Fania tidak terima penolakan dari Johan Satria yang saat ini sudah menjadi pacarnya. Ia terus meminta agar Johan mengikuti keinginannya.
"Please dong! kamu jangan egois. Aku pengen tuh kita bareng-bareng kumpul sama temanku," ajaknya sambil merengek.
Baru hari pertama pacaran, Fani sudah merengek dan sedikit-sedikit mulai menunjukkan sifat aslinya.
Dibalik sifatnya yang tangguh, Fania termasuk anak yang manja karena dia anak semata wayang dari kedua orangtuanya yang telah bercerai.
"Bukannya aku nggak mau, khawatir mereka malah takut sama aku," ucap Johan. Panggilan gue elo yang sehari-hari mereka ucapkan juga sudah berubah secara otomatis.
Fani dan Johan sepakat untuk saling memanggil dengan kata halus ya seperti aku dan kamu. Panggilan sayang mereka juga sudah disepakati. Hari pertama pacaran sangat banyak yang mereka siapkan.
Panggilan sayangnya yaitu ayang cocok sekali untuk dua remaja tersebut. "Ayang please!! dipikirkan lagi. Sabtu ini juga mereka akan kumpul bareng. Pengennya sih ke pantai setelah pulang sekolah," jelas Fania terus merengek.
"Yaudah kalau aku nggak sibuk, aku akan temani kamu," balas Johan.
Johan berpikir keras bagaimana ia mendapatkan uang untuk mengajak jalan Fania. Apalagi liburan ke pantai, perlu biaya yang besar dan kendaraan pribadi. Sedangkan Johan tidak punya kendaraan pribadi.
Ke sekolah saja ia selalu dijemput oleh Lhee, sahabatnya. Lhee sangat mengetahui sosok Johan Satria yang miskin. Keluarganya Johan juga sangat mengenal dekat Lhee.
Johan Satria tipikal orang yang baik tapi kejam. Sejak berada ditingkat SMP, Lhee dan Johan sudah bersahabat baik. Keduanya sering bersama, tak heran kini Lhee berada dibawah Johan dan menjadi anggota geng yang paling dekat dengan bosnya.
"Oh ya ayang, kalau ke pantai naik apa?" tanya Johan memastikan kendaraan mereka.
"Ya touring dong ayang. Pake motor, kamu bisa kan?" tanya Fania dengan nada lembutnya.
Johan mengangguk. Dia harus mencari pinjaman motor. Satu-satunya orang yang bersedia meminjamkannya adalah Lhee.
Tidak terasa matahari sudah terbenam. Fania dan Johan harus berpisah. Johan tidak mengantarkan Fania karena rumah mereka berbeda arah. Apalagi Johan juga tidak membawa kendaraan apapun, sulit baginya untuk mengantarkan Fania.
"Ayang kenapa sih kalau ke sekolah nggak mau pake motor?" tanga Fania saat menunggu angkot ditemani oleh Johan.
"Ribet kalau di sekolah! Aku juga nggak punya sim. Kalau ketahuan guru kan bisa diskors," Johan membuat alasan dan tidak memberitahukan kebenarannya.
"oooohhh gitu"
Fania memberhentikan angkot yang melintas. Ia berpamitan pada Johan karena harus lebih dulu pulang. Fania juga melambaikan tangannya dan dibalas oleh Johan dengan lambaian tangan juga.
Keduanya berpisah. Sebelumnya Johan sudah sepakat dengan Fania kalau harus merahasiakan hubungan mereka ketika di sekolah nanti.
Johan tidak mau anak-anak lain mengusik Fania jika mereka ketahuan pacaran. Sudah cukup bagi Fania untuk menerima ancaman dan surat teror sebelum mereka berpacaran.
*****
"Lhee gue pinjam motor lo! sekarang lo ke rumah gue ya" Johan mengirimkan pesan kepada Lhee. Rumah Lhee tidak terlalu jauh dengan rumah Johan, cukup memakan 10menit perjalanan.
Johan mengemasi barang-barangnya. Ia juga berpamitan pada kedua orangtuanya untuk pergi ke pantai. Belum bisa dipastikan apakah ia akan menginap atau tidak.
"Mama! aku izin mau ke pantai sama temanku. Kalau aku tidak pulang berarti aku akan menginap disana," ucap Johan pada ibunya.
Ibunya tersenyum dan memperbolehkan Johan untuk pergi. Ibunya tidak pernah melarangnya untuk melakukan perjalanan kemanapun. Baik sama teman-temannya ataupun sendiri. Hanya saja ibunya tidak pernah memberikan uang untuk Johan jajan ataupun uang akomodasinya.
Johan juga sudah mengerti tentang itu. Sehingga ia tidak pernah meminta uang pada ibunya, takut sekali dia akan membebani sang ibu yang sudah banyak pikiran untuk memenuhi kebutuhan di dapur karena uang yang diberikan ayahnya selalu kurang.
Lhee membunyikan klakson motornya dan langsung ditemui oleh Johan. "Nih motornya, emang lo mau kemana sih? kok nggak ngajak gue," tanya Lhee penasaran.
"Pacaran!" kata Johan singkat.
"Pacaran aja lo nggak ngajak gue. Gaya banget semenjak pacaran, bos gue ini kayanya bucin parah sama pacarnya. Preman takut pacar lo ye!" ledek Lhee sambil tertawa terbahak-bahak.
"Suka-suka lo deh! Kalau gue nggak balik berarti nginap ya. Mungkin besok gue balikin motor lo," balas Johan.
"Tenang bos! pake aja sepuas lo! bensinnya juga udah gue isi penuh. Aman lah lo," sahut Lhee.
Johan menyalakan mesin motornya dan berteriak pada ibunya. "Mama aku pergi dulu," Dia juga tidak lupa melambaikan tangannya pada Lhee.
Terpaksa Lhee akan pulang berjalan kaki. Motor Lhee termasuk motor yang bagus, karena keluarga Lhee memiliki ekonomi yang cukup bagus. Ayahnya seorang pengusaha, sementara ibunya hanyalah ibu rumah tangga.
Lhee juga anak satu-satunya sehingga ia sangat di manja. Kalau dia memalak uang anak lain hanyalah untuk kesenangan dan membantu Johan yang dia mengerti kondisi keuangannya.
Johan akhirnya menjemput Fania di depan rumahnya. Mereka kemudian langsung menuju rumah Angel, titik temu yang dijanjikan agar mereka berangkat bersama dari sana.
"Bawaan kamu banyak banget ayang," ucap Johan yang melihat tumpukan tas Fania yang digendong dan ditentengnya.
"Perlu persiapan banyak," jawab Fania.
Setiba di rumah Angel, Johan dan Fania berkenalan dengan pacarnya Angel dan Lucy. Keduanya khas anak motor dan memang berteman baik karena satu sekolah. Namun pacar teman Fania ternyata sudah mengenal Johan.
"Oh lo ketua geng di sekolah! gue udah sering dengar nama lo. Tampang lo bagus juga," ucap pacar Lucy, Jefri.
"Iya bro! lo terkenal banget! beruntung gue bisa ketemu lo," ucap pacar angel, Kemal.
Keduanya sangat senang bisa ketemu ketua geng paling terkenal ditingkat SMA se-Jakarta.
"Eh bro kok bisa lo pacaran? dengar kabar dari anak-anak lain bukannya lo anti pacaran ya?" tanya Jefri.
Fani, Angel dan Lucy langsung menatap wajah kaku Johan. Mereka memang tidak pernah melihat kalau Johan pernah berpacaran, tapi tak menyangka kalau seorang preman dikatakan anti pacaran.
Biasanya pria-pria bad boy seperti Johan sangat suka mempermainkan wanita. Tetapi mengapa malah Johan enggan mendekati wanita. Fania sangat beruntung karena dia adalah pacar pertama bagi Johan.
"Loh jadi Fania ini pacar pertama lo Jo," Kemal juga menyambung pertanyaan Jefri.
Johan bingung harus menjawab apa. Ia sangat tersipu malu jika ketahuan baru pertama kali pacaran dan terlihat sangat bucin karena menuruti semua keinginan Fania.
"Ehmmm.. Gue memang dulu anti pacaran. Tapi semenjak ketemu Fania, perasaan beda. Gue jatuh cinta sama dia! yap lo betul, kalau dia memang pacar pertama gue. Tapi tolong rahasiakan hal ini! anak-anak lain nggak boleh tahu kalau status gue sekarang sudah berpacaran," pinta Johan kepada Kemal dan Jefri.
Fania tersenyum namun hatinya menangis. Ia harus merahasiakan hubungannya dengan Johan sesuai permintaan Johan. Percuma berpacaran tapi tidak terekspose.
Ia harus siap menerima permintaan Johan, karena sudah resmi menjadi pacarnya dan tidak ingin merusak citra preman seorang Johan Satria apalagi ketahuan sampai bucin pada pacarnya.