Begitu sampai dirumah, setelah turun dari motor, Niana langsung masuk kedalam, tanpa mempedulikan Bara yang masih harus memasukkan motornya ke garasi.
Setelah meneguk segelas air putih, dia duduk di ranjangnya. Sejenak kemudian meraih selimut dan menyembunyikan diri dibalik selimut.
Tidak dipungkiri, Niana masih syok dan ketakutan pada peristiwa yang baru saja dia alami.
Bara yang baru saja selesai dengan motornya lantas mengunci gerbang dan pintu depan.
Dia melihat ke tempat daging Niana, gadis itu tidak ada disana. Lalu berjalan perlahan menghampiri kamar Niana. Memutar handle tanpa suara dan benar saja, Niana tengah meringkuk dibalik selimutnya.
"Na..." panggil Bara.
Tidak ada sahutan, Niana tetap membelakanginya dan menatap tembok putih di kamar itu.
"Na... Kamu nggak papa?" tanya Bara.
Niana berbalik, dia mencoba tersenyum, lalu mengangguk.
"Aku nggak papa." jawab Niana.
"Di kamus cewek, kalau dia bilang nggak papa, itu artinya dia kenapa-napa." kata Bara.
"Kamu.... Janga takut, aku janji hal kaya tadi nggak bakalan terjadi lagi. Percaya sama aku." ucap Bara berusaha meyakinkan Niana.
"Aku hanya takut... Aku pikir aku aman bersamamu, dirumah kamu, tapi ternyata, mereka masih menculikku di tempat ini." kata Niana.
"Aku akan memasang keamanan ganda, kamu jangan khawatir." kata Bara.
"Kenapa kamu mendadak perhatian sama aku?" tanya Niana yang merasa aneh.
"Karena... Karena aku masih punya hutang tentang daging itu." ucap Bara gelagapan.
"Udah makan aja, aku hanya bercanda kok, aku bisa masak lagi yang lebih banyak." kata Niana.
Bara terdiam. Entah kenapa Niana yang seperti ini lebih membuatnya takut daripada Niana yang bawel da cerewet.
Lebih takut kehilangan tepatnya. Bara duduk di samping Niana.
"Kamu boleh tidur di kamar ku, kalau kamu merasa tidak aman disini." ucap Bara.
"Maksud aku... Aku ganti tidur disini." ralat Bara.
"Nggak perlu nggak papa kok, aku percaya sama kamu, aku tau.. kamu sering tidur disini dan peluk aku. Kenapa? Kamu sebenarnya takut sendirian kan?" tanya Niana.
"A... Apa, enggak kok, sorry sebenarnya... Ehmmm." Bara sibuk mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Niana.
"Nggak papa kok, aku tau kamu selalu mimpi buruk, kamu butuh temen kan." kata Niana.
"Bu... Bukan maksud aku, ehhh ingat ya, sekalipun kita tinggal bareng disini, selalu ada batasan buat kita, antara aku sama kamu." kata Bara berlagak bijak.
"Iyaaaa iyaaaa..." jawab Niana.
"Yaudah sana makan dagingnya, udah dingin nanti keras lagi." kata Niana.
"Kamu nggak makan?" tanya Bara.
"Enggak..." jawab Niana singkat.
"Yaudah kamu istirahat ya, aku keluar dulu..." kata Bara sambil beranjak pergi.
"Oh iya.... I have crush on you, artinya apa?" kata Bara lagi.
"Jangan pura-pura bego..." ucap Niana sambil melemparkan bantal kearah Bara.
Bara tertawa lalu keluar lagi dari kamar Niana.
"Ehmmm masa sih Bara beneran nggak tau, impossible deh... Apa jangan-jangan rasa ini hanya aku ngerasain, nggak adil banget, sejak kecil aku suka sama dia, tapi dia tanggepannya gitu doang. Waktu dia bilang suka sama aku itu beneran nggak sih, aku halu apa gimana?" ucap Niana.
Bara masuk ke kamarnya, dia merebahkan diri diatas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar yang di sana nampak bola lampu yang berpendar setiap saat. Bara tidak pernah mematikan lampu di kamarnya.
Alasannya cukup menyedihkan, terakhir kali sebelum ibunya meninggal, ibu Bara memintanya untuk menyalakan lampu, di saat itu dia melihat ibunya sudah lemah tak berdaya.
"Ibu nggak papa?" tanya Bara.
"Nggak papa... Ibu hanya capek banget pingin istirahat." jawab ibu Bara.
"Ibu sakit?" tanya Bara lagi.
Ibunya menggelengkan kepala, namun nafasnya sudah hanya sekali dua kali saja.
"Kalau ibu pergi, kamu harus jadi anak laki-laki yang kuat, kamu harus bisa jaga diri..." ucap ibu bara memberikan pesan-pesan terakhirnya.
"Ibu jangan pernah pergi kemanapun, Bara ikut kemana ibu pergi." tangis Bara kecil waktu itu.
"Katanya kamu mau cari ayah kamu? Kamu harus jadi anak yang kuat, jangan cengeng, kalau takut, nyalain lampunya maka ibu akan selalu ada buat kamu." kata ibunya dan mulai tak terdengar suaranya.
Tangis Bara pecah saat melihat ibunya sudah tidak bernafas lagi. Tanpa ia tau kapan ayahnya datang, tiba-tiba dia dihajar habis-habisan oleh ayahnya, entah emosi karena apa, yang jelas ayah Bara menggila saat kematian ibu Bara.
"Ibu... Bara nggak tau kenapa laki-laki itu pingin ambil Niana dari Bara." kata Bara.
"Apa aku harus membawa Niana ke tempat lain, aku takut dia akan mengirim anak buahnya kembali Bu..." lanjutnya.
Sementara itu di tempat Ayah Bara. Pria itu tengah menuang sebotol minuman mahal ke gelas nya.
Matanya tidak fokus pada minuman itu, rupanya ada hal yang sedang ia pikirkan.
"Terus cari kelemahan Bara, dan buat dia mau bergabung dengan kita!" titahnya.
"Baik Pak." jawab salah satu anak buahnya.
Setelah itu laki-laki yang sama, yang menguntit Bara belakangan ini, dan berhasil mencuri foto Niana diam-diam itu, mulai beraksi lagi.
Bara yang tengah rebahan tiba-tiba teringat dengan nomor yang telah membantunya tadi.
"Ehhh iya bener juga, siapa laki-laki di telepon tadi ya, dia adalah mantan anak buah si b******k itu, maksudnya mau bantuin aku gimana ceritanya. Apa aku telpon balik?" tanya Bara pada dirinya sendiri.
Bara memutuskan untuk menelpon pria itu. Sekali dua kali terdengar nada hubung panggilan. Sesaat kemudian terdengar suara laki-laki yang tadi akrab di telinganya.
"Ada apa?" tanya Laki-laki itu.
"Kamu siapa? Haruskah aku menemui mu untuk berterimakasih?" Tanya Bara.
Laki-laki di seberang telepon itu tertawa sesaat.
"Aku yang akan menemui mu. Tunggu dirumah saja, kamu tidak mungkin meninggalkan dia dirumah sendirian kan?" tanya laki-laki itu kemudian mematikan panggilannya.
"Dia tau rumah ku???" tanya Bara dalam hati.
"Akuu... Harus percaya nggak sih?" Bara terus bertanya-tanya.
Ada keraguan dalam dirinya, karena selama ini dia tidak pernah menaruh rasa percaya pada siapapun.
Tidak lama seseorang terdengar memencet bel berkali-kali. bara tersadar dari lamunannya dan segera turun untuk membuka pintu.
Di saat yang sama Niana juga terbangun, dia keluar kamar dan melihat Bara tengah menerima tamu.
"Siapa... Katanya dia nggak pernah Nerima tamu?" ucap Niana.
"Aku Brian..." ucap laki-laki itu pada Bara.
"Kamu... Dapat nomor aku dari siapa, dan sejauh apa hubungan kamu sama Sam?" tanya Bara.
"Huhhh..." Brian mendengus.
"Aku adalah tangan kanan ayah kamu, aku orang kepercayaan nya." jawab Brian.
"Kenapa kamu membantuku dan mengkhianatinya? Kamu nggak sedang ngejebak aku kan? Ya begi sih kalau aku masih nanya?" kata Bara kemudian.
Brian tersenyum.
"Dia yang nyuruh aku ngintai kamu, dapatin informasi pribadi tentang kamu dan segala hal tentang kamu termasuk Niana yang menjadi kelemahan kamu. Ya mungkin itu adalah tugas terakhir bagiku... Sampai aku tau kenyataan bahwa..." ucap Brian menggantung.
"Bahwa apa?" tanya Bara.
"Bahwa kamu adalah Abang ku sendiri." jawab Brian.
"Apa.... Hahahaha udah jangan ngarang cerita, aku anak tunggal, aku nggak punya saudara sampai ibu aku meninggal." jawab Bara.
"Sebenarnya Sam bukan ayah kamu, dia ayah ku... Aku juga baru mengetahui semua kenyataannya setelah mencari tau siapa diri kamu sebenarnya." jelas Brian.
"Ibu kamu menikah dengan seorang pria kaya, berkebangsaan asing, dia punya seorang anak laki-laki yaitu kamu, setahun setelah menikah, terjadi kudeta di keluarganya, demi menyingkirkan ibu kamu, keluarga itu melakukan segala hal, rupanya hal ini bermula dari ide seorang wanita yang mencintai pria Rusia itu sejak lama, setelah ibu kamu meninggalkan rumah pria itu, si kaya raya itu lantas menikah dengan wanita itu, dan ibu kamu juga mendapatkan pengganti ayah kamu. Dia menikah dengan Sam. Dan punya seorang anak yaitu aku. Menurut ibu panti tempat ku berada, katanya ibu kandung aku membawaku ke panti, karena beliau tidak sanggup merawat dia anak yang masih kecil dengan seorang suami yang suka main tangan dan kasar, ibu menginginkan aku kelak diadopsi oleh keluarga yang baik yang sayang sama aku, ibu hanya membawamu sampai akhir hayatnya. Aku ada foto ini, yang mungkin kamu juga akan menemukannya di suatu tempat, dimana ibu kamu menyimpan barang-barang pribadinya." jelas Brian panjang lebar dengan menunjukkan sebuah foto. Foto masa kecil Bara dengan ibunya dan juga seorang bayi laki-laki yang masih dalam gendongan.
"Sam bahkan lupa bahwa dia punya dua orang anak, aku sangat kecewa begitu tau bahwa laki-laki adikuasa dan biadab tanpa rasa kemanusiaan yang selama menjadi tuan ku adalah ayahku sendiri. Aku ingin pergi darinya, tapi aku tidak tau harus kemana, aku takut dia memburu ku dan membunuhku saat dia tau aku mengkhianati nya." kata Brian.
"Tugas terakhir yang dia berikan padaku saat aku keluar dari villa itu detik ini adalah, terus mengorek kelemahanmu, dengan tujuan, meminta kamu bergabung dengannya, mengancam dengan kelemahan kamu untuk mau menjadi anak buahnya. Karena kamu hebat." jelas Brian.
"Aku tidak tau harus bagaimana, tapi jika yang kamu katakan itu benar, maka selama ini aku tidak sendirian, kita menghadapi musuh yang sama."kata Bara.
"Tolong... Bawa aku bersamamu, aku akan membantumu." pinta Brian.
Bara melihat kearah Niana yang berdiri diambang pintu.
"Kalau aku jadi kamu, aku pasti seneng kalau ternyata aku punya saudara, walaupun nggak seayah tapi seibu kan." kata Niana.
"Kamu tau... Aku mungkin belum 100% percaya pada ceritamu, tapi kalau kamu butuh tempat tinggal sementara kamu bisa tinggal disini, anggap aja sebagai balas budiku telah membantu menginformasikan keberadaan Niana kemarin." kata Bara.
"Sampai aku memberikan keputusan berikutnya." tambah Bara.
"Iya..." jawab Brian.
"Apakah aku perlu membersihkan namamu?" tanya Bara.
"Terserah kamu, kalau kamu belum percaya padaku kamu nggak perlu melakukan itu." jawab Brian.
"Okkee... Ada kamar di..." ucap Bara menunjuk sebuah kamar di samping kamar Niana.
Niana mengikuti kemana jari telunjuk Bara menunjuk.
"Kamu keberatan kalau aku tidur di sebelah kamar pacar kamu?" tanya Brian.
"Ehh... Enggak enggak, dia bukan pacarku, tidur saja disana." kata Bara kemudian, sambil menarik telunjuknya.
Sementara Niana mendengus kesal. Segitu nggak mau nya Bara menjadi pacarnya.
Dia kembali masuk ke kamarnya meninggalkan dua orang pria itu.
"Dia marah karena kamu nggak mengakui dia sebagai pacar kamu." kata Brian.
"Jangan sok tau!" kata Bara.
"Emang itu yang aku lihat." kata Brian.
"Kenapa begitu?" tanya Bara kemudian.
"Aku bahkan tidak bisa mengatakan kalau aku cinta sama dia." jawab Bara.
"Ya kamu tau kan... Pekerjaan kita ini berbahaya untuk mereka yang kita sayang, kita lebih banyak lawan daripada kawan." jelas Bara.
"Aku nggak mau dia terluka hanya karena sttatusnya sebagai pacarku." tambah Bara.
"Hmmm..." gumam Brian.
"Jangan punya pikiran buat deketin dia, yang tau diri, udah ditampung juga..." sembur Bara.
"Iyaaa... Tapi gimana kalau dia yang ngedeketin aku duluan, katanya moment emas nggak boleh di sia-siakan." kata Brian yang langsung dibalas timpukan bantal oleh Bara.
"Ya akal-akalan kamu aja." kata Bara.
"Malam ini aku ada tugas, kamu jaga rumah yang bener, seenggaknya kalau kamu beneran adikku, biar ada gunanya dikit kamu disini." kata Bara.
"Sarkas banget... Iyaaa iyaa tau." kata Brian.
Malam harinya Bara berangkat menjalankan tugasnya, dia berangkat ke sebuah stasiun kereta api, tugasnya kali ini berasal dari seorang wanita kaya, yang menginginkan Bara untuk menguak pekerjaan sebenarnya suaminya, dia curiga suaminya adalah seorang pembunuh bayaran, mengingat beberapakali dia mendapati semacam percikan noda darah di pakaiannya. Suaminya mengaku bekerja sebagai direktur executive di sebuah perusahaan, namun dia tidak pernah berangkat memakai kendaraan pribadinya, dia lebih suka naik kereta api, sungguh kehidupan yang sangat kontras.
Akhinya setelah menunggu dan memperhatikan setiap orang yang turun ke stasiun ini. Dari banyaknya orang dia menangkap sosok pria seperti dalam foto yang bawa. Pria itu memang memakai setelan jas sangat rapi layaknya orang kantoran.
Bara mengikuti kemana pria itu pergi tanpa dicurigai.
"Suami saya selalu memperlakukan saya dengan baik, dia memanjakan saya, dia tidak pernah sekalipun membiarkan saya melakukan pekerjaan rumah tangga, untuk setiap hal kecil pun, dia sediakan asisten untuk saya, uangnya banyak mas, saya tidak pernah kekurangan kalau dalam hal finansial." Bara masih terngiang pada penuturan wanita peruh baya yang menghubunginya melalui telepon beberapa jam sebelumnya.
"Namun ada yang mengganjal hati saya, dia tidak pernah terbuka pada saya tentang hal apapun, termasuk pekerjaan dan masalah apa yang tengah ia hadapi, dia tidak mau membuat saya memikirkan hal yang tidak harus saya pikirkan." tambahnya.
"Begitu cintanya suami ana terhadap anda nyonya." ucap Bara.
"Iya tapi saya justru khawatir, karena saya tidak tau latar belakang suami saya dengan baik, kami menikah di luar negeri 25 tahun yang lalu, sampai sekarang tinggal dan menetap disini. Entah apa yang terjadi beberapa kali, dalam 3 bulan terakhir dia pulang dengan kondisi sangat lelah, ada noda darah di pakaiannya. Apa mungkin dia menjadi pembunuh bayaran, hingga uangnya sangat banyak. Tapi kalau dia mampu membunuh, kenapa terkadang ada kecemasan dan ketakutan yang seakan ia sembunyikan dari saya, selama 3 bulan ini pula, dia tidak mau bekerja dengan membawa mobilnya sendiri, dia lebih memilih naik kereta." jelas perempuan itu.
"Kalau dia mengalami ketakutan akan hal tertentu bukannya lebih masuk akal baginya untuk menghindari keramaian, kenapa dia justru memutuskan berada di keramaian?" tanya Bara.
"Apa pekerjaan suami anda nyonya?" tambahnya.
"Setau saya, sejak menikah dengan saya, dia mengatakan bahwa dia adalah direktur di sebuah perusahaan eksportir biji kopi." jawab Marry Ann.
"Baiklah saya akan mengabari anda selanjtnya." kata Bara.
"Jangan khawatir dengan bayaran yang akan kamu terima mas, saya akan memberikan lebih jika pekerjaan anda baik." kata Wanita itu.
"Baik nyonya." ucap Bara.
Pengintaian Bara sampai di sebuah bangunan tua tak terpakai di dekat stasiun kereta tadi.
Laki-laki suami nyonya Marry Ann tadi masuk kesana. Bara terus mengikuti tanpa di curigai. Pria itu terlihat celingukan, namun tiba-tiba muncul sosok pria seusainya dan menikamnya dengan pisau berkali-kali. Bara tergagap dia tidak sanggup berbuat banyak, ini diluar jangakauannya.
Namun rasa kemanusiaan membuatnya bertindak membela suami nyonya Marry Ann yang sudah tidak berdaya itu.