HARUS MENIKAH
"Tak akan ada yang mengerti trauma yang kualami. Jika saja mereka melihat lebam di tubuh saudaraku dan mendengar setiap detail yang keluar dari lisannya ... penderitaan karena masalalunya, lantaran tak semua laki-laki itu baik hati dan memahami masalalu pasangannya."
***
"Loe beneran mau kawin Zee?" suara Nadia meninggi dua oktaf.
Zee menganguk-angguk dengan memeluk bantal di tangannya.
"Ini semua gara-gara Joo. Coba dia gak pelet gue, sekarang pasti gue sudah ada di SMA favorit bareng loe! Trus gak perlu jatuh cinta sama Gus Fatih, patah hati nulis di diary dan dia membacanya lalu gue harus jatuh di pelukannya dan kehilangan kesucian gue. Hiks."
"Coba loe ingat-ingat Zee. Gimana caraloe nolak Joo! Loe tuh asli kagak sopan banget, asal jeplak sampe dia dendam gitu!"
"Kok sekarang loe jadi nyolot gini ke gue, sih?" Zee benar-benar merasakan perubahan sahabatnya yang dulu bicara selalu kalem ke dia.
"Iya, karena sekarang loe udah jinak. Dan gue udah gaul sama anak SMA. Tapi Zee ... ya ampun, Zee. Ini beneran gila. Bukannya kata loe kemaren doi udah mau nikah. Apa kagak jadi masalah. Maksud gue pasti yang ceweknya gak bakal mau diputus sepihak, bisa-bisa doi poligami, nikahin loe juga calonnya."
"Jauh amat sih, mikirnya loe Nad?! Bikin parno aja."
"Lagian loe juga Zee. 'Kan yang salah loe? Kenapa juga bilang Fatih sudah merenggut kesucian loe? Emang kalian udah ngapain? Aneh." Nadia nampak kesal dengan sahabatnya yang dirasa gak masuk akal sejak dulu.
"Loe 'kan tau, sejak orok gue kagak pernah mau disentuh-sentuh sama cowok apalagi sampe dicium. Ini firtskiss gue Nad. Gila, dia mencuri ciuman pertama gue yang cuma buat suami gue. Jadi mau gak mau dia kudu tanggung jawab."
"Tapi 'kan loe yang nyosor!"
"Eh, gue kagak nyosor Nad. Dia yang rese buka-buka buku gue."
"Tapi apa loe kagak kasihan sama doi Zee?"
" Bodo. Pokoknya siapa yang udah cium gue kudu nikahin gue. Apa loe kagak tau pernah ada berita, seorang gadis hamil karena dicium pacarnya."
"Ck. Loe emang dasar ya, udah setahun sejak kita bareng masih juga oon bab reproduksi sampe kemakan hoax."
"Emang kagak hamil?"
"Ya kagak lah Zee. Hamil itu ketika s****a bertemu sel telur."
"Iya juga ya, tapi gimana dengan bibir gue yang udah gak perawan ini? Gue gak sengaja cuma cium pipi, dia malah nyosor cari kesempatan cium bibir gue, Nad. Gimana nanti kalau suami gue tau, gue bisa direndahin tiap hari kaya sodara sepupu gue. Gak bisa, pokoknya dia kudu tanggung jawab, Nad." Zee memegangi bibirnya.
Nadia geleng-geleng. Tidak menyangka Zee akan mampu menimbulkan masalah besar di luar sana, karena sifat labil abege dan yang terlalu mendramatisir hal yang tak seharusnya.
***
Ummi meletakkan gelas minum Abine di meja, wajah wanita yang terlihat muda meski berusia paruh baya itu terlihat sedih. Ia gagal berbesan dengan sahabatnya sejak lama, ibu Syifa.
"Bi, apa tidak keterlaluan membatalkan pernikahan hanya karena salah paham ini?" ia beranikan diri menyampaikan apa yang mengganjaldi hatinya.
Abine meletakkan kitab dan kacamata. "Darimana Ummi tau itu salah paham?"
"Fatih. Anak itu tidak pernah bohong, Bi."
"Jadi anak orang lain pasti berbohong?" Abine mencoba menerka hati istrinya yang merasa anaknya paling baik dibandingkan anak orang lain, dengan begitu menurut Abine istrinya sudah berlaku merendahkan orang lain.
"Em, bukan begitu Bi. Tapi, ummi kenal siapa Fatih. Ummi yang melahirkan dan membesarkan dia."
"Abi tau, tapi salah jika ummi mengatakan Fatih tidak mungkin berbohong, dia hanya manusia biasa dari manusia biasa. Dari tempat kejadian pun ada saksi mata yang melihat mereka sedang ada dalam posisi ...."
"Kenapa Abi Keukeh sekali? Apa semua ini ada hubungannya dengan ketidaksetujuan Abi dulu saat Fatih ingin melamar Syifa, karena gadis itu adalah anak dari ...."
"Sudah Mi. Ummi terlalu larut dalam perasaan, jika Fatih mendengar dia juga bisa salah paham. Abi hanya mau Fatih bertanggung jawab. Itu saja. Bahkan jika kesalahan itu kecil, dan akibat besar seperti ini, nantinya dia bisa lebih berhati-hati dan tidak ceroboh masuk dapur putri sendirian yang rawan ada akhwat di sana."
Ummi mendesah pelan, melihat lekat pada suaminya yang meraih kopi dalam cangkir buatannya.
"Maaf, Bi. Apakah ini sudah keputusan final?" Fatih yang tiba dan berjalan pelan ke arah sepasang suami istri itu.
"Iya. Abi sudah sampaikan pada keluarga Syifa."
Abine menjawab pelan, menjadi orang yang dipandang itu berat. Harus lebih berhati-hati dalam bertindak. Karena dengan cepat gosip akan menyebar, bukan hanya keluarga Fatih yang kena imbasnya, tapi juga nama baik pesantren.
"Apa tidak ada jalan lain. Bi? Fatih sangat mencintai Syifa."
"Baik. Kalau kamu memang benar mencintainya. Dan menurutmu cinta itu harus memiliki, apa kamu bisa bertanggung jawab terhadap keduanya."
"Maksud Abi?"
"Nikahi keduanya. Sanggup?" Pandangan abine tajam tepat ke manik mata Fatih.
"Poligami?" Pria berkulit bersih itu membulatkan mata terkejut. Sesaat otaknya berputar mencoba mencerna apa yang abine maksud dengan menikahi keduanya.
***
"Assalamualaikum." Suara Berta Fatih di ujung telepon.
"Wa-waalaikumsalam." Zee menjawab dengan gugup.
"Jawab salam yang bener. Ah, ya sudahlah gaj penting soal itu." Fatih bicara dengan nada ketus.
Zee menautkan alis, kesal. Rasa gugupnya seketika hilang berganti dengan marah yang siap diluapkan sepeti lahar panas pada Fatih, tapi ia masih menahannya. Ingin tahu apa yang sebenarnya pria itu sampaikan padanya.
"Walau bagaimana ana akan tanggung jawab dan gak akan mundur, bukan karena ana seneng pada anti tapi karena mandat abine, jelas ya?" Fatih mengharap jawaban.
"Ya." Zee menjawab singkat.
"Tapi sebelum semua terjadi, ana mau anti mundur saja. Pernikahan ini hanya akan batal jika anti membatalkannya. Bukannya anti sangat mencintai pria lain, yang sama-sama masih bau kencur dan labil juga ceroboh sampe ngirim pelet. Kalian pasti serasi. Bagaimana?"
"Apa? Bau kencur, labil dan ceroboh?" Zee tersulut.
"Kenapa? Sudahlah kita tidak akan cocok, pasti tidak akan pernah ada cinta di antara kita.
"Nggak! Gue akan tetap menikah dengan loe dan gak akan pernah mundur. Enak aja loe habis ambil kesempatan ngatain gue gak karuan!" Zee bicara tak kalah ketus, ia lupa bahwa sebelumnya sangat menghormati pria dewasa yang merupakan anak kiyai, dan orang yang sempat ada di hatinya. Ia putus sambungan telepon, dan mengomel sendiri.
"Enak saja. Tak apa gue harus menikah tanpa cinta dan sekedar status semata. Daripada gue alami nasib kaya Siti yang selalu direndahkan suaminya karena masalalunya."
Gadis itu menghempaskan tubuh ke ranjang. 'Ck, setahun tak cukup buat gue jadi gadis kalem nan baik hati rupanya,' batin Zee menyesali.