"Sakit rasanya melihat orang yang kita cintai dimiliki orang lain, tapi melihatnya menangis juga sama sakitnya."
***
Setelah berpamitan, Fatih membuka pintu belakang mobil membuat orangtua Zee dan Rahma bertanya-tanya. 'Kenapa pintu belakang yang di buka?'
Zee berjalan meletakkan tas di kursi belakang. Zee melalui Fatih, membuka pintu depan dan duduk di sana. Pria itu melihat Zee dengan heran. Namun, setelah melihat keluarga Zee yang melihatnya dengan ekspresi penuh tanya, Fatih paham dan segera menutup pintu mobil lalu duduk di kursi kendali di sebelah Zee. Keduanya lalu melambai yang dibalas lambaian tangan pula oleh keluarga Zee.
Di perjalanan Zee melancarkan aksi bawelnya, bicara dan bicara.
"Gus, apa tidak apa-apa wanita yang sudah menikah sekolah di pondok."
"Ya, mereka memiliki kebijakan itu. Lagian anti kan sekolah pondoknya. Kalau negri nanti ngurus paketnya saja."
Zee manggut-manggut. Ia sangat ingin bertanya tentang Syifa tapi urung.
"Oya, apa setelah ana di pesantren temennya Gus nanti bisa minta izin pulang."
"Tidak semudah itu anak kecil, harus jelas izinnya untuk apa. Lagian anti sudah jadi istri ana, jadi harus jaga adab di sana."
"Ya, ya, orang tua bawel." Zee menyahut. "Lalu Gus bawa mobil ke bandara. Nanti siapa yang mengambilnya?"
"Itupun antum pikirkan? Semua sudah ana atur. Ada Kang santri yang rutin ke bandara mengantar makanan. Jadi sekalian ana minta bawa."
"Oh. Makanan? Tapi untuk apa?"
"Mereka bisnis gadis kecil. Antum mana bisa mengerti."
"Bisnis?"
"Ah, sudah-sudah. Apa anti gak capek bicara?"
"Nggak." Zee menjawab cepat. "Lho, ini belok ke mana?"
"Ck. Mendengar ocehan bocah sepertimu membuat perut ini lapar." Fatih memutar mobil, memasuki kafe di seberang. Kafe itu ramai karena berada di sebelah taman yang saat jam istirahat siang begini banyak pengunjung.
Keduanya memasuki kafe, tak ada yang terlihat aneh. Mereka berjalan seperti pengunjung pada umumnya.
Keluar dari kafe dengan perut kenyang, Zee mengusap-usap perutnya.
"Sepertinya inilah hal paling menyenangkan saat punya suami, makan kenyang dengan gratis."
"Memangnya, antum selama ini bayar ke orang tua? Dasar bocah."
"Oh, nggak juga sih. Tapi makannya kan gak di kafe. Hehe. Biasanya juga kalau mau makan gratis kudu malak temen, itupun di kantin sekolah. Ups."
Fatih geleng-geleng melihat kelakuan Zee, ia menyerahkan teh kotak di tangannya pada gadis itu. Lalu mengajak duduk Zee sejenak, melihat pada keramaian pengunjung, juga orang berlalu lalang di jam istirahat kerja.
"Apa anti bisa bersikap dewasa?" Fatih meminum tehnya dari sedotan.
"Bisa. Mau bukti?"
Fatih tersenyum masam.
"Ehem. Dengarkan baik-baik. Ini adalah sisi dewasaku sebagai seorang istri." Mata Zee menyorot tajam pada Fatih, membuat pria itu menahan tawa.
"Please ...." Zee menunjukkan wajah serius.
"Oke-oke." Kini Fatih melihatnya dengan serius.
'Apa gadis ini akan menciumku? Oh tidak. Itu tidak boleh terjadi. Apalagi di tempat ramai seperti ini.' Fatih melihat ke semua sisi yang banyak orang.
"Gus."
"Ya?" Fatih tersentak kembali fokus pada Zee.
Gadis itu tersenyum. "Dewasa itu tidak selalu mesum."
Zee seolah tahu apa yang Fatih pikirkan.
"Apa?" Fatih salah tingkah.
"Gus, sekarang sebelum kita benar-benar berpisah, entah sementara atau untuk selamanya." Zee mengucap serius.
Lelaki itu melihat Zee sangat serius, lebih serius ketimbang wanita dewasa, mungkin selevel dengan kedewasaan seorang nenek. Ck.
"Katakan dengan serius, apa gus menerima tawaran Syifa dan keluarganya?"
Fatih terdiam. Berat rasanya menjawab semua itu.
"Oke, oke. Aku gak bisa ya diginiin," gumam Zee, namun terdengar oleh Fatih hingga dahi pria itu mengernyit.
"Bang, jangan Bang. Kumohon nanti orangtuaku bisa marah." Zee bersikap seolah terintimidasi, menarik perhatian orang sekitar.
"Ap-apa yang anti lakukan?" Fatih terlihat heran.
"Jangan Bang. Jangan ...!" Zee semakin berakting tengah diancam oleh Fatih, tanpa mempedulikan pertanyaan suaminya.
Beberapa orang datang mengerumuni mereka, Zee masih bersikap seolah ketakutan.
"Mas diapain anak orang?" Seorang bapak bersuara, tak rela melihat Zee yang ketakutan.
"Iya, Bang. Kasihan si Adek. Ck. Masih banyak wanita dewasa." Wanita dengan seragam kerja ikut bicara ingin menolong Zee.
"Ganteng-ganteng kok p*****l. Saya juga jomlo kok Bang. Jangan adek ini. Kasihan."
"Bang. Kalau adeknya gak mau jangan dipaksa. Abang bisa kena pasal perlindungan anak lho!" Seorang ibu juga tidak terima.
Lalu disusul emosi beberapa orang lain yang menunjuk-nunjuk pada Fatih.
"Em, maaf bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mbak dan mas-mas ... em, dia ini istri saya."
Fatih membela diri. Sedang Zee menunduk dengan menahan tawa. Membuat Fatih melihat geram ke arahnya.
"Mas gak usah bohong Mas, masa anak di bawah umur dikawinin."
"Iya, Mas. Kami bisa lho lapor."
Orang-orang tak percaya pada penjelasan Fatih.
"Oke-oke. Baik. Saya akan tunjukkan buktinya." Fatih membuka resleting dan merogoh kantong di ranselnya.
"Ini, dia. Lihatlah!"
Seorang bapak mengambil buku kecil dari tangan Fatih.
Lalu memperhatikan foto di sana dan melihat pada Zee.
"Anak ingusan ini adalah istri saya. Kami kemari singgah untuk makan dan istirahat sebentar. Ah entah, tiba-tiba dia kesurupan lagi. Padahal sudah saya ruqyah saat kami di rumah," ucap Fatih mantap, berusaha meyakinkan orang-orang.
Zee menarik hoodie nya hingga menutupi wajah karena malu.
"Wah benar mereka sudah menikah," kata bapak-bapak yang melihat buku nikah mereka.
Suara mendengung dari orang-orang itu karena bicara satu sama lain.
"Oh, kesurupan Bang. Duh, kasian. Abang pasti terpaksa ya nikahin anak bau kencur ini." Wanita berseragam kerja berbalik iba pada Fatih.
"Huft. Ya sudah cepet dibawa pergi saja Bang. Takut membahayakan yang lain di sini." Ibu di sebelahnya menimpali.
"Baik-baik maaf untuk tindakan istri saya yang masih bocah ini," ucap Fatih sembari memeluk tubuh kecil Zee dan membawanya menjauh dari kerumunan orang-orang. Gadis itu memandang pada Fatih yang tanpa risih memeluknya. Ah, barangkali pria itu tidak sadar menurutnya.
Fatih membawa berjalan cepat ke arah mobil. Membuka pintunya lalu mendorong tubuh Zee ke dalam.
"Subhanallah. Antum puas?" ucap Fatih sembari memasang sabuk pengaman di kursi kendali.
Zee ngambek. Menyilangkan tangan di d**a tanpa rasa bersalah.
"Pasang sabuk pengamannya!" seru Fatih kesal.
Tidak melakukan apa yang Fatih katakan, Zee membuang pandangan ke luar mobil.
"Oh ya Allah. Kuatkan hambaMu ini." Fatih mendesah, memasang sabuk ke tubuh Zee, tapi Zee menyergahnya.
"Eh, apa yang Gus lakukan?" Tangan Zee refleks memegang tangan Fatih, membuat pria itu sedikit tersentak karenanya.
Keduanya sama-sama melotot, ada desiran aneh yang menjalar ke hati.
"Oh, maaf." Zee segera melepas tangan Fatih.
"Makanya, sudah kubilang. Aku sangat penasaran, bahkan bisa dibilang akan mati penasaran kalau Gus gak kasih tau apa yang sebenarnya terjadi malam itu?" Zee mengomel berusaha mengusir canggung, dengan memasang sabuk pengamannya.
"Aku bisa melakukan hal lebih gila dari yang tadi."
"Benar, antum memang sudah gila." Fatih kembali kesal. Mobil melaju menuju pesantren Kiyai Mashur.
'Iya Gus. Dan semua itu karena mu!' Hati Zee menjerit.
"Jadi sekarang anti mau apa?"
"Ceritakan apa yang terjadi antara Gus dan Syifa."
"Ya, baik. Antum berhasil anak kecil! Dengarkan baik-baik. Ana menolak tawaran Syifa dan orang tuanya. Tapi ...."
"Oh benarkah?" Zee seketika girang. "Oya, tapi apa?"
"Apalagi? Kenapa anti sesenang itu? Apa anti sudah jatuh cinta pada ana?"
"Huh, pertanyaan itu seharusnya tidak diulang-ulang. Lagian apa pentingnya buat Gus?"
Zee berusaha mengelak.
"Ah benar, tidak penting untuk ana." Fatih menjawab pelan. Jawaban itu harusnya membuat hati Zee sesak, tapi kabar bahwa Fatih menolak Syifa membuat kadar senang lebih banyak dibanding kekecewaannya.
Sampai di pesantren, Ghazali dan istrinya menyambut kedatangan Fatih dan Zee.
"Wah, MaasyaAllah. Istrinya cantik sekali," istri Ghazali merangkul Zee, pujiannya membuat pipinya bersemu.
"Ayo, biar saya antar melihat sekeliling dulu." Keduanya lalu berjalan meninggalkan Fatih dan Ghazali, keduanya lalu mencari tempat nyaman untuk bicara.
"Jadi gadis itu istri antum?" Ghazali menyerahkan air mineral pada Fatih.
Fatih mengangguk. Menyandarkan kepala di sofa.
"Luar biasa." Ghazali tersenyum.
"Iya, ini memang cobaan luar biasa dalam hidup ana."
"Sudahlah Bro, bukannya takdir Allah pasti terjadi."
"Ya, betul." Fatih mendesah. "Itu yang sedang ana upayakan. Menerimanya. Mungkin ini teguran, atau ...."
"Ini takdir Bro. Jodoh." Ghazali terus menguatkan hati Fatih.
"Jika bukan karena Abi, ana pasti menentang pernikahan ini, apalagi yang ana cari selain ridho abi. Dan murka abi umi adalah hal yang paling ana takuti," lirih Fatih.
"Dan hati abi antum Allah yang menggerakkan."
Fatih tersentak mendengar ucapan sahabatnya. Hatinya seolah dihujam kuat. Selama ini ia sering mengutuk keadaan dalam hati dan juga ... menyalahkan Zee.
"Astagfirullah .... Antum benar, Khi."
Tidak lama mereka berbincang, Zee dan istri Ghazali datang. Wajah Zee masih bersemu. Gadis labil itu pasti baru saja dihujani pujian oleh istri Ghazali dan beberapa ustazah di dalam sana.
Tiba saat Fatih harus pergi, Zee mengantar hingga ke parkiran. Di tengah perjalanan seseorang melihat keduanya, ia terkejut melihat Zee, lalu mengikuti mereka dengan mengendap-endap.
Di parkiran, Fatih mengulurkan tangan.
"Apa ini?" tanya Zee polos.
"Ana ini suami anti. Dan kita akan berpisah dalam kurun waktu yang lama. Cium tangan!" titah Fatih.
Santri yang mengintip mereka tersentak mendengar Zee telah bersuami.
Zee meraih tangan Fatih dan mencium punggungnya. Saat Fatih menariknya, Zee memegangnya dengan kuat, gadis itu melihat sekeliling yang sepi.
"Ada apa?" Fatih heran melihat sikap Zee.
Tak menjawab, Zee berjinjit menciup pipi Fatih. Membuat pria itu melebarkan dan terpaku.
Pria yang mengintip itu adalah Joo, matanya seketika memerah melihat pemandangan di depannya. Sebisa mungkin ia menguasai diri, ingin tahu mengapa mereka ada di pesantren tempatnya dikirim kedua orang tua.
Zee bersikap malu-malu. Fatih semakin canggung dibuatnya. Dalam keadaan itu ponsel Fatih bergetar, segera ia raih. Saat membuka Zee dengan jelas melihat nama yang tertera di sana, "Syifa." Dalam sekejap suasana hatinya berubah. Gadis itu matanya berkaca, tak tahan ia berlari meninggalkan Fatih.
"Zee ... tungg!" panggil Fatih, tapi sia-sia, Zee berlari dengan cepat.
Joo semakin geram, melihat Zee menikah membuatnya sakit, tapi melihat Zee menangis rasanya juga sakit.
Bersambung