25. Melangkah ke Dunia Baru

1688 Kata

Surabaya bukan cuma menyambutku; kota ini menamparku dengan handuk basah yang panas. Begitu aku melangkah keluar dari Bandara Juanda, hawa panas langsung menghantamku seperti tembok. Jakarta itu lembap dan kelabu karena polusi. Surabaya itu panas—terang, agresif, dan kering. Udaranya punya bau yang khas—campuran cengkeh terbakar, garam laut, dan debu kering. Aku menyeret dua koperku ke antrean taksi. Tidak ada sopir pribadi. Tidak ada Alphard dengan AC yang menyembur dingin. Cuma aku, antrean panjang, dan sopir taksi Blue Bird yang tampangnya seperti belum tidur dua hari. "Ke mana, Mbak?" tanyanya sambil membuka bagasi. "Apartemen Puncak Kertajaya," jawabku, mengecek alamat di ponsel. Itu bukan kondominium mewah. Cuma kompleks apartemen kelas menengah yang penuh mahasiswa dan pekerja m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN