangan lupa, aku adalah anak angkat tuan Shannon. Aku bahkan lebih dipercaya daripada kalian, aku memegang banyak kunci daripada kalian." bisik Bara yang membuat Ave bungkam.    Ave mematung menatap kepergian Bara mngikuti Ellea.    "Okkeee aku baru sadar kalau aku punya musuh selain Ellea. Dan aku melupakan hal itu selama bertahun." kata Ave.    Ellea berusaha tenang agar kondisinya tetap stabil pasca operasi. Dia tidak mau mati konyol karena kedatangan kakaknya yang membuatnya stress.    Namun semakin dia mencoba tenang dan berdamai dengan diri sendiri, detak jantungnya terasa kembali kencang seakan seluruh energinya terfokus pada jantung, dia memegangi dadanya kuat-kuat.    "Ada apa nona?" tanya Bara usai menutup pintu.    "Sakit lagi?" tanya Bara.    "Jangan biarkan kakak ku melihat ini!" pinta Ellea.    Bara mengangguk namun dia mendengar langkah Ave semakin mendekat, sementara Ellea belum bisa mengendalikan dirinya.    "Tenang tarik nafas, dan jangan pikirin apapun, anda sudah menjalani operasi nona, akan sia-sia jika masih seperti ini." ucap Bara perlahan.    "Tapi... Tapi aku..." ucap Ellea.    Bara membingkai wajah Ellea kemudian mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir Ellea seperti yang biasa mereka lakukan, bersamaan dengan itu pintu terbuka dan Ave melihat mereka berciuman.    "Hahh... Harusnya sudah kuduga mereka ada affair." kata Ave kemudian menutup pintu lagi dan pulang dengan hati yang sangat gondok.    "Bisa-bisa nya dia pacaran sama pengawalnya." kata Ave.    "Mana pengawalnya bukan orang sembarang pula." Ave semakin kesal dan mengacak rambutnya.     "Pasti ada cara lain buat ngelumpuhin tuh anak." ucap Ave kemudian berjalan keluar rumah.    Sementara itu Bara hanya berniat untuk melarang Ave mendekat dengan cara mencium Ellea. Namun apa yang terjadi diluar dugaan, Ellea yang menikmati ciuman itu merasa sanggup mengendalikan dirinya. Detak jantung nya kembali normal, ketegangan dan stress nya menghilang.    Dia masih melanjutkan aksinya sampai akhirnya dia sadar dan melepaskan Bara.    "Ciuman kamu adalah obat buat aku." ucap Ellea.    "Detak jantung ku kembali normal." lanjutnya.    "Jujur aku hanya melakukannya dengan mu Bara." ucap Ellea lagi.    "Syukurlah kalau anda sudah merasa lebih baik, sebenarnya saya hanya berniat agar nona Ace tidak jadi masuk tadi." ucap Bara.    "Jangan terlalu formal, kita sudah biasa melakukannya, kamu nggak mau lebih?" tanya Ellea.     "Ehmm maaf Nona saya harus segera pulang, telpon saja kalau ada apa-apa." pamit Bara.     "Okkee .. dan terimakasih, you are expert kisser." ucap Ellea.     Bara memohon diri kemudian keluar.    "Bisa-bisanya dia menggodaku, kalau aku khilaf gimana, kalau aku nggak ingat dia anak tuan Shannon udah pasti aku nikmatin dari kemarin-kemarin." ucap Bara.     Bara mengusap bekas ciuamannya kemudian melangkah pergi.    Sementara itu Ellea masih berangan-angan tentang bagaimana mengajak Bara having s*x, sumpah dia selalu bermimpi melakukannya bersama Bara.    Pria yang selalu ada dan menjaganya, dia teringat kapan pertama kali nya mereka melakukan first kiss.    Namun bagi Bara itu semua bukanlah apa-apa, menjaga dan memastikan si bungsu tuan Shannon selalu aman adalah janjinya pada mendiang sang Ayah angkat, dan ciuman yang mereka lakukan hanyalah pertemua dua bibir tanpa ada rasa yang mengiringinya.    Enggak Bara enggak jahat, hanya Ellea saja yang bapernya salah tempat.    Bara tiba kembali dirumah, sudah ada Brian disana. Dia melihat Brian tengah mengupas kulit jeruk untuk Niana. Sambil mereka membahas sesuatu.    Bara duduk di dekat mereka berdua.    "Jadi untuk bahan berita di media, apa yang kamu katakan tentang aku?" tanya Niana.    "Aku bilang pada media bahwa kasus yang terjadi pada klien aku, yaitu kamu sang pencinta seni yang kaya raya itu ... Itu semua adalah buntut dari pelelangan Desta de Drago, seseorang sengaja mencelakai nona Rayya untuk bisa mengambil alih Desta de Drago." jawab Brian.    "Waooww... Dan mereka percaya?" tanya Niana.     "Percaya dongg... Bersyukur banget harusnya karena wajah kamu mendapat privilese dari masyarakat, entahlah pokok ya yang cantik yang goodlooking selalu mudah dapat panggung, mereka tau kamu cantik makanya banyak yang simpati, kayanya kamu harus bikin sosial media yang baru deh karena mereka pasti akan curiga kalau se famous kamu gak ada sosial media." usul Brian.    "Nggak tau kalau dibolehin sama Bara, aku bakalan yang bikin yang baru kok." kata Niana.    "Gimana Bara?" tanya Niana.    "Terserah kamu..."jawab Bara.    Otak nya masih berusaha mencerna arti kata Niana tidak suka pada Bara tadi.    "Apa jangan-jangan sekarang dia suka sama Brian?" tanya Bara kemudian dalam hatinya.    "Kalau nanya dia gak bakalan kamu Nemu jawaban Na.." kata Brian     "Dia ngungkapin perasaanya aja susah apalagi di mintain pendapat. Dia suka sama kamu, tapi dia nggak mau ngomong." kata Brian.    "Apaan sih Lo rese banget." kata Bara.    "Kamu suka sama aku?" tanya Niana yang berharap mendapatkan jawaban iya.    "Kok diem?" tanya Brian.    "Apaan sih kalian berdua." kata Bara.    "Dia takut mengakuinya karena takut musuhnya akan mencelakai kamu Na.." Jelas Brian.    "Ya ampun Bara... Kamu bukan superhero tau." ucap Niana.    "You know what?" tanya Niana.    "Apa?" bara balik bertanya.    "I've been reading books of old The legends and the myths Achilles and his gold Hercules and his gifts Spider-Man's control And Batman with his fists And clearly I don't see myself upon that list But she said, where'd you wanna go? How much you wanna risk? I'm not lookin' for somebody With some superhuman gifts Some superhero Some fairy-tale bliss Just something I can turn to Somebody I can kiss." Niana menyanyikan lagu itu berharap Bara peka, bahwa dia tidak mencari seorang yang impossible dia hanya mencari sosok yang dapat ia cium saja sebagai orang biasa.    "So ...." tanya Brian.                        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN