Bab 22

1190 Kata

Sudah lama sejak peristiwa pembunuhan itu terjadi, Enda-mantan mertuanya Aleya, masih terlihat santai dan tenang. Ia bahkan belum tahu jika cucunya sendiri sudah meninggal akibat ulah perbuatan biadabnya. Enda pikir, Anetha-cucunya masih bersama Aleya dan baik-baik saja. Sebab yang ia dengar dari Brama memang begitu adanya. Pagi ini seperti biasa, perempuan tua itu tengah duduk santai di depan rumah seraya menikmati teh hangat. Hidupnya yang hedon dan tanpa kerja, hanya mengharapkan dari putra satu-satunya yang saat ini sudah menjadi seorang direktur. Betapa bahagianya ia. Dari jauh, Enda melihat Brama melangkah menuju rumah. Ia tahu jika kemarin putranya itu baru saja menjalani sidang putusan perceraian bersama Aleya. "Pagi Ma ...." "Pagi sayang, bagaimana kemarin?" tanya Enda langsu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN