Kontrak dalam Pernikahan

1371 Kata
"Dewasa itu bukan dilihat dari berapa banyak usia seseorang, akan tetapi bagaiamana dia bisa menyikapi dengan bijak keadaan yang dihadapinya." *** Dahi Fatih mengerut, terlalu lama menunggu jawaban Zee atas surat kontrak yang dibuatnya. Bukannya gadis itu sudah mengerti inti dari perjanjian tersebut? Ia bahkan sudah bertanya apa Fatih serius dengan isi kontraknya. "Hei, kenapa lama sekali? Kamu sedang membaca atau mengkhayal?" Zee meletakkan surat di sampingnya duduk dengan menumpuk kaki, sudah persis ketika ia masih di SMP dulu. Menunjukan betapa dia gadis elegant di depan lawan bicaranya. "Duduklah!" Mata Fatih menyipit, gadis itu terlihat sangat tenang, tidak sedikitpun gurat kemarahan atau cemas di wajahnya. "Gus serius mau pisah sama aku? Kita baru akad, lho. Apa semua orang tidak akan curiga?" "Duh, Zee ... Zee, kenapa emang? Apa gadis bau kencur seperti antum benar-benar jatuh cinta pada ana?" "Ohh, please my crazy husband ...." Zee memutar malas bola mata. "Bukan itu masalahnya. Justru karena Gus telah mencium di saat belum halal, seketika buatku ilfeel!" "Lalu?" Mata Fatih menyipit. "Kata Abine, setelah akad seorang lelaki wajib memberi nafkah pada istrinya." "Ya, aku akan lakukan itu karena itu tanggungjawabku." "Lahir batin?" "Apa?!" Mata Fatih melebar, tak percaya dengan pertanyaan anak tengil di depannya. Wajah Zee datar, tak ada rasa bersalah sama sekali karena melontarkan pertanyaan yang harusnya membuat canggung keduanya. "Oke, Zee. Dengarkan ana baik-baik. Terus terang untuk yang itu ana belum siap." "Kenapa? Apa karena Syifa?" "Em, itu salah satunya." Fatih menjawab pelan, tapi membuat hati Zee teremas. Sejak awal dia tahu pada akhirnya ini adalah masalah bagi hatinya. "Itu kenapa perpisahan ini adalah jalan terbaik." "Ya, ya." Zee berusaha menyembunyikan rasa tak sukanya lantaran Fatih masi menyimpan perasaan yang dalam pada Syifa. " Nafkah lahir sepenuhnya akan ana kirim. Ana juga akan mengunjungi anti kala ana libur, kita bisa pulang bareng ke rumah orangtua kita. Dan soal nafkah batin itu, benar kewajiban yang harusnya ana penuhi, tapi melihat kondisi hati ana, ditambah anti yang masih bau kencur, ana memutuskan untuk tidak menggauli anti, dan itu akan menjadi halal saat anti sebagai istri ridho." Gus menjelaskan panjang lebar. "Oh, baiklah." "Kenapa? Apa anti sudah mau nafkah batin?" "Oh, nggak-nggak!" Zee melambaikan dua tangannya. "Hiss. Yang benar saja, Gus. Tentu hatiku jauh lebih sakit dari padamu. Memang sebaiknya kita pisah." "Bagus. Berarti deal untuk ini." "Oke. Ayo kita laksanakan. Tapi ... jawab dulu semua pertanyaanku." "Oke." Kini Fatih bersandar di dinding menghadap ke arah di mana Zee duduk. "Pertama, saat aku mondok nanti, apakah Gus akan menikah dengan Syifa lagi?" Fatih terdiam, keinginan itu jelas sangat besar. Tapi ia ragu apakah Syifa dan keluarganya mau menerima semua itu? Lalu bagaimana dengan Zee dan keluarganya? "Gus?" "Ah, ya." Fatih tersentak. "Em, soal itu ... ana tidak tau." "Berarti ...." "Sudahlah jangan pikirkan hal bahkan anti tidak akan ditanyai diakhirat nanti dengannya. Lagipula memiliki dua istri tidak semudah bayangan gadis labil seperti anti." "Oh Oke. Setelah aku lulus dan Gus lulus, lalu kita bertemu lagi ... apa Gus bisa menerimaku, em ... em sebagai istri?" "Kita lihat saja nanti. Semoga penjara suci itu bisa membuat ketengilanmu hilang." "Apa Gus, bisa mencintaiku suatu saat nanti?" "Apa?!" Seseorang mengetuk pintu membuat keduanya mengalihkan perhatian. "Ya, sebentar!" Fatih berjalan ke arah pintu. Ustazah yang sedari siang membantu acara, berdiri di depan pintu kamar. Melihat Zee yang mengenakan gamis dengan rambut basah, ustazah itu terkikik. Menyadari apa yang wanita itu pikirkan, Fatih salah tingkah, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Afwan, Gus. Ada beberapa santri yang baru datang dan ingin ketemu Zee? Boleh?" "Oh, ya silakan ustazah. Biar nanti dia keluar." Ustazah mengangguk, meninggalkan pintu. Fatih menutup pintu kembali. "Ck. Bahkan pernikahan membuat orang lain salah paham." Fatih bergumam. "Kenapa?" "Ah, tidak.  Cepat tandatangani surat itu. Ana akan mengurusnya malam ini." Fatih berjalan ke arah lemari yang tersusun banyak kitab di dalamnya. Zee segera menandatangani surat lalu memakai khimarnya sebelum akhirnya keluar menemui tamu yang dimaksud ustazah. Di depan Zulfa dan Siti duduk dengan tenang. Makanan yang biasanya akan ludes ketika bertemu dua gadis itu, kini masih utuh di tempatnya. "Mbak, Siti. Mbak Zulfa." Zee ingin menyalami keduanya, tapi Siti menarik tubuh kecil Zee ke pelukannya. Ia menangis, menumpahkan kekecewaan atas pernikahan Zee dan Fatih. "Subhanallah, Zee. Baru juga kami tinggal seminggu. Lha kok balik beritanya lebih menyakitkan. Kenapa harus anti yang nikah sama gus? Hiks." "Iya Mbak Zee. Sebenarnya apa yang terjadi." Zulfa menimpali dengan suara berat. Zee menepuk-nepuk pundak Siti pelan. "Qodarullah Mbak-mbak. Ana juga bingung kalau suruh jelasin. Semua terjadi begitu saja." Ia menjawab. Buka Zee namanya jika tak bisa beralasan dan menutupi aib keluarganya dan Gus. Mereka pikir Zee akan menjalani kehidupan bak putri dadakan, tapi di balik itu siapa yang tahu. Dia harus berpisah dengan Fatih tiga tahun ke depan. Entah apa yang dipikirkan pria itu, ingin menunggu sampai Zee bosan kah lalu dia meminta cerai dengan begitu Fatih tidak merasa bersalah lalu menikahi Syifa. Ah, entah. Siti beringsut dari pelukan Zee. "Enak banget, sih Mbak Zee. Baru setahun udah dapet Gus Fatih. Lahir kita sudah tahun kelima ini. Hiks." Zulfa pun masih terlihat kecewa, wajahnya juga berurai airmata. Cinta telah membawa mereka pada perasaan yang dalam pada Fatih. Fatih keluar dari kamar, melihat sekilas pada tiga gadis yang berbincang di depan. Berjalan ke ruang tengah tanpa tahu bahwa gadis-gadis itu tengah berduka hati karenanya. Rumah sudah sepi dari ustazah ataupun santri abdi dalem, abine bersiap akan ke masjid menunaikan sholat magrib berjamaah. "Bi, lepas sholat isya Fatih dan Zee ingin menyampaikan sesuatu." Fatih berdiri di depan tempat wudhu, persis di depan abine yang baru selesai berdoa setelah wudhu. "Heem. Ya." Abine mengangguk, meninggalkan Fatih dengan menepuk pundak pemuda itu. *** Di ruang tengah Abine, Fatih, Zee dan Umi berbincang akrab. Setelah basa-basi, Fatih pun menyampaikan maksud hatinya. "Begini, Bi, Mi." Fatih menatap satu-satu wajah kedua orangtuanya. "Fatih dan Zee sudah memutuskan, akan melanjutkan pendidikan kami." "Maksudnya?" "Fatih akan melanjutkan S2 Fatih di Malaysia. Lalu Zee akan Fatih titipkan di pesantren Ghazali. Teman Fatih di Yaman dulu. Abi tau kan Kiyai Mashur yang terkenal alim dan berwibawa itu?" Fatih bicara dengan tenang. Saat ini Zee tak bisa berkutik, ia terlalu segan pada abine dan umi, duduk diantara mereka pun belum terbiasa bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tak pernah. "Ya." "Beliau itu abahnya Ghazali." "Oh, MaasyaAllah. Tapi ... apa kamu sudah memikirkannya dengan matang? Bukannya kamu bilang tidak mau melanjutkan S2 karena sudah waktunya menikah?" Abine menumpah air dari cerek ke gelas. "Em, iya Bi. Itu kan sebelum ada kecelakaan dengan gadis remaja labil." Fatih menjawab. Seketika Zee menatap kesal pada Fatih, namun tak pria itu hiraukan. Fatih terus saja bicara. "Fatih, walau bagaimana dia sudah menjadi istrimu. Kadang kala rencana kita bertolak belakang dengan takdir Allah. Legowo dan bersikap baiklah padanya." Seulas senyum Abine lemparkan pada Zee, membuat gadis itu tersipu karena merasa ada yang membelanya. "Iya, Bi. Ini juga dilegowo-legowoin." "Hahaha. Yaya." Abine terkekeh disusul tawa umi, meski awalnya berat akhirnya wanita yang melahirkan Fatih 24 tahun lalu itu merelakan anaknya menikah dengan gadis yang sama sekali tak dikenal sebelumnya yang jauh sekali dari Syifa, mantu idaman setiap orang tua. "Ya, baiklah. Jika ini yang terbaik. Tengoklah sering-sering Zee. Walau bagaimana kamu punya kewajiban padanya," ucap abine, membuat Zee berdebar mendengar kata 'kewajiban' yang dipikirannya kewajiban itu bukan hanya lahir, tapi batin juga. Duh, mikir apa sih, Zee? "Nggeh, Bi." "Lalu apa Zee setuju dengan semua ini?" Umi bertanya, ia mengerti perasaan seorang perempuan. Tidak mungkin jika Zee tidak masuk daftar santri yang mengidolakan Fatih di pesantren ini. Setelah pernikahan tentu ada banyak harap pada sang suami. Rasa tak sukanya, tidak membuatnya bersikap zdolim pada Zee dan terus berusaha bersikap baik pada menantunya itu. "Saya?" Zee merasa tersanjung, ditanya bagaimana pendapatnya tentang ini. "Em, saya setuju sajalah. Hehe. Lagipula saya harus nurut sama orang dewasa." "Hehehe. Ya, ya. Kamu terlalu rendah hati, Nduk. Dewasa itu bukan dilihat dari umur, tapi bagaimana dia bersikap." "Njeh, Bi." Zee mengangguk. Ketukan pintu dan ucapan salam dari depan menghentikan sejenak perbincangan keluarga itu. Fatih berdiri dan segera melihatnya. Saat tamu memasuki ruang di mana Zee, abine dan umi berada, ada perasaan aneh yang mendera Zee. Perasaan tak enak dan firasat buruk. Syifa datang bersama kedua orangtuanya. 'Apa tujuan mereka di malam pertama pernikahan kami?' hati Zee tak tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN