Sudah lebih dari jam 3 dini hari. Sebenarnya Niana masih sangat excited berada diluar rumah, akan tetapi sebentar lagi aktivitas sudah dimulai, dan kota juga akan terbangun dari tidurnya.
Sebenarnya Bara masih tidak tega mengakhiri kebahagiaan Niana, tapi aku bagaimana lagi, keberadaannya diluar bersama satu perempuan dan laki-laki pasti akan menjadi pertanyaaan bagi pihak-pihak tertentu yang mengetahui selama ini dia bekerja sendirian.
"Na..." panggil Bara, Niana masih terpaku menatap gemerlap lampu kota yang menabur bak bintang di langit malam.
Bangunan ini memang tertinggi di kota Bara dengan total 69 lantai. Dan saat ini mereka berada di lantai teratas.
"Hmmm..." Niana barbalik ke arah Bara yang memanggilnya.
"Pulang yuk udah jam 3 lebih!" ajak Bara.
Niana tetap tersenyum sambil mengangguk. Dia tau hal semacam ini bakalan sulit ia temukan dalam hidupnya setelah kematian pura-pura nya.
"Janji next time kita kesini lagi." ucap Bara.
"Iya ..." jawab Niana.
"Biar aku yang bawa mobilnya, kamu duduk belakang sama Niana, keliatan kalau dia ngantuk banget!" kata Brian sambil merebut kunci mobil yang dipegang oleh Bara.
Niana berjalan mendahului mereka, namun begitu mereka ingin masuk lift untuk menuruni bangunan, tiba-tiba dari dalam lift muncul beberapa orang, Bara dengan reflek menarik Niana dan merangkulnya, dia menutup wajah Niana dengan Hoodie yang dipakai Niana.
Sementara Brian berjalan di depan, menghalangi pandangan orang terhadap Niana.
Terus seperti itu sampai mereka tiba di bawah tempat mereka memarkir mobil di town hall tadi.
Bara membuka pintu mobil untuk Niana, kemudian masuk dan duduk disana.
Brian mulai menstarter mobilnya saat Bara juga sudah masuk. Benar saja belum lama mobil mereka melaju Niana sudah terkantuk-kantuk dan mulai terlelap saat Bara meletakkan kepala Niana di pundak nya.
"Dia itu ... Siapa?" tanya Brian.
"Dia adalah orang yang harusnya kubunuh." jawab Bara.
"Tapi aku tidak bisa... Membunuh seseorang yang dulu waktu kecil pernah aku selamatkan." lanjutnya.
"Ohhh seperti itu, aku pikir kalian memang tinggal bareng, aku nggak tau kalau kalian bersama karena urgensi." kata Brian.
"Memang informasi apa saja yang kamu dapat saat Sam memintamu untuk memata-matai ku?" tanya Bara.
"Pekerjaan, klien kamu, lantas belakang keluarga kamu, dan orang-orang terdekat kamu." jawab Brian.
"Darimana kamu tau ada Niana di dalam rumah ku?" tanya Bara.
"Kalau itu bukan aku yang kasih informasi ke Sam, mungkin ada salah satu dari yang lain, yang ngasih informasi ke Sam." jawab Brian.
"Sebenarnya apa alasan dia buat ngejadiin Niana jaminan agar aku mau membuat kesepakatan dengannya?" tanya Bara.
"Karena dia tau kelemahan kamu adalah Niana, dia kunci agar bisa bikin kamu bergabung dengannya." jawab Brian.
"Kamu tau apa yang aku pikirkan sekarang?" tanya Brian.
"Apa itu?" tanya Bara.
"Sam pasti bakalan bergerak mencari tau sosok Niana, siapa sebenarnya Niana, bayangin apa yang bakalan terjadi sama Niana kalau sampai Sam membongkar identitasnya pada klien kamu, yang seharusnya kamu sudah kamu habisi." kata Brian.
Bara terdiam sangat lama, dia memikirkan baik-baik perkataan Brian, ada benarnya, ayahnya pasti tidak akan tinggal diam.
"Kamu tenang aja." kata Bara.
"Mulai besok aku tidak akan ada dirumah sampai beberapa hari, aku percaya sama kamu tolong ... Tolong banget jagain Niana, kalau ada apa-apa kamu bisa telpon aku, kamu punya nomorku kan!" pinta Bara.
"Kamu mau kemana?" tanya Brian.
"Aku akan menyusup ke markas Sam." jawab Bara.
"Apa... Kamu gila? Mau cari mati?" tanya Brian.
"Mau ngapain kesana?" tanya Brian.
"Ada beberapa hal yang harus aku pastikan, kamu tenang aja, aku tau kamu nggak berani muncul di depan Sam, makanya aku nggak minta bantuan kamu, aku cuma minta kamu jagain Niana baik-baik, pastikan dia tetap berada dirumah dan makan dengan benar." kata Bara.
"Tapi..." ucap Brian sebenarnya keberatan Bara masuk ke markas Sam seorang diri.
"Kenapa?" tanya Bara.
"Enggak... Nggak papa, kamu hati-hati." ucap Brian.
"Oh iya... Kamu bisa masuk melalui sayap kiri, disana keamanan sangat weak, karena sayap kiri Villa Sang Timur hanyalah dapur dan tempat para pelayan berada. Bahkan tidak ada pengamanan yang serius di sana." ucap Brian.
"Ohhh okkee okke thank..." jawab Bara.
"Begitu masuk ke Greenland, menepilah ke sisi kiri, semua aktivitas berpusat di Utara dan kanan Villa sedangkan sisi kiri sangat lemah, kamu bisa masuk dengan mudah kesana." tambah Bara.
"Iyaa okke..." jawab Bara.
"Makasih banyak informasinya." kata Bara pada Brian sang mantan orang kepercayann ayah mereka.
Mereka tiba dirumah hampir subuh. Brian keluar setelah membawa masuk mobil mereka ke garasi, kemudian berjalan terhuyung masuk kerumah karena ngantuk berat.
Sedangkan Bara yang terbiasa terjaga semalaman, mengangkat Niana yang tengah lelap dalam tidurnya. Dia membawa Niana masuk ke kamar. Membaringkan perlahan tak lupa menarik selimut Niana sebatas d**a.
"Kasian banget nih anak, sebenarnya masih pingin diluar tadi, ya habis gimana lagi, demi kebaikan kamu juga Na..." batin Bara, dia mengusap lembut kening Niana.
Di usapan yang ketiga dia menghentikan tangannya mengambang 5 cm karena terlihat Niana menggeliat.
"Dahh tidur yang nyenyak ya... Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu." ucap Bara.
Setelah itu Bara keluar, dia masuk ke kamarnya, menyiapkan beberapa hal yang ia butuhkan untuk pekerjaan nya esok hari.
Dia juga memastikan sistem keamanan dirumahnya berfungsi dengan baik, termasuk kabin rahasia di kamarnya.
"Masalahnya aku bisa mempercayakan Niana pada Brian nggak." ucap Bara, dia begitu kalut, mengingat siapa sebenarnya Brian.
"Hal pertama yang harus aku selesaikan adalah mencari tau kebenaran cerita Brian. Jika semuanya terbukti benar, maka bisa dipastikan dia memang adik ku, dan aku bisa dengan tenang meninggalkan Niana bersamanya." pikir Bara.
"Tapi kalau bukan..." ucap Bara menggantung.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Niana terbangun dengan kondisi lebih segar, setelah bangkit dan merapikan tempat tidurnya dia berjalan ke kamar mandi untuk mandi.
Usai mandi dan mengganti baju, dia mulai berjalan menuju dapur, bersiap memasak. Namun matanya tertuju pada kamar Bara. Pintu nya terbuka dan lampunya mati, sepertinya dia sengaja membiarkan pintu ya terbuka untuk mempersilakan cahaya dari luar masuk menyinari kamarnya.
"Tapi... Bukannya Bara nggak pernah mematikan lampu kamarnya." kata Niana.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Niana sambil menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamar Bara.
Tak ada seorang pun disana, ada rasa kecewa di hatinya. Dia kembali keluar lalu duduk di ujung anak tangga. Memeriksa ponselnya lalu menyimpan kembali.
"Bara enggak bilang mau pergi kemana." kata Niana.
Dia duduk di anak tangga paling bawah, sambil melamun. Brian yang sudah bangun karena ingin menuntaskan hasrat ke kamar mandi, melewati Niana begitu saja.
Niana beranjak dan pergi ke dapur untuk masak, dia sadar ada lagi satu perut yang harus dia kasih makan sekarang.
Setelah mengecek ponselnya untuk kesekian kalinya, Niana meletakkannya diatas meja dan mulai mengeluarkan sayuran segar dari dalam kulkas.
Brian yang sudah keluar dari kamar mandi, mendekati Niana, dia melihat Niana memasak.
"Bara kemana?" tanya Niana.
"Ada kerjaan selama beberapa hari, dia nggak pulang, dan nyuruh aku memastikan kamu makan dengan baik." jawab Brian.
"Ehmmm..." jawab Niana.
"Iya tentu saja... Aku memang bukan prioritas, makanya dia nggak perlu susah-susah ngabarin aku mau kemana." lanjut Niana.
"Kata siapa, kamu prioritas dia kok." jawab Brian.
"Nggak usah ngebelain Abang kamu." sahut Niana.
"Dah sini bantuin motong Sawi, kamu mau makan kan? Jangan mau enaknya doang!" kata Niana.
"Jangan badmood, nggak dipamitin bukan berarti nggak disayang." kata Brian.
"Dia hanya nggak mau kamu kepikiran karena dia bakalan nggak pulang selama beberapa hari." tambah Bara.
"Iya iyaa..." kata Niana.
Mereka berdua melanjutkan memasak sampai selesai, dan lanjut sarapan pagi.
Siang harinya saat Brian tengah memantau cctv dikamar Bara, yang sudah mendapatkan izin sebelumnya, tiba-tiba dikejutkan oleh Niana yang tiba-tiba masuk.
"Brian... Boleh minta tolong nggak?" tanya Niana.
"Minta tolong apa Na?" tanya Brian.
"Tolong banget ya... Tolong beliin aku pembalut, Iam on my period." jawab Niana.
"Ehmm pembalut yang maksudnya pembalut untuk wanita yang buat menstruasi?" tanya Brian.
"Iya itu..." jawab Niana.
"Aku nggak pernah beli pembalut Na, malu..." kata Brian.
"Ya kali aku beli sendiri, sama Bra nggak boleh keluar kan." kata Niana.
"Ya terus gimana, belinya dimana sih?" tanya Brian.
"Di toko bangunan... Ya banyak Yan, di minimarket mana aja juga ada." kata Niana.
"Yaudah kamu ikut aku deh, tunggu di mobil aja, jangan kemana-mana." kata Brian.
"Iya udah ayo buruannn!" ajak Niana.
"Nihh pakai masker kamu!" perintah Brian.
"Ya kan aku cuma nunggu di mobil yan." kata Niana.
"Nurut aja Napa, kalau aku bisa beli sendirian, ya udah aku beliin." kata Brian.
"Udah pake aja!" ulang Brian.
Niana hanya menuruti permintaan Brian. Mereka berangkat ke sebuah supermarket, karena lebih dekat dari rumah.
Sampai di depan supermarket tersebut, Brian masuk sambil menghafal nama merk dan karakteristik pembalut yang diminta oleh Niana.
Sementara Niana di dalam mobil bersantai menunggu Brian, seneng banget bisa keluar rumah di siang hari pikir Niana.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah Jumbo Tron yang tengah menyajikan informasi breaking news. Mereka parkir outdoor sehingga nampak jumbo Tron di seberang jalan.
Salma istri kedua mendiang Shandi Albar, sang pengusaha industri alat musik, tengah melelang Biola iconic Desta de Drago dengan pembukaan harga yang sangat fantastis.
"Apa... Apa yang dilakukan wanita itu, biola itu adalah biola kesayangan papa, itu saksi sejarah buat papa atas usahanya mulai dari nol. Dengan biola itu pula papa ngelamar mama, lancang sekali dia." kata Niana penuh amarah.
"Jadi kapan acara lelang ini akan dibuka?" tanya pembawa acara itu.
"Minggu depan, saat ini kami sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pelelangan tersebut." jawab Salma.
"Kalau boleh tau ibu... Kenapa nih Bu Salma berniat melelang Biola itu?" tanya pembawa acara.
"Ya sebenarnya sih nggak ada alasan khusus sih mbak, tapi ya bisa dikatakan hasil lelang nanti juga akhirnya untuk perusahaan." jawab Salma.
"Ehmmm ini artinya finansial perusahaan alat musik ini tengah mengalami kesulitan begitu?" tanya pembawa acara.
"Enggak mbak, sama sekali enggak ya, saya tegaskan, kondisi perusahaan baik-baik saja sampai saat ini, karena saya berhasil mengurus nya dengan baik." jawab Salma.
"Oh baik ibu, semoga acara lelang berjalan lancar dan Desta de Drago mendapatkan harga terbaik nya." ucap Pembawa acara.
"Iya terimakasih." jawab Salma.
"Sama-sama Bu Salma, dan kami juga mengucapkan terimakasih banyak karena sudah mengizinkan kami melakukan peliputan di acara lelang mendatang." ucap Pembawa acara.
"Oh iya... Sama-sama." ucap Salma.
Acara breaking news pun kembali ke studio dengan anchor yang membubui berita lelang tersebut dengan headline, untuk menghapus kenangan pada suami dan istri pertama Salma Dinata memutuskan melelang Desta de Drago.
"Nggak... Dia nggak berhak ngelakuin itu, itu semua milik orang tua aku, papa... Mama, aku harus apa, bahkan Salma sudah membunuh ku saat ini." ucap Niana.
"Aku harus bagaimana, aku nggak bisa tinggal diam dan melihat kehancuran usaha papa sama Mama, dia hanya orang asing yang beruntung masuk ke dalam hidup kami." lanjut Niana.
"Kamu sedang apa?" tanya Brian sambil menyerahkan kantong plastik pesanan Niana.
"Lagi kesel." jawab Niana.
Brian melihat kearah jumbo Tron yang menjadi pusat perhatian Niana.
"Kamu kenal sama orang-orang itu?" tanya Brian kemudian.
Niana menoleh kearah Brian. Dia menerima kantong plastik itu dan meletakkannya di pangkuannya.
"Tunggu dulu... Wanita itu bukannya..." ucap Brian terpotong.
"Kamu kenal sama dia?" tanya Niana balik pada Brian.
"Dia pernah menjadi klien ku." jawab Brian.
"Hah?" tanya Niana.
"Iya dia.. bukannya crazy rich yang ditinggal mati suaminya kan." kata Brian.
"Iya... Itu papa ku, dan aku yakin dia dibunuh." jawab Niana pelan.
"Apaa..." ucap Brian.
"Kok kamu kaget gitu?" tanya Niana.
"Enggak aku hanya kaget karena kamu anaknya laki-laki itu." jawab Brian.
"Iya terus..." kata Niana.
"Jangan bilang kamu yang disuruh Salma buat bunuh papa ku." serang Niana.
"Eh... Enggak kok enggak, bukan itu, dia pernah jadi klien itu dalam hal penyelundupan gitar tiruan." kata Brian.
"Haaahhh ..." seru Niana.
"Itu udah lama banget, aku nggak bisa jelasin sekarang." kata Brian.
Niana menahan emosinya. Dia membuang muka ke jendela.
"Aku nggak tau kalau itu mama kamu." ucap Brian.
"Dia memang istri papaku, tapi dia bukan mamaku." sahut Niana.
"Oh..." jawab Brian pendek.
"Maafin aku Na... Aku yang udah ngebunuh papa kamu." ungkap Brian dalam hati.
"Brian..." panggil Niana.
"Apa?" jawab Brian.
"Menurutmu... Apakah Bara punya banyak uang?" tanya Niana.
"Hmmm pastinya banyak." jawab Brian.
"Kamu tau, sekalinya dia nuntasin tugas bisa mendapat ratusan juta." ucap Brian.
"Masa sih?" tanya Niana.
"Iya... Kamu butuh uang?" tanya Brian.
"Pakai punya saja nggak papa, aku juga punya banyak uang kok." usul Brian.
"Hmm.. iya terimakasih." tolak Niana.
"Kalau boleh tau buat apa?" tanya Brian.
Niana hanya terdiam.