Sampai dirumah Niana segera merebahkan diri untuk merelaksasi stress nya, jujur ini adalah kali pertama dia bertemu Salma setelah sekian lama dan berpura-pura menjadi orang lain.
Dia memegangi kepalanya yang terasa pusing, lalu melepas highhels nya dan berbaring begitu saja.
"Na... Mau ditaruh dimana biola kamu?" tanya Brian yang mengekor di belakang Niana.
"Taruh di sebelah sana saja tolong ya." ucap Niana.
"Kamu kenapa Na?" tanya Brian.
"Nggak tau tiba-tiba kepalaku pusing banget, semenjak usai pelelangan tadi." jawab Niana.
"Yaudah kamu istirahat kalau gitu, atau perlu aku ambilin obat?" tanya Brian.
"Enggak Brian, makasih, jangan lupa tutupin pintu lagi ya!" pinta Niana.
"Okkke ... Atau perlu aku panggilan Bara?" tanya Brian sesaat setelah meletakkan Desta de Drago milik Niana.
"Enggak perlu Brian..." jawab Niana.
"Yaudah aku keluar ya, kalau butuh apa-apa kamu bisa telpon aku." Pamit Brian.
"Okkee... Thanks ya." kata Niana.
Sementara itu usai mengantar Brian dan Niana pulang kerumah, Bara langsung meluncur ke tempat Ellea.
Ellea sudah siap menunggu kedatangan Bara, wajahnya begitu pucat, tangannya dingin.
"Maaf agak lama, saya baru saja sampai dirumah." ucap Bara.
"It's okay Bara.." ucap Ellea.
"Ngomong-ngomong kakak-kakak ku nggak ada yang tau kalau aku sakit, jadi kita harusnya aman sampai aku kembali kerumah Bara.." kata Ellea.
"Saya akan menjamin itu Nona." jawab Bara.
"Yaudah bisa kita berangkat sekarang?" tanya Ellea lagi.
"As you wish nona." jawab Bara.
Ellea lantas berdiri dari tempat tidurnya, sebelah tangannya berpegangan pada nakas sementara sebelah lainnya memegangi dadanya.
"Kenapa tiba-tiba kambuh?" tanya Bara.
"Feel stress mungkin..." jawab Ellea.
Dia mulai berjalan, namun keringat dingin sontak keluar dan membuatnya sekaan kehilangan keseimbangan.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Bara sambil memegangi punggung Ellea.
"Bantu aku berjalan Bara!" jawab Ellea.
Bara langsung mengangkat tubuh Ellea dan membawanya ke mobil.
Setelah sampai di mobil mereka, Ellea meminta bara menurunkannya.
"Udah Bara aku bisa masuk sendiri." kata Ellea.
Ellea lantas masuk dan memilih duduk di depan si samping Bara.
"Anda bisa duduk dibelakang, banyak space dan bisa relaksasi Nona." saran Bara.
"Nggak papa aku duduk di depan saja." ucap Ellea.
Bara hanya bisa menerima keputusan Ellea, dia menghargai setiap pilihan Ellea selama ini.
Bara masuk dan duduk di belakang kemudinya, saat dia hendak memakai safetbelt, dia melihat Ellea hanya duduk bersandar tanpa memakai safetybelt.
Bara menarik ujung safetybelt milik Ellea kamudian memasangkannya dalam satu kali klik.
Wajah mereka berdekatan hanya beberapa cm saja, saat Bara hendak menjauhkan wajahnya tiba-tiba, Ellea menariknya kembali untuk mendekat, bahkan gadis itu mencium Bara di bibirnya, kedua bibir yang semula hanya menempel itu kini berubah menjadi lumatan dan hisapan kecil. Tangan Ellea melingkar di leher Bara, dia aktif sekali mencium Bara, yang pada akhirnya dibalas juga oleh Bara.
Entah berapa lama mereka melakukannya di dalam mobil, ya g jelas Bara buru-buru mengakhiri saat nafsunya mulai bertambah naik.
"Aku hanya berciuman dengan mu Bara, dan aku menyukai itu." kata Ellea sesaat kemudian, sambil tersenyum senang.
"I .. iya." jawab Bara.
Dia jadi teringat kata-kata Niana tempo hari, bahwa dia selalu berciuman dengan Ellea. Entah kenapa kata-kata itu benar adanya.
Namanya juga pria mana bisa nolak kalau diserang pakai bibir.
Bara mulai mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, tempat biasa Ellea menjalani pengobatan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, dengan saling berdiam diri, akhirnya mereka tiba dirumah sakit.
Seperti biasa Ellea menjalani pemeriksaan pada dokter pribadinya.
"Sepertinya akhir-akhir stress banget ya?" tanya dokter Irwan.
"Lumayan dok." jawab Ellea dengan tersenyum.
Dokter itu tampak mengkerut kan dahi begitu memeriksa keadaan Ellea.
"Apa yang akhir-akhir ini anda rasakan?" tanya Dokter.
"Ehmm sepertinya penglihatan saya agak kabur dok, mungkin saya harus lebih banyak istirahat." jawab Ellea.
"Ehmm baiklah, bisa saya bicara dengan keluarga?" tanya dokter Irwan.
"Ada diluar dok." jawab Ellea.
Seorang suster memanggil Bara utuk masuk, dan dokter Irwan mengajaknya berbicara secara pribadi.
Sementara Ellea masih berbaring di ranjang pemeriksaan dan menatap langit-langit yang hanya berwarna putih dengan lampu senada.
"Saya tau anda siapa, tapi jujur saya tidak mengerti harus berbicara dengan siapa lagi selain anda." kata Dokter Irwan yang memang sudah tau siapa Ellea dan Bara.
"Iya dok... Kalau boleh tau apa yang terjadi?" tanya Bara.
"Kondisinya sangat buruk, detak jantung terlalu cepat, dan pengobatan jangka panjang ini justru menimbulkan efek samping, pasien mengalami penurunan pada Indra penglihatannya karena efek obat yang harus di konsumsi seumur hidup."jelas dokter Irwan.
"Lalu harus bagaimana dok?" tanya Bara cemas.
"Ada satu metode medis yang harus ditempuh yaitu oprasi ablasi jantung.tapi seperti yang anda tau, pasien yang selalu ketakutan pada jarum suntik, pasti akan semakin stress dan tertekan begitu menyadari dirinya akan di oprasi. Dan ini sangat tidak baik untuk kondisi aritmia nya." jelas dokter.
"Seberapa penting ablasi ini untuk nona Ellea dok?" tanya Bara.
"Penting sekali, karena pengobatan nya selama ini belum berhasil." kata Dokter.
Mereka berdiam diri beberapa saat. Kemudian dokter Irwan menjelaskan tentang ablasi pada Bara.
"Operasi ablasi jantung yang juga dikenal dengan nama ablasi kateter atau ablasi radiofrekuensi merupakan sebuah prosedur medis yang dilakukan untuk mengatasi masalah ritme jantung abnormal atau aritmia jantung. Operasi ini dilakukan dengan memasukkan sebuah tabung kecil atau kateter menuju ke dalam jantung untuk menghancurkan atau merusak jaringan pada jantung yang menyebabkan detak jantung abnormal. Pada kondisi tertentu, ablasi jantung juga dapat mencegah munculnya sinyal listrik pada jantung untuk menghentikan aritmia."jelas dokter Irwan.
"Apakah ada resiko dari ablasi ini?" tanya Bara.
"Resiko akan selalu ada pada setiap prosedur oprasi, seperti pendarahan." jawab Dokter.
Bara kembali terdiam, sementara matanya melihat kearah Ellea yang yang berbaring dengan kulit nya yang memucat.
"Apakah saya harus memutuskan sendirian, atau saya bisa membicarakannya dengan nona Ellea?" tanya Bara.
"Sebenarnya saya takut justru pasien ketakutan dan menambah stress nya, namun sebaiknya Pasien tau, tindakan medis seperti apa yang harusnya dia jalani." jawab Dokter Irwan.
"Sebaiknya anda bicarakan ini dengan pasien secara hati-hati." ucap Dokter Irwan.
"Baiklah dok saya akan membicarakannya dengan nya dengan hati-hati." kata Bara.
"Silakan..." ucap dokte Irwan.
Bara mendekati ranjang Ellea kemudian menutup tirai. Ellea menengok kearah Bara.
"Gimana?" tanya Ellea masih dengan senyumnya.
Bara memegang tangan Ellea, untuk menguatkan gadis itu.
"Kondisi anda memburuk, dan ada satu metode yang harus anda lakukan." ucap Bara.
"Apa itu?" tanya Ellea.
"Anda.. harus menjalani oprasi kecil, pemasangan kateter di jantung." jawab Bara.
"Enggak mau..." jawab Ellea dan spontan menarik tangannya dari Bara.
"Enggak mau Bara, aku takut, ayo bawa aku pulang, aku janji akan lebih teratur minum obatnya Bara." ucap Ellea ketakutan.
"Nona..." ucap Bara.
"Nggak... Aku nggak mau Bara. Jangan paksa aku." ucap Ellea.
"Ellea..." Bara memanggil nama gadis di depannya.
Ellea terdiam, dia mendengarkan Bara lagi, bahkan perasaan itu kembali muncul saat Bara menyebut namanya tanpa embel-embel.
"Setelah operasi ini berhasil, aku akan libur beberapa hari, dan kita akan jalan-jalan, aku akan mengantarmu kemana saja? Kamu suka?" tanya Bara berbicara lebih santai pada Ellea.
Ellea berbinar, dia mengangguk.
"Mau kan, kita akan menginap beberapa hari dan kabur dari rutinintas." bujuk Bara.
"He em..." jawab Ellea.
"Dan aku akan membawa kamu pergi kalau kamu berhasil melalui oprasi ini." kata Bara lagi.
"Tapi aku takut." jawab Ellea.
"Jangan takut... Kan ada aku, janji aku nggak akan kemana-mana sampai proses operasi ini selesai." kata Bara.
"Begitu selesai kamu harus nepatin janji kalau kita akan jalan-jalan." pinta Ellea.
"Iya pasti... Malamnya begitu kamu boleh pulang, kita langsung pergi." kata Bara, dia lupa sudah membuat janji pada Niana.
"Beneran?" tanya Ellea.
"Iyaaa pasti.." Jawab Bara.
Akhirnya Ellea bersedia menjalani operasi dan memakan waktu berjam-jam. Bara duduk menunggu Ellea di luar ruangan operasi dengan cemas.
Dia berkali-kali melongok untuk melihat kedalam dari balik kaca jendela.
Baru saja dia ingin duduk lagi, tiba-tiba dia dikejutkan oleh beberapa dokter yang berlarian masuk kedalam ruang oprasi.
"A... Apa yang terjadi." Kecemasannya bertambah.
Dia bahkan menghentikan seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang operasi.
"Suster... Apa yang terjadi di dalam kenapa banyak dokter?" tanya Bara dengan panik.
"Kondisi pasien kritis, detak jantung nya mengalami penurunan, dan terjadi pendarahan selama proses operasi." jawab suster itu dengan tergesa-gesa.
"Ya Tuhan..." wajah Bara mulai keruh, matanya berkaca-kaca dan terus melihat kedalam yang hanya tertutup oleh punggung para dokter.
"Beri dia keselematan... Bagiamana pun aku menyayanginya seperti saudara sendiri." batin Bara.
Hubungan mereka sudah sangat dekat semenjak Bara di adopsi oleh keluarga Shannon.
Entah berapa lama kecemasan bara berlangsung, dia melihat langit mulai gelap, dan para perawat sudah berganti shift. Dia benar-benar lupa pada janjinya dengan Niana karena terlalu mencemaskan Ellea.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar, diiringi para dokter yang lain. Bara segera menyambutnya.
"Bagaimana dok?" tanya Bara.
"Pendarahan berhasil kami atasi dengan baik, operasinya juga berhasil, kondisinya akan berangsur membaik dalam beberapa jam kedepan, pesan saya, jangan sampai pasien mengalami stress dan tekanan terlalu berat. Kelelahan fisik juga, karena hal ini tidak baik untuk kondisi jantungnya." jawab Dokter.
"Iya dok..." jawab Bara sedikit lega, namun belum seutuhnya karena belum bisa melihat Ellea secara langsung.
"Setelah ini pasien akan dipindahkan keruang rawat inap, sampai kondisinya benar-benar pulih pasca operasi." Jelas dokter.
"Baik dok, terimakasih." ucap Bara.
Setelah para dokter itu pergi, perawat memindahkan Ellea di ruang rawat inap. Bara mengikuti kemana Ellea dibawa. Gadis cantik itu masih terpejam dengan selimut sebatas d**a.
Sampai diruangan VVIP yang dipilih Bara, mereka memindahkan Ellea perlahan, memasang peralatan dengan baik kemudian pergi.
Bara merasa lega bisa melihat kondisi Ellea. Dia duduk di samping ranjang rawat Ellea sambil memegangi jemari gadis itu.
"Saya pernah berjanji untuk menjaga si bungsu anda dengan baik Tuan Shannon." ucap Bara.
"Tapi hal seperti ini masih saja terjadi, maafkan saya." ucap Bara.
Ellea yang mendengar suara Bara, serta Merta membuka matanya.
"Aku ada dimana?" tanya Ellea nampak kebingungan.
"Anda sedang ada dirumah sakit."jawab Bara.
"Oh iya... Apakah aku berhasil operasinya?" Tanya Ellea.
"Iya berhasil kok, anda hebat." jawab Bara.
"Lalu bagaimana dengan janji kamu untuk bawa aku jalan-jalan?" tanya Ellea.
"Iya saya tidak melupakan itu." jawab Bara.
"Aku lebih suka kamu bicara informal ke aku." jawab Ellea.