Gerbang besi hitam yang menjulang tinggi itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit yang familier. Setahun yang lalu, aku meninggalkan tempat ini dengan seretan paksa, teriakan histeris, dan pintu mobil yang terkunci. Hari ini, aku kembali dengan diam. Mobil SUV hitam yang menjemputku dari Lembang meluncur masuk ke pelataran mansion keluarga Richards di Menteng. Tidak ada sambutan meriah. Tidak ada spanduk "Selamat Datang". Rumah ini berdiri sama megahnya seperti dulu, pilar-pilar putihnya berkilauan ditimpa matahari sore Jakarta yang jingga berdebu. Namun, bagiku, rumah ini tidak lagi terlihat seperti istana. Ia terlihat seperti museum—tempat menyimpan benda-benda berharga yang sudah mati. "Sudah sampai, Non," suara Pak Tejo memecah lamunanku. Dia menatapku dari kaca spion dengan so

