Aku bangun karena cahaya matahari yang nembus tralis jendela. Kepalaku berdenyut—sisa tangisan semalam, atau mungkin obat penenang yang dipaksa masuk tenggorokanku. Kepalaku berdenyut nyeri, sisa dari tangisan histeris semalam dan mungkin efek obat penenang yang dipaksakan masuk ke tenggorokanku oleh perawat berwajah dingin saat aku tiba. Selama beberapa detik, aku lupa di mana aku berada. Aku berharap saat membuka mata, aku akan melihat langit-langit kamarku yang tinggi di Menteng, atau setidaknya plafon hotel mewah tempat aku biasa menginap. Tapi yang kulihat adalah langit-langit putih polos, rendah, dan tanpa hiasan. Aku bangun dengan sentakan napas tertahan. Ini bukan kamar tidur. Ini sel. Ruangan itu berukuran 3x4 meter. Dindingnya dicat warna krem pucat yang membosankan. Tidak ad

