Niana a.k.a Rayya

2014 Kata
   Bara sudah menyiapkan semuanya jauh sebelum hari H. Dan siang ini dia bersiap mengantarkan Niana sebagai Rayya sang bangsawan pecinta seni.    "Ingat hari ini kamu adalah Rayya, Niana udah nggak ada di depan mereka, jadi kamu nggak perlu takut ketemu Salma, kamu harus PD dan tunjukin kamu orang yang berbeda dengan Niana, ok?" kata Bara.    "Okke.. tapi gimana kalau mereka menyadari sesuatu?" tanya Rayya.    "Tenang aja aku sama Brian itu pasukan yang hebat, kamu adalah bangsawan yang menyewa kami sebagai bodyguard siang ini, kami akan sebisa mungkin mengcover segalanya begitu mereka mulai curiga." jelas Bara.     "Iya makasih, tentunya hal ini juga gak gampang untuk Brian yang kabur dari organisasinya." kata Niana.     "Jangan pikirin aku, aku bisa mengatasinya sendiri, fokus saja pada apa yang akan kamu kerjakan!" kata Brian.    "Iya... Makasih kalian berdua baik banget sama aku." ucap Niana.    Niana yang kali ini datang dengan dress putih sangat elegan dan nampak berbeda dari Niana setiap harinya.     "Ingat kamu Rayya, Rayya sama sekali nggak kenal dengan Salma." bisik Bara sekali lagi.     "Iya ..." kata Niana, sambil menarik nafas panjang, setelah sekian lama dia akan bertemuahi dengan istri kedua papanya.     Niana juga mewarnai rambutnya menjadi warna kecoklatan dengan tatanan yang curly berhasil membuat kecantikannya bertambah.     Mereka bertiga berangkat, mereka sengaja sampai di sana dan bergabung saat menjelang penutupan penawaran, dan saat Niana melangkah kedalam dia mendengar hitungan mundur untuk closing sudah di mulai.    "Tunggu..." tahan Niana dengan berwibawa, dia diiringi Bara dan Brian melangkah menyusuri red karpet itu.    Semua mata lantas tertuju pada mereka bertiga.    "Ehmmm siapa anda, apakah anda sudah mendaftar dan berada dalam data pelelangan ini?" tanya salah satu anak buah Salma.    "Perkenalkan saya Rayya, saya baru datang dari Birmingham semalam hanya untuk mendapatkan space di pelelangan ini, karena Desta de Drago amat memukau bagi para pecinta seni." jawab Niana.     "OOO... Anda berminat mengikuti lelang ini? Tapi kami sudah mendapatkan harga tertinggi barusan." jawab karyawan itu tadi.     "Berapa harga tertinggi yang sudah disebutkan sebelumnya?" tanya Niana sambil membuka topi lebarnya.    "Niana..." ucap Salma lirih.    "Bukan... Itu bukan Niana, Niana udah mati waktu itu." tepis nya kemudian.      "Tapiii... Kenapa rasanya aneh ya, dia 100% mirip banget sama anak siapa itu." batin Salma.     "Curiga gue..." tambahnya.     "Harga tertinggi tadi adalah $10.000 nona." jawab salah satu dari mereka.     "Okke saya tutup dengan $30.000." kata Niana.     Hakim mengetok palu yang menandakan lelang selesai dengan harga tertinggi di berikan oleh Niana.     "Tunggu..." ucap Salma.     Niana yang semula sudah berseri wajahnya kini agak berdebar-debar.     "Maaf Nona, kami tidak bisa melepas Desta de Drago pada sembarang orang." kata Salma.     "Maaf maksudnya?" tanya Niana.     Bara menggenggam tangan Niana, untuk menjaga agar Niana tidak grogi dan takut menghadapi Salma.    "Anda tidak percaya saya memiliki $30.000 untuk membawa Desta de Drago?" tanya Niana kemudian.     "Ohh tentu bukan itu nona, maksudnya kami, kami hanya melepas Desta de Drago pada orang-orang yang benar-benar mencintai nya, mencintai seni dan berdarah seni, karena biola ini amat berarti bagi saya, saya tidak ini kedepan mendengar berita bahwa Desta de Drago telah diterlantarkan begitu saja." kata Salma.    "Lalu..." tanya Niana.    "Apakah anda bisa membuktikan kepada kami, kalau anda orang yang tepat?" tanya Salma, dia tau kalau Niana lemah dan tidak bisa memainkan biola, apalagi ditambah trauma atas kepergian orangtuanya, yang menganggap biola ini begitu berharga, tentu saja Hal ini adalah tekanan tersendiri pada gadis itu.    Agak lama menunggu, Salma tersenyum dengan pongah, dia tau bahwa gadis cantik di depannya adalah Niana, entah kenapa dia lupa mempertimbangkan tentang parasnya.    "Tentu saja... Bara adalah pesuruh yang akan menghabisi Niana waktu itu, dan pastinya gadis itu menggunakan pesonannya untuk membuat bara cinta sama dia, hingga berhasil mengelabui ku atas kematian dirinya. Sialan mereka." umpat Salma dalam hati.    "Karena anda tidak bisa membuktikan pada kami, maka mohon maaf harga anda kami tolak, dan saya buka kembali penawaran dari $10.000." putus Salma, sambil kembali berjalan ke tempat duduknya.    Tanpa ia sadari Niana berjalan mendekati Desta de Drago, dia mengambl biola itu dan mulai menggeseknya.    Instrumen yang sangat indah dan menyayat hati dari lagu Time to Say Goodbye nya Sarah Brightman, mengalun perlahan membuat sebagian dari mereka bahkan menitikkan airmata.    Salma berbalik dan sangat tercengang, dia tidak menyangka gadis itu bahkan memainkan biola itu dengan sangat profesional dan lembut.    "A... Apa..." ucap Salma.    Niana terus menyelesaikan permainannya dengan memejamkan mata, lagu itu adalah lagu favorit yang ia pelajari secara rahasia dari papa nya, sebagai surprise di ulang tahun papa nya. Namun semua berlalu dengan sangat tidak terduga, papa nya meninggal sebulan sebelum ulang tahunnya.    Tak terasa Niana menitikkan airmata, sementara jemarinya terus menari menyajikan harmoni yang sangat indah dari Desta de Drago.    Setelah lagu itu berakhir dia mengembalikan lagi Desta de Drago pada tempatnya, sementara Bara menghapus airmata Niana yang meleleh di pipinya.    "Ingat... Kamu si kuat Rayya, bukan Niana yang lemah. Jangan biarkan airmata ini, berbalik menyerangmu, jangan menangis, aku selalu ada di belakangmu." bisik Bara.    Niana mengangguk, dia mencoba tersenyum, walaupun hatinya terasa pedih usai memainkan instrument tersebut.    "I'am okay..." ucap Niana.    "Enggak... Kamu nangis." sahut Bara.    "Apakah Salma akan membiarkan aku membawa Desta de Drago milik mendiang orang tuaku?" tanya Niana pelan.     "Kita lihat saja." jawab Bara.     "Kalau ternyata tidak?" tanya Niana kemudian.     "Aku akan melakukan apapun untuk kamu." jawab Bara.     "Seperti apa?" tanya Niana.     "Baiklah... Kami sudah memutuskan hasil dari pelelangan ini, dan hasilnya adalah, kami menerima penawaran tertinggi dari nona Rayya untuk Desta de Drago." kata Hakim membacakan putusan.    Seketika Niana tersenyum bahagia dengan airmata di pelupuk mata.    "Pa... Aku Desta de Drago dari mereka." kata Niana dalam hati.     "Silakan nona Rayya!" ucap Salma dengan sangat tidak tulus, karena dia yakin kalau Rayya adalah Niana.     Brian membawa Biola bersejarah bagi keluarga Niana itu kedalam mobil, sementara Bara berjalan di belakang Niana. Sampai di tempat mereka memarkir mobil Brian meletakkan biola itu baik-baik di bagasi, sedangkan Bara membukakan pintu untuk Niana.     Sampai di dalam mobil Niana tidak bisa lagi menahan airmatanya.      "Duduk belakang sana, tenangin dia!" kata Brian mengambil kemudi.     "Udahhh sana." kata Brian.     Bara menuruti permintaan adiknya dan duduk di samping Niana.     "Kamu kenapa nangis lagi?" tanya Bara.     "Jangan tanya! Dijelasin juga kamu nggak bakalan ngerti." kata Niana.     "Ya udah... Yaudah lanjutin lagi nangisnya, aku tau kok, gimana perasaan kamu." ucap Bara.     "Btw... $30.000 itu banyak banget, aku mana bisa balikin duit kamu sebanyak itu." keluh Niana.     "Udah pakai aja, kan kemarin aku udah bilang, aku bisa dapat sebanyak itu hanya dalam satu dua kali misi." kata Bara.     Niana menatap Bara lekat-lekat. Bara justru tertawa.     "Beneran..." ulang Bara.     "Aku kan pesuruh terganteng dan terkeren abad ini." kata Bara.     "Diihhh sombong banget sih jadi orang." kata Niana sambil memukul Bara.     "Serius .. pakai aja." kata Bara kemudian.     "Aku janji akan balikin pelan-pelan ya, banyak banget yang udah kamu kasih ke aku, sampai aku nggak sanggup buat balas Budi." kata Niana.    "Udah... Budi nggak ikutan kok, jangan dibalas." kata Bara.     "Iihhh ngeselin banget sih." kata Niana.     "Hahaha..." bara kembali tertawa.     "Tapi... Kenapa kamu tadi nangis?" tanya Bara kemudian.     "Lagu itu adalah lagu yang aku pelajari secara rahasia dari papa, jadi aku di sekolah sambil ngajar, aku belajar biola, namun sebelum hari ulang tahun papa, papa udah ninggalin aku untuk selamanya, dan papa belum tau, kalau aku bisa memainkan biola." jawab Niana.    "Papa kamu pasti bangga, karena putrinya yang nggak kompeten sekarang berhasil mengambil kembali Desta de Drago miliknya." kata Bara sambil mengusap rambut Niana.     "Ehhh anjing... Nggak kompeten..." kata Niana.     "Hahahaha emang iya kan..." kata Bara.     "Iya tapi jangan terang-terangan gitu ngomongnya, dasar...." protes Niana.     "Ya harus gimana emang?" Tanya Bara.     "Ya nggak tau... Tapi cantik kannn?" Niana balik bertanya.     "Iya kamu cantik..." jawab Bara.     Niana buru-buru mengalihkan pandangannya saat mata mereka bertemu.     "Na..." panggil Bara.     "Hmm..." jawab Niana tanpa berbalik.     "Malam ini... Kita makan diluar yuk." ajak Bara.     "Haaa... Serius?" tanya Niana.     "Iyaaa... Kamu mau?" tanya Bara.     "Mauu... Mauu." jawab Niana dengan senang hati.     "Kaya liat bocil pacaran tau nggak sih?" kata Brian.     "Kaga ada adegan kissing nya." tambah Brian kemudian.     "Napa sih Lo, sirik aja." kata Bara.     "Kissing nya udah sama Ellea soalnya." kata Niana lirih.     Bara lebih memilih diam, dia tidak tau menjawab apa.     "Btw kamu pingin makan apa? Dimana?" tanya Bara kemudian.     "Ehmmm aku pingin makan di itu,   Twin Pearly." jawab Niana.     "Ohhh tower yang ada gondolanya itu?" tanya Bara.     "Iyaaa.." Jawab Niana.     "Yaudah, nanti malam tunggu aku pulang kerja kita kesana ya, berdua aja, tanpa dia." kata Bara sambil menunjuk Brian dengan dagunya.    "Lagian siapa yang mau daftar jadi obat nyamuk." kata Brian.    "Emang kamu ada tugas apa setelah ini?" tanya Niana.     "Sebenarnya bukan tugas sih, tapi harus aku kerjakan." jawab Bara.     "Apa itu?" tanya Niana lagi.    "Ellea sakit, aku harus mengantarnya kerumah sakit." jawab Bara.    "Oh... Ehm, memangnya sakit apa?" tanya Niana.    "Dia menderita Aritmia, kamu tau yang detak jantung tidak beraturan itu." jawab Bara.     "Hah... Terus gimana?" tanya Niana.     "Iya.. keadaannya kadang tiba-tiba memburuk, ditambah konflik dengan saudaranya membuat Ellea makin tertekan akhir-akhir ini." jelas Bara.     "Dia sering tiba-tiba pingsan di mana saja, karena tidak bisa mengelola emosinya dengan baik. Ya karena sangat stress dan tekanan dari keluarganya yang lain." jelas Bara.    "Ehmmm... Pantes kamu perhatian banget ya sama dia." kata Niana.    "Cieee cemburu..." kata Bara.    "Enggak... Yee apaan sih." kata Niana.    "Yaudah habis ini aku ke tempat Ellea dulu ya, dia harus kerumah sakit karena kelelahan." kata Bara, yang disambut anggukan kepala oleh Niana.    "Aku janji nanti malam jam 7 aku udah pulang, dan kita bakalan ke Twin Pearly." tambah Bara.    "Iyaaa... Tapi aku balikin rambut aku jadi hitam ya, aku kaya aneh dandan kaya gini." pinta Niana.    "Iyaa .. terserah kamu, mau dandan kaya giman juga kamu tetap cantik kok." kata Bara.    "Hiliihh gombal." kata Niana.    "Beneran Na..." kata Bara.    "Dahlahh kalau kamu yang ngomong tuh berasa di gombalin buaya tau." kata Niana.    "Terserah dehh.. emang susah ya ngomong sama cewek, dibilang cantik katanya gombal, dibilang jelek marah." kata Bara lirih.     "Hehehhe... Kok kamu kesel gitu." kata Niana.     "Ya kan kamu yang bikin kesel... Gue cium juga nih anak lama-lama." kata Bara.     "Ehh Bara... Kamu tau nggak kok di ponsel aku suka ada kedip warna merah ya, padahal pas aku nyalain nggak ada notifikasi apapun loh?" tanya Niana yang tidak mendengar perkataan Bara barusan karena sibuk dengan ponselnya.    "Ehemmm...itu karena aku memasang alat pelacak di hp itu, makanya bawa kemanapun kamu pergi, biar aku tau kamu ada dimana." jawab Bara.    "Hahhh kenapa kamu pasang?" tanya Niana.     "Itu cuman pelacak lokasi doang kok, nggak ada sadapan lainnya." jawab Bara.     "Kamu itu dalam bahaya setatusnya jadi aku harus selalu mantau kamu." kata Bara kemudian.     "Ohhh gitu." jawab Niana.     "Kalau disaat yang bersamaan aku sama Ellea dalam bahaya, kamu bakalan lari kesiapa duluan?" tanya Niana.     "Ya aku nggak berhak sih nanya ini, karena aku juga bukan siapa-siapa kan, maksud aku ya cuma pingin tau aja." kata Niana meralat ucapannya.    "Ya aku bakalan usahain kalian berdua nggak ada dalam bahaya." jawab Bara.     "Itu bukan jawaban." protes Niana.     "Karena jawabannya hanya aku atau Ellea." tegas Niana.     "Hmmm... Harus banget ya." kata Bara.     "Hehehhe nggak bercanda kok." kata Niana, dia tau hal ini membuat bara berpikir keras dan tidak ada gunanya juga menanyakan hal seperti ini.     "Boleh ku tau, apakah penderita Aritmia bisa sembuh?" tanya Niana.     "Kurnag tau ya, tapi nanti aku coba buat tanya ke dokternya." kata Bara.     "Iya ..." jawab Bara.     "Boleh kau tidur bentar?" tanya Bara.     "Silakan." jawab Niana. Dia tau kalau Bara lelah sekali.     "Nanti bangunin aku begitu sampai ya!" pinta Bara.     "Iyaaa..." jawab Niana.     Dengan gampangnya dia bersandar pada bahu Niana.     "Nyanyiin lagu pengantar tidur dong." pinta Bara.     "Diihhh beneran boci." kesal Niana.     "Iya soalnya aku selalu ketakutan tidur sendirian." jawab Bara.     "Yaudah dengerin ya." kata Niana.     "Okke siap..." jawab Bara. I've been reading books of old The legends and the myths Achilles and his gold Hercules and his gifts Spider-Man's control And Batman with his fists And clearly I don't see myself upon that list But she said, where'd you wanna go? How much you wanna risk? I'm not lookin' for somebody With some superhuman gifts Some superhero Some fairy-tale bliss Just something I can turn to Somebody I can kiss.    "Aku suka lagu ini." ucap Bara sambil terkantuk-kantuk karena Niana terus mengulangi lagi tersebut.                              
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN