Aleya terduduk lemas saat mendengar penuturan dokter. Anetha, putrinya, tak dapat di selamatkan. Bayi mungil itu sudah merenggang nyawa saat dibawa ke rumah sakit.
Seketika Aleya histeris. Ia menjerit sekuat-kuatnya. Tak kuasa menahan rasa sedih yang begitu dalam. Anak yang selama ini menjadi alasan ia bertahan dan tetap hidup, kini telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"ANETHA ...!" teriakan Aleya mengejutkan semua orang yang ada di dalam ruangan IGD tersebut. Isak tangisnya mengusik jiwa iba semua mata yang melihat kepadanya. Tak terkecuali Dira.
Perempuan berambut sepundak itu langsung terdiam di tempatnya berdiri dengan linangan air mata yang mulai membasahi pipinya. Dengan langkah pelan dan raga yang lemas seketika, Dira berjalan mendekati Aleya.
"Ya ... yang sabar ya?," lirih Dira.
Dalam posisi yang masih mendekap Anetha, Aleya menengadahkan kepalanya, melihat kepada teman baiknya itu. Raut wajahnya yang semula sudah sedikit tenang, kembali mendung dan akhirnya tangisnya pecah lagi.
"Ra ... anakku. Anakku Ra ...." Aleya terisak.
"Aku tahu, Ya. Aku harap kamu ikhlas ya?"
"Aku tidak tahu, Ra. Kenapa Anet bisa tiba-tiba kejang, dan akhirnya meninggal seperti ini. Padahal tadi pagi dia masih baik-baik saja." Aleya kembali mendekap tubuh kaku anaknya.
"Nanti kita akan cari tahu, ya? Sekarang kita urus dulu pemakaman Anetha. Lebih cepat lebih baik," ujar Dira.
Aleya mengangguk pelan. Dala keadaan tubuh yang begitu lemas dan nyaris tak sanggup untuk berdiri, Aleya berusaha untuk bangkit dan berjalan keluar dari ruangan NICU. Ia dan Dira membawa jenazah Anetha ke dalam ambulan, kemudian langsung membawanya ke pemakaman terdekat.
Sepanjang jalan menuju ke TPU Kota, Aleya tak henti-hentinya menangis dan meratapi kepergian Anetha. Dunianya seakan runtuh dan hilang dalam sekejap. Harta satu-satunya yang ia miliki, kini sudah kembali kepada pemiliknya. Anetha telah pergi.
Dan bersamaan dengan tanah kuburan yang mulai menutupi raga Anet yang telah terkubur, Aleya menjerit sekuat-kuatnya di pemakaman. Dira terus memegang kedua lengan Aleya, berusaha untuk menguatkan temannya itu.
Anetha, kini kamu sudah tidak ada lagi di sisi Mama sayang. Kamu sudah pergi. Mama sudah tidak punya lagi alasan untuk bertahan dan hidup di dunia ini.
"Aku mau ikut Anetha, Ra. Aku mau ikutan Anetha." Aleya sudah bersiap ingin masuk ke dalam liang kubur Anetha.
"Astagfirullah, Ya. Istighfar. Heh, kamu tida boleh seperti ini. Kamu harus kuat, Ya. Lihat aku ... lihat aku, Aleya Natasha." Dira sudah membingkai wajah pilu Aleya. "Dengar aku, kamu ... harus hidup. Kamu ... harus mencari tahu penyebab kematian anakmu. Kalau kamu menyerah sekarang, bagaimana kamu bisa mencari tahu sebab kematian anakmu."
Aleya terisak. Ia lalu menarik napas dalam. "Tapi aku tidak kuat, Ra. Anak aku sudah tidak ada. Buat apa aku hidup?"
"Dengar, Anetha mungkin memang sudah pergi. Tapi dia akan selalu ada di hati kamu, Ya. Dan aku yakin, dia pasti ingin melihat Mamanya, terus semangat dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Wake up, Ya. Kamu tidak sendiri. Ok?"
Aleya mengangguk pelan. Ia langsung memeluk Dira dan kembali menangis di dalam pelukan teman satu tempat kerjanya itu. Memang ini yang Aleya butuhkan saat ini, dukungan dan motivasi unik terus bangkit dan hidup. Sebab jiwanya saat ini benar-benar terguncang dan rapuh. Hanya butuh di mengerti dan sedikit empati.
Sayangnya, hal itu tidak ia dapatkan dari bapak anaknya, Brama. Ya, hingga Anetha terkubur di dalam tanah yang dingin, Brama tak kunjung merespon panggilan telepon dari Aleya. Jangankan menghubungi balik, mengirim satu pesan pun tak ada. Hal itulah yang membuat Aleya begitu kecewa campur sedih kepada calon mantan suaminya itu.
"Terima kasih, Ra. Kamu selalu ada untukku."
Dira tersenyum sembari mengelus punggung temannya itu. "Sabar ...."
Aleya lalu melepaskan pelukan Dira dan menatap sekali lagi kepada gundukan tanah yang ada di depannya. Ia kecup elus permukaan tanah tersebut dan seraya mengusap pelan air matanya.
"Mama akan mencari penyebab kematianmu sayang. Dan jika memang kamu pergi karena unsur kesengajaan, Mama tidak akan membiarkan orang itu hidup tenang."
Tidurlah dalam damai di pangkuan Tuhan, Anetha sayang ....
.
.
Aleya menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Aroma tubuh Anetha masih begitu terasa di kamar kos-kosannya itu. Ia pandangi semua perlengkapan Anetha yang masih berserakan di ruangan sempit itu. Air matanya kembali berderai. Rasanya masih begitu sakit. Kehilangan anak adalah hal yang begitu menyesakkan d**a. Aleya tidak sanggup melihatnya.
Perlahan ia masukkan satu persatu baju dan juga perlengkapan Anetha ke dalam kotak kardus. Ia akan menyimpan semua itu agar bayang-bayang kepedihan kehilangan Anetha dapat sedikit terkurangi. Sebab ia harus terus melanjutkan hidup, walau separuh jiwanya telah pergi meninggalkannya.
Kruk!
Aleya memegang perutnya yang berbunyi. Rasa lapar akhirnya menyeruak juga. Setelah semua yang terjadi, Aleya baru sadar jika ia belum memakan apa-apa sejak tadi. Ia pun segera bangkit dan berniat untuk mencari makan ke luar.
Namun, baru saja Aleya keluar dari dalam kamar kosnya, suara dering telepon genggamnya mengalihkan atensinya.
"Halo?"
"Bu, surat kematian Anetha sudah bisa di ambil ya?"
"Oh, baik. Saya akan segera ke sana."
Aleya segera berlalu ke tepian jalan untuk mencari ojek. Tak lama, ia sudah tiba di rumah sakit. Mengambil surat kematian Anetha dan kemudian kembali keluar dari rumah sakit tersebut.
Dengan posisi berjalan sembari memegangi surat kematian putrinya, Aleya terus melangkah menyusuri trotoar jalan dengan pandangan lurus seperti orang melamun.
Ia lalu berhenti di depan zebra cross dan berniat untuk menyeberangi jalan guna membeli makanan. Akan tetapi, baru saja ia melangkah beberapa langkah, suara teriakan seorang pria langsung mengalihkan atensinya.
"Awas ....!" pria itu datang menghampiri dirinya dengan cara berlari. Ia langsung menarik tangan Aleya dan membawa perempuan itu ke dalam pelukannya.
Mata Aleya membulat. Dengan cepat ia menolak pria tersebut dan mundur memberi jarak. Ia begitu terkejut karena pria tersebut bersikap spontanitas dalam memeluk dirinya. Aleya risih campur kesal. Namun ia hanya bisa diam dan bengong, persis seperti orang yang mati gaya.
"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu.
"Heuh?" Aleya malah terlihat bingung.
"Astaga, kau ini melamun di tengah jalan. Untung saja kau tidak tertabrak truk tadi." Napan pria itu terlihat tersengal-sengal.
Bukanya merespon ucapan pria tersebut, Aleya justru menangis dan menjerit di tengah keramaian orang. Sehingga membuat pria itu terkejut dan merasa bersalah. Ditambah dengan tatapan orang-orang yang tertuju kepada mereka berdua, ia semakin malu dan merasa seperti tertuduh.
"Heh, kenapa kau menangis. Orang-orang melihat kita. Mereka mengira jika aku berbuat sesuatu kepadamu. Kau bisa diam tidak?"
Namun apa pun yang pria itu katakan, Aleya tetap tidak peduli. Yang ia pikirkan hanya kematian anaknya saja. Surat di tangannya terus ia pegang dan genggam dengan erat. Rasanya masih begitu menghujam jantung hatinya.
Tanpa bertanya lagi, pria itu langsung mengambil surat tersebut dan membacanya. Disitulah ia tahu jika Aleya baru saja kehilangan anak yang masih berusia dua bulan. Sehingga menimbulkan rasa iba dan simpati pria tersebut.
"Aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau kau baru saja kehilangan putrimu."
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menyelamatkan ku. Aku permisi dulu." Aleya segera berlalu meninggalkan pria tersebut.
Pria itu hanya memperhatikannya saja. Hingga Aleya hilang dari pandangannya barulah ia kembali ke dalam mobilnya.
Namanya Aleya ....