Zee menjalani hari-harinya dengan bahagia di pesantren. Gadis itu semakin merasakan indahnya kehidupan kala libur tiba. Suami yang selalu dirindukan datang dan membawanya pergi. Seperti pasangan muda-mudi yang dimabuk cinta keduanya melepaskan rindu setiap kali bertemu. Ia bahkan merasa apa yang Syifa perbuat sedikitpun tidak membuatnya mengurangibkadar cinta yang ia simpan untuk Fatih. Seperti biasa lepas ta'lim ba'da subuh, seluruh santri diwajibkan membersihkan kamar terutama barang-barang pribadi milik masing-masing. Syifa sebagai ustazah sekaligus ketua kamar Fatimah, mulai bergerak dengan memukul-mukulkan sulak -pembersih debu- di tangannya. "Ukhty Dina ... ambil ini!" Syifa menarik sprei milik santriwati itu, agar dirapikan kembali. "Bukankah ana sudah mencontohkannya? Ini pering

