Salma Issabel Groom

2284 Kata
   Pagi-pagi sekali Brian menelpon Bara, dia membutuhkan akses untuk masuk ke VVIP, lantas Bara menjemput Brian di depan.     Mereka masuk ke dalam ruang rawat Niana. Sementara Niana masih tertidur, pemeriksaan semalam, tekanan darah Niana sempat drop hingga membutuhkan transfusi lagi.    "Apa dia sudah sadar?" tanya Brian.    "Udah... Dia hanya tertidur, gimana, apa yang kamu dapat?" tanya Bara.    "Ya sesuai yang kemarin gue bilang, guenudah ngecek cctv dll, btw di depan banyak media loh, mereka sempat nanyain gue terkait kondisi Rayya." kata Brian.    "Terus kamu jawab gimana?" Bara balik bertanya.    "Gue jawab belum tau, karena masih mau lihat, menurut Lo, kita harus kasih tau mereka tentang kondisi Niana yang mulai membaik, atau kita rahasiain ini dari publik?" Brian balik bertanya.    "Kita kasih apa yang mereka mau, iya buat mereka yang menginginkan Rayya atau Niana ini lenyap. Biar mereka nggak melakukan sesuatu dalam waktu dekat. Sampai kita sudah siap menghadapi segala sesuatu yang mungkin bakalan terjadi, sungguh aku nggak ingin terjadi hal buruk lagi, tapi, buat jaga-jaga aja." jelas Bara.    "Okkee.." sahut Brian.    "Ntar kalau salah satu diantara kita keluar dan mereka masih nungguin si pengawal Rayya buat cari info, kasih tau aja kalau Rayya belum sadarkan diri, kondisinya masih sangat buruk." kata Bara.    "Berarti kita butuh peran dokter dan lainnya disini, soalnya kalau mereka nyari tau dari pihak rumah sakit kita bisa saja kalah." kata Brian.    "Biar aku yang atur." kata Bara.    "Ellea gimana?" tanya Brian.    "Aku belum dengar kabar dari asistennya, tapi semoga dia semakin membaik." jawab Bara.    "Aku... Sama Ellea nggak ada hubungan apa-apa, hubungan aku sama dia adalah sebatas janji bakti ku kepada tuan Shannon untuk menjaga putrinya, semoga kamu nggak akan salah paham lagi kedepan." kata Bara.    "Okke.." jawab Brian walaupun dia sangsi tapi enggan memulai debat di pagi ini.    "Lo nggak ada tugas?" tanya Brian.    "Ada.. habis ini aku berangkat, tolong jagain dia ya, kurasa kita bisa jadi partner, ya maksud ku, kita kerja sama-sama. Kita tenggelam dalam dunia yang sama loh, oh iya, aku udah lihat track kamu selama ikut Sam." kata Bara.    "Sejauh apa yang Lo tau?" tanya Brian.    "Kamu bisa nggak sih ngomong nya santai dikit, hargai lah aku ini Abang kamu." kata Bara.    "Ehemm.. okke, sorry tapi gue ngga ngegas emang cara ngomong gue kaya gini bang ... Puas Lo, apa Lo minta gue panggil Abang dari sekarang, ya elah minta pengakuan amat dah ah." kata Brian.    "Diih apaan sih rese banget pagi-pagi." kata Bara.    "Okke kita satu team dari sekarang." kata Brian.    "Sebelum jadi tim Lo, dari awal juga gue udah bantuin Lo kali, waktu nemuin Niana diculik." kata Brian.    "Iya aku nggak lupa." kata Bara.    "Kalian udah pada datang, pada ribut kenapa?" tanya Niana yang barusan terbangun.    "Ehhh pagi Na.. kamu udah enakan?" tanya Brian.    "Heran sama abangnya Lo gue, sama cewek aja langsung aku kamu." lirih Bara.    "Ya mana ada Brian, kena tusuk bisa sembuh dalam semalam." jawab Niana sambil tersenyum.    "Setidaknya kamu udah senyum berarti udah gak separah kemarin kan?" ulang Brian sambil mendekat.    "Iya... Btw makasih ya, udah bantuin aku kemarin." kata Niana.    Gadis itu mencoba bangkit untuk duduk.    "Ehhh mau ngapain, nanti sakit tau." ucap Brian menahan Niana yang berusaha duduk.    "Bantuin aku duduk Brian." pinta Niana.    "Iya-iya kamu nggak perlu gini, biar bed nya aku naikin." ucap Brian merebahkan Niana kembali lalu menaikkan bagian atas bed nya hingga posisi Niana lebih nyaman.    "Thanks ya..." ucap Niana.    Brian mengangguk dia menghapus keringat yang muncul dari usaha Niana untuk bangkit tadi.    "Btw Na... Ada yang mau aku tanyain terkait kasus kemarin." ucap Brian sambil menarik tangannya dari wajah Niana karena menghargai Bara yang masih berdiri di sana.    "Tentang apa Brian?" tanya Niana.     "Ya aku tau kamu Hyperthymesia, dan kamu tau ini anugrah Lo, gak semua orang punya kemampuan seperti itu." jawab Brian.    "Ehmmm ya sebenarnya musibah juga Brian, aku nggak bisa lupa pada hal-hal yang ingin aku lupain. Aku akan terus mengingatnya sedetil mungkin, okke kamu mau tanya apa?" tanya Niana.    Bara turut menyimak dengan duduk di samping Niana.    "Ehmm apa yang kamu ingat dari peristiwa kemarin, kamu lihat pelakunya kan? Karena kamu ditusuk dari depan." kata Brian.    Niana terlihat terdiam sejenak, dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.    "Jadi kemarin, aku lagi lihat view yang indah banget keluar dinding kaca itukan, nah karena malam hari cahaya dari dalam lebih terang dari luar, makanya penampakan di dalam ruangan itu terpantul ke dinding kaca, aku lihat setelah kamu pergi, ada seseorang masuk, sepertinya dia kenal sama kamu, soalnya dia kaya ragu gitu, aku pikir siapa kan, atau mungkin penyampai pesan gitu, dia semakin mendekat dan aku menoleh kearah dia, tiba-tiba dia nusuk aku pakai pisau yang udah dia siapin, rasanya seluruh tubuhku langsung mendingin begitu keluar darah dari sini." ucap Niana sambil menunjuk tempatnya terluka.    "Hanya sesaat sebelum dia kabur dia panik dan membuka tutup Hoodie, dan aku baru ingat kau dia adalah pesuruh dari Sam. Yang waktu itu ikutan nyulik aku. Setelah dia kabur aku jatuh kelantai dan nggak ingat apa-apa lagi." jelas Niana.    "Sam tidak akan memperkerjakan pesuruh baru yang masih emosional buat nanganin hal kaya gini, soalnya dia nggak mau ambil resiko gagal di tengah jalan. Dia nyuruh yang profesional kecuali kalau klien nya adalah pihak yang ia tandai sebagai lawan." jelas Brian pada Bara dan Niana.    "Salma..." kata Bara.    "Kalau dari awal Sam mengincar Desta de Drago dan berniat menjatuhkan Salma perlahan itu artinya Salma ditandai sebagai lawan kan, tapi karena dia nggak mau reputasinya buruk dalam kalangan, maka dia tetap ngirim pesuruh buat ngejalanin tugas dari Salma. Dalam arti dia setengah hati aja membantunya, kalau gagal atau fatal ya itu resiko Salma. " sambung Bara.     "Salma?" tanya Niana.     "Kenapa dia ingin nyingkirin Rayya, atau dia curiga Rayya adalah Niana?" tanya Niana pada mereka berdua.    "Klien aku yang nyuruh ngebunuh Niana dulu adalah kepala pelayan di rumah kamu, udah pasti itu utusan Salma Na... Dan itu artinya Salma dengan sadar nyuruh Bara si pawang hujan buat habisin anak dari istri pertama mendiang suaminya. Yah bukannya sombong, tau kan kalau aku pesuruh ter the best ever seen, itu maksudnya agar kamu beneran lenyap. Karena reputasi aku bagus banget, dan sebenarnya aku nggak pernah loh Nerima kerjaan buat ngebunuh orang, itu pertama kalinya aku terima karena alasan yang sedikit egois sih. Nggak perlu aku ceritakan disini." kata Bara.    "Setelah itu Salma menyadari kalau teryata kalian berdua terlibat cinta by accident yahh semacam love affair, dan backstreet dari seluruh dunia. Makanya Bara gak mungkin bisa ngebunuh Niana dan dia ganti dengan jenazah lain lalu menciptakan identitas baru sebagai Rayya." jelas Brian.    "Ehhh sok tau banget sih, mana ada love affair, cinta lokasi yang gitu-gitu. Drama banget sih." kata Bara.    "Udahhh Lo tuh cinta sama Niana bilang aja, gengsi Lo gedein, mau nunggu sampe Niana jadian sama gue, baru Lo nyesel?" tanya Brian nggak mau kalah.    Sementara Niana memerah wajahnya.    "Emang dia mau sama kamu?" tanya Bara.    "Kenapa? gue tajir, gue juga pesuruh yang hebat, gue cakep, ngagk beda jauh Ama Lo." kata Brian.    "Ehh Lo sadar diri Napa, yakali mau saingan sama Abang sendiri." kata Bara lirih sambil menimpuk kelapa Brian dengan bantal.    "Tuh Na... Dia suka sama kamu, cuman gengsi aja buat ngakuinnya." kata Brian sambil menunjuk Bara.     "Ehh pake nunjuk-nunjuk segala, udah aku berangkat dulu, jagain Niana baik-baik." kata Bara sambil turun dari ranjang.    "Jangan lupa bisikin dokter tentang rencana kita tadi bang..." kata Brian.    "Iyaaa..." jawab Bara sambil berlalu.     "Bara..." panggil Niana.     "Iya..." Bara berhenti sejenak.    "Kalau boleh tau, tugas apa itu, rate bahaya 1 sampai 10 di angka berapa?" tanya Niana.    "Oh... Ini hanya di angka 5, kamu tenang aja, jadi tugas aku kali ini hanya mengawal secara diam-diam seseorang atas permintaan istrinya dalam sebuah perjanjian kerjasama." jawab Bara.    "Dia nanya apakah kamu nugas ke Ellea apa enggak?" sindir Brian.    "Brian... Enggak kok, aku cuma nanya itu aja." elak Niana.     "Yaudah take care ya..." ucap Niana.     "Okke..." jawab Bara.     Setelah keluar dari ruangan Niana, Bara berjalan menuju ruangan dokter yang menangani Niana. Setelah mengemukakan alasannya demi keselematan Niana dokter Rama mengabulkan permintaan Bara.    Bara bisa pergi dengan tenang, sebelum dia berangkat menjalankan tugasnya, terlebih dulu dia mampir ke tempat Ellea untuk memastikan Gadis itu baik-baik saja.    Sambil menunggu lift terbuka bara membuka kembali ponselnya, dia melihat foto pria yang akan dia kawal hari ini.    "Sepertinya tidak asing, siapa ya." ucap Bara.     Bara menelpon klien yang merupakan istri dari seseorang yang bakalan ia lindungi dalam perjalannya kali ini.    "Iya... Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Nyonya Rossie.    "Saya hanya ingin tau detail dari perjalanan hari ini Nyonya, dengan siapa kalau boleh tau Tuan Ricard bekerja sama?" tanya Bara.    "Issabell... Salma Issabell Groom, direktur utama dari perusahaan EU de Rossa dan Paragon Music." jawab Bara.    "Salma... Yang kemarin melelang Desta de Drago?" tanya Bara.    "Iya benar sekali." jawab Nyonya Rossie.    "Kalau boleh tau apa yang menjadi ke khawatiran anda, dia perusahaan tadi sangatlah besar dan prestisius, apa yang anda takutkan?" tanya Bara.    "Saya tidak takut ditipu, tapi saya mengkhawatirkan keselamatan suami saya, dari seminggu yang lalu sejak dia menerima surat ajakan bekerja sama itu, seseorang datang dan membawa surat lain yang isinya saya tidak tau itu apa. Namun sampai hari ini dia seperti gelisah dan ketakutan."jawab Nyonya Rossie.    "Baiklah nyonya... Saya akan mengambil alih, terimakasih." ucap Bara kemudian mengakhiri panggilan nya.    "Tua Ricard ini sepertinya tidak asing..." ucap Bara sekali lagi.    "Dan kenapa dia harus bekerja sama dengan Salma, dia pemilik perusahaan parfum dan industri alat musik, apa persamaan dari keduanya terhadap perusahaan tuan Ricard yang tidak lain adalah perusahaan investasi jangka panjang, tentu saja dia tidak serta merta mau menginvest semua kekayaanya kan." kata Bara.    "Lebih tepatnya surat kedua itu datang dari siapa, kenapa seakan mengancam tuan Ricard dengan sesuatu." kata Bara.    "Tunggu dulu..." ucap Bara.    Dia teringat sesuatu, bersamaan dengan itu pintu lift terbuka dan Bara masuk untuk sampai di kamar Ellea.    "Selamat pagi Bara..." sapa Ellea.    "Selamat pagi Nona..." jawab Bara.    "Tumben kamuamoir dulu sebelum bertugas?" tanya Ellea.    "Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan." ucap Bara.    "Apa itu?" tanya Ellea.    "Itu... apakah kamu mengenal tuan Ricard, presiden direktur dari perusahaan investasi?" tanya Bara.    "Kenal dia sahabat dekat papa aku." jawab Ellea.    "Tuan Shannon?" tanya Bara.    "Iya... Kamu lupa?" tanya Ellea.    "Agak lupa-lupa ingat sih." jawab Bara.    "Memang ada apa? Ada kaitannya sama tugas kamu hari ini?" tanya Ellea.    "Iya dia ada perjanjian kerja sama dengan dua perusahaan besar, tapi sepertinya ada yang tidak menyukai nya, istri nya yang meminta saya untuk mengawal secara rahasia perjalanan beliau." jawab Bara.    "Ohh gitu ya." jawab Ellea.    "Yaudah aku pergi ya, beliau akan meninggalkan rumah sekitar 15 menit lagi." pamit Bara.    "Oh iya... Hati-hati ya." ucap Ellea.    Bara mengangguk. Dia kembali keluar dan berlari-lari menuju tempat parkir.    "Jika aku benar maka orang itu adalah Sam..." ucap Bara.    "Karena tuan Shannon adalah musuh Sam dulu, kemungkinan sahabatnya juga memiliki musuh yang sama." lanjutnya.     "Kita lihat apa yang akan Sam lakukan kali ini." kata Bara.     Disaat yang bersamaan Sam juga bergerak, dia memang sengaja mengacaukan siklus ekonomi yang ada, semua perusahaan dia buat bergantung padanya lalu pelan tapi pasti semua aset dan kepemilikan akan berpindah tangan secara bertahap karena jumlah hutang yang semakin besar, sengaja ia kucurkan dana untuk perusahaan yang nyaris pailit berlagak menjadi malaikat penolong namun kemudian menikamnya dengan kejam.    Dan benar saja perjanjian kerja sama yang dibawa oleh pihak Salma sudah berubah isinya, sangat tidak menguntungkan kalau untuk invest di perusahaan Ricard.    "Selama perjalanan nggak ada masalah apapun, terus apa yang ditakutkan tuan Ricard. Dia tidak dicelakai dalam perjalanan." ucap Bara yang memarkir mobilnya tidak jauh dari mobil tuan Ricard.    Sementara itu di sebuah lounge private sudah menunggu Salma dan asistennya. Dia membawa surat perjanjian yang semula berisi sama dengan soft copy milik milik tuan Ricard.    "Tunggu dulu... Tuan Ricard tidak khawatir terhadap keselamatannya namun kelangsungan bisnis nya. Mugkin seseorang sengaja memperingatkan akan hal kerja sama ini, dan membuat tuan Ricard jadi ragu." kata Bara.    Bara bergegas masuk dan menerobos penjagaan lounge tersebut, sedetik sebelum tuan Ricard menandatangi surat perjanjian itu, Bara menghentikan nya.    "Tuan Ricard hentikan!" ucap Bara.    "Siapa kamu?" tanya Ricard.    "Saya mohon, baca kembali isi perjanjian ini, saya mohon." ucap Bara.    "Saya melihat ada yang tidak beres dengan perjanjian ini." tambah Bara.    "Maksud kamu... Nuduh saya curang?" tanya Salma dengan nada tinggi.    "Bukan begitu, seseorang juga sudah memanipulasi anda... Coba baca sekali lagi surat perjanjian itu. Apa ada yang berubah?" tanya Bara.    Seketika Salma menarik lembaran baru itu dan membacanya, seketika dia menutup mulutnya, wajahnya memerah.    "Maaf sekali tuan, memang benar surat ini ada yang merubah, dan saya akan segera membawa surat yang sudah kita sepakati kemarin untuk dicetak kembali." ucap Salma.    "Ini... ada soft copy saya silakan dicetak ulang." ucap tuan Ricard.    Tuan Ricard membaca surat yang sudah di rekayasa tersebut dan membuat nya melongo, seseorang nyaris saja menjerumuskan dirinya.    "Terimakasih nak.. siapa kamu?" tanya Tuan Ricard.    "Saya adalah anak asuh tuan Shannon, mungkin anda ingat, saya Bara." jawab Bara.    "Astaga si kecil Bara, long time no see, sekarang kamu jadi pesuruh, siapa yang mempekerjakan kamu?" tanya Ricard.    "Saya bekerja secara mandiri tuan, dan kebetulan istri anda yang menghubungi saya untuk meminta bantuan." jawab Bara.     "Darimana kamu tau isi surat ini telah dirubah?" tanya Salma.     "Karena tuan Shannon dan tuan Ricard memiliki musuh yang sama, dan itu pasti Sam, saya hafal cara kerja sam, kalau selama perjalanan tidak ada masalah, pasti masalah ada dalam kontrak kerja." jawab Bara.    Seketika muncul love spark dihatu Salma pada si berondong Bara.     "Sebagai ucapan terimakasih telah menyelamatkan nama baik saya, saya undang kamu makan malam nanti di perusahaan bersama dengan para kolega dan rekan sejawat." ucap Salma.    "Terimakasih atas undangannya, saya pasti akan hadir jika tidak ada tugas berikutnya." ucap Bara.     Bisa-bisa nya cinta tumbuh di hati janda Salma pada sosok Bara yang sangat heroik dan maskulin di matanya.               
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN