"Apakah ini cemburu? Kenapa rasanya sakit?"
***
Ada yang terasa aneh di dalam sana? Inikah cemburu. Zee sengaja memperhatikan wajah Fatih dan Syifa. Tak sekalipun Fatih melihat pada Syifa, ia terus menundukkan pandangan bahkan beberapa kali melihat pada Zee hingga pandangan keduanya bertemu. Ada desir di hati Zee, tapi entah Fatih.
Gadis belia itu tahu bahwa suaminya adalah pria sholeh, bukan hanya alim ia juga pria berprinsip terhadap aturan Islam. Tidak akan membiarkan cinta yang tak halal merusak hati dan amaliyahnya, merusak hubungan denga Rabb yang diutamakan lebih dari siapapun.
Sedang Syifa sejak masuk pun Zee melihatnya. Mata gadis itu mencuri pandang pada Fatih beberapa kali, ada cinta di mata Syifa. Ia pasti sanga membenci Zee karena merusak semua rencana indahnya bersama Fatih.
"Mari silakan duduk." Abine menyambut keluarga Syifa dengan ramah, meski di hati pria itu sedikit merasa tak enak dengan keadaan ini.
"Maaf sebelumnya jika malam-malam begini kami mengganggu." Abah Syifa bicara dengan lembut, tatapannya menunduk tak berani melihat pada mata abine, ia tunjukkan bagaimana adab seorang murid pada gurunya.
"Iya. Sebenarnya kami sedang membicarakan hal penting. Tapi ... ya ... tidak apa-apa. Keluarga ustaz ini kan juga sudah seperti keluarga sendiri." Abine berbicara.
"Wah, subhanallah. Maaf jika kami mengganggu. Ada pembicaraan penting rupanya."
"Oh, tak mengapa. Ini si Fatih dan istrinya mau pisah ...."
Ucapan abine menggantung.
"Apa?!" seru Syifa refleks karena tak percaya, ia segera menutup mulutnya. Tak dipungkiri hal itu membuatnya bahagia. Di hari pertama pernikahan dan memutuskan pisah, apa semua itu karena Fatih ingin kembali pada Syifa?
Abine tersenyum. "Maksudnya hanya pisah sementara, karena Fatih mau lanjutkan S2 dan Zee masuk pesantren Kiyai Mashur."
"O ...." Syifa menjawab lemas, ia kecewa.
"Wah, kebetulan sekali. Syifa juga mau lanjutkan S2nya." Umi Syifa ikut menimpali.
"Kalau begitu bisa bareng."
Zee terkejut, ia menatap pada umi Syifa tak percaya. Begitu pun Fatih. Sedang Syifa wajahnya bersemu malu.
"Mi ...." Abah Syifa keberatan dengan ucapan istrinya.
"Ya, sudah to Bah. Cepet sampaikan maksud kedatangan kita kemari."
Abah Syifa mendesah. "Mohon maaf yai. Em, sebelumnya 'kan kita sepakat menikahkan mereka, maksud saya Syifa dan Gus Fatih. Bahkan sudah lamaran dan menentukan hari pernikahan."
Belum selesai ucapan Abah Syifa, Fatih izin keluar. Pria itu berdiri. "Mohon maaf ada yang harus saya bicarakan dengan istri saya," ucap Fatih sembari meraih tangan Zee, lalu membawanya masuk ke kamar. Melihat itu hati Syifa sangat sakit, mata gadis cantik itu berkaca-kaca namun ia menahannya. Semua orang terdiam.
"Heheh. Maaf, maklum pengantin baru." Abine memecah keheningan sesaat. Hati Syifa semakin remuk. Ia berharap apa yang akan disampaikan kedua orangtuanya nanti bisa terwujud dan hatinya tak sesakit sekarang.
"Gus apa yang gus lakukan?" tanya Zee bingung. Ia ingin menyimak pembicaraan orang-orang dewasa di luar sana, tapi sepertinya Fatih tidak mengizinkannya.
Setelah sampai kamar Fatih akan keluar dan menutup pintu.
"Huft." Fatih meniup berat. "Tidurlah, anti pasti lelah. Besok kita akan ke rumah orang tuamu."
"Tapi Gus. Aku mau tau ...."
"Tidur saja." Fatih berjalan keluar, ia mengunci pintunya.
"Gus!" Zee kesal, menghentakkan kakinya. Lalu berjalan dan membanting tubuhnya ke ranjang.
"Ya Allah. Kenapa orang dewasa itu sangat menyebalkan dan sulit dimengerti. Oh tidak, aku juga sudah dewasa. Bijak dalam bertidak dan sudah menikah. Begitu kata abine. Aku bahkan tau bahwa pria seperti Gus Fatih itu sangat, sangat, sangat menyebalkan."
Zee mendesah panjang, membayangkan tatapan Syifa pada Fatih tadi, hatinya teremas ... sesakit inikah cemburu. Ah, tidak ini bukan cemburu, bukankah ia sangat ilfeel pada Fatih.
Apa yang sebenarnya mereka bicarakan, mendengar ucapan umi dan abah Syifa sepertinya mereka meminta Fatih menikahi Syifa lalu keduanya melanjutkan kuliah bersama. Sedang Zee, dia harus serius belajar di pondok di saat dua insan itu enak-enakan berdua. Itu jelas sangat menyakitkan buat Zee.
Tiga puluh menit setelahnya pintu terbuka, Fatih datang dari sana.
Zee yang tidak bisa tidur segera bangun, mendekat pada Fatih.
"Apa yang terjadi? Apa Syifa meminta Gus menikahinya juga?"
"Ah, sudahlah anak kecil sebaiknya antum tidur." Fatih terus berjalan tidak melihat pada Zee, mengambil selimut dan bantal untuk tidur di sofa.
"Kenapa wajah Gus kusut begitu? Harusnya kan senang Syifa yang cantik dan sangat Gus cintai minta dikawini?"
"Ya Allah. Kenapa ana harus sekamar dengan anak sebawel ini. Cepatlah tidur, besok kita ke rumah orang tuamu." Fatih berbaring, menyelimuti tubuhnya di sofa.
"Aku juga gak nyangka lho, pria yang dulu terlihat teduh ternyata sangat menyebalkan seperti ini." Zee menyilangkan tangan berdiri tepat di samping sofa, menghadap pada Fatih.
"Sudah tidur sana. Tidak ada gunanya membahas ini. Oya, satu lagi. Sebaiknya antum pakai khimar saat kita bersama. Itu sanagt mengganggu," titah Fatih, sebenarnya hatinya terusik saat pertama melihat Zee keluar dari kamar mandi tanpa khimarnya. Gadis belia itu, meski tubuhnya kecil ia memiliki pesona gadis-gadis remaja yang setiap sisi tubuhnya terlihat ranum dan indah.
"Kenapa? Apa Gus tergoda olehku?" Zee mengangkat rambutnya dengan dua tangan bak model, ia sengaja mengejek Fatih.
"Tergoda." Fatih mendecak, walaupun sebenarnya ia memang tergoda. Bagaimana pun Fatih adalah pria normal, tak mencintai tak berarti tak tergoda.
"Lagipula ini kamar di mana aku halal membuka seluruh auratku. Tidak dosa. Jadi jangan memberatkan orang lain dengan mengharamkan apa yang Allah halalkan. Itu yang aku dengar saat pengajian."
"Yah terserah sajalah anak kecil. Ana mau tidur!" Fatih menutupi seluruh tubuhnya.
"Nggak! Jelasin dulu Gus. Apa yang kalian bicarakan tadi?" Zee kesal tak dianggap.
"Bisa-bisa aku mati penasaran karena ini."
"Hemm. Anggap saja ini karma untukmu," ucap Fatih dari balik selimut.
"Apa?!" Zee ternganga, ucapan Fatih yang pelan mampu menohok hatinya, dan tak lagi berkutik untuk membahas. Ia mendengus kesal lalu pergi ke ranjangnya.
"Lihat saja ya Gus. Aku tidak akan membiarkan semua ini," gumamnya.
Zee memukulkan tangannya ke ranjang. "Au!" Tapi naas tangannya mengenai kayu sisi ranjang hingga ia kesakitan.
"Berisik, cepat baca doa dan tidur." Fatih kembali bersuara dari balik selimutnya. Zee mencebik, terpaksa merebahkan tubuhnya ke ranjang tanpa jawaban jelas dari suaminya.
***
Pagi hari ....
"Wah, MaasyaAllah. Masakan ini enak sekali." Abine menyuap makanan yang ada di meja makan.
Umi tersenyum. "Itu masakan mantu Abi."
Zee yang ada di seberang tersipu, merasa dipuji oleh mertuanya. Fatih datang duduk di sebelah Zee, ia yang sempat mendengar pujian abine segera duduk dan ingin mencoba makanannya.
"Ah, biar aku saja yang ambilkan." Zee bersikap manis dan mengambil dari wadah lain yang disiapkan untuk Fatih.
Setelah membaca doa, Fatih tak sabar menyuap makanannya, dan ... "Hoek."
Abine dan umi berhenti mengunyah melihat reaksi Fatih.
Sedang Zee melihat ke arah lain dengan senyum menyeringai. 'Hemh, rasakan Gus. Ini baru awal. Itulah akibatnya jika berani membuat kesal gadis baik-baik sepertiku. Sebelum kita berpisah dengan pendidikan masing-masing, aku akan mengerjaimu sepuasku.' Batin Zee, puas.