Angin musim gugur di Rotterdam tidak main-main. Begitu pintu otomatis bandara Schiphol terbuka, udara dingin langsung menampar wajahku, menyusup ke balik mantel trench coat tebal yang kubeli di Jakarta sehari sebelum berangkat. Dinginnya berbeda dengan AC sentral di mansion Papa atau udara steril panti rehabilitasi. Ini dingin yang basah, berbau hujan, dan... bebas. Aku menyeret koperku keluar, mataku memindai kerumunan penjemput di area kedatangan. Orang-orang di sini tinggi-tinggi, berjalan cepat dengan langkah lebar, dan tidak ada yang peduli dengan penampilanku. Tidak ada yang menatapku sinis, tidak ada yang berbisik, "Itu anak George Richards yang bikin skandal." Di sini, aku cuma satu dari ribuan wajah asing. Dan itu melegakan. "Celly!" Sebuah suara bariton yang familier memanggi

