Ditalak
“Mas Tegar?!”
Suara wanita yang bernama Rahmi itu bergetar, lebih karena menahan amarah yang membakar daripada kesedihan.
Tampaklah seorang pria bertubuh sedang dengan perut yang mulai membuncit, itulah pria yang baru saja Rahmi sebut namanya. Mas Tegar dan wanita yang ada di sampingnya terkejut dengan kehadiran Rahmi yang mendadak di sana.
Gelapnya malam di Jakarta tak mampu menutupi gejolak di d**a Rahmi. Detak jantungnya berpacu, seolah ingin keluar dari tempatnya. Perutnya mual, campuran antara rasa takut dan amarah. Di pelukannya, ponsel yang menampilkan alamat tempat karaoke itu terasa panas.
Selama ini ia sudah mencoba mengabaikan kecurigaan-kecurigaan yang ada. Bau parfum asing di baju Mas Tegar, alasan lembur yang tak masuk akal, dan tatapan dingin suaminya setiap kali ia bertanya. Namun, malam ini, ia tak bisa lagi berpura-pura.
Dengan langkah gontai, ia berdiri di depan sebuah ruko yang terlihat remang-remang. Lampu diskonya berkedip liar, memantulkan bayangan-bayangan aneh di sekelilingnya. Rahmi menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia harus kuat. Bukan untuk dirinya saja, tapi untuk anak mereka, yang kini berada di rumah bersama sang mertua.
Setelah menanyakan nomor bilik, ia berjalan menyusuri lorong yang sempit. Musik remix yang memekakkan telinga terdengar dari setiap bilik. Rahmi semakin yakin. Perutnya bergejolak, air matanya sudah siap tumpah. Sampai di bilik terakhir, ia pun berhenti.
Dari celah pintu, samar-samar ia mendengar tawa Mas Tegar. Tawa yang sudah lama tak ia dengar. Tawa yang seharusnya ia dapatkan. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, ia mendorong pintu itu kuat-kuat.
Brak!
Pintu bilik terbuka, menampilkan pemandangan yang menghancurkan seluruh dunianya. Di sana, di sofa merah tua, Mas Tegar duduk berdua dengan seorang wanita muda. Pakaian wanita itu berantakan. Mereka tampak begitu terkejut.
Tawa Mas Tegar terhenti seketika, matanya membelalak kaget. Di meja, ada tumpukan uang tunai berserakan dan beberapa ponsel yang menampakkan tampilan situs judi online, bersanding dengan struk penarikan tunai yang jelas menunjukkan nominal besar.
“Mas Tegar?” tanya wanita pemandu karaoke itu, suaranya manja dan khawatir. “Siapa dia?”
Rahmi mengepalkan tangannya. Matanya menatap tajam ke arah wanita di samping Mas Tegar. “Saya istrinya! Pergi sana! Dasar cewek murahan!” teriaknya.
Wanita itu tersentak, lalu seperti berniat untuk lari. Namun, Rahmi tak memberinya kesempatan. Dengan emosi yang memuncak, Rahmi menjambak rambut si wanita lalu menyeretnya keluar dari bilik. Wanita itu memberontak, namun Rahmi tak peduli. Ia terus menyeretnya sampai ke luar bilik.
“Jangan pernah kembali lagi!” bentak Rahmi, sebelum mendorong wanita itu hingga tersungkur di lantai.
Selanjutnya Rahmi kembali ke bilik itu, menatap Mas Tegar dengan pandangan penuh amarah. “Mas! Aku sudah tahu semuanya! Kamu habiskan uang kita buat judi, kan?! Ini yang kamu sebut kerja, hah?!”
Mas Tegar terdiam. Matanya menatap Rahmi dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Kemudian, perlahan, matanya berubah menjadi kebencian. “Kamu tuh ya, ganggu aja! Aku udah bilang, aku nggak suka sama kamu yang sekarang! Kamu tuh berubah! Aku nggak suka lihat kamu lusuh, gendut, nggak bisa dandan! Kamu itu udah nggak menarik lagi, Rahmi!”
Plak!
Tanpa berpikir panjang, Rahmi mengangkat tangannya dan menampar Mas Tegar. Tamparan itu keras, bahkan membuat kepala Mas Tegar sampai berpaling. Tamparan itu bukan sekadar tamparan fisik, melainkan luapan dari seluruh rasa sakit dan pengkhianatan yang Rahmi rasakan.
Pernyataan Mas Tegar menghancurkan hati Rahmi. Sejak melahirkan dua bulan lalu, ia memang merasa tidak percaya diri. Tubuhnya tidak seindah dulu. Namun, ia tidak menyangka, suaminya sendiri yang akan mengucapkan kata-kata itu.
Mas Tegar tak menjawab. Ia malah melontarkan kalimat yang menghancurkan segalanya. “Iya, ini salahmu! Kamu tuh nggak bisa ngerti aku! Aku tuh capek sama kamu! Mulai sekarang, kita selesai! Aku talak kamu! Ini talak ketiga, Rahmi! Nggak ada jalan kembali!”
Rahmi terdiam. Hatinya hancur. Talak ketiga. Itu artinya, ini benar-benar akhir.
“Baik, kalau itu yang kamu mau, Mas! Aku juga nggak sudi punya suami sepertimu!” balas Rahmi dengan jari telunjuknya mengarah tepat ke wajah.
Lalu ia berjalan keluar dari bilik itu, meninggalkan Mas Tegar. Air matanya tak bisa lagi ditahan. Ia merasa hancur, namun ada tekad yang kuat di dalam hatinya. Ia tak akan menyerah.
Rahmi tiba di rumahnya. Rumah itu terasa asing. Lampunya mati, tidak ada kehangatan. Ia berjalan ke kamar, mengemasi barang-barangnya. Hanya beberapa pakaian yang bisa ia bawa. Ia menggendong bayi mungilnya, memeluknya erat.
“Nak, maafkan Mama,” bisiknya.
“Rahmi, kamu udah pulang?” tanya Ibu mertua, suaranya terdengar dingin. “Ada apa? Kamu ribut lagi sama Mas Tegar?”
Ipah, adik Mas Tegar, ikut keluar dari kamar. “Palingan juga ribut karena uang. Udahlah, Mbak Rahmi! Mas Tegar itu capek. Kamu jangan Cuma bisa minta doang!”
“Aku udah nggak sama Mas Tegar lagi,” kata Rahmi, suaranya parau. “Mas Tegar udah talak aku. Ini talak ketiga.”
“Apa?!” tanya Ibu mertua, matanya membelalak kaget.
Namun, tak lama kemudian, ekspresinya berubah drastis. Ia tersenyum penuh kemenangan. “Bagus, berarti kamu sudah tahu diri. Memang udah seharusnya kamu pergi. Kamu Cuma bikin anak saya susah, Cuma merepotkan saja!”
Rahmi balas menatap ibu mertuanya dengan tenang. “Baik. Tanpa disuruh pun, saya memang akan pergi dari sini.”
Hinaan itu menusuk hatinya. Ia tahu, ia tak punya tempat lagi di rumah ini. Ia berjalan keluar, tanpa menoleh lagi.
Di luar, malam terasa dingin. Angin berembus kencang, seolah ingin ikut menghapus air matanya. Rahmi menggendong bayinya, memeluknya erat. Ia tak tahu harus ke mana. Namun, ia tahu, ia tidak akan menyerah.
Ia berjalan terus, lalu menaiki angkutan kota dengan sisa uang yang ada di kantong bajunya. Hingga ia pun tiba di depan sebuah rumah sederhana. Lampu terasnya sudah mati. Rumah itu adalah rumah orang tuanya. Ia berdiri di depan pintu, ragu-ragu. Haruskah ia masuk? Haruskah ia merepotkan orang tuanya? Namun, ia tak punya pilihan lain.
Dengan tangan bergetar, ia mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih kuat. Kali ini, ia mendengar suara langkah kaki dari dalam. Pintu terbuka, menampilkan wajah Ibunya yang tampak lelah.
“Rahmi? Itu kamu, Nak? Ada apa?” tanya Ibunya, suaranya terdengar khawatir. “Mana Tegar? Kenapa kamu sendirian?”
Rahmi tak mampu menjawab. Air matanya tumpah. Ia hanya bisa menangis. Di belakang Ibunya, Bapaknya ikut keluar. Matanya memancarkan kehangatan saat melihat cucunya.
“Ada apa, Nak? Kenapa kamu nangis?” tanya Bapaknya, suaranya lembut. “Masuk, Nak! Udah malem.”
Rahmi hanya bisa menangis. Ia memeluk Bapak dan Ibunya, menangis sejadi-jadinya. Tangisannya pecah, memecah keheningan malam. Ia tahu, ia telah kembali ke tempat yang seharusnya ia tuju.