Lembut hati Niana

2058 Kata
   Bara baru saja teringat akan janjinya pada Niana untuk mengajaknya makan malam di Twin Pearly, ketika dia membuka ponselnya dan nampak foto Niana sebagai wallpaper layar kunci.    "Ya ampunn aku belum kasih tau Niana kalau ternyata Ellea separah ini, aku harus telpon dia." kata Bara kemudian.    Berkali-kali dia menelpon Niana namun tak ada jawaban, sementara Brian juga tidak dapat dihubungi.    "Ini anak pada kemana? Apa jangan-jangan mereka berdua marah sama aku?" tanya Bara.    "Setidaknya ada Brian yang jagain Niana." pikir Bara kemudian.    Namun apa yang sebenarnya terjadi sungguh diluar dugaan, Niana sudah datang ke Twin Pearly diantar Brian, ponsel mereka berada dalam silent mode, jadi tidak tau kalau Bara sudah menghubungi nya, dan dia juga belum sempat merubah warna rambutnya, sehingga beberapa orang mengenalinya sebagai Rayya sang muda kaya raya yang berhasil memenangkan lelang Desta de Drago.    "Na.. ini bukan ide yang bagus, sebaiknya kita pulang dan nunggu sampai Bara pulang, baru nanti aku anter lagi kesini. Gimana menurut kamu?" ucap Brian, yang instingnya mengatakan Niana sedang diawasi.    "Udahlah nggak papa, kita tunggu disini aja, tenag aja aku pesenin makanan ke kamu juga kok." ucap Niana.    "Enggak gitu Na... Tapi kamu bisa aja dalam bahaya. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, aku harus bilang apa ke Bara." kata Brian mencemaskan Niana.    "Diihh parno amat, aku bukan orang penting, yang jadi incaran penjahat tenang aja." kata Niana.    Niana terus melanjutkan langkahnya, dia juga memesan sebuah meja di salah satu spot yang indah banget view nya.    "Na aku ke kamar mandi bentar ya, inget jangan kemana-mana, tetap di keramaian, aku cuma bentar, kebelet pipis aja." ucap Brian.    "Okke..." ucap Niana.    Niana duduk sambil memandang luas view malam hari dari ketinggian tower ini.    "Habisi dia." ucap Seseorang dengan pakaian serba hitam.    "Baik nyonya." ucap pesuruh yang bertindak dengan cepat begitu melihat Niana tanpa pengawalan.    "Aku yakin banget Rayya adalah Niana." ucap si nyonya bergaun mewah yang tidak lain adalah Salma itu.     "Kemunculan dia sudah begitu membuat publik syok, dan dia tidak boleh mengancam keberadaan ku dengan dirinya yang palsu." lanjutnya.    Brian baru saja kembali dari toilet, namun dia dikejutkan oleh teriakan histeris para pengunjung di floor yang sama tempat Niana berada tadi.    Brian yang panik langsung menerobos kerumunan dan mendapati Niana sudah hilang kesadaran dengan bersimbah darah karena luka tusuk di perut.    "Saya abangnya, tolong kasih jalan." ucap Brian.    Dia dibantu para staff gedung tersebut melarikan Niana kerumah sakit. Kasus ini langsung ramai di perbincangkan.     Wartawan yang haus berita pun langsung meliput kejadian ini dan membawanya ke publik.     "Na... Bertahan ya." ucap Brian sambil menekan luka Niana yang terus mengeluarkan darah.     Sirine bergaung kencang memecah hiruk pikuk keramaian kota. Begitu sampai dirumah sakit, Niana langsung mendapatkan pertolongan.    Dia dibawa brankar menuju ruang ICU. Sementara Brian yang kebingungan harus bagaimana, dia sesaat berdiri di depan ruang ICU. Lalu menelpon seseorang.     Bara menelpon salah satu asisten Ellea, dia memintanya datang kerumah sakit untuk menjaga Ellea malam ini.    Baru saja panggilan nya berakhir, dia mendapat panggilan dari Brian.    "Kemana aja sih Lo." teriak Brian kesal.    "Aku masih dirumah sakit, aku udah telpon kalian berdua tapi gak ada yang angkat." jawab Bara.     "Lo nggak bisa gitu bro, Lo harusnya bisa milih salah satu mana yang penting buat Lo prioritasin si Ellea atau Niana." kesal Brian.     "Looh ada apa sih kok kamu marah-marah gini?" tanya Bara mulai mencemaskan sesuatu.     "Datang kerumah sakit sekarang di bagian bawah Twin Pearly. Niana sekarat karena seseorang telah mencelakainya. Dan gue 100% nyalahin Lo." kata Brian kemudian menutup telponnya.    "Apa... Brian... Ehhh briann." pangg Bara yang menggantung.     Bara bergegas meninggalkan ruangan Ellea, dia yakin assisten Gadis itu segera datang.    "Rumah sakit di Twin Pearly. Ya Tuhan... Dia beneran kesana tanpa menunggu kabar dari aku." kata Bara.    Begitu Bara tiba di tempat yang dimaksud Brian, dia segera berlari menyusuri koridor menuju ruang ICU. Dari jauh dia melihat Brian tengah dirundung kecemasan.    "Brian... Gimana Niana?" tanya Bra sambil terengah-engah.     "Lain kali... Jangan buat janji yang gak bisa Lo tepati." kata Brian sambil melangkah pergi.     "Okkeee... Aku tau aku salah, tapi aku udah hubungin kalian berdua tadi." kata Bara.     Brian sama sekali tidak menggubris Bara. Dia terus melangkah hingg membuat Bara mengejarnya.    "Ngapain Lo ngikutin gue? Stay disini, jagain dia baik-baik. Gue mau cari pelaku." kata Brian.    Kemudian berjalan menjauh, dia mengusap keringat yang membasahi wajahnya yang masih menyisakan luka karena kecelakaan tempo hari.    Sementara Bara kembali ke tempatnya semula. Entah kenapa dia sangat menyesal, Brian benar, harusnya dia tidak pernah membuat janji yang tidak bisa ia tepati.    Saat dia tengah terpekur sendirian tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Ternyata Brian.    "Sebelum gue pergi, ada yang harus Lo tau tentang Niana." ucap Brian dengan emosi yang sudah agak mereda.    "Aku tau semua tentang dia. Jadi apa yang aku lewatin?" tanya Bara.    "Gue takut habis ini dia bakalan mengalami PTSD." jawab Brian.     Bara mngernyitkan dahinya.    "Post Traumatic Stress Disorder? Gangguan Pasca Trauma? Kenapa?" tanya Bara.    "Hanya ketakutan gue sih, tapi... Jujur kalau sebenarnya yang nyari info keberadaan dia dirumah Lo itu gue, gue tau segalanya tentang dia termasuk kemampuan dia yang superior." jelas Brian.    "Lo tau Hyperthymesia kan?" tanya Brian.    "Syndrom mengingat superior yang langka banget itu?" tanya Bara.    Jadi Hyperthymesia dikenal sebagai sindrom mengingat superior, kondisi ini adalah antitesa dari pikun.    Sering disebut sebagai Highly Superior Autobiographical Memory (HSAM), pengidap hyperthymesia bisa mengingat secara rinci semua detail dari segala yang dialaminya di masa lampau.    "Gue takut dia bakalan trauma atas kejadian yang menimpanya hari ini, gue minta, kalau Lo nggak bisa jagain dia dengan baik, lepasin dia buat gue." kata Brian.    Bara tampak kesal, dia menghembuskan nafas berat.     "Okke hari ini aku emang salah, tapi tolong... Jangan ngerasa aku nggak becus jagain dia, karena dari awal aku udah berusaha hubungin kalian. Jadi jangan harap aku bisa lepasin dia buat kamu di masa depan." kata Bara.    "Gue pegang kata-kata Lo, sekali lagi Lo berbuat salah dengan kondisi serupa di waktu mendatang, gue bawa dia pergi dari rumah Lo." kata Brian.    "Kamu suka sama dia?" tegas Bara.    "Iya... Dan gue berani ambil segala resiko, termasuk kalau gue ungkapin perasaan gue ke dia." sahut Brian.    "Sorry tapi aku nggak bakalan kasih kamu kesempatan seperti itu." tegas Bara.    "Kita lihat aja!" bisik Brian lirih sambil menepuk pundak abangnya kemudian pergi.    Beberapa saat kemudian dokter keluar, Bara segera menghampirinya. Sepertinya akhir-akhir ini harinya berkutat di rumah sakit, setelah Ellea kini Niana.    "Dengan keluarga pasien?" tanya dokter.    "Iya saya suaminya." jawab Bara.    "Baik pak, boleh ikut saya, akan saya jelaskan kondisi istri bapak, dengan bapak siapa?" tanya dokter.    "Bara..." jawab Bara.    Mereka berdua berjalan menuju ruangan dokter Rama.    "Kondisi pasien sangat buruk, luka tusuk itu tidak begitu dalam, namun tepat mengenai arteri,  perdarahan arteri adalah tipe perdarahan yang paling serius karena dapat menyebabkan kehilangan sejumlah besar darah dalam periode waktu yang sangat singkat. Kecelakaan terjadi di lantai teratas, butuh waktu 4-5 menit untuk sampai ke rumah sakit di lantai bawah, dan selama itu pasien sudah kehilangan sekitar 40% volume darah, tangan dan kakinya sudah dingin, dan syok akan segera terjadi, mungkin saya perlu menceritakan kepada anda karena tadi anda tidak mengetahui apa yang terjadi, tapi sekarang perdarahan sudah bisa kami hentikan, butuh waktu yang lama untuk pemulihan, dalam waktu dekat pasien harus menjalani rawat inap sampai bekas operasi nya mengering. Anda tidak perlu khawatir pihak tower sudah menjamin untuk pengobatan pasien, karena kecelakaan yang terjadi dilokasi kami." jelas dokter.    "Iya dok... Terimakasih." ucap Bara, dia sama sekali tidak mempermasalahkan biaya pengobatan, hanya saja dia takut Niana berada di luar lebih lama lagi. Dia takut orang-orang yang menginginkan kematian gadis malang itu kembali menyerang Niana lagi.    "Oh iya dok... Bagaimana dengan kondisi psikis korban, apakah berpotensi mengalami truma pasca kejadian?" tanya Bara.    "Pasti... Trauma pasti ada, tapi untuk tingkat keparahan kami tidak bisa memprediksi, semoga saja tidak parah, dan istri anda bisa kembali beraktivitas dengan normal. Masih ada yang perlu ditanyakan lagi pak?" tanya dokter Rama.    "Oh sudah cukup dok." jawab Bara.    "Baiklah bapak bisa kembali, dalam 1 jam mendatang pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap." jelas dokter.    "Oh iya dokter.. bisakah saya minta istri saya ditempatkan diruang VVIP, dan orang dengan akses tertentu saja yang bisa masuk, jangan khawatirkan soal biaya dok, berapapun akan saya bayar untuk istri saya." pinta Bara.    "Ohh bisa pak, untuk masalah ini silahkan bapak bicarakan dengan administrasi di depan, mengenai ruangan yang anda minta." jawab dokter Rama.    "Soalnya takut istri saya trauma dengan orang asing dok." jawab Bara.    "Apakah kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya pak?" tanya dokter Rama.    "Oh.. tidak dok, baru kali ini." jawab Bara.    "Baik silakan pak..." ucap Dokter mempersilakan Bara yang hendak meninggalkan ruangan.    Bara menuju ke administrasi yang dimaksud dan dia benar-benar meminta layanan VVIP untuk Niana.    Satu jam kemudian setelah observasi, Niana akhirnya di pindahkan ke ruang VVIP dan hanya orang-orang dengan pass tertentu yang diizinkan keluar masuk VVIP termasuk paramedisnya.    Sampai diruangan yang sangat nyaman dan terkesan mewah itu, Niana masih terbaring dengan mata terpejam.    Kini mereka hanya berdua, dan Bara sangat merutuki dirinya sendiri. Berkali-kali dia mengucapkan maafnya untuk gadis yang belum bisa merespon apapun itu.    "Berat banget pasti buat kamu Na, kamu mengingat setiap hal dari masalalu kamu secara detil, itu pasti sangat menyakitkan." ucap Bara sambil memegang jemari Niana.    "Maafin aku ya, aku gagal jagain kamu." lanjutnya lagi.    Ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Brian.    "Ada apa Brian?" tanya Bara.    "Gue udah nemuin pelakunya, barusan gue ngecek cctv, memang cctv di floor itu sengaja dikacaukan tapi gue berhasil dapet gambar sosok penusuk itu di cctv tempat parkir. Tepatnya di depan gedung lain." jawab Brian.    "Coba liat, kirimin ke aku ya." kata Bara.    "Udah barusan gue kirim, barangkali Lo tau siapa klien nya." kata Brian.    "Okke thanks ya, ini Niana udah dipindah ke ruang rawat inap, aku minta dia di VVIP, takutnya Adak oknum yang pingin celakain dia lagi, kamu bisa pulang kesini sekarang kita jagain dia malam ini." ucap Bara.    "Kayanya gue nggak bisa pulang malam ini, ada hal yang harus gue selesai in, si Ellea gimana, dia ada yang jagain?" tanya Brian.    "Ada kok, tadi aku udah nelpon asisten pribadinya. Dia bisa dipercaya banget." jawab Bara.     "Yaudah sekarang Lo bisa fokus ke Niana saja." kata Brian.     "Iya... Btw thanks ya udah nemenin Niana tadi." ucap Bara.     "Jangan bilang makasih, kita adalah rival, gue belum nyerah buat ngerebut dia dari Lo." kata Brian.     "Dasar adik jahanam." kata Bara sambil mengakhiri panggilannya.     Bara meletakkan ponselnya di atas ranjang Niana, Bara memandangi gadis itu lekat-lekat, masih belum ada tanda-tanda untuk Niana bakalan terbangun.    Dia berdiri, setelah mencium kening Niana, Bara mendekat kearah jendela. Hujan turun dengan derasnya, lelehan nya di jendela membentuk tirai transparan.    Entah berapa lama dia memandangi hujan dari balik jendela, sampai sebuah suara memanggil namanya.    "Bara..." lirih Niana.    Bara langsung menoleh dan menghampiri Niana.    "Iya Na... Aku ada disini, syukurlah kamu udah siuman, maafin aku ya, gara-gara aku, kamu jadi kaya gini." ucap Bara.    Niana mengangguk.    "Aku... Kebelet pipis, tapi rasanya aku nggak bisa deh, buat ke kamar mandi." kata Niana.    "Biar aku angkat kamu ke kamar mandi ya." ucap Bara.     "Nggak deh Bar... Ribet banget ini pasti." kata Niana.     "Udah nggak papa aku bantu." ucap Bara.     Kemudian Bara membawa Niana ke kamar mandi, menurunkannya pelan-pelan.    "Udah Bara.. aku bisa kok." kata Niana.     "Tapi aku takut kamu jatuh." kata Bara.     "Enggak kok, udah kamu bisa keluar sekarang, infusnya taruh aja di sini." ucap Niana menunjuk pada sebuah tiang infus yang ada disana.    Bara membantu Niana untuk terakhir kali nya, kemudian menggantung botol infus itu ke tiang penyangga yang ada di sana, lalu keluar dan menutup pintu. Sementara Niana, sambil memegangi perutnya dia menuntaskan hasrat buang air kecilnya. Setelah membersihkan diri dia kembali memanggil Bara untuk memninta bantuan.    "Bara... Tolong dong!" panggil Niana.    "Oh iya... Udah?' tanya Bara dari luar.     "Udah kok masuk aja." jawab Niana.     Bara membuka pintu lalu masuk, dia mendapati Niana berdiri berpegangan pada tiang infus.     Bara langsung berlari dan menggendong bridal Niana. Kemudian membawa nya kembali ke tempat tidur.    "Maaf ya jadi merepotkan." kata Niana.    Bara terdiam, dia merasa hatinya serasa di remas.      "Harusnya aku yang minta maaf karena udah bikin aku kaya gini, aku jadi bertanya-tanya hati kamu terbuat dari apa sih?" kata Bara.     Niana hanya tersenyum dia menarik selimutnya. Kemudian memejamkan matanya.    Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang basah dan kenyal menempel di bibirnya, sontak dia membuka mata, dan mendapati Bara tengah menciumnya.    Niana kembali memejamkan mata dan menikmati setiap kecupan dan hisapan lembut di bibirnya. Dari laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN