jadian hari pertama

1006 Kata
Fania mengajak Johan bertemu ditempat biasa mereka bertemu. Ya, taman bermain tempat mereka membolos dulu. Fania mengambil ponselnya meski saat sedang bersama teman-temannya di kantin dan mengirimkan pesan pada Johan. "Ketemu hari ini di taman bermain" Pesan itu langsung dibalas oleh Johan dan iya menyetujui permintaannya. "Cieee lo kirim pesan sama si Johan ya," ledek Angel yang tengah mengintip layar ponse milik Fania. Fania mengangguk. "Jadi beneran lo mau terima dia," tanya Lucy yang belum mendapat jawaban pasti dari Fania. "Kayanya gitu," jawabnya singkat. "Ahh nggak seru nih jawabannya! masa masih kayanya," ketus Lucy. "Iya Fan, yang bener dong jawabnya," singgung Angel. "Iyah gue bakal terima! lo tau nggak tadi itu sebenarnya gue nggak sengaja cium dia. Eh malah dia nyium gue balik," bisik Fania yang tak ingin terdengar oleh anak-anak di kantin sekolahnya. "Dari kejadian itu gue langsung nyadar kalau sebenarny gue itu suka sama dia!! cuma gue masih galau aja harus pacaran atau cukup jadi teman dia" Fania melanjutkan ceritanya. Angel dan Lucy langsung senang mendengar jawaban Fania. "Cocok tuh Fan! udah lo jadian aja sama dia. Jadikan kalau kita ngadate bisa bareng-bareng gitu," balas Angel. "Iya Fan. Bosen gue ngadate cuma sama Angel dan pacarnya doang. Biar rame kita berenam. Sekali-kali kita ke pantai liburan bareng pacar!!" kata Lucy dengan antusiasnya. "Iyah seru juga sih! yaudah lihat nanti ya!" ucap Fania. Tiba-tiba suara ricuh terdengar tak jauh dari meja kantin yang saat ini diduduki oleh Fania, Angel dan Lucy. Rupanya Johan datang ke kantin dan menyebabkan kericuhan anak-anak lainnya. "Nggak biasanya itu bos datang kesini. Biasanya nyuruh anak buahnya terus," ucap salah satu anak yang santai duduk di kantin sekolah dekat dengan posisi Johan. Anak yang lain pun menyahuti perkataannya. "Ada maunya kali. Atau mungkin mau makan siang doang," celetuknya. Johan datang tak sendiri. Ia didampingi oleh anak buahnya. Dan ada satu orang yang menarik perhatian Fania. Itu dia orangnya, Baby yang saat ini menjadi musuh Fania. Baby ada disamping Johan seolah-olah seperti pacar Johan saat ini. Kemanapun Johan pergi selalu saja ada Baby. Orang-orang mengira kalau Baby adalah pacar Johan. "Sst itu pacarnya bos itu ya," bisik-bisik anak lainnya. "Mungkin iya! soalnya akhir-akhir ini gue sering lihat mereka berdua," jawab anak lainnya. Fania mendengar anak-anak lain berbisik-bisik. Sudah tidak ada lagi rumor tentang kedekatannya bersama Johan semenjak Johan sering terlihat berjalan bersama Baby. "Fan lo liat tuh si Baby. Kenapa anak-anak lain malah ngiranya dia pacarnya Johan ya," tanya Lucy heran. "Nggak tahu tuh. Tapi si Baby kan jadi kacung Johan semenjak kegep ternyata dia ketua fans clubnya itu," jawab Angel. Fania hanya diam memerhatikan Johan, Baby hingga anak buahnya yang lain. Johan dan Baby duduk di kursi kantin. Rupanya kedatangan Johan hanyalah untuk mengecek keadaan Fania. Tetapi anak-anak lain malah berpikir Johan sedang memperkenalkan pacarnya kepada seluruh anak sekolah karena datang bersama Baby. Johan menepuk tangannya karena ia tahu menjadi pusat perhatian. Dia sengaja menepuk tangan agar dilihat oleh seluruh anak-anak. "Pengumuman! cewek ini bukan pacar gue (sambil menunjuk baby) jadi stop untuk gosipin gue dan dia pacaran! kedua, gue kesini cuma mau makan siang, jadi lo semua nggak perlu ribut," tegas Johan. Semua anak jadi terdiam. Kantin menjadi hening. Johan meminta Baby agar mengambilkan makanannya layaknya kacungnya. Anak-anak lain memperhatikan Baby yang daritadi sibuk untuk mengurus Johan. "Oh dia itu pembantunya kali," celetuk anak lainnya dengan pelan. Baby mendengar kata pembantu membuatnya menjadi kesal. Tapi itulah kenyataannya. Baby memang pembantu Johan saat ini selama sebulan kedepan. "Baby buruan! mana minum gue!" teriak Johan dan terdengar oleh seisi kantin. Fania semakin malas melihat Johan yang menarik perhatian dan dekat dengan Baby. "Yuk ah cabut!" ajak Fania yang sudah selesai memakan makan siangnya. Mereka bertiga berdiri dan meninggalkan kantin sekolah. Johan menatap tajam Fania dan tersenyum kecil. "Si baby itu nggak ada malunya. Mau-maunya dia jadi kacung Johan," ucap Lucy. "Dia terpaksa. Kalau nggak mau bisa-bisa dia nggak sekolah lagi. Siapa yang nggak takut sama Johan. Lagipula itu karena ulahnya sendiri," balas Angel. Fania malas menanggapi persoalan Baby. Baby baginya hanyalah penganggu kecil dan dia masih merasa kesal dan jengkel atas kelakuannya dulu. ***** Fania bertemu dengan Johan di taman bermain sepulang sekolah. Keduanya berbaikan. "Gue udah maafin lo," ucap Fania. "Trus? jadi pacar gue gimana?" tanya Johan balik. "Loh pacar lo bukannya Baby? anak-anak kan ramai ngomongin lo sama dia," kesal Fania. "Dih kesal lo ye! cemburu lo ya sama dia?" ejek Johan sambil mencubit pinggang Fania. "Apaan sih lo! gue serius," ucap Fania. "Udah jadi gimana? mau jadi pacar gue," desak Johan pada Fania. Johan sebenarnya tak mau ditolak oleh perempuan yang mendapat ciuman pertamanya. Ini kali pertama Johan mencoba ingin berpacaran. Harusnya nasib baik yang diterima preman sekolah ini. Dia masih menantikan jawaban dari Fania yang saat ini sedang berpikir. "Iya gue mau jadi pacar lo," jawab Fania pelan. "Apa? gue nggak dengar," ucap Johan yang sedang bercanda dan memastikan ucapan Fania. "Gue mau jadi pacar lo!!" teriak Fania yang membuat mereka saat ini dilihat oleh orang-orang sekitar yang berada di taman bermain itu. Johan tersenyum mendengar jawaban Fania. Seperti inilah jawaban yang ia nantikan. Johan meraih tangan Fania dan menggandengnya. Karena sangat senang dengan jawaban yang baru saja dia dengan, secara spontan dia mencium pipi Fania. "Lebay banget sih anak-anak remaja itu. Lagi kasmaran dan cinta monyet kayanya," sindir salah satu pengunjung. Mendengar sindiran itu Johan langsung melihat pria tersebut dan berteriak. "Lo yang monyet" Johan menarik tangan Fania dan berlari. Dia memancing kemarahan pengunjung itu. Sebenarnya dia tak terima dianggap masih cinta monyet dengan Fania. Mungkin saja Fania itu adalah jodohnya sampai tua nanti. Siapa yang tahu kan? Johan dan Fania melanjutkan jalan-jalan sore mereka. "Jo kalau teman-teman gue ngajak ngedate bareng lo mau nggak?" tanya Fania serius. Fania memang ingin merasakan ngedate bareng dengan teman-temannya. Ingin seru-seruan bareng. Namun berbeda dengan Johan. Dia malah tak suka jika harus pacaran berkumpul-kumpul seperti itu. Terutama jika kencan bersama akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit. "Nggak ah! cukup kita berdua saja," balas Johan membuat muka Fania sendu. Padahal impiannya adalah punya pacar yang bisa diajak kemanapun pergi bersama teman-temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN