Pagi pertama di Rotterdam tidak dimulai dengan kicauan burung atau sinar matahari lembut seperti di film-film, melainkan dengan gedoran antusias di pintu kamarku. “Tante Celly! Bangun! Ada salju!” Teriakan Arthur—atau mungkin Noah, aku masih belum bisa membedakan suara mereka—membuatku terlonjak dari balik selimut tebal. Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Di Jakarta, jam segini aku biasanya baru pulang dari after-party atau masih meringkuk di bawah selimut sutra dengan kepala pening akibat alkohol. Tapi hari ini, kepalaku jernih. Dingin, tapi jernih. Aku menyeret langkah ke jendela. Benar saja. Di luar, atap-atap rumah bata merah tetangga sudah tertutup lapisan putih tipis. Salju pertama di bulan November. Pemandangan itu terasa asing tapi menenangkan, seperti dunia yang seda

