Gadis Dewasa

1240 Kata
"Kalian tidak akan mengerti semua yang kurasa. Juga banyak orang di luar sana. Mudah kalian bicara, karena bukan pernikahan kalian yang dibatalakan." Mata Syifa berkaca. Harusnya sejak awal ia tidak pernah mengenal Fatih, tapi justru ia mengenal dan mencintainya sejak kecil, memutuskan menerima pinangannya dan harus menderita karena pernikahan batal sepihak. "Dosakah aku ingin juga menjadi istrinya? Bukankah dalam Islam lelaki boleh menikah lebih dari satu? Aku ikhlas jadi yang kedua." Sahla dan Jalal mendesah berkali-kali. "Tapi dia sudah menolak untuk menikahimu Syifa." Sahla menekan ucapannya. "Benar, itu untuk sekarang. Siapa yang tau, suatu saat dia akan berubah. Sampai saat itu aku akan menunggu. Dan Gus sudah berjanji di depan kedua orangtuaku." "Em sudahlah, mungkin Gus Fatih sudah berangkat di penerbangan sebelumnya." Jalal melihat pada jam tangannya. "Pria itu sangat menjaga pergaulannya. Bagaimana bisa anti mengajukan syarat atas penolakannya. Bukannya itu dzolim." Jalal semakin kesal pada sikap kekanak-kanakan Syifa. "Kami hanya berangkat bersama. Bukan duduk satu kursi dan enak-enakan berdua." Syifa membela diri. "Ck. Sudahlah. Dia bukan anak kecil." Sahla menyerah dengan mengatakan pada Jalal hal itu. "Oya. Bisakah antum lihat di mana Fatih sekarang melalui maps?" Mata Syifa berbinar. Gadis itu seolah tak lelah sekalipun meski kondisinya seperti burung yang telah patah kepak. "Oh, ya Allah." Sahla memutar bola mata malas. "Ya, ya." Jalal mengeluarkan ponselnya sendiri. Sebelumnya ia sudah meminta izin pada Fatih memasukkan namanya pada sebuah applikasi pelacak lokasi untuk mempermudah mengelola kegiatan di pesantren. Jalal mulai sibuk, hingga ia berkata, "Gus masih di pesantren Kiyai Mashur." "Oh benarkah? Apa perlu juga aku berkunjung dulu ke sana? Kebetulan beberapa temanku mengajar di pesantren itu." Syifa sangat bersemangat. "Untuk apa? Bukankah sebentar lagi waktunya berangkat. Nggak. Nggak boleh. Harga tiket itu mahal, dan itu bukan uang yang sedikit buat pakde dan bude!" Sahla melarang niat Syifa yang gila. "Kata siapa? Umi dan abah tau bahwa ini uang tabunganku sendiri dari mengajar." "Iya, tapi ... ah bagaimana lagi aku mengingatkan kalau cintamu itu sudah membutakanmu Syifa!" Sahla terlihat kesal, tapi tak lama ia melunak. "Banyak yang mencintai dan menginginkanmu Syifa, kenapa harus Fatih?" Sahla menatap tajam ke mata Syifa, hingga kedua manik mata gadis itu bertemu. "Syifa ... Jalal mau menggantikan posisi Fatih untukmu." Suara Sahla seperti deru kilat yang mengagetkan Syifa. Matanya membulat berbarengan dengan Jalal yang juga tak menyangka adiknya akan menyampaikan perasaannya selama ini pada Syifa. "Ap-apa?" Lidah Syifa seolah kelu. "Benar." Sahla menjawab pelan. "Em, sudahlah. Sebaiknya kamu segera masuk dan meluruskan niatmu menempuh S2 karena Allah dan dua ornagtuamu." Jalal berusaha memecah kecanggungan di antara mereka. Syifa melirik pada arlojinya, keadaan ini juga membuatnya tak nyaman. Bagaimana bisa dia mengatakan tentang cintanya pada Fatih, sedang di dekatnya ada seseorang yang menginginkan dirinya. Syifa terdiam. Hening beberapa saat, Syifa berdiri. "Syifa. Kamu akan ke mana?" Sahla khawatir sepupunya tetap nekad datang ke pesantren Kyai Mashur. *** Di rumah Ghazali, Zee dan Fatih diberi tempat di paviliun. Kamar luas itu dulunya adalah kamar Ghazali, di mana Fatih dan teman lainnya tidur saat berkunjung ke pesantrennya. Di lantai dua itu ada teras dengan taman buatan dan kursi panjang. Di kursi itu Zee dan Fatih duduk bersebelahan menatap langit. (Duh, romantisnya. Gak tahan mau koment) Dari tempat mereka ketika mata beralih pandangan ke bawah terlihat aktivitas di mana santriwan berlalu lalang antara asrama mushola, lapangan olahraga dan fasilitas lainnya dapat terlihat, meski tidak jelas wajah-wajah mereka. "Zee ...." "Ya Gus?" "Apa antum tau bahwa saat Rasulullah menikahi bunda Aisyah usia bunda Aisyah belum lagi sepuluh tahun?" "Iya, aku sering dengar. Waktu ngaji di kampung. Waktu di sekolah juga. Waktu pesantren ramadhan di masjid kampung sebelah juga dikasih tau ustaznya dan waktu di pesantrennya Gus juga ustazah juga abine ...." Ucapan Zee terhenti. "Stop!" Fatih mengangkat tangannya ke depan. Membuat Zee mengulum bibir. "Ya, Allah. Kebawelan antum sudah level 999." Zee senyum-senyum malu. Ia sadar bahwa lidahnya suka sekali bicara, tapi kenapa sulit mengatakan bahwa ia menginginkan banyak hal pada Fatih. "Kalau ada yang bertanya cukup jawab seperlunya. Tidak perlu panjang kali lebar kali tinggi kali panjang lagi. Huft ... kan ana jadi ketularan bawel." Fatih menyandarkan kepalanya, pandangannya ke atas langit yang gelap tanpa bintang. "Ehem. Baik. Gus." Zee menjawab singkat. "Bagus." Fatih menaikkan sebelah bibirnya. "Karena Rasulullah menikahi beliau di usia anak-anak, tidak serta merta Rasul menggaulinya, Rasul bahkan ikut bermain dengan bunda Aisyah." Pria itu melanjutkan ceritanya. "Di usia berapa Rasul. Em ...." Zee ingin bertanya tapi dia bingung menggunakan kalimat seperti apa yang tidak menjatuhkan dirinya sebagai 'gadis labil ban m***m,' fiyuh ... label itu memalukan. Dahi Fatih mengerut. "Em?" "Em, apa ya. Ya sudah gak jadi Gus." Fatih tersenyum mengejeknya, pria itu tahu apa yang Zee maksud hanya saja tidak ingin membahas hal-hal yang mendatangkan kecanggungan di antara keduanya. "Jadi itu sebabnya Gus sangat bersabar padaku?" "He'em." Fatih mengangguk. Zee tidak mengerti hatinya menerima jawaban itu dengan senang atau sedih, karena artinya Fatih baik bukan karena ada perasaan pada Zee, tapi bukankah berbuat sesuatu dengan niat mengikuti sunnah adalah pahala? Duh, Zee dengan pikirannya sendiri saja dia bingung. Tapi diluar semua itu, adakah sedikit saja cinta Fatih untuknya? Lalu Syifa? 'Oya, bagaimana dengan gadis itu?' Mendadak sifat kepo Zee kambuh. "Em, Syifa?" "Kenapa? "Bukankah dia tadi menghubungi Gus?" "Oh ya." Ingat Syifa, Fatih merogoh kembali ponsel di sakunya. Ia terlihat serius. "Ada apa Gus?" "Banyak sekali panggilan dari nomornya." Fatih menjawab tanpa melihat pada Zee. "Apa memang kalian em ... seriiing ..." Zee tidak enak bertanya. "Tidak. Kami tidak pernah bicara tanpa perlu di telepon." Fatih menjawab seolah tahu apa yang Zee pikirkan. Fatih membuka satu per satu pesan dari Syifa dan juga Jalal di urutan chat teratas. "Gus." Fatih terlalu sibuk hingga tidak memperhatikan Zee. "Kalau memang Syifa mau Gus nikahi. Aku ikhlas." Zee mengucap pelan. "Ap-apa? Apa yang anti katakan barusan?" Fatih gagal fokus karena ucapan istrinya. "Hemh, dasar laki-laki giliran kawin lagi aja cepet responnya." Zee mengejek. Fatih serius melihat pada Zee yang cengengesan. "Katakan apa sebenarnya mau anti?" "Apa Gus? Maksudku kalau Gus mau menikahi Syifa silakan. Bukankah pernikahan kita adalah kesalahan? Dan kesalahan terbesar ada padaku. Kalau saja waktu itu aki gak lebay minta Gus tanggung jawab, ck, timbang ciuman doang." Zee bicara seperti wanita dewasa. Setelah beberapa saat memperhatikan sikap Zee, Fatih tersenyum meremehkan. "Lihat nama Syifa di ponsel saja kabur, nangis dan ngurung diri dalam toilet. Gimana kalau suami anti beneran nikah sama Syifa?" "Hah?" Pipi Zee bersemu malu. 'Ish, Gus kenapa kalau fitnah suka bener?" "Ck. Ekspresi apa itu?" Fatih memiringkan senyum melihat Zee yang salah tingkah. Gadis itu memegangi pipinya. "Oya, Zee ...." Fatih menyebut namanya lagi. Sejak kejadian tadi sore, Fatih sudah agak lunak sikapnya. Ia bahkan memanggil nama Zee, bukan dengan gadis kecil, bocah labil dan sejenisnya, tinggal tunggu waktu panggilan itu berubah menjadi Adek atau bahkan Sayangku eaaa .... Membayangkan itu wajah Zee makin bersemu. "Nantinya akan berpisah dalam waktu lama." "Lama? Satu semester itu gak lama Gus. Aku aja udah sudah setahun di pesantren rasanya baru kemarin." Fatih tersenyum. "Ya, baiklah. Yang harus antum ingat, jaga diri baik-baik. Sebaik-baik wanita adalah wanita Sholihah, bukan hanya menjaga dirinya tapi juga kehormatan suaminya ada ataupun tidak ada bersamanya." "Gus. Aku kan di pondok jadi tenang saja." "Iya, semoga saja." Fatih tersenyum. "Tenangkanlah hatimu. Fokus menuntut ilmu. Ana janji gak akan menikahi Syifa tanpa mengatakannya terlebih dulu pada anti." "Tidak usah memberatkan diri Gus. Jika ingin menikah dengan Syifa, silakan. Berontak dalam d**a ini mungkin karena memang jiwaku masih labil." Fatih terse menatap Zee tak percaya, sejak berapa lama lama dia menjadi sedewasa itu? Ketika melihat ke depan, tanpa sengaja mata Fatih menangkap sosok seseorang yang melihat padanya dan Zee. Pria itu berdiri di jalan yang ramai. Penasaran ia mengambil teropong kecil di bawah kursi. Zee hanya melihat dengan keheranan. Betapa Fatih terkejut saat mengarahkan teropong ke sosok pria yang ternyata adalah Joo, mata mereka beradu. Ia tersentak. "Ya Allah. Anak itu lagi. Bagaimana dia bisa melihat kami dari jarak sejauh itu?" "Ada apa Gus?" BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN