Cemburu nya Niana

2020 Kata
   Bara keluar dari persembunyiannya tepat saat pria itu menusuk suami klien nya di perut. Rudi nama suami dari Marry Ann itu tersungkur di lantai.    Bara mendekati Rudi. Dia mencoba menolong laki-laki yang nyaris kehilangan kesadaran itu. Bara keluar dari sana dan meminta tolong orang-orang yang kebetulan lewat, karena tidak mungkin baginya keluar membawa korban penusukan seorang diri, bisa saja dia dianggap tersangka oleh orang-orang itu.        Menggunakan mobil Bara, mereka membawa Rudi kerumah sakit terdekat. Pria malang itu mendapatkan pertolongan pertama beberapa saat setelah mereka tiba di rumahsakit.    Agak lama Bara menunggu, namun kondisi Rudi tidak kunjung membaik, di tengah kesadarannya Rudi memanggil Bara.    "Terimakasih sudah menolong saya, tolong sampaikan permintaan maaf saya untuk istri saya, saya tau kamu orang yang di sewa istri saya untuk mencari tau kebenaran yang terjadi pada saya." ucap Rudi dengan lemah.    "Apa yang terjadi pada anda, dan siapa orang itu tadi?" tanya Bara.    "Dulu saya bersama 4 orang sahabat saya berkuliah di Inggris. Bertahun-tahun bersama kami saling dekat satu sama lain, lulus kuliah kamu berlima tidak langsung kembali ke tanah air, kami mencoba peruntungan dengan mencari pekerjaan di sana. Hingga suatu hari Beni diterima bekerja di sebuah bank lokal di kota Paddington. Setelah itu Surya yang memiliki keahlian bermain piano juga beruntung menjadi seorang guru privat piano untuk anak berusia 11 tahun di kota yang sama, tidak lama berselang Han dan Ardi juga mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan periklanan. Hanya aku yang senantiasa menganggur. Suatu hari ditengah keputusasaan ku aku mengenal gadis cantik bernama Marry Ann, dia adalah dari keluarga kaya raya pemilik industri garment, aku sangat beruntung, aku benar-benar berjuang membuat gadis itu cinta kepadaku, aku berhasil dan akhirnya kami menikah, rupanya hal ini membuat iri dengki para sahabatku. Dia menghasutku untuk melakukan perampokan paling keji sepanjang abad ini. Mereka tau jumlah kekayaan keluarga Marry Ann dan mulai terbutakan oleh duniawi, mereka membunuh seluruh keluarga mengambil dokumen dan surat-surat berharga lalu menghilang bak ditelan bumi. Menyisakan Marry Ann yang tengah terpuruk. Aku membawa pulang Marry, kami memulai hidup baru disini. Sebelum hal itu terjadi ayah Marry sudah memberikan sejumlah harta padaku. Aku menjadikan itu modal usaha disini. Beberapa bulan lalu mulai muncul mereka berempat mengusikku, mereka meminta pencairan dana atas aset keluarga Marry Ann yang ternyata telah berganti dengan nama ku disana. Mereka memintaku untuk melakukan itu atau akan membongkar insiden perampokan dan kebakaran beberapa tahun silam kepada Marry bahwa aku terlibat bersama mereka, aku sangat mencintai istriku, aku tidak mau mereka mengancamku dan membuat Marry benci padaku. Aku mulai membunuh Han di pertemuan kami, kemudian Beni, lalu Surya, dan pria terlahir tadi adalah Ardi, dia tau aku membunuh ketiga teman kami, dia sangat marah dan memintaku bertemu tadi, dia mengancam kalau aku tidak menemuinya di tempat yang dia minta, maka dia akan menemui Ki dirumah dihadapan Marry. Tanpa diskusi apapun dia langsung menyerangku tadi, aku tau aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi." papar Rudi.    "Tolong sampaikan permintaan maaf ku padanya, jangan sampai dia mengetahui kisah yang sebenarnya, biarkan dia tetap mencintaiku sampai aku menutup mata." ucap Rudi yang kemudian dia benar-benar menutup mata untuk selamanya.    Bara terpaku di tempatnya. Ini adalah misi gagal pertamanya. Dia berhasil mengetahui apapun yang terjadi pada suami kliennya, namun dia gagal menyelamatkan Rudi. Mungkin ini adalah balasan untuk Rudi juga yang tega menghabisi nyawa keempat rekannya karena merasa terancam. Namun membunuh bukanlah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh bukan.    Bara menelpon Marry dan mengabarkan bahwa suaminya telah berpulang.     "Rupanya karena warisan keluarga itulah yang menjadikan Rudi banyak uang." kata Bara.    Tidak lama Marry Ann dan ketiga anaknya datang kerumah sakit, mereka menemui Bara sedang menunggu didepan kamar jenazah.    Marry sangat terpukul dengan kepergian Rudi, dia menangis sampai tak bersuara. Wajahnya memerah, cinta 25 tahun itu masih sama, Bara hanya menceritakan hal kematian Rudi tanpa menyinggung apapun yang melatarbelakanginya.    Dia tidak mau kepergian Rudi dihantarkan dengan kekecewaan dan kebencian Marry.    Setelah itu Bara pulang. Sepanjang perjalanan dia terus berpikir. Suatu saat dia akan mati dan seseorang akan menangisi kepergiannya seperti Marry menangisi kepergian suaminya.    Dia tidak bisa membayangkan jika sosok itu adalah Niana, tidak. Dia tidak menginginkan hal itu terjadi. Kemungkinan bisa saja salah, bisa jadi Niana lah yang akan meninggalkannya terlebih dulu karena musuh-musuhnya. Bara segera menepis pikiran negatif nya dan kembali menyetir.     Hujan mulai turun, Bara menyalakan wipernya untuk membuka jalinan tirai air hujan di kaca depannya.    "Hujan di tengah malam begini, membuat suasana hatiku memburuk." kata Bara.    "Sebenarnya aku ingin mencari tahu tentang Brian, tapi udah tengah malam gini, nggak mungkin juga kan aku ke panti asuhan buat nanya-nanya." kata Bara.    Dia memutuskan untuk pulang kerumah. Dilihatnya lampu masih menyala, dia masuk dan mendapati Niana tengah memanaskan makan malam. Di sebelahnya ada Brian yang menemaninya.    "Kalian sedang apa?" tanya Bara begitu sampai di dekat mereka.    "Memanaskan makan malam." jawab Niana singkat.    "Makan malam?" tanya Bara.    "Dia melarang ku makan duluan karena kamu belum pulang." keluh Brian.    "Aku juga belum makan." sahut Niana.     "Kenapa kalian nggak makan duluan? Ya kalau aku bakalan pulang kalau nggak, kalian nggak akan makan tanpa aku?" tanya Bara.    "Kalau aku sih makan aja, aku seharian belum makan dan lapar banget." kata Brian.    "Yaudah sana makan." kata Bara pada Brian.    "Kamu juga Na..." kata Bara.    Niana terdiam. Dia mengangkat panci berisi sup itu keatas meja makan.    "Dia nungguin kamu." kata Brian.    "Jangan bodoh, kamu bisa makan sendiri tanpa aku, lain kali jangan tunggu aku." kata Bara. Dia mulai mengambil piring dan nasi untuk Niana.    "Besok aku pergi pagi sekali, ngga tau pulang jam berapa." kata Bara.    "Kamu tidak perlu menungguku." kata Bara.    "Hmmmm..." kata Niana.    "Pastikan dia makan dengan benar!" kata Bara pada Brian.     "Fungsi lain dari punya adek kan." kata Brian.     "Apa aku perlu memanggilmu Kakak ipar?" tanya Brian pada Niana.     "Bukan aku, kakak ipar kamu Ellea." kata Niana dengan singkat. Membuat Bara tersedak makannya.     "Siapa Ellea?" tanya Brian.     Niana mengangkat bahu. Kemudian melanjutkan makannya.      "Na... Hari ini kamu Ulang tahun kan?" tanya Bara.     "Enggak..." jawab Niana.     "Sekarang adalah 15 Desember hari ulang tahun dari Rayya. Identitas baru kamu, kamu lupa?" tanya Bara.     "Oh... Iya. Tapi bukan aku yang sebenarnya." kata Niana.     "Tapi mulai sekarang kamu adalah Rayya. Kamu ingat?" ulang Bara.     "Iyaaa.." Jawab Niana.     "Mau keluar nggak?" tanya Bara.     "Hahh???" Niana langsung tertegun.     "Katanya pingin jalan-jalan?" tanya Bara kemudian.     "Emang boleh?" tanya Niana lagi.     "Boleh kalau sama aku, kalau sendirian nggak boleh." jawab Bara.     "Ya udah mau..." kata Niana.     "Ya udah habisin dulu makannya!" perintah Bara.     Niana mengangguk dengan sangat bersemangat dia menghabiskan malamnya.      "Pakai pakaian yang aku beliin kemarin ya!" pinta Bara.     "Siappp Tuan!" ujar Niana sambil tersenyum senang.     "Yaudah biar aku jadi security, kalian kalau mau pacaran, pacaran aja biar aku yang jaga keadaan." kata Brian menawarkan diri.    "Siapa yang ngajakin kamu, aku cuma pingin berduaan?" kata Bara.     "Siapa yang mau ikutan, aku cuma mau jagain Niana, kalau kamu sih, aku tau bisa jaga diri sendiri." kata Brian.    "Nggak dia aku yang jagain, kamu jaga rumah aja!" kata Bara.    "Kamu percaya ninggalin aku sendirian, kalau aku nyuri data kamu dan kuserahin ke Sam?" tanya Brian.    "Jangan bodoh!" kata Bara yang sebenarnya percaya pada Brian, sambil menggetok kepala Brian dengan centong nasi.    "Sakit tau..." ucap Brian.    "Kamu takut sendirian di rumah, takut di samperin anak buah Sam?" tanya Bara.    Brian terdiam.    "Yaudah ikut aja!" kata Bara.    "Aku nggak akan gangguin kalian kok, anggep aja aku nggak ada." kata Brian.    "Nggak papa lagi, kita jalan bertiga." kata Niana.    "Kok kamu welcome ke dia?" tanya Bara.     "Lagian aku kan. Ulang pacar kamu, Iam not taken, right?" kata Niana.     Bara mendengus kesal.    "Nih cewek kenapa nggak peka sih, masa iya aku kudu teriak di kupingnya kalau aku sayang sama dia, aku cinta sama dia, aku.. aku hanya seperti perumpamaan klasik Matahari yang mencintai Bumi dengan jaraknya, masa iya aku kudu ngejelasin kalau Matahari mendekat ke Bumi yang ada Bumi akan hancur. Masa gitu aja dia nggak tau sih." batin Bara.    Akhirnya mereka berangkat dengan naik mobil Bara.    "Jangan berekspektasi terlalu tinggi ya, kita hanya jalan-jalan, nggak ada bioskop, nggak ada restauran, nggak ada kafe, nggak ada tempat hiburan, nggak ada toko boneka, nggak ada toko bunga, nggak ada Komidi putar di jam segini." kata Bara.    "Iya... Aku tau." ucap Niana.    Sampai di town hall, mereka turun, tak ada seorang pun di alun-alun kota jam segini. Sangat sepi.    Niana bisa bebas berlarian kesana kemari seperti anak kecil, entah sudah berapa lama Bara mengurung Niana di dalam rumah, keluar seperti ini pun, Niana harus memakai Parka oversize dan masker untuk menyembunyikan jatidiri Niana.    Niana melongok ke kolam, ada banyak koin di dasar kolam air mancur itu.    "Biasanya mereka melempar koin kemudian mengucapkan permintaan mereka disini." kata Brian.    "Oh ya?" tanya Niana.    "Kamu mau bikin permintaan?" tanya Brian.     "Aku nggak punya koin." jawab Niana.     Brian merogoh saku celananya dan mendapati sebuah koin disana lalu memberikan pada Niana.    Sementara Bara hanya memperhatikan mereka berdua.     "Wahhh makasih." ucap Niana.    "Dekap kaya gini, lalu buat permohonan, kemudian lempar koinnya kedalam sana." ucap Brian.    Niana menuruti arahan Brian. Setelah itu Brian pergi dari sana dan memilih duduk di sebuah bangku yang tidak jauh dari tempat mereka.    "Aku... Hanya ingin, Bahagia." ucap Niana dalam hati sambil memejamkan matanya.    Setelah itu dia melempar koin itu kedalam kolam.     "Wahhhh nggak nyangka, harapan ku, berada disana bersama harapan dari ribuan orang lainnya." kata Niana.    "Kamu... Pingin apa Na?" tanya Bara.    "Rahasia, nanti kalau aku mengucapkannya kan jadi terkabul." kata Niana.    "Hahh mana ada yang seperti itu." kata Bara sambil tertawa.    "Terserah..." jawab Niana.    "Kamu nggak pingin buat satu permintaan di sini?" tanya Niana.    "Kamu percaya akan terwujud suatu saat nanti?" Bara balik bertanya.    "Hmmm... Nggak tau, tapi bisa nggak sih kamu nggak ngerusak mood ku." ucap Niana.    Dia terlihat kesal dan kecewa. Bara jadi merasa bersalah harusnya dia bisa menjaga kebahagiaan Niana yang tak seberapa itu.    Bara mendekat, dia merengkuh Niana kedalam pelukannya. Memeluknya dengan hangat sambil mengusap punggung Niana.    "Maaf..." ucap Bara.    Niana yang berada dalam pelukan pria tampan itu terasa freeze dan mute dunianya.    Bara melepaskan pelukannya menurunkan masker Niana lalu mencium gadis itu. Sentuhan antar bibir itu berubah menjadi interaksi yang lebih dalam, Bara melumat dan menghisap bibir Niana yang menyisakan rasa vanila karena tadi dia sempat minum segelas s**u usai makan malam.    Niana hanya terdiam, dia meneguk ludahnya dan tidak berani membalas ciuman Bara.    "Sadar Na... Jangan kesenengen, dia juga melakukannya dengan Ellea dan mungkin gadis lainnya." kata Niana dalam hati.    Setelah ciuman itu, Bara kemudian menaikkan kembali masker Niana. Dan mengusap rambut gadis di depannya.    "Aku baru saja membuat permintaan, bedanya kamu meletakkan harapanmu di kolam, aku meletakkan harapan ku... Padamu." kata Bara.    "Ma... Maksud kamu?" tanya Niana.     "Aku harap kamu bisa terus bahagia, bagiku sudah cukup, aku bahagia karena melihat kamu bahagia." jawab Bara.    Niana tertegun, dia buru-buru mengalihkan pandangannya. Takut bapernya salah tempat.    "Makasih." ucap Niana.    "Sebenarnya na... Aku..." ucap Bara.    "Ayooo ke sana Na.. bagus banget bisa lihat ke penjuru kota." ucap Brian seraya menarik Niana dan menunjuk ke sebuah sebuah gedung bertingkat dimana di Brian dulu pernah kesana.    "Emang kita bisa masuk?" tanya Niana.    "Bisa tenang aja tangganya ada diluar kok." jawab Brian.    "Dasar bocah setan... Gangguin aja." kesal Bara.    "Nggak ikhlas banget liat aku bahagia bentar aja, jadi curiga beneran adik bukan sih." kesal Bara, dia hanya mengikuti Brian dan Niana dari belakang.    "Gimana rasanya ya... Siang hari berada di tempat ini." kata Niana.    "Kamu nggak pernah kesini?" tanya Brian.     "Nggak pernah... Dulu aku anak orang kaya loh gini-gini, tapi setelah papa meninggal, aku dikurung sama istri kedua papa sampe aku dewasa, cuman boleh keluar jam kuliah aja, terus pas udah lulus aku kabur dari rumah, aku kerja dan hidup di asrama, nggak pernah keluar juga, takut di ketemu sama anak buah istri papa ku." jawab Niana.    "Oohhh... Pantesan." kata Brian.    "Kenapa? Aku norak banget ya?" tanya Niana.    "Haahh Bara pasti malu banget jalan sama aku." kata Niana kemudian.    "Enggak kok, hanya saja pantesan kamu belum pernah naik keatas sana." jawab Brian.    "Bara seneng bisa jalan sama kamu." kata Brian selanjutnya.    "Tau darimana kamu?" tanya Niana.     "Yaa... Kamu nggak mungkin kan berciuman sama orang yang nggak kamu suka?" kata Brian.     "Tapi... Bara juga sering berciuman dengan Ellea, artinya dia juga menyukai Ellea?" tanya Niana.                        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN