39.Vonis Sunyi

1931 Kata

Roda pendaratan jet pribadi itu menyentuh landasan pacu dengan sentakan kasar. Getarannya merambat ke seluruh kabin, membangunkanku dari lamunan panjang yang menyiksa. Selama sembilan puluh menit di udara, tidak ada satu kata pun yang terucap. Gabriel duduk di hadapanku, matanya terpaku pada tablet, menyesap scotch keduanya seolah-olah aku tak pernah ada. Ia kembali menjadi Gabriel Richards yang dingin—bukan kakak yang tadi memelukku di mobil, tapi eksekutor perusahaan yang baru saja menyingkirkan aset bermasalah. Dan aset bermasalah itu adalah aku. "Rapikan wajahmu," suara Gabriel memecah keheningan, datar dan tanpa emosi. Dia tidak mendongak. "Kita sudah sampai. Jangan biarkan kru darat melihat matamu bengkak. Seorang Richards tidak terlihat lemah di depan bawahan." Aku buru-buru men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN