"Gara-gara makanan rasa upil, aku semakin mantap pisah denganmu."
--Gus Fatih--
***
"Kenapa Fatih?" Umi bertanya heran.
Fatih segera minum air putih, dan mengusap mulutnya.
"Em, gak papa Mi."
Dia tidak ingin masalah seperti ini menjadi besar, baru saja gadis itu dipuji, masa iya langsung dijatuhkan karena masakan yang keasinan, apalagi jika Zee sengaja melakukannya. Mengetahui kelakuan Zee, orangtuanya pasti akan berbuat sesuatu dan urusan semakin panjang. Fatih tidak mau rencana hari ini terganggu, semakin lama selesai mengurus segala sesuatu untuk melengkapi administrasi, semakin lama pula ia harus bersama Zee.
"Duh, hati-hati Sayang." Zee mengusap mulut suaminya. Membuat mata Fatih melebar sempurna.
"MaasyaAllah." Abine menggeleng sambil tersenyum.
Merasa kesal karena dikerjai, Fatih menarik kasar tissue di tangan Zee.
"Sudah, ana saja."
Gadis itu pasrah, namun senyum masih terukir di wajahnya, semua itu membuat Fatih semakin kesal.
"Fatih, bersikap lembutlah pada istrimu. Sebaik-baik laki-laki itu yang paling baik pada istrinya." Abine menegur.
"Enjeh, Bi." Fatih mengangguk.
"Ya, sudah. Lanjutkan makannya. Tidak baik menyisakan makanan begitu banyak."
Umi menimpali.
"Em, tapi Fatih sudah kenyang Mi."
"Masa baru sesuap, dimuntahkan pula, sudah kenyang. Umi gak mau kamu kambuh maagnya. Lagipula kasihan istrimu sejak subuh dia sudah di dapur bantu umi dan masak ini semua." Umi bicara setengah memaksa.
Mendengar ucapan ibu mertuanya, Zee semakin berani.
"Sini, biar aku suapin."
"Hahaha." Abine sontak tertawa, disusul umi.
Dengan terpaksa Fatih menelan makanan rasa upil itu. Subhanallah, hidup dengan Zee betul-betul menyiksanya. Untunglah, Zee setuju dengan kontrak yang ia buat, ini adalah keputusan tepat. Setidaknya ketika nanti usia Zee telah matang, keduanya bisa bicara dari hati ke hati, apakah bertahan dengan pernikahan atau memilih jalan masing-masing.
***
Zee sibuk mengemas pakaian, rencananya setelah semalam mereka menginap di rumah emak bapak Zee, keduanya langsung menuju pesantren Kiyai Mashur.
"Pernikahan macam apa ini, beda sekali sama yang drama-drama itu. Ck."
"Memangnya yang di drama seperti apa anak kecil?" tanya Fatih dengan mata sibuk ke ponsel karena membalas chat dari seseorang.
"Di drama kalau habis nikah itu bulan madu, baper-baperan gitu." Zee menjejalkan paksa barangnya yang kelewat banyak karena kado dari santri-santri. "Ih, ini barang kenapa jadi banyak begini."
"Antum benar-benar sangat labil, suka mengeluh dan semena-mena. Dan bagaimana bisa anti membuat masakan seasin itu lalu disuguhkan untuk suami, bayangkan jika suami anti orang lain bisa-bisa kena KDRT. Untunglah ana ini orang yang sangat penyabar." Fatih mengomel mendengar Zee yang mengeluh, dengan mata serta tangan masih sibuk.
"Biarin. Itu karena aku kesal!" Zee terus mendorong paksa barang.
"Lagian kenapa sih kalau ditanya itu mbulet kaya kentut! Tinggal bilang. Iya Zee, Syifa dan orang tuanya minta ana kawini dia terus kami bareng ke Malaysia honeymoon sekalian selesaikan S2."
Melihat Zee kesulitan, Fatih mendesah meletakkan ponselnya. Ia tak menanggapi apa yang Zee katakan.
"Perhatikan baik-baik." Fatih mengambil ransel di tangan Zee.
Gadis itu terdiam, luluh sejenak karena perhatian sang suami.
"Pilih barang yang penting!" titah Fatih pada Zee. "Ya Allah, barang sebanyak ini apa akan dibawa semua?"
"Ini dari teman-teman sayang kalau ditinggal. Kan buat kenang-kenangan."
"Apa antum berniat tidak kembali?" Mata Fatih menyorot pada Zee, kini mereka saling berpandangan. Hati Zee tak karuan, ia pun segera mengalihkan perhatian dengan memilah barangnya yang penting, dan menyisihkan sebagian.
"Bagus, anak pintar. Sekarang masukkan semua ini ke dalam tas dengan pelan." Fatih menunjuk barang-barang di depannnya. Pria itu kembali sibuk dengan ponselnya.
Hening sesaat dengan kesibukan masing-masing.
"Ap-apa itu dari Syifa?" tanya Zee ragu.
Fatih menoleh pada Zee. Dalam hati pria itu kasihan pada Zee. Bagaimana pun gadis itu juga korban, di usia yang seharusnya dia fokus belajar justru terpaksa menikah karena kecerobohan Fatih. Korban karena hatinya juga belum bisa menerima. Pria itu menggeleng. "Bukan."
Zee terlihat lega mendengarnya.
Keduanya sudah ada di depan mobil, rencananya Fatih menyetir dan hanya berdua dengan Zee menuju rumah mertua di luar kota.
"Antum duduk di belakang saja ya." Gus membuka pintu belakang.
"Kenapa?" Zee pura-pura tak mengerti.
Fatih meletakkan tas, lalu menelengkan kepala tanda agar Zee masuk.
"Oh, baiklah." Gadis itu memutar bola mata malas.
Di dalam mobil Zee tak henti-hentinya bicara.
"Jadi apa benar Syifa meminta Gus mengawininya?"
"Ya."
"Jadi? Gus mau?"
Fatih diam.
"Gus mau?" Zee mengulang-ulang pertanyaannya.
Fatih diam.
"Oh, oke. Itu memang hak Gus untuk bicara pada istri pertama atau pun tidak"
Zee terlihat kecewa. Fatih melihat mimik gadis itu dari kaca di atasnya.
"Apa ... aku akan mondok di tempat Gus Azmi berada Gus?" Zee berusaha menutupi perasaannya dengan mengalihkan pembicaraan. 'Oke, Zee. Kamu adalah gadis dewasa. Jadi sabarlah!' Ia kuatkan hatinya sendiri.
"Azmi?"
"Iya, Gus yang terkenal itu. Yang ganteng. Hehe. Dia seumuran aku."
"Kenapa emang? Antum suka sama dia?" Fatih mulai tertawa, bagaimana bisa gadis yang bersamanya itu berubah cepat dari jutek, diam kecewa lalu kembali ceria dengan menunjukkan kebawelannya.
"Em, sebenarnya iya. Mungkin kalau Gus gak nikahin aku, kami akan menikah kelak."
Zee bicara dengan polosnya.
"Oya? Hahaha." Tawa Fatih pecah. Ah, kemana sakit hati dan kemarahan yang sempat meradang kemarin. Fatih merasa jika ia sudah ketularan Zee.
"Kenapa tertawa? Apa lucu?" Zee mengerucutkan bibirnya.
"Antum sangat percaya diri."
Zee mendesah, gadis itu kembali diam. Pikirannya terus melayang pada Syifa dan Fatih, membayangkan mereka bersama di negri Jiran sungguh sesak. Cintanya bahkan belum terbalas tapi sudah harus diduakan.
***
"Wah Zee, loe beneran seperti ketiban pulung." Rahma mengaduk teh di depannya. "Dia bukan cuma alim, tapi juga sangat tampan. Heran gue, kenapa takdir Allah kadang sulit dimengerti. Cewek kayak loe. Astagfirullah."
"Hemh." Zee hanya sedikit tersenyum sembari memetik sayur, merasa lucu mendengar kakaknya, seumur-umur baru ini ia mendengarnya istigfar. Ia menatap pada tiga orang yang sedang bercengkrama di depan. Fatih terlihat sangat sopan pada dua orang tua Zee, emak abah bahkan sempat mengucap hamdallah berkali-kali karena Fatih. Sepasang suami istri itu bahagia luar biasa mendengar Fatih yang akan memondokkan Zee lagi. Kesedihan yang sebelumnya menerpa keluarga ini tiba-tiba lenyap begitu saja.
***
Di dalam kamar Zee, Fatih memperhatikan deretan foto yang tertempel di karton tebal di dinding. Foto beberapa anak dengan seragam SMP dalam berbagai pose.
"Siapa ini?" Fatih menunjuk foto beberapa laki-laki yang bersama Zee dan Nadia.
"Oh, itu Joo. Yang ini Hans. Dan yang itu ...."
"Sudah cukup, jangan disebut semua. Aku cuma basa-basi." Fatih tersenyum masam.
"Menyebalkan sekali." Zee duduk di tepi ranjang. "Oya, kamar ini sempit sekali, tidak ada sofa seperti kamar Gus."
"Tak masalah. Antum biasa tidur di lantai kan?"
"Apa?"
"Yah gantian lah. Tadi malam anti tidur di ranjang ana. Masa ana harus tidur di lantai. Bukankah ana tamu di sini."
"Duh, tepok jidat deh. Emang bener ya, kalau laki-laki yang semacam oppa Korea itu gak ada di dunia nyata. Kalaupun ganteng sikapnya sangat menyebalkan."
"Baru tau? Ck." Fatih berjalan ke arah Zee.
"Mau ngapain?" Zee terlihat bingung.
"Capek mau tidur. Minggir." Fatih merebahkan dirinya di ranjang. "Ah, leganya ...."
"Ya sudah, aku tidur dengan Mbak Rahma saja."
Saat berdiri, tangan Zee ditarik Fatih hingga ia kembali duduk. d**a Zee berdebar, apa pria itu mengingikan sesuatu darinya, seperti apa yang Nadia ceritakan tentang laki-laki dewasa yang punya keinginan dan harus disalurkan. "Jangan, di sini saja. Ini perintah suami," ucap Fatih dengan mata terpejam. Tidak sempat bereaksi Zee terpaku di tempatnya. Tak lama terdengar dengkuran teratur dari mulut pria tampan itu.
Zee memperhatikan wajah suaminya yang bersih berseri.
'Dia memang sangat tampan. Pantaslah banyak yang patah hati karenanya. Juga Syifa ... ah hatiku sakit saat ingat nama itu,' batin Zee. Ia lalu berdiri, menggelar tikar dan selimut tebal di samping ranjang di mana Fatih terlelap. Hanya beberapa menit, Zee pun menyusul ke alam mimpi.
Suara gemericik membangunkan Zee, ia mengerjapkan mata, kaget saat mendapati dirinya ada di atas ranjang dengan tertutup selimut. Jam menunjukkan pukul 03.10. Bangkit, melihat ke arah kamar mandi kecil di kamarnya, rupanya Fatih tengah berwudhu.
Lagi-lagi hatinya luruh.
"Antum bangun? Ambillah air wudhu. Ana lupa berdoa semalam." Fatih merapikan kaos panjang yang tadi digulung karena wudhu.
"Doa? Doa apa?" Zee gelagapan, pikirannya ke mana-mana.
"Doa pengantin baru."
"Apa? Apa kita akan melakukan?"
Tidak menjawab Fatih malah terkekeh.
"Aku serius." Zee mulai tak sabar.
"Ckck. Kecil-kecil m***m juga ya anti. Hahaha." Fatih malah tertawa.
"Doa itu untuk meminta kebaikan dari kebaikan mempelai dan berlindung kepada Allah dari keburukan sang wanita. Apalagi wanitanya seperti antum. Bahaya kalau gak didoakan."
"Astagfirullah." Zee merasa malu dan direndahkan. Tak ingin membahas, ia lalu pergi ke kamar mandi mengerjakan apa yang Fatih perintahkan.
***
Di sebuah pesantren, seorang pria duduk membuka chat panjang dari temannya.
"Siapa sih, Bang. Kok serius amat." Seorang wanita dengan gamis dan khimar sedada membawakan camilan untuk pria yang menjadi suaminya itu.
"Ini, loh Sayang. Temenku si Fatih yang aku ceritain. Dia hadir waktu akad kita dua tahun lalu. Ternyata batal nikah dengan gadis lulusan Mesir."
"O ... terus?"
"Dia menikah dengan acara sederhana kemaren, jadi kita gak diundang."
Anak kiayi Mashur itu menjawab.
"Lho, katanya gak jadi nikah. Kok acara sederhana?"
"Iya, nikahnya sama santri yang masih16 tahun."
"Apa? Kok bisa?" Si istri terkejut dan antusias mendengarnya.
"Em, namanya juga jodoh. Mau diapa-apain juga pasti ketemu di pelaminan."
"Kalua jawabnya gitu, mentok deh."
"Iya, lagian gak bagus kalau ada keburukan orang lain yang dibicarakan."
"Buruk?"
"Ah, sudahlah tolong mintakan blangko ke ustazah Sartika. Karena santri istimewa biar kita saja yang sambut," titah Ghazali pada istrinya.
"Enjeh, Abang." Istrinya meninggalkan ruangan.
Tidak lama seorang santri mengetuk pintu di mana Ghazali berada.
"Assalamualaikum."
"Ya ... Waalaikumsalam."
Santri yang belum lama mondok itu mengucap salam.
"Oh, kamu Joo. Masuklah." Ghazali meletakkan ponselnya, ingin fokus pada santri di hadapannya. Sepertinya Joo kembali mengalami masalah di asrama karena jin yang bersarang di tubuhnya belum sepenuhnya hilang.