29. Meninggalkan Reruntuhan

2400 Kata

Aku terbangun di penjara. Hanya saja, penjara yang satu ini kebetulan dilapisi seprai katun Mesir dengan kerapatan delapan ratus benang. Matahari pagi di Surabaya Barat biasanya terik dan agresif, jenis cahaya yang memaksa masuk lewat celah-celah jendela. Tapi pagi ini, disaring lewat tirai tebal dan kedap suara di penthouse Gabriel, cahayanya nyaris tak terasa. Hanya remang-remang abu-abu yang menyedihkan. Aku duduk perlahan. Kepalaku berdenyut hebat, seirama dengan detak jantungku yang lambat dan berat. Rasanya seperti ada drum yang dipukuli terus-menerus di dalam kepalaku. Tanganku bergerak naik, menyentuh pipi kiri. Rasanya lunak, bengkak, dan panas. Kulitnya terasa kencang saat aku membuka mulut. Cincin stempel Gabriel meninggalkan jejaknya di sana. Sebuah bulan sabit ungu kecil tep

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN